Bagaimana jadinya jika seorang pengusaha sukses dan terkaya se-ASIA yang kekayaannya tidak akan habis sampai tujuh turunan, harus pura-pura miskin demi mendapatkan cinta sejatinya.
Akankah si pria itu bisa menemukan wanita yang benar-benar mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Identitas Nata
Vio terlihat sudah memejamkan matanya, mungkin karena efek dari obat yang diberikan sehingga Vio ngantuk dan tertidur.
"Mas Nata, ini kopinya!" teriak Pelangi.
"Sssttt...jangan berisik, Vio sedang tidur."
"Astaga, si Vio itu kalau tidur kaya orang pingsan gak bakalan bangun Mas."
Nata dan Pelangi pun duduk di sofa dan ngopi bersama.
"Mas, aku boleh tanya sesuatu gak?"
"Kamu mau tanya apa?"
"Kok aku merasa kalau Mas Nata itu kenal sama Mas Arga?"
Nata menghembuskan napasnya. "Dia memang kakakku."
"Hah, serius Mas?"
"Ngapain aku bohong sama kamu, tapi ingat jangan sampai Vio tahu, kalau sampai dia tahu, awas kamu."
"Tenang aja Mas, rahasia aman sama aku mah," sahut Pelangi dengan senyumannya.
Deg....
Jantung Vio berdetak kencang mendengar kenyataan yang sebenarnya. Awalnya Vio memang ngantuk, baru saja dia memejamkan matanya, Pelangi sudah datang.
Nata dan Pelangi mengira kalau Vio sudah terlelap padahal kenyataannya Vio belum tidur dan bisa mendengar obrolan mereka berdua.
"Mas, aku gak bisa membayangkan Mas bekerja jadi OB di perusahaan Mas sendiri, pasti semua karyawan segan banget mau nyuruh-nyuruh sama Mas," seru Pelangi ngakak.
"Mana berani mereka nyuruh-nyuruh aku, bisa-bisa mereka aku pecat."
"Sumpah ngakak aku Mas, sudah bisa membayangkan bagaimana raut wajah para karyawan Mas Nata."
"Aku jadi OB cuma sebentar, sampai jam masuk habis semua karyawan masuk, aku langsung ke ruangan ku. Pas jam makan siang, aku cepat-cepat keluar karena takut ketahuan Vio."
"Sumpah, hebat banget Mas Nata pura-pura miskin kaya gitu."
Tanpa sadar Vio mengepalkan tangannya, dia benar-benar sangat marah karena merasa sudah dibohongi oleh Nata dan juga sahabatnya.
Setelah berbincang-bincang, Pelangi pamit untuk pulang ke kontrakan dulu. Nata kembali duduk di samping Vio dan menatap wajah cantik Vio.
"Apakah kamu bisa menerimaku apa adanya tanpa melihat kalau aku adalah seorang pengusaha?" batin Nata.
Malam pun tiba....
Nata menghubungi Pelangi untuk tidak datang lagi ke rumah sakit, biar dia saja yang menjaga Vio.
Vio mulai membuka matanya, dan terlihat Nata masih duduk di sampingnya.
"Kamu sudah bangun, apa kamu mau makan buah-buahan?" tanya Nata.
Vio menggelengkan kepalanya...
"Apa kamu mau minum?"
Vio lagi-lagi menggelengkan kepalanya...
"Kamu harus banyak makan biar kamu cepat sehat, memangnya kamu mau lama-lama tinggal di rumah sakit?"
"Tadi kan, aku sudah bilang, aku ingin pulang tapi Mas yang melarang ku. Aku gak mau terus-terusan merepotkan Mas Nata dan hutangku semakin banyak."
"Sudah jangan mikirin masalah hutang terus, aku ikhlasin saja semuanya jadi kamu tidak punya hutang sama sekali kepadaku."
Vio menatap tajam ke arah Nata membuat Nata mengerutkan keningnya.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?"
"Siapa Mas Nata sebenarnya?"
"Maksud kamu apa?"
"Sudahlah, Mas Nata jangan pura-pura lagi. Aku dari dulu memang sudah curiga kepada Mas Nata karena gaya hidup Mas Nata sangat berbeda dengan anak kos pada umumnya, bahkan Mas Nata selalu makan makanan mewah yang tidak biasa anak kos makan sama sekali. Apa sebenarnya tujuan Mas Nata menyembunyikan identitas Mas Nata sendiri?"
Nata terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Jawab Mas, jangan diam saja!"
"Tujuan aku hanya satu yaitu ingin mencari orang yang tulus kepadaku tanpa embel-embel melihat siapa diriku," sahut Nata.
"Maksudnya?"
"Banyak di zaman sekarang, yang mendekati aku baik pria maupun wanita hanya melihat dari status sosial aku saja. Mereka mendekati aku karena aku seorang pengusaha atau pun anak orang kaya dan aku sangat muak dengan semua itu. Jadi, aku memutuskan untuk menyembunyikan identitas ku hanya untuk mencari orang yang tulus bisa menerimaku apa adanya bukan karena ada apanya."
"Jadi Mas Nata itu siapa?"
"Nama lengkapku Nata Anggasta pemilik PT.Anggasta grup tempat dimana kamu bekerja."
Seketika Vio menutup mulutnya karena merasa kaget.
"Kenapa Mas Nata ingin bersusah-susah payah hidup miskin di kontrakan?"
"Tadi kan, aku sudah bilang karena aku ingin mencari orang yang tulus sama aku, khususnya wanita."
Vio menatap Nata, tapi sesaat kemudian Vio pun memalingkan wajahnya karena merasa jantungnya sudah tidak baik-baik saja.
Perasaan Vio seperti itu bukan karena Vio mendengar Nata adalah orang kaya, tapi memang akhir-akhir ini Vio sudah mulai merasakan perasaan aneh jika berdekatan dengan Nata.
Malam itu menjadi malam yang sangat panjang untuk keduanya, karena setelah Nata mengakui siapa dirinya yang sebenarnya, keduanya jadi saling canggung.
***
Keesokan harinya....
Vio sudah bangun lebih awal dari Nata, diperhatikannya wajah tampan Nata yang masih tertidur dalam posisi duduk itu.
"Kenapa aku bodoh sekali, padahal dari awal sudah kelihatan kalau Mas Nata adalah bukan orang sembarangan," batin Vio.
Vio tersenyum saat ingat dia sampai menjambak rambut Nata saking marahnya karena mie ayam dia di habiskan oleh Nata.
"Pantas saja Mas Nata belum pernah makan mie ayam, ternyata Mas Nata seorang sultan," batin Vio kembali.
Vio melamun sembari senyum-senyum sendiri mengingat tingkah konyolnya dulu yang sering dia lakukan kepada Nata.
Nata sudah bangun, dia mengerutkan keningnya saat melihat Vio senyum-senyum sendiri, sehingga Nata menyentuh kening Vio dan itu membuat Vio tersentak.
"Apaan sih Mas Nata, pegang kening aku segala."
"Aku cuma mau cek saja, soalnya dari tadi aku lihat kamu senyum-senyum sendiri gak jelas. Padahal kan kamu itu sakit karena ada gangguan pencernaan bukan gangguan mental," ledek Nata.
"Ishh..ishh..ishh..jahat banget jadi orang."
"Bentar, aku mau ke kamar mandi dulu."
Nata pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Vio tampak memukul-mukul kepalanya sendiri secara perlahan.
"Astaga, kenapa aku bisa sebodoh itu sih?" gumam Vio.
Tidak lama kemudian, pintu ruangan rawat Vio pun terbuka membuat Vio menoleh.
"Pagi Vio, bagaimana keadaannya?" tanya Arga.
"Mas Arga, Alhamdulillah sudah sehat Mas."
"Syukurlah."
Arga datang ke rumah sakit bersama Pelangi, tapi Pelangi tidak ikut naik mobil Arga, dia menggunakan motornya sendiri karena hari ini dia mau sekalian berangkat kerja.
"Vio, maaf aku gak bisa lama-lama soalnya aku mau berangkat kerja. Tapi kalau ada apa-apa kamu langsung hubungi aku saja ya."
"Oke Pel."
"Mas Arga, aku duluan ya."
"Iya Pel, terima kasih."
Pelangi pun dengan cepat keluar dari ruangan rawat Vio.
"Gawat, bakalan ada perang dunia nih," batin Pelangi.
Pelangi tidak mau ikut campur urusan adik kakak itu, jadi lebih baik dia cepat-cepat pergi daripada nantinya kena semprot Nata.