NovelToon NovelToon
Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Tamat
Popularitas:370k
Nilai: 5
Nama Author: nurusysyifa

Cinta karena harta akan musnah, karena rupa akan termakan usia.Tapi cinta karena Allah, akan kekal abadi sampai Jannah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurusysyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31.Luka Yang Kembali Terbuka

...____...

...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...

Air mata Arini terus mengalir cukup deras, dia terus berlari setelah sampai di lantai dasar. Tempat sudah sangat sepi tak ada yang lain yang ada di sana hanya ada dua penjaga yang tengah sibuk dengan pekerjaannya yang tak melihat Arini yang tengah berduka.

Karena perdebatan tadi membuat Arini kembali terlambat, angkutan yang terakhir sudah lewat dan mungkin Arini harus kembali jalan kaki untuk sampai rumah.

Arini masih terus berlari dengan sesekali mengusap air matanya yang tak mau berhenti. Mungkin luka hatinya terlalu dalam hingga air matanya terus mengalir mengiringinya.

"Arghhhh...!" Teriak Arini saat dia ada di empat yang sepi.

Arini menepi dari jalan raya mencari tempat yang tepat untuk dia menuntaskan semua air matanya yang masih tersisa. Arini terduduk lemas dia bersimpuh dengan rasa sakitnya.

"Kenapa ya Allah, kenapa Kau korek lagi luka ini. Kenapa Kau buka lagi luka yang hampir kering, kenapa... "

"Apakah aku memang tidak pernah pantas untuk bahagia, apakah aku memang tidak pernah pantas mencicipi kebahagiaan sedikit saja? "

"Aku sudah ikhlas dengan semua takdir yang Engkau berikan pada ku. Aku sudah menerima semua cobaan dan penghinaan semua sudah aku terima, apakah masih kurang? apakah masih kurang Engkau menguji ku..., hiks..."

Tangis Arini pecah, mungkin ini adalah tangis terbesar setelah dia pergi dari rumah beberapa hari yang lalu.

Luka Arini begitu dalam, dia perlahan merangkak untuk bisa keluar dari luka-luka itu dan setelah dia mulai berhasil berdiri dia kembali di terjunkan ke lubang yang sama.

Arini sadar dia tak bisa di bandingkan dengan siapapun dia juga takkan mudah untuk mendapatkan kebahagiaan seperti yang lainnya, tapi Arini tetap mencoba meskipun perlahan.

Namun apalah daya, hati Arini begitu rapuh hingga dia kembali masuk ke lubang luka yang sama dengan mudah.

"Aku harus bagaimana lagi, apa yang harus aku lakukan? semua orang meragukan ku, semua orang tidak percaya padaku, hiks.. hiks... hiks..."

"Menangis lah, habiskan luka mu, tuntaskan air matamu sampai besok tak bisa keluar lagi. Tak selamanya kamu akan menangis, ada waktunya kamu akan terus tersenyum penuh kebahagiaan,"

Arini mengangkat wajahnya, melihat siapa yang datang, "Pak- pak Dokter.." cepat Arini menghapus air matanya, namun tetap saja tak bisa menghentikannya.

"Menangis lah jika itu akan membuatmu lebih baik. Keluarkan lah semua jika setelah itu kamu bisa tenang," ucap Dimas.

Arini berdiri dia kembali menunduk dia tak sanggup menatap Dimas apalagi menatap Dunia.

"Ikutlah dengan saya,"ajak Dimas entah kemana dia akan mengajak Arini.

"Ke-kemana? " tanya Arini.

"Ikutlah," Dimas tersenyum simpul terlihat begitu manis dan sangat menenangkan, "jangan takut, saya orang baik."

"Hem," entah keputusan darimana Arini langsung mengangguk dan mengikuti Dimas pergi.

Dimas membukakan pintu mobil untuk Arini setelah masuk Dimas kembali menutupnya.

Dimas juga masuk ke tempat pengemudi lalu melajukan mobilnya membawa Arini pergi dari sana.

Dimas mengambil air mineral memberikannya kepada Arini, Dimas tau dengan minum Arini akan lebih baik, "minumlah," ucapnya. Tangannya terulur dan satunya masih aktif dengan setir.

Arini hanya tersenyum kecil, tangannya terangkat namun bukan untuk menerimanya melainkan menjauhkan darinya, "saya sedang puasa," jawab Arini.

"Oh, maaf," cepat Dimas menyimpan botol mineral itu. Dia sedikit menyesal karena dia tidak tau kalau Arini sedang berpuasa dan malah menawarkan air padanya.

"Hem, Pak Dokter tidak salah," Arini kembali memandangi luar, hatinya sedikit tenang daripada tadi. Mungkin karena ada Dimas di sebelahnya dan Arini tak mau terlihat rapuh.

Keduanya terus diam, sesekali Dimas melirik ke arah Arini yang terus mencoba untuk kuat entah cobaan seperti apa yang dia alami sekarang, Dimas benar-benar tidak mengetahuinya.

"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘧𝘢𝘮𝘪𝘭𝘪𝘢𝘳 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘪𝘯𝘪? 𝘢𝘭𝘪𝘴𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘢𝘵𝘢, 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘯𝘨, 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘣𝘪𝘣𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨, " Batin Dimas.

"Kenapa pak Dokter baik sama saya?" tanya Arini tampa menoleh.

"Karena saya lihat kamu orang baik," jawab Dimas dengan cepat.

Arini tersenyum datar, "apakah pak Dokter yakin saya orang baik?" senyum Arini kembali pudar.

Sisi yang lain kini di lihat oleh Dimas, Gadis polos, yang terlihat lemah, terlihat seperti kekanak-kanakan kini telah terganti dengan gadis yang tegar dan terlihat sangat dewasa. Dimas di buat tak percaya dengan dua sisi yang berbeda dari Arini, keduanya sangat berbanding terbalik.

Kadang Arini akan terlihat seperti gadis yang bodoh tanpa ilmu, tapi kadang dia akan terlihat seperti gadis terpelajar yang penuh dengan kedewasaan dan penuh dengan pengalaman.

"Dimana kamu belajar," tanya Dimas.

Arini bingung dengan pertanyaan Dimas, di mana dia belajar? Arini hanya belajar sebatas SMP saja dan itu hanya sekolah terbuka, tapi bagi Arini pelajaran yang sebenarnya bukanlah di area sekolah melainkan jalan hidupnya lah yang mengajarkan semua pelajaran itu.

Bagaimana Arini harus pintar menghadapi berbagai jenis orang, bagaimana dia harus menghadapi dunia yang seolah terus mengucilkannya.

"Saya tidak belajar di mana pun," Jawab Arini dengan jelas.

"Apa kamu ada masalah? ceritalah mungkin bisa membuat hatimu lebih tenang," ucap Dimas yang ingin sekali mendengar keluh kesah dari Arini.

"Tidak, saya tidak ada masalah," jawabnya dengan begitu dingin, "Pak Dokter mau bawa Arini kemana?" tanya Arini.

Dimas tak menjawab, namun mobilnya sudah berhenti, "kita sudah sampai," ucapnya.

Arini duduk tegak matanya terus menerawang ke segala penjuru dari balik kaca yang masih tertutup, "ini tempat apa?"

"Turunlah, dan kamu akan mengetahuinya," pinta Dimas.

Wajah Arini berubah menjadi panik, dan itu di sadari oleh Dimas, "kenapa, apakah kamu tidak mau turun? " tanya Dimas bingung.

"Hehehe... " Arini meringis membuat Dimas bingung dengan sisi Arini yang kembali berubah seperti anak kecil, "saya tidak bisa buka pintu mobil," imbuhnya dengan malu.

Dimas ternganga sejenak namun akhirnya dia tersenyum sembari menggeleng. Arini terlihat menggemaskan jika seperti ini, sebenarnya sisi mana yang Arini punya.

Dimas keluar memutar lewat depan lalu membuka pintu di sebelah Arini, "turunlah," pintanya.

Arini keluar, namun matanya masih memandangi tangan Dimas yang masih memegangi pintu mobil.

"Oh, jadi begitu ya cara bukanya. Jadi bukanya harus lewat luar ya, Pak Dokter? apa nggak bisa di buka lewat dalam?" tanya Arini tak mengerti dengan benda berjalan itu.

"Bisa, dari luar atau dari dalam bisa," Jawab Dimas.

"Oalah, alat yang canggih. Sudah bisa jalan tanpa di dorong, mengeluarkan suara, bahkan ada anginnya juga di dalam, Dunia memang semakin canggih saja," ucapnya yang kembali dengan polos.

"Apa kamu tidak pernah naik mobil? " Arini menggeleng karena dia memang tak pernah menaiki mobil hanya selalu melihat saja milik Melisa, "terus? apa saja yang pernah kamu naiki? "

"Banyak, ada angkutan umum, bis, ada becak, dan..., apalagi ya? pokoknya banyak deh," jawab Arini.

Dimas terus tersenyum mendengar celotehan Arini, " Yuk," ajaknya.

Arini berjalan di giring oleh Dimas, menuju sebuah taman yang ada sebuah tebing yang tidak terlalu dalam di sana. Arini terhenyak, dia waspada seketika menoleh ke arah Dimas dengan tajam, "Pak Dokter tidak meminta Arini untuk lompat kan? " tanyanya.

"Hahaha...mana mungkin saya akan melakukan itu, saya masih punya hati! " tawa Dimas pecah. Ketakutan Arini malah seakan menjaga guyonan untuk Dimas.

"Terus Arini harus ngapain ke sini, Pak Dokter?" tanya Arini begitu polos.

"Bukankah kamu mau melepaskan kesedihanmu? maka teriak lah di sini sekencengnya, aku yakin sakit mu akan berkurang,"

"Itu bukan Arini, Pak dokter. Kalau sedih itu jangan pergi ke tempat seperti ini, teriak-teriak tidak jelas seperti orang gila. Tapi kalau sedih itu ambil wudhu, sholat dan ceritakan semua masalah pada Allah. Baru bisa tenang," jawab Arini.

Dimas terpaku tak dapat berbicara, ternyata caranya adalah salah, "oh, maaf. Saya tidak tau kalau kebiasaan Arini seperti itu. Maaf," ucap Dimas menyesal.

Arini menggeleng tak masalah, ini bukan masalah besar untuk Arini, bahkan Arini sangat berterima kasih karena Dimas berusaha membantunya menghilangkan kesedihannya.

Arini melangkah mendekati tebing, Dimas sangat was-was melihat itu. Dimas sangat ketakutan kalau apa yang di katakan Arini tadi tidak sesuai dengan hatinya, "Arini, kamu mau ngapain."

Arini diam tak menjawab, dia memilih merentangkan kedua tangannya, menutup mata. Merasakan hembusan angin yang begitu sejuk, membayangkan indahnya senja yang sebentar lagi akan terganti dengan malam.

Sungguh tenang Arini rasakan, hatinya sangat senang.

Dimas bernafas lega, ternyata apa yang dia pikirkan salah, "seandainya kamu masih ada, Dek. Pasti kamu akan sama seperti Arini," gumam Dimas, hatinya kembali sendu saat mengingat akan adiknya yang telah tiada.

Allahu Akbar.... Allahu Akbar....

Arini langsung membuka matanya cepat mencari tempat duduk, membuka tas nya untuk mengambil dua butir kurma yang menjadi bekalnya dari rumah, "Alhamdulillah...," ucapnya penuh syukur, akhirnya dia bisa menyelesaikan puasanya di hari ini.

"Arini, " Dimas mendekat duduk di sebelah Arini.

"Hem.. " Arini menoleh menghentikan tangannya yang ingin memasukkan kurma ke dalam mulutnya, "Pak dokter mau," Arini menyodorkan satu biji kurma untuk Dimas meskipun dia sedang berbuka tapi dia tak mau tamak dan tak mau membagi pada orang lain.

"Tidak, kamu saja yang makan," jawab Dimas.

"Beneran Pak dokter tidak mau?" tanya Arini memastikan, dan Dimas menggeleng.

Dimas menunggu hingga dua biji kurma itu habis setelah itu Dimas mengajak Arini untuk pulang.

"Sudah cukup untuk sekarang, kita pulang," Arini cepat beranjak, dia juga tak bisa lama-lama berada di tempat itu berdua saja dengan Dimas itu tidak akan baik.

"Hem..," Arini mengangguk cepat.

"Sebelum aku antar kamu pulang kita mampir ke suatu tempat dulu untuk makan malam,"

"Tidak tidak! Nenek juga Kakek pasti sudah menunggu Arini," tolak Arini.

"Ya sudah, kita hanya mampir untuk beli. Makanannya bisa di bungkus dan di bawa pulang,"

"Tapi..? "

"Sudah, tidak boleh menolak rezeki. Anggap saja ini Allah yang memberikannya, Hem.. "

Akhirnya Arini pasrah, menurut kepada Dimas.

//////

Bersambung...

_______

1
Sakinah Gina
mang sejelek apa seh Arini ada ftny ga?😁
❤️⃟Wᵃf✰͜͡ᴠ᭄ᴇʟᷜᴍͣuͥɴᷤ✪⃟𝔄⍣⃝కꫝ🎸
Alhamdulillah...
❤️⃟Wᵃf✰͜͡ᴠ᭄ᴇʟᷜᴍͣuͥɴᷤ✪⃟𝔄⍣⃝కꫝ🎸
Ada" aja dramamu,Arini... Si Arya juga ketularan onengnya
M⃠Ꮶ͢ᮉ᳟Asti 𝆯⃟ ଓεᵉᶜ✿🌱🐛•§¢•
dan Akhirnya happy ending 🤗
M⃠Ꮶ͢ᮉ᳟Asti 𝆯⃟ ଓεᵉᶜ✿🌱🐛•§¢•
ada bonchapnya gak kak?
M⃠Ꮶ͢ᮉ᳟Asti 𝆯⃟ ଓεᵉᶜ✿🌱🐛•§¢•: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 4 replies
M⃠Ꮶ͢ᮉ᳟Asti 𝆯⃟ ଓεᵉᶜ✿🌱🐛•§¢•
sangat menarik 👍👍👍👍
🍌 ᷢ ͩ꧁❧❤️⃟Wᵃf ʜꙷɪᷧɑⷮɑͧтᷡʰᵉᵉʳᵅ
lah lah baru juga semalam di jenguk si adek udah gak mau di ajak bermain di dalam lagi ya dia langsung pengen keluar karen mau di ajak maenan dakon dan petak umpet
ini memang pasangan unik lah ya arini dan Arya
wuah Arya junior sudah mau otw ini semoga lancar ya lahiran nya jangan membuat kerecokan di rumah sakit nanti agar para dokter dan perawat tidak bingung 😅😅😅
🍌 ᷢ ͩ꧁❧❤️⃟Wᵃf ʜꙷɪᷧɑⷮɑͧтᷡʰᵉᵉʳᵅ: emang nya umi kapas
total 8 replies
M⃠Ꮶ͢ᮉ᳟Asti 𝆯⃟ ଓεᵉᶜ✿🌱🐛•§¢•
Arya junior otw
❤️⃟Wᵃf✰͜͡ᴠ᭄ᴇʟᷜᴍͣuͥɴᷤ✪⃟𝔄⍣⃝కꫝ🎸
Majikannya tahu diri banget sih, mana jujur lagi..🤭🤭🤭
❤️⃟Wᵃf✰͜͡ᴠ᭄ᴇʟᷜᴍͣuͥɴᷤ✪⃟𝔄⍣⃝కꫝ🎸
Pertanyaan konyol... kalau g sayang dah di tendang lah kamu dari kehidupan Arya...hufh
🍌 ᷢ ͩ꧁❧❤️⃟Wᵃf ʜꙷɪᷧɑⷮɑͧтᷡʰᵉᵉʳᵅ
dasar bapak Arya bucinya kebangetan ya kerja nya itu di selesaikan dulu baru nanti pandangin istrimu kalau tidak ya buruan pulang biar segera ketemu sama istrimu
🍌 ᷢ ͩ꧁❧❤️⃟Wᵃf ʜꙷɪᷧɑⷮɑͧтᷡʰᵉᵉʳᵅ
yg laki sudah khawatir takut istrinya kesakitan lah ternyata istrinya teriak hanya karena anak di dalam kandungan nya sedang bergerak dan nendang" kalau lakinya gk sabar mengahadapi arini bisa" setiap pulang kerja bukan nya hilang setres nya tapi malah nambah setres ya ar 😅😅
🍌 ᷢ ͩ꧁❧❤️⃟Wᵃf ʜꙷɪᷧɑⷮɑͧтᷡʰᵉᵉʳᵅ: untung cinta tadi lah ya
total 2 replies
🍌 ᷢ ͩ꧁❧❤️⃟Wᵃf ʜꙷɪᷧɑⷮɑͧтᷡʰᵉᵉʳᵅ
kamu tau ar jika istrimu itu memang unik dan langka tapi memang kalau bibir di gigit ya bisa jadi langsung sariawan karena bibir kan memang sensitif
nah lho Arya salah jawab kan makanya kalau istri sedang mengagumimu jangan kamu komplain dia keluar kan kata" yg bisa bikin kamu bingung
🍌 ᷢ ͩ꧁❧❤️⃟Wᵃf ʜꙷɪᷧɑⷮɑͧтᷡʰᵉᵉʳᵅ
bahkan rasanya anggi sudah tidak pantas untuk kamu jadikan teman ae ya karena sejatinya tidak akan pernah ada pertemanan yg murni antara laki" dan perempuan apalagi anggi adalah masa lalu mu
🍌 ᷢ ͩ꧁❧❤️⃟Wᵃf ʜꙷɪᷧɑⷮɑͧтᷡʰᵉᵉʳᵅ
typo ye kenapa namanya bukan arya
❤️⃟Wᵃf✰͜͡ᴠ᭄ᴇʟᷜᴍͣuͥɴᷤ✪⃟𝔄⍣⃝కꫝ🎸
Sabar Arya,Sabaaaaar... istrimu itu lain dari pada yg lain. Dia limited edition ibarat barang branded
𝕹𝖚𝖗𝖚𝖘𝖞𝖘𝖞𝖎𝖋𝖆: , 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
❤️⃟Wᵃf✰͜͡ᴠ᭄ᴇʟᷜᴍͣuͥɴᷤ✪⃟𝔄⍣⃝కꫝ🎸
Sakit tapi tak berdarah deh sudah di tolak sm orang yang kita cintai. Dulu kamu yg meninggalkannya, sekarang kamu di tolak mentah". Cari yang lain z gihh
M⃠Ꮶ͢ᮉ᳟Asti 𝆯⃟ ଓεᵉᶜ✿🌱🐛•§¢•
untung cinta, kalau gak, gak mungkin Seorang Arya akan sabar menghadapi Arini 🤭
M⃠Ꮶ͢ᮉ᳟Asti 𝆯⃟ ଓεᵉᶜ✿🌱🐛•§¢•
terima kasih sudah up kak Thor 😍😍😍😍😘
M⃠Ꮶ͢ᮉ᳟Asti 𝆯⃟ ଓεᵉᶜ✿🌱🐛•§¢•: up lagi kak sampai tamat 🏃🏃🏃🏃🏃🏃
total 2 replies
off
sangat menarik 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!