NovelToon NovelToon
Rival Tapi Nempel

Rival Tapi Nempel

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Basket / Persahabatan / Slice of Life / Keluarga / Teen School/College
Popularitas:261
Nilai: 5
Nama Author: Kairylee

Rakha dan Keenan sudah bertahun-tahun saling benci. Satu keras kepala, satu lagi dingin dan gampang naik darah. Dua-duanya sama-sama ahli bikin masalah.

Sampai pelatih baru datang dan memaksa mereka jadi duo inti. Lebih parahnya lagi... ada aturan tambahan. Mereka harus selalu bersama, mulai dari latihan bareng, ngerjain tugas bareng, bahkan pulang pergi bareng. Pokoknya 24/7.

Awalnya terjadi keributan yang cukup besar. Tapi lama-lama, mereka mulai terbiasa. Bahkan tanpa sadar… mereka selalu menempel.

Dan masalahnya cuma satu, bagaimana kalau "benci" itu pelan-pelan berubah jadi sesuatu yang jauh lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairylee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 — Jarak yang Mulai Terasa

Latihan dilanjutkan.

Peluit sudah memberi tanda, tapi udara di lapangan tidak kembali seperti semula. Ada sesuatu yang tertinggal—bukan amarah, melainkan sisa kalimat yang tidak sempat diucapkan.

Rakha bergerak ke posisinya tanpa menoleh. Bahunya sedikit menegang, tapi langkahnya tetap terukur. Ia melakukan apa yang selalu ia lakukan, membaca, mengatur, menutup celah.

Tubuhnya bekerja lebih cepat daripada pikirannya.

Keenan, di sisi lain, butuh beberapa detik untuk benar-benar masuk lagi ke permainan. Ia memantulkan bola, sekali, dua kali—lebih keras dari biasanya. Bukan karena gugup.

Karena ada sesuatu yang ingin ia keluarkan, tapi tidak tahu lewat mana.

Permainan berjalan.

Skema diputar ulang, tapi rasanya berbeda.

Rakha mengirim operan pendek ke Dimas, lalu bergerak memotong ke tengah. Biasanya, Keenan akan langsung menutup sisi kanan, memberi ruang balik. Kali ini, Rakha tidak menunggu. Ia mengisi ruang itu sendiri.

Keenan melihatnya. Ia tetap bergerak, tentu saja. Menutup jalur, mengejar tempo. Tapi langkahnya selalu datang setengah detik terlambat, seperti membaca buku dengan halaman yang sudah disobek.

Bola masuk. Pelatih mengangguk. Secara teknis, tidak ada yang salah.

Justru itu yang membuatnya makin aneh.

Di sela permainan, Keenan melirik Rakha. Bukan tatapan menantang. Lebih seperti mencari konfirmasi—apakah ia harus bicara, atau pura-pura tidak terjadi apa-apa.

Rakha tidak melihat ke arahnya. Ia menepuk tangan sekali, memberi isyarat ke pemain lain. "Rotate."

Nada itu netral. Profesional. Terlalu profesional untuk seseorang yang biasanya membaca Keenan bahkan sebelum ia bergerak.

Keenan menelan ludah. Ia tidak tahu sejak kapan permainan ini berubah menjadi sesuatu yang harus ia kejar.

Di bangku cadangan, Nayla memperhatikan tanpa terlihat mencolok. Kamera tergantung diam, tapi matanya mengikuti alur. Bukan bolanya—melainkan jarak di antara dua orang itu.

Ia melihat Rakha yang lebih hemat gerak. Melihat Keenan yang terlalu rajin mengisi ruang yang tidak diminta.

Dan ia tahu ini bukan soal teknik.

Pelatih meniup peluit lagi, memberi jeda singkat. Beberapa pemain langsung menuju botol minum. Keenan ikut mendekat, meneguk air sekali, lalu sekali lagi, seolah tenggorokannya lebih kering dari biasanya.

Rakha berdiri sedikit terpisah. Menyandarkan punggung ke tiang, mengusap tengkuknya.

Nayla menghampiri. Tidak langsung bicara. Ia menyerahkan botol, menunggu Rakha mengambilnya.

"Kamu lagi banyak pikiran?" tanyanya ringan.

Rakha menggeleng. "Enggak."

Nada jawabannya cepat. Terlalu cepat.

Nayla mengangguk, menerima itu apa adanya. Ia tidak bertanya lebih jauh. Hanya berdiri sebentar, memastikan Rakha minum, lalu berbalik.

Keenan melihat adegan itu dari kejauhan.

Entah kenapa, dadanya mengencang sedikit.

Ia bukan iri. Bukan juga curiga. Lebih seperti… kehilangan peran yang bahkan belum sempat ia sadari penting.

Latihan dimulai lagi.

Kali ini, pelatih mengubah formasi. Memecah mereka di sisi yang berlawanan.

Rakha menerima keputusan itu tanpa komentar. Keenan mengangguk pelan, meski ada rasa aneh di perutnya—seperti sesuatu dipisahkan sebelum ia siap.

Permainan jadi lebih cepat. Lebih fisik. Rakha bertahan dengan disiplin, menutup jalur satu per satu. Keenan menyerang agresif, memaksa ruang yang sempit terbuka.

Mereka saling berhadapan satu kali.

Keenan mencoba melewati Rakha. Gerakannya rapi, niatnya jelas. Rakha membaca arah itu, memotong langkahnya di saat yang tepat.

Bola terlepas.

Keenan berhenti. Rakha mengambil alih bola tanpa ekspresi.

Tidak ada selebrasi kecil. Tidak ada komentar.

Hanya tatapan singkat—cukup lama untuk menyadari bahwa mereka sekarang berada di sisi yang berlawanan, bukan hanya secara posisi.

Peluit panjang akhirnya menutup latihan.

Beberapa pemain menghela napas lega. Ada yang tertawa, ada yang langsung duduk di lantai. Energi turun pelan-pelan, meninggalkan sisa lelah yang biasa.

Keenan melempar handuk ke bahunya. Ia ragu sejenak, lalu melangkah ke arah Rakha.

"Rakha..." panggilnya.

Rakha berhenti, tapi tidak langsung menoleh. "Kenapa?"

Keenan membuka mulut. Menutupnya lagi.

Banyak yang ingin ia tanyakan. Terlalu banyak, malah. Tapi tidak ada satu pun yang terasa tepat untuk diucapkan.

"Lu… kenapa hari ini? What's wrong?" akhirnya ia berkata.

Rakha menoleh. Menatap Keenan dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Kenapa nanya?"

"Biasanya lu nggak begini"

Rakha terdiam sebentar. Ia mengalihkan pandangan ke lantai, lalu kembali menatap Keenan. "Gue baik-baik aja, lu aja yang terlalu peduli."

Jawaban itu rapi. Terlalu rapi.

Keenan mengangguk, meski perutnya tidak merasa tenang. "Kalau gue ada salah—"

"Lu nggak salah," potong Rakha cepat.

Nada itu lembut. Tapi justru itu yang membuat Keenan makin bingung.

"Terus kenapa rasanya kayak—" Keenan berhenti. Ia menghela napas pendek. "Lu menjauh dari gue?"

Rakha memejamkan mata sesaat. Sepersekian detik. Lalu membukanya lagi. "Kadang," katanya pelan, "orang cuma butuh ruang untuk sendiri."

"Tanpa bilang apa pun?"

Rakha tidak langsung menjawab. "Nggak semuanya harus lu tau."

Kalimat itu tidak menyelesaikan apa pun. Mereka berdiri berhadapan, jarak satu langkah. Terlalu dekat untuk pura-pura tidak peduli. Terlalu jauh untuk jujur sepenuhnya.

Nayla berdiri beberapa meter dari mereka, pura-pura sibuk merapikan barang. Ia tidak ikut campur. Tapi keheningan itu sampai padanya.

Rakha akhirnya melangkah pergi lebih dulu.

Keenan menatap punggungnya, ada sesuatu yang ingin ia kejar—bukan Rakha, tapi penjelasan yang tertinggal di udara.

Ia tidak tahu apa yang salah darinya.

Dan justru itu yang membuat semuanya terasa makin berat.

Latihan hari itu berakhir seperti biasa.

Tapi bagi mereka berdua, sesuatu sudah bergeser.

Bukan hancur.

Belum.

Namun cukup untuk membuat keduanya bertanya-tanya hal yang sama, dengan cara yang berbeda, 'sejak kapan kebersamaan perlu diatur ulang?'

1
Panda
jejak yaa kak

kayanya bakal keren, aku tunggu sampai chapter 20 baru kebut baca 🤭
Kairylee: okee kak, selamat menunggu... semoga memuaskan, soalnya baru nyelam juga disini/Smile//Smile/
total 1 replies
Anna
ih lucu/Chuckle/
r
😚🤍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!