Aqila gadis cantik berusia delapan belas tahun yang baru saja menyelesaikan pendidikan nya di negara Finlandia.
Malam itu untuk merayakan kelulusan nya, Aqila berhasil kabur dari penjagaan ketat para bodyguard milik kakak nya.
Tetapi siapa yang menyangka gadis itu malah kabur ke sebuah night club terkenal di kota tempat ia tinggal dan terjebak oleh sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan?
Lalu bagaimana kisah selanjutnya? Sesuatu seperti apa yang akan menimpah dirinya? Atau mungkin sebuah jebakan?
Note:- Agar mengerti jalan cerita sebelumnya, disarankan membaca karya "Terjebak Cinta Om Mafia Possesive"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri_923, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab-31-
"Ayo makan yang banyak dan berhenti memikirkan hal yang tidak penting, cukup fokus pada aku dan pendidikan kamu. Oke!"
"Aku juga gak mau dengar kamu menyebut nama bocah brengsek itu atau pun melihat kamu masih memikirkan nya!"
Bram terus berceloteh layak nya seorang ibu yang sedang menasehati anak gadis nya. Wajah garang Bram berhasil membuat Aqila hanya menurut.
Belum lagi ancaman pria itu, sungguh menyeramkan. Aqila hanya menurut, bahkan saat ini tubuh nya berada di pangkuan Bram dan pria itu terus menyuapi nya.
"Dengar 'gak apa yang aku ucapin barusan?"
Aqila mengangguk mengerti, rasanya ingin sekali ia menjambak rambut berantakan yang menambah ketampanan suami nya. Tetapi saat ini tubuh nya benar-benar tidak bisa diajak kompromi.
.
"Besok kita antarkan formulir pendaftaran sekalian membeli peralatan nya" Ujar Bram yang baru saja mendudukkan tubuh nya di sofa ruang tengah rumah nya.
Aqila pun masih berada di pangkuan nya, dan tentu saja sedari keluar dari kamar Aqila terus berada di dalam gendongan Bram karena untuk berdiri saja kaki nya terus bergetar.
"A-aku mau duduk sendiri" Ucap Aqila yang sedari tadi diam.
"Gak, duduk di sini aja!"
Mata berbinar itu mulai menatap mata Bram yang sedari tadi terus memperhatikan nya, wajah memelas yang saat ini berada tepat di hadapan Bram, membuat pria itu menggeram.
"Shiit! Jangan memasang ekspresi seperti ini!" Bram menekan kepala Aqila hingga kepala istri kecil nya menempel di dada berotot nya.
Jantung Bram memacu begitu cepat dan kencang, tentu saja hal itu dapat di dengar oleh telinga Aqila, hingga senyum tipis terbit di bibir manis itu.
"Berhenti membantah dan turuti ucapan ku, atau aku akan memasuki mu lagi!" Ancam Bram saat merasakan Aqila bergerak.
"Berhenti mengancam ku, dan urusi detak jantung mu yang berbunyi begitu keras" Sahut Aqila.
Wajah Bram memerah dengan umpatan kasar di dalam hati nya.
"Biarkan saja, dia berbunyi begitu keras dan cepat hanya saat bersama mu"
"Hmm terserah apa kata mu, aku ngantuk"
"Jangan tidur dulu kamu baru habis makan" Cegah Bram mengangkat kepala Aqila agar menatap nya. "Lebih baik menonton film atau drama" Lanjut nya
"Bagaimana aku mau menonton jika sedari tadi di hadapkan dengan dada mu?"
"Cih, dasar!" Gemas Bram mengecup pipi Aqila begitu menekan hingga membuat sang pemilik menggeram kesal.
"Kak!"
"Baiklah-baiklah, ayo berbalik dan menonton sesuatu"
Bram membalik tubuh Aqila agar menghadap televisi besar di depan nya, dengan tubuh Aqila yang tetap berada di pangkuan nya.
"Aku mau duduk sendiri"
"Sudah begini saja" Bram menyandarkan punggung nya di sandaran sofa dan menarik bahu Aqila agar bersandar di tubuh nya.
"Nyaman 'kan?" Tanya Bram melihat posisi nya.
Aqila tidak menjawab, gadis itu hanya mendengus kesal dan merebut remote di tangan Bram.
"Jangan nakal tangan nya!" Peringat Aqila saat tangan Bram mengusap-usap perut nya.
"Aku cuma mau mengusap nya sambil meramalkan doa agar anak ku cepat jadi"
"Bahkan aku tidak mengharapkan hal itu" Celetuk Aqila yang langsung di hadiah kan cubitan gemas dari Bram di perut nya.
"Kenapa tidak mengharapkan nya hah? Bahkan aku sangat mampu membiayai seratus anak kita, bahkan seribu pun aku sanggup"
"Gila! Kamu pikir aku kuda laut!" Sentak kesal Aqila menepis tangan Bram.
Seketika tawa Bram pecah, dirinya semakin di buat gemas dengan ucapan Aqila. Tanpa memperdulikan dengusan kesal sang istri, tangan Bram kembali Mengusap-usap perut rata itu.
"Kak!" Tegur Aqila tidak nyaman.
"Sutt diam lah, lebih baik fokus pada kembar botak itu" Sahut Bram dengan mata tertuju pada televisi di hadapan nya.
"Yang botak hanya satu, apa kakak tidak lihat si Upin punya rambut!" Ujar tak terima Aqila.
"Rambut macam apa itu, berdiri sendiri dengan lingkaran di ujung nya. Seperti antena hahahaha"
"Ishh kak Bram!" Geram tertahan Aqila.
"Tuyul versi kartun, hahahaha" Timpal Bram dengan tawanya yang semakin menjadi.
"Tau ah, bodo amat!" Kesal Aqila memilih mengacuhkan Bram.
Mata Aqila mulai fokus pada film kartun di hadapan nya, yang sedang menayangkan si kembar 'Upin&Ipin' yang tengah berkhayal menjadi seorang astronot.
Lain hal nya dengan Bram yang sudah menghentikan tawanya dan malah terfokus dengan wajah Aqila yang dapat ia lihat dari samping.
"Benar-benar bocah, tapi aku sangat menyukai nya"
...****************...