Asep seorang pemuda biasa saja, yang selalu tersisih dari kancah dunia percintaan, ditolak ciwi-ciwi karena selalu tongpes, bokek dan misquin.
Tiba-tiba suatu hari Asep ketiban Durian runtuh sepohon-pohonnya. Walhasil Asep dalam sekejap jadi OKB.
Yuk kita intip, apa yang membuat Asep bisa memperbaiki nasibnya... Hihihi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Ngikut Bang
"Bang Asep terimakasih atas kunjungannya."
Kata Bu Retno Guntara senang sekali menerima segepok uang dari Asep yang akhirnya memborong dua belas porsi ayam bakar taliwang di tempat makannya.
Asep tentu saja tampak tersenyum sumringah merekah.
"Saya juga makasih ini Bang."
Kata Bu Putri yang tampak membawa bungkusan buat di rumah setelah tadi juga makan di tempat bareng Asep dan Emak.
"Iya nih Bang Asep, makasih ya atas traktirannya, semoga tambah sukses ya Bang Asep."
Kata Bu Arinda yang juga menenteng bungkusan pula.
"Eh Bu Ibu, nitip buat Bu Resti sekalian ya, saya mau mampir beli martabak dulu soalnya."
Kata Emak.
"Wah si Emak, sudah makan dua porsi ayam bakar masih ingin makan martabak."
Bu Putri geleng-geleng kepala macam kipas angin.
"Ya buat temen lembur jahitan Bu."
Ujar Emak beralasan.
"Oh iya betul itu Bu, kalau lembur jangan sampai membiarkan perut kemriwik, nanti yang ada kemasukan angin dan bisa juga kalau terlalu kosong jadi kesurupan."
Kata Bu Arinda.
Mendengarnya tentu saja Emak jadi takut.
ngomongin kesurupan membuat Emak langsung ingat pagi tadi katanya Bu Resti melihat gadis cantik di rumah.
Bu Putri yang menangkap ekspresi takut-takut di wajah Emak jadi menabok Bu Arinda.
"Bu Arinda nih, malah nakutin Bu Lisa lho."
Kata Bu Putri jadi tak enak.
"Ooh, iya Bu Lisa, maaf maaf..."
Bu Arinda nyengir tanpa dosa.
Akhirnya daripada salah bicara lagi, Bu Arinda pun segera permisi.
Bungkusan untuk Bu Resti diambil alih dari tangan Emak oleh Bu Putri.
"Saya saja yang sampaikan ke Bu Resti, Bu Lisa."
Ujar Bu Putri.
Emak mantuk-mantuk setuju.
Bu Putri dan Bu Arinda pun segera cap cus pulang.
Asep mengikuti Emak juga keluar dari warung makan.
Di samping rumah makan tampak Bang Gusur si karyawan teladan Bu Retno Guntara sedang meletakkan satu wadah berisi sisa-sisa tulang ayam.
Wadah itu di letakkan di samping tempat makan yang ada di lorong, di mana di sana kemudian banyak kucing liar mendekat dan makan sisa-sisa tulang ayam yang dimakan pelanggan tak habis.
Sepertinya sengaja Bu Retno Guntara suruh karyawannya pisahkan dari sampah lain agar bisa di letakkan di sana untuk rejeki kucing liar.
Asep dan Emak berpandangan, lalu keduanya menuju motor milik Sobir yang dipinjam Asep.
Mobil Pajero cowok Anggita masih terparkir tak jauh dari motor Sobir yang dipinjam Asep.
Asep menyempatkan diri menoleh ke arah mobil pajero itu, dan juga pada cowok Anggita yang sedang sibuk memegangi tangan cewek cantik yang duduk di depannya.
Makan apa lihat-lihatan, kapan selesainya makannya. Batin Asep julid.
Asep naik ke motor.
Emak menyusul Asep naik ke boncengan.
"Besok pas kliwon Asep habis setor etalase ke Tuan Anonymous, Asep akan ke tempat wak Imah, Mak."
Kata Asep tiba-tiba.
"Aah iya kamu punya hutang kan sama Wak Imah, cepatlah bayar hutangnya, jangan lupa bawa buah tangan untuk Wak Imah, kalau ada waktu ajak jalan-jalan si Dede itu, dia kan adikmu juga."
Ujar Emak mengingatkan.
"Iya Mak, Asep pasti akan bawakan buah tangan yang terbaik buat Wak Imah."
Kata Asep.
Lalu...
"Asep selain mau bayar hutang, juga mau beli mobil Mak."
"Hah?"
Emak melongo.
"Mobil Sep?"
Tanya Emak memastikan.
Emak juga sampai telinganya di colok takut salah dengar.
"Iya Mak, mobil, cuma mobil kecil sih Mak, tapi bagus kok Mak, kayak milik sodaranya Bu Selasih."
Ujar Asep.
"Wah Emak sih tidak tahu jenis mobil Sep, tahunya mobil ya mobil sajalah pokoknya."
Kata Emak.
Asep menyalakan mesin motornya, lalu segera melajukan motor milik Sobir itu meninggalkan tempat makan Bu Retno Guntara.
Sesuai keinginan Emak, Asep mengantar Emak menuju pedagang martabak.
Emak memang sangat suka makan martabak, terutama martabak keju susu.
Sampai di tempat pedagang martabak langganan Emak, terlihat antrian cukup panjang, namun pantang menyerah bagi Emak tentu saja, ia tetap meminta Asep berhenti di sana dan membeli martabak kesukaannya.
Asep sebagai anak yang berbakti tentu saja menurut.
Ia mengaminkan apa yang dikehendaki sang Ibu.
Asep memarkirkan motornya di antara deretan motor lainnya, lalu kemudian mencari kursi plastik yang masih kosong untuk duduk Emak.
"Mau pesan berapa porsi Mak?"
Tanya Asep pada Emak.
"Kalau Emak mah satu saja."
Sahut Emak.
Asep mantuk-mantuk.
Ia lantas cepat mendekati si abang penjual untuk memesan.
Karena Asep ingat pagi tadi Ibunya Sobir sudah masak buat sarapan Asep, akhirnya Asep berencana akan mengirim martabak sekalian nanti saat pulang ke rumah Bik Marni.
Ya meskipun pastinya bukan Asep yang antar, tapi Sobir, hihihi...
Asep akhirnya pesan martabak lima porsi.
Empat porsi keju susu, dan satu porsi martabak telor istimewa.
Kebetulan setelah Asep pesan, orang yang mengantri dan duduk di samping Emak pergi karena pesanannya telah siap, maka Asep pun segera duduk di samping Emak.
"Pesan berapa?"
Tanya Emak.
"Lima porsi Mak."
Kata Asep.
"Lah banyak amat."
Komen Emak.
"Itu sedikit lah Mak. Kan itu satu untuk Emak, dua untuk Asep sama Bani dan Sobir, satu lagi untuk Ibunya Sobir, dan satu lagi untuk Depy.'
"Depy?"
Emak menyebut nama Depy.
"Iya Mak, Depy, anak mantan lurah Desa Rukun Jengkol."
Kata Asep.
"Pacar kamu?"
Tanya Emak.
Asep terlihat nyengir sambil menyibukkan diri mengambil rokok dari kantong jaketnya.
Depy lagi... Depy lagi...
Tiba-tiba sesosok gadis tak kasat mata terlihat mengerucutkan bibirnya.
Gadis itu berdiri di samping Asep yang duduk di sebelah Emaknya.
"Emak ingin cari rewang Sep."
Tiba-tiba Emak bicara.
Asep yang sedang menyalakan rokok menoleh ke arah Emak.
"Ya Mak, cari saja."
Kata Asep.
"Iya, yang bisa bantu jahit dan juga bisa nemenin Emak di rumah."
Tambah Emak.
"Iya Mak, nanti Asep yang gaji, tenang saja."
Ujar Asep.
Asep ini tampaknya memang anak yang berbakti, berbeda dengan Malin Kundang yang begitu sukses malah tak mau mengakui Ibunya, Asep berlaku sebaliknya, ia ingin mempersembahkan kesuksesannya untuk sang Ibu sebelum nantinya ia menikah dan harus membaginya juga untuk sang isteri.
"Tadi pagi Bu Resti cerita katanya lihat gadis cantik di rumah Sep."
Kata Emak lagi.
"Hah?"
Asep tampak terkejut menatap Emak.
"Gadis cantik siapa Mak?"
Emak menggeleng.
"Mana Emak tahu, lihat saja tidak, kan Emak di rumah sendirian, tapi Bu Resti katanya lihat ada gadis di rumah, duuuh Emak takut itu kuntilanak Sep."
Bisik Emak takut-takut.
Haiiish...
Sosok bayangan gadis cantik yang tak lain adalah Melati mendesis.
"Aku bukan kuntilanak Mak, aku Melati Mak, Melati."
Kata Melati dengan wajah pucatnya yang didekatkan ke muka Emak tapi sayangnya Emak tak bisa melihatnya.
**-----------------**
Bismillahirrahmanirrahim
izin maraton thor . . . .
Aq mampir nih...
sukses buat penulisnya karya yg bagus