Tidak sengaja menemukan korban kejahatan yang terluka parah dan mengalami amnesia, siapa sangka kisah Maura dan Shaka dimulai di hari itu. Maura berusaha membantu Shaka untuk sembuh dan kembali mengingat jati dirinya.
Namun, saat cinta mulai tumbuh di hati mereka, ingatan Shaka kembali, laki-laki itu mengingat bahwa cintanya hanya untuk seorang wanita yang dia janjikan pernikahan.
Apakah Shaka akan kembali pada cinta pertamanya? Ataukah Shaka memilih Maura yang dengan tulus membantunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itta Haruka07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
"Hachuu!" Shaka dan Maura mengeluarkan ingus dengan kompaknya usai mereka terlepas dari acara hujan-hujanan bersama. Dengan tubuh menggigil, Shaka dan Maura duduk di ruang tamu dalam balutan selimut tebal dan minuman panas yang menghangatkan perut.
"Kalian ini ngapain aja sampai bisa hujan-hujanan gini, sih?" omel Alisha sembari menggosok rambut Shaka dengan kencang, hingga membuat kepala laki-laki tampan itu terguncang ke sana kemari.
"Kamu nggak neduh, Maura? Kalian nonton di mana, sih? Gedung bioskopnya kebanjiran?" cetus Bu Rizal.
Maura dan Shaka saling melirik, kemudian tertawa kecil tanpa menanggapi omelan ibu mereka. Alisha dan Bu Rizal mulai bisa bernapas lega begitu melihat senyum merekah dari wajah Maura. Misi mereka untuk menyenangkan Maura pun berakhir dengan sukses, meskipun para ibu itu tak tahu cerita dibalik senyuman Maura.
"Maura kayaknya udah balik ceria lagi," cetus Alisha begitu senang, usahanya tak berakhir sia-sia.
"Saya juga seneng, akhirnya Alisha udah mau senyum lagi. Kelihatannya dia juga mulai akrab lagi sama Shaka," tukas Bu Rizal. "Semoga aja Maura dan Shaka bisa akrab lagi seperti dulu," ujar Bu Rizal penuh harap.
****
"Ini informasi tentang Rafael Hartono dan keluarganya." Seorang pria berwajah garang menyodorkan amplop coklat berisi kumpulan berkas pada ibu tiri Maura.
Wanita itu membuka amplop tersebut dan melihat foto Maura bersama dengan Shaka di depan bioskop. "Apa ini putra Rafael? Pria yang akan dinikahkan dengan Priska?"
"Sepertinya begitu, Bos. Detail alamat dan data tentang keluarga Rafael sudah ada lengkap di dalam amplop."
Ibu tiri Maura itu menarik lembar kertas yang berisi informasi mengenai Shaka dan Rafael. Wanita itu membaca detail informasi mengenai Shaka dan menatap lekat foto putra sulung Rafael itu.
"Apa sudah ada tanda-tanda mereka akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat?" tanya wanita itu.
Pria berbadan kekar itu pun menggelengkan kepala pelan. Ibu tiri Maura menyunggingkan senyum licik, kemudian memberikan perintah baru pada bawahannya.
"Kumpulkan semua anak buahmu dan bawa senjata kalian! Kita harus bisa mendapatkan Priska kembali sebelum gadis itu memperoleh warisan dari ayahnya!" titah wanita kejam itu.
Puluhan preman mulai bersiaga di kegelapan malam sembari mengantongi pistol yang sudah dipenuhi dengan peluru. Ibu tiri dari Maura itu bersiap untuk menerobos ke rumah keluarga Shaka untuk merebut kembali Maura.
"Ingat, jangan sampai kalian melukai anggota keluarga Rafael Hartono! Jangan tinggalkan jejak apa pun! Sabotase sambungan listrik mereka dan hancurkan semua CCTV serta black box kendaraan di sekitar rumah Rafael. Kita hanya perlu membawa Priska kembali!" ujar wanita itu memberikan pengarahan pada anak buahnya.
"Rafael Hartono bukan orang sembarangan. Jangan sampai masalah ini mencuat ke publik apalagi sampai mengundang aparat hukum! Kita harus membuat Rafael tidak bisa melayangkan tuntutan pada kita!"
Setelah semuanya siap, ibu tiri Maura itu pun bersiap untuk menjemput sumber harta karunnya. Wanita itu bahkan turun tangan sendiri menjemput Maura ke kediaman keluarga Shaka.
Tepat saat tengah malam di mana semua orang di rumah Shaka sudah terlelap, ibu tiri dari Maura pun menerobos masuk tanpa permisi usai menghancurkan seluruh kamera pengintai dan menyingkirkan semua saksi mata. Wanita itu membuka pintu kamar Maura dan melihat sumber uangnya itu tengah tertidur pulas tanpa beban di ranjang yang empuk.
"Priska, kamu kelihatan seneng banget bisa tidur enak di sini sampai lupa pulang," cetus sang ibu tiri sembari membelai rambut Maura dengan lembut, kemudian menarik rambut panjang gadis itu dengan kasar hingga membuat Maura terbangun.
"Arrghh!" Maura memekik kencang, lalu membuka matanya lebar-lebar. Gadis itu terkejut bukan main saat ia melihat wanita yang paling ditakutinya tiba-tiba muncul di hadapannya.
Bak mimpi buruk yang kembali terulang, Maura tak menyangka dirinya benar-benar akan dijemput paksa oleh sang ibu tiri.
Di luar kamar Maura, keributan sudah mulai terdengar ke seluruh rumah. Baku hantam antara para penyusup dengan penghuni rumah pun tak lagi terelakkan.
Prang! Brak!
Kegaduhan makin riuh dengan suara barang-barang yang ikut hancur dan menjadi korban adu pukul orang-orang di luar sana.
Brak!
Pintu kamar Maura langsung terbuka lebar dan Shaka muncul dari balik pintu. Pria itu langsung berlari menghampiri Maura, tapi langkahnya terhenti saat ibu tiri Maura menodongkan pistol ke kepala anak tirinya itu.
"Berhenti di sana dan jangan bergerak! Atau kau akan melihat kepala gadis ini hancur di depan matamu!" ancam wanita itu pada Shaka.
Shaka dibuat tak berkutik oleh wanita kejam itu. Laki-laki itu mengepalkan tangan kuat-kuat tanpa bisa melakukan apa pun untuk menolong gadisnya yang ketakutan.
Rafael ikut muncul di kamar Maura dan berusaha mendekat ke arah Maura yang tengah disandera oleh sang ibu tiri. Shaka bergegas menahan sang ayah agar tidak mendekat pada wanita yang tengah membawa pistol itu.
"Ini penyerangan! Kau tidak akan bisa lari begitu polisi muncul!" sungut Rafael sembari menatap wanita berbusana hitam yang tengah menodongkan pistol pada Maura.
Ibu tiri dari Maura tertawa terbahak-bahak begitu ia mendengar kata "polisi" meluncur dari mulut Rafael. "Astaga! Polisi apanya? Tuan Rafael, kau benar-benar lucu," cibir ibu tiri Maura tertawa geli.
Beberapa menit kemudian, dua petugas polisi benar-benar datang, tapi dua pria berseragam itu hanya berdiri menyaksikan keributan di kediaman Rafael.
Ayah dan anak itu dibuat melongo saat polisi yang telah mereka hubungi ternyata bersekongkol dengan ibu tiri Maura. Shaka dan Rafael tak dapat berbuat banyak, saat tahu bala bantuan yang mereka harapkan justru berpihak pada wanita jahat itu.
"Aku harus lari ke mana sekarang? Polisi sudah datang. Haruskah aku mulai berpamitan?" cetus wanita itu diiringi tawa mengejek.
"Wanita licik! Kau menyuap polisi?" geram Rafael.
Ibu tiri Maura kembali memperlihatkan gelak tawa penuh kepuasan di depan dua pria yang memperlihatkan raut wajah keputusasaan. "Tuan Rafael ... kau harus menyelidiki dulu siapa lawanmu sebelum kau mendeklarasikan perang!"
****
Kembang kopinya jangan lupa 💋
ternyata berakhir sama Maura ya.. 💞💞💞
rasa cinta ke Bianca kayaknya cuma sekedar obsesi karena ditolak terus..
ato mungkin emang udah semakin berkurang sejak kecelakaan karena udah semakin nyaman sama Maura..
yg penting happy ending..
suka banget apalagi ada part mafianya..
benernya masih kurang bacanya kak, babnya dikit banget dibanding ceritanya Satria..
tapi ya sudahlah, Terima kasih udah susah payah buat nulis cerita yg keren ini.. 😘😘😘
oke deh lanjut ke novel berikutnya..
semoga sehat selalu ya kak..
tetap semangat dalam berkarya.., 💪🏻😘🥰😍🤩