Menjadi pengantin yang tak direstui membuat Aiza dan Akhmar harus berperang dengan perasaan masing- masing meski sebenarnya saling cinta. Bahkan Akhmar bersikap dingin pada Aiza supaya Aiza menyerah dan mundur dari pernikahan, tapi Aiza malah melakukan sesuatu yang tak diduga. Membuat Akhmar menjadi takluk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Marah?
"Kisah Akhmar yang ngejar- ngejar Aiza itu kan hanya kisah cinta remaja yang lucu, nggak berarti apa- apa," sambung Aiza.
"Syukurlah. Kalau udah begini, artinya ada kesempatan untuk gue deketin Aiza. Ya nggak, bro?" Atep menyenggol lengan Akhmar dengan senyuman lebar. Pria yang tampak sukses dengan penampilannya yang mumpuni itu bersemangat sekali.
Akhmar lagi- lagi hanya diam.
“Apa lo masih kabur dari rumah? Apa lo belum balik ke rumah? Sampe- sampe nasib lo begini amat? Kalo lo ikut bokap lo, pasti lo nggak Cuma jadi mandor kan?” Atep menatap Akhmar dengan seulas senyum.
Sebelum sempat Akhmar menjawab, Aiza duluan memotong, “Ya udahlah Abid, kita lanjutin ngobrol soal yang tadi!”
Aiza kembali duduk, membolak- balikkan kertas di meja.
“Okelah. Sory bro, gue lanjut kerja. Lo boleh lajut kerja lagi.” Atep kembali duduk, mendekatkan kursinya ke kursi Aiza, lalu membicarakan hal penting dengan wanita itu.
Akhmar tertegun. Padahal Ismail menyerahkan pekerjaan itu kepadanya, tapi Aiza sengaja memanggil konsultan tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengannya. Dia jadi seperti tak diangap. Lalu apa gunanya dia ada di sana kalau semua keputusan tanpa sepengetahuannya? Benarkah dia dianggap seperti mandor? Ck ck ck…
Bahkan sampai kini Aiza malah terlhat asik mengobrol dengan Atep. Pria yang kini terlihat lebih ganteng dengan penampilannya yang waow.
Setelah lama berkonsultasi dengan Atep, Aiza memtuskan untuk pulang. Ia meninggalkan pendopo. Melewati Akhmar yang berdiri di sisi mobilnya. Pria itu sepertinya hendak pulang.
“Aiza, aku bawa mobil. Kamu bisa ikut bersamaku. Akan kuantar pulang,” tawar Atep dengan sopan. Pria itu mendekati Aiza sambil membawa beberapa map.
“Nggak usah. Aku nanti ngerepotin. Kita berlawanan arah. Aku naik taksi aja,” jawab Aiza.
“Ooh… Baiklah. Kalau begitu aku cabut duluan.” Atep lalu menoleh ke arah Akhmar. “Gue cabut, Bro!”
Akhmar mengangguk.
Atep berlalu pergi menggunakan mobilnya.
Aiza berjalan keluar dari lokasi itu. sekilas matanya melirik mobil Akhmar yang beregrak lambar di belakangnya. Ia terus berjalan.
Mobil milik Akhmar kemudian bergerak ke sisi Aiza. Kacanya turun, wajah Akhmar menyembul.
“Ayo naik!” ajak Akhmar.
Aiza terus berjalan tanpa menoleh ke arah Akhmar.
“Aiza!” panggil Akhmar.
Aiza pun menoleh. “Ya?”
“Ayo naik!”
“Oh… Kamu bicara sama aku?” aiza cuek.
“Marah?”
“Kenapa harus marah? apa yang membuatku marah sama kamu?” Aiza berhenti dan menoleh, menghadap Akhmar.
“Ya udah, ayo masuk!”
“Kenapa maksa?”
“Nggak maksa, Cuma ngajakin!” ucap Akhmar.
“Nggak mau! Mulai sekarang, aku bisa lakukan apa pun sendiri. Pergi kemana- man sendiri. Ngurusin apa pun sendiri. Aku mandiri. Aku bener- bener nggak ingin ngerepotin kamu. Silakan kamu lakukan juga semuanya sendiri. okey?” Aiza tersenyum sangat manis, kemudian berpaling pergi.
Akhmar menarik sudut bibirnya. Dia marah. benar- benar marah.
Akhmar lalu masuk ke mobil, mengejar Aiza. Wanita itu sudah sampai di jalan poros yang menghubungkan sampai ke aspal.
Akhmar menyetir mobil dnegan gerakan sangat lambat, menjajari langkah aiza. “Ini udah hampir maghrib. Bahaya perempuan jalan kaki sendirian di tempat sepi begini.”
Aiza menatap jalan di depan, jalan aspal di depan sana sudah terlihat, jarak lima ratus meter. Dan ia hanya akan menempuh lima ratus meter untuk mencapai jalan aspal yang ramai dilalui kendaraan lalu lalang. Lalu apa yang membuatnya takut?
“Aiza!”
Aiza diam saja, tak mau menoleh.
Geram, Akhmar pun turun dari mobil.
Bersambung
Klik like buat penyemangat