NovelToon NovelToon
Catatan Rahwana : Skandal

Catatan Rahwana : Skandal

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Horor / Spiritual / Percintaan Konglomerat / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 5
Nama Author: Septira Wihartanti

Rahwana Bataragunadi, menyamar menjadi Office Boy di kantornya sendiri untuk menguak berbagai penyimpangan yang terjadi.
Pemuda itu mengalami banyak hal, dari mulai kasus korupsi, sampai yang berhubungan dengan hal-hal gaib.
Dalam perjalanannya, ia ditemani entitas misterius yang bernama Sita. Wanita astral yang sulit dikendalikan oleh Rahwana itu selalu membantunya di saat butuh bantuan.

Masalahnya, Rahwana tahu Sita bukan manusia. Tapi semakin hari ia malah semakin jatuh cinta pada Sita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Catatan 30 : Heritage

Rahwana membuka matanya dan tersentak.

Dadanya bergemuruh dan nafasnya memburu.

Ia melayangkan pandangannya ke sekitarnya dengan panik. "Apa yang..." ia terengah-engah ketakutan.

Rahwana berada di kamarnya.

Yang baru saja terjadi adalah ingatannya selama ia diculik.

"Iwan," Fransisca berada didepannya, memegang kedua bahunya, "Itu masa lalu. Hanya masa lalu..."

"Kamu-" Rahwana menelan ludahnya, tenggorokannya sakit.

Ingatan itu...

Yang sudah ia kubur cukup lama. Semua kembali lagi.

Yang membuatnya sudah kebal dengan berbagai jenis makhluk astral karena ia memang sudah melihat yang lebih buruk.

Yang membuat mata batinnya terbuka karena rasa traumatis yang cukup dalam.

Juga yang membuatnya tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita mana pun karena di hatinya terdapat sekuntum bunga putih yang dikoyak dengan kasar.

"Sis-" tubuh Rahwana bergetar. Air mata turun ke pipinya. Tenggorokannya tercekat dan kepalanya rasanya berputar.

"Saat mereka melukaiku yang pertama itu, mereka ingin aku menggugurkan anak dalam kandunganku. Tapi aku tak mau," desis Fransisca.

"Dan yang kedua itu, kupikir kami berdua, aku dan anakku, sudah tidak selamat saat itu. Aku hanya pasrah dengan keadaan, yang penting di benakku hanya kamu,"

Rahwana menggenggam jemari Fransisca dengan erat. Pemuda itu bagai tak ingin Fransisca pergi dari sisinya.

"Beruntung, tak lama setelah itu mereka berhenti. Katanya ada serbuan. Aku bahkan masih bisa mendengar suara tembak menembak di atas. Saat itu aku melihatmu jatuh ke lantai, tapi kamu masih bernafas. Hanya itu yang penting bagiku,"

Rahwana mengelus pipi Fransisca, "Sungguh, bagiku hanya kamu yang penting. Aku mengorbankan diriku dan janinku untuk kamu," desis wanita itu.

"Kenapa?" Rahwana memegangi kepala Fransisca dengan lembut, "Kenapa kamu berbuat begitu?"

"Insting saja," gumam Fransisca. "Entah darimana aku berpikir kalau kamu bukan anak sembarangan, dan pencarianmu akan menyelamatkan banyak orang. Ternyata aku benar..."

Rahwana tak menjawab, hanya menatap Fransisca dengan matanya yang sendu. Wanita itu mengangkat tangannya dan menghapus air matanya.

“Kamu sudah tumbuh menjadi pria sejati,” gumam Fransisca, “Dan aku memperhatikan prosesnya. Jiwaku terikat padamu, mungkin karena sampai akhir yang kupikirkan hanya dirimu,”

Rahwana menangkap tangan Fransisca, lalu mengamatinya.

Tangan itu yang terakhir ia lihat sebelum pingsan.

Kulit putih yang seakan tipis, selembut sutra dengan beberapa urat kehijauan terbayang, juga jemarinya yang lentik dengan buku jari pink bagaikan bunga sakura mekar.

Hanya bedanya, kali ini terpasang sempurna di tubuh Fransisca, tidak bersimbah darah.

“Aku bahkan tidak menyangka janinku dapat berkembang saat aku dalam keadaan tidak sadar,” Fransisca menatap Iwan sambil tersenyum bahagia,. “Iwan, wujudku saat ini mengadaptasi diri anakku. Untungnya ia begitu mirip denganku. Lalu aku mulai merefleksikan bagaimana jika anak ini tumbuh dewasa, dan terciptalah sosok ini. Makanya Eyang Gandhes memanggilku Fransita. Gabungan dari namaku, Fransisca, dan nama anakku, Sita.

“Kamu mirip seperti Fransisca dalam ingatanku,”

“Agak berbeda sedikit, mataku hijau. Mata Sita hitam dan rambutnya lebih gelap. Mungkin bapaknya... entah siapa, tapi semua yang berhubungan denganku ya pria prib-”

“Jangan bicarakan itu, aku tidak mau tahu hal itu,” potong Rahwana.

“Ah, ya, benar juga,” Fransisca kembali tersenyum. Di saat terburuknya, ia bahkan selalu tersenyum pada Rahwana. “Mau dengar hal lain?”

“Buruk? Baik?”

“Buruk untukmu, mungkin. Tapi baik untukku,”

“Kalau baik untukmu, katakan saja,” Rahwana kembali mengecup perlahan buku jemari Fransisca dengan lembut. Terdengar tawa pelan dari bibirnya yang merekah.

“Iwan, waktuku mungkin hanya sebentar lagi,”

Rahwana memejamkan matanya dan menarik napas panjang. Sejak lama ia tahu hal ini, namun perasaannya ke Fransisca belum sekuat sekarang. Telah lama Fransisca tersiksa dalam kesakitan, dan ia sebentar lagi akan terbebas.

“Aku akan menemuimu besok. Kuharap kamu menungguku,” kata Rahwana.

“Mudah-mudahan Tuhan berkenan, aku akan menunggumu,”  kata Fransisca.

Saat batin dua insan sudah saling terikat, tak ayal rasa saling memiliki pun tercipta. Rahwana merasa ia sudah tidak akan bertemu sosok wanita di depannya ini setelah malam berakhir. Ingatan 11 tahun yang lalu memang masih jelas teringat, namun menurutnya Fransisca yang ada di depannya dengan si Tasmirah yang selalu tersenyum menawan di ingatannya tidak jauh berbeda.

Keadaan ruangan saat itu gelap dan temaram, namun saat ini keadaan ruangan kamarnya terang benderang.

Yang akan ada di ingatannya dengan jelas adalah saat ini.

Rahwana menarik lembut leher Fransisca, lalu perlahan mengecup bibir wanita itu. Suatu dorongan alami dari laki-laki yang secara s3ksual telah matang, terlepas dari di depannya adalah manusia atau bukan.

Pertama kalinya Rahwana mencium seorang wanita, dan pemuda itu hadiahkan moment tersebut untuk wanita yang telah sepenuh hati menngorbankan hidupnya untuk Rahwana.

Nyatanya mereka berdua memang merasa saling terikat. Bukan hanya jiwa, namun juga hati.

Sentuhan bibir mereka yang tadinya hanya menempel, mulai erat saling mendorong, seakan semua tidak akan terasa pernah cukup. Mereka ingin lagi dan lagi, lebih merasakan gairah yang sedikit demi sedikit mulai menyerang ke seluruh aliran darah mereka.

Fransisca membuka sedikit bibirnya, lidah Rahwana menyerangnya masuk. Tidak ada rasa manusia, semua hanya hambar bagaikan mencium udara. Namun entah bagaimana wujud itu nyata.

Dan saat libido si pemuda mulai memuncak, giliran pelukannya yang semakin erat. Rahwana memeluk Fransisca seakan tak ingin kehilangan wanita itu. Dalam benaknya, teringat adegan demi adegan yang dialami wanita cantik itu di masa lalu. Saat itu Rahwana kecil tak bisa berbuat apa pun, kini ia mencium wanita itu dan merengkuhnya seakan melindunginya dari apa pun yang mengancam jiwanya.

Walau pun Rahwana tahu semua sudah terlambat.

Apalagi saat tiba-tiba kedua tangannya seakan kosong. Sosok wanita pujaannya seakan menghilang. Rahwana membuka matanya dan menatap Fransisca dengan nanar.

“Sisca...”

“Tenagaku, habis, Maaf,”

“Aku-”

“Ssst,” Fransisca menempelkan telunjuknya ke bibir Rahwana, “Jangan katakan itu padaku, hubungan kita tidak memiliki masa depan,”

“Tapi-”

“Kumohon, berikan saat pertamamu untuk yang berhak, tapi bukan aku, Iwan. Bukan aku,”

“Aku-”

“Aku juga, kalau kamu mengerti maksudku. Aku saja yang bicara,” Fransisca mencium Rahwana lagi, “Aku juga mencintaimu,”

Rahwana lagi-lagi hanya bisa terpaku diam.

“Aku akan menunggumu besok,” dan sosoknya pun memudar.

Meninggalkan Rahwana yang diam sambil menatap dengan pandangan kosong ke depan.

Wanitanya menghilang, lagi-lagi lenyap. Lagi-lagi Rahwana tak berdaya terhadap keadaan.

“Ah,” dan air matanya pun kembali jatuh.

Dan pemuda itu pun berlutut, menyesali semua yang terjadi. Pun ia tahu, tak ada yang bersalah dalam hal ini dan sesal hanya bayangan semu. Semua sudah garisNya, manusia hanya punya harapan.

*

*

“Iwan,” Sebastian Bataragunadi muncul di depan pintu Rahwana. Pandangan matanya penuh keprihatinan tertuju ke anaknya itu.

“Papa,” sapa Rahwana sambil menunduk. Perlahan ia berusaha bangkit walaupun masih merasa sangat lemas.

Rahwana duduk di tepi ranjangnya sambil mengusap wajahnya, menghilangkan segala air mata yang membasahi pipi dan dagunya.

Pak Sebastian melihat semua, memperhatikan semuanya. Dalam diam.

Ia juga menyesali yang terjadi. Banyak pertanyaan kenapa, kenapa dan kenapa.

Apakah jalan untuk bahagia harus menyedihkan seperti ini? Terjal sekali kalau begitu adanya. Kenapa kehidupan keluarganya tidak semudah orang lain, dan kenapa berbagai hal menyeramkan harus terjadi terhadap anak dan istrinya. Baik itu Milady mau pun Trevor, keduanya juga pernah mengalami hal-hal yang berat.

“Sangat banyak penjagaan yang Papa kerahkan untuk kamu, tapi tetap saja Papa kecolongan. Begitu banyak tenaga dan uang untuk melindungi kalian dari bahaya, tetap saja ancaman selalu datang,” Pak Sebastian masuk ke kamar anaknya dengan tenang, menarik salah satu kursi dan duduk di depan Rahwana.

“Waktu itu, kami hanya selangkah lagi untuk memecat Gopar. Selama ini ia memang kami curigai terlibat dalam organisasi penjualan obat terlarang dan human trafficking, namun kami belum memiliki buktinya. Masalahnya saat perekrutan, track recordnya cukup baik, ia baru tergoda untuk kegiatan Illegal justru saat bergabung di GSA. Kami banyak melakukan penyergaopan ke organisasi yang Polisi tidak bisa sentuh,”

Rahwana hanya mendengarkan dalam diam, bagaikan bisa membaca isi hati, Pak Sebastian menceritakan yang memang ingin didengar Rahwana.

“Saat kamu menghilang, kami berulang kali melewati gedung itu. Namun kami tidak menyangka kamu ada di dalamnya. Dua kali Arman dan Rumi bahkan mencari Gopar di sana, tetap saja mereka dengan mudah menutupi semuanya. Kami seakan dibutakan oleh arah, tidak ada yang pernah melihat kamu dan Gopar,”

“Lalu di hari ketiga, telepon itu datang. Dari seseorang yang bernama Tasmirah. Dengan berbisik dia bilang, tiga lantai di bawah tanah. Sedangkan kami lihat blue printnya, basement gedung itu dulu hanya ada dua. Ternyata di tempat itu semua terjadi, dulu Kuntoro melakukan berbagai ritual sesatnya, dan saat kamu diculik, lokasi yang sama dipakai untuk pembantaian,”

Rahwana hanya mengangguk sambil mendengarkan.

“Gopar sudah mati, ditembak Arman. Mayatnya dikubur secara massal bersama yang lain. Pemerintah tutup mata, Tasmirah yang satunya kami terbangkan ke SIngapura untuk memulai hidup baru, dan tasmirah kamu kami bawa ke tempat Bu Gandhes karena selain sekarat dia dalam kondisi mengandung,”

Pak Sebastian mencondongkan tubuhnya ke arah Rahwana, “Iwan, alasan Papa membeli gedung itu agar kamu tidak lupa bahwa manusia sangat kecil artinya di mata Tuhan. Semua bisa saja terjadi,” terlihat bahwa Pak Sebastian juga merasa prihatin.

“Saat kamu pulang ke rumah, sampai sebulan lamanya kamu mengingau kata ‘Tante’ dan ‘Tasmirah’. Bahkan beberapa kali kamu menghilang, dan ditemukan di tempat yang sama, yaitu di basement itu dalam keadaan pingsan. Kamu menyelinap dari rumah, kamu pesan ojek online, kamu pergi sendirian kesana.  Sampai-sampai di bulan terakhir Papa harus menempatkan penjaga untuk berjaga di gedung itu, sehingga kalau kamu berjalan sambil tidur kami bisa mencegah itu terjadi. Kamu tetap saja pergi ke sana, selama 6 bulan lamanya berkali-kali. Sampai kami harus meletakkan kasur di sana untuk kamu istirahat, sampai kamu tertidur lagi, kami membawa kamu pulang,”

“Setelah 6 bulan, Papa tidak tahan lagi. Papa minta manajemen Garnet Bank untuk menawarkan ahli waris Kuntoro modal kerja, dengan jaminannya adalah gedung itu. Papa tahu mereka tidak akan bisa membayar cicilannya. Jadi dengan cepat gedung itu bisa menjadi milik Papa. Semua dengan kondisi Mama kamu tidak tahu. Pokoknya, setelah gedung itu Papa sita lewat Garnet Bank, kamu berhenti mengigau dan berhenti ke sana lagi,”

“Juga aku kehilangan ingatanku,” tambah Rahwana.

“Betul,” jawab Sebastian, “Kamu mulai tidak suka makan daging atau pun yang mengandung hewani, kamu menyukai kue dan sesuatu yang manis, kamu tidak tertarik dengan wanita, kamu marah kalau Mama kamu memakai gaun seksi dan men-cat rambutnya. Kamu juga mengkoleksi kotak P3K dan berbagai antiseptik. Yang lebih ekstrim lagi,”

“Aku mulai melihat astral dan tidak takut menghadapi mereka,” sambung Rahwana.

Pak sebastian mengangguk.

“Kejadian yang kulihat di sana, lebih mengerikan daripada wujud mereka,” kata Rahwana.

Lagi-lagi Pak Sebastian mengangguk. Ia tampaknya setuju dengan Rahwana.

“Gedung itu milik kamu, tadinya kamu meringkuk di sana, sekarang kamu berdiri tegak di atasnya,”

Rahwana mengangkat wajahnya dan menatap Sebastian dengan tekad yang kuat. “Papa, terimakasih. Ternyata warisan Papa adalah tempat yang sangat berarti untukku,”

1
fitri sasmita
buaaaguuuss
Sha_rie
Baru kali ini nemu cerita horor tapi lucu 🤭 penulisannya juga enak dibaca ❤️
widya widya
Baca bab ini jangan pas tengah malam guys
Vlink Bataragunadi 👑
aku tuh kadang suka ngerasa kl Iwan blm mve on, kl Iwan suka Sita hanya krn anaknya Sisca aja
Vlink Bataragunadi 👑
istri ke 2,ih madammmm bener sih tp kan kesannya mas Yan poligami/Facepalm/
☠🍒⃞⃟🦅𝒜𝐿𝓊𝓃𝒶
dah beneran ama sita ya
☠🍒⃞⃟🦅𝒜𝐿𝓊𝓃𝒶
bentar sandra Ellen yang novel mana ya kk sep, kog aku lupa sih
☠🍒⃞⃟🦅𝒜𝐿𝓊𝓃𝒶
jangan bilang nay ama om rumi
☠🍒⃞⃟🦅𝒜𝐿𝓊𝓃𝒶
ya elah nasib mu, udah beda keyakinan beda dunia lagi dah lah
☠🍒⃞⃟🦅𝒜𝐿𝓊𝓃𝒶
wah dah lah plot twist. nya bener" wow, keren kk septi
☠🍒⃞⃟🦅𝒜𝐿𝓊𝓃𝒶
edyan ai bisa"nya ama siluman loh
☠🍒⃞⃟🦅𝒜𝐿𝓊𝓃𝒶
jangan sampek arman jdi Ubi 🤧
☠🍒⃞⃟🦅𝒜𝐿𝓊𝓃𝒶
njirr tampang ai ganteng banget, ye kagak salah jdi cem"an si nay, ya tapi tembok terlalu tinggi ya ai
☠🍒⃞⃟🦅𝒜𝐿𝓊𝓃𝒶
wow speechless aku bacanya, plot. nya bener" susah ditebak keren kk
☠🍒⃞⃟🦅𝒜𝐿𝓊𝓃𝒶
kalau bentukan Rahwana kek gini , gimana sita kagak oleng 🫣
☠🍒⃞⃟🦅𝒜𝐿𝓊𝓃𝒶
ya kagak ada yg liat lah bru, orang itu cuma ditugaskan cuma buat lu doang
☠🍒⃞⃟🦅𝒜𝐿𝓊𝓃𝒶
wah kalau urusan sama eyang gandhes mah bakalan bneran ini jadi jodoh bener 🤭
☠🍒⃞⃟🦅𝒜𝐿𝓊𝓃𝒶
noni noni itu astral juga kah
☠🍒⃞⃟🦅𝒜𝐿𝓊𝓃𝒶
jd yg pak firman pertama hantu
another Aquarian
dihh, akrab banget dahhh calon besan 😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!