Amayra Alifya Husna, adalah seorang gadis yang baru saja menginjak kelas 3 SMA. Gadis cantik berhijab, cerdas dan disukai banyak orang. Memiliki masa depan cerah dan memiliki cita-cita mulia menjadi seorang Guru. Namun kejadian naas pada suatu malam telah mengubah nasibnya.
Amayra terpaksa harus putus sekolah karena ketahuan hamil di luar nikah oleh seorang pria mabuk yang baru saja dia temui, ia adalah seorang presdir di perusahaan Calabria grup Bramastya Zein Calabria yang sering di sapa Bram, terpaut jauh usianya dengan Amayra yang masih belia. Tidak mau bertanggung jawab atas kehamilan Amayra, Bram melimpahkan tanggungjawab kepada sang adik, yang merupakan seorang dokter muda bernama Satria Alvian Calabria baru saja lulus dari fakultas kedokteran. Sementara Bram menghilang!
Amayra yang kehilangan mimpinya berusaha menghadapi pernikahan di usia dini, dia berusaha menjadi istri yang baik dan Sholehah. Walau pikirannya masih ingin sekolah, Satria awalnya cuek dan tidak peduli pada Amayra berubah menjadi perhatian melihat sikap Amayra yang baik dan taat. Cinta pun mulai hadir diantara mereka, namun saat hubungan mulai terbina. Bram hadir kembali dalam kehidupan mereka dan mengatakan akan mengambil kembali Amayra dan anaknya dari Satria.
Kepada siapakah Amayra akan menjatuhkan pilihannya? pada pria brengsek yang meninggalkan nya di saat saat tersulit? atau pada suaminya yang bertanggungjawab untuk dirinya? Berhasilkah Amayra meraih mimpi dan cita-cita nya?
follow Ig author: Irmanurhayati41
FB :Irma Nurhayati
follow juga author nya ya ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Pulang ke rumah ayah
...🍀🍀🍀...
Satria pergi berangkat kerja seperti biasanya. Namun, pikiran nya meracau kemana-mana. Dia memikirkan istrinya yang pergi dari rumah setelah pembicaraan mereka kemarin sore. Dan lagi pergi nya bersama Bram. Satria merasa terganggu dengan kepergian Amayra bersama Bram.
Hari itu Satria juga banyak jadwal operasi, dia tidak bisa pergi menyusul Amayra dengan cepat ke rumah ayahnya. Bagaimana pun juga dia merasa harus meminta maaf karena sudah mengatakan hal hal yang melukai hati wanita itu.
"Dia selalu bilang soal kewajiban suami dan istri. Dia juga pernah bilang bahwa dia akan menjadi istri yang baik, kalau dia memang istri yang baik. Lalu kenapa dia pergi dari rumah dan tidak melapor dulu kepada suaminya?" gumam Satria sambil memegang ponselnya selagi jam istirahat. Dia memeriksa apakah ada telpon atau pesan dari Amayra tapi tidak ada sama sekali. "Apa aku menolaknya terlalu keras, makanya dia marah? Bagaimana pun juga aku tidak boleh memiliki perasaan pada seorang wanita yang masih belia!" Satria menggeleng-geleng tidak karuan.
Pikirannya masih memikirkan Amayra. Apa yang sedang dilakukan gadis itu? Mengapa tidak ada kabar darinya? Dan bagaimana pikiran Amayra saat ini? Satria sungguh ingin tau semua itu, tapi dia enggan menghubungi Amayra karena ego nya.
Cekret..
Clara masuk ke ruangan pribadi Satria, dia membawa dua kotak di dalam keresek. Clara tersenyum ramah dan menawarkan makanan yang dibawanya untuk Satria.
"Kak Satria, aku bawakan makan siang untuk kakak nih! Aku lihat kakak tidak bawa makan siang dan belum makan siang hari ini, kan?" tanya Clara sambil duduk di samping Satria. Refleks, Satria menjauh beberapa centimeter dari wanita itu.
Satria memandang kotak makanan yang dibawa Clara dan ada di mejanya. Satria terlihat sedih memandangi kotak itu.
Dia teringat seseorang yang selalu membawakan nya makan siang dengan kotak bekal.
"Kak Satria, ayo kita makan siang bersama. Mumpung jadwal operasi nya masih satu jam lagi." Clara tersenyum, dia membantu Satria membuka kotak makanan itu.
Amayra... batin Satria tanpa sadar memanggil namanya.
#flashback
Pagi itu, Satria akan berangkat bekerja. Dia sudah agak terlambat dan pergi dengan buru-buru.
"Kak, ini ketinggalan!" Amayra tersenyum sambil berlari kecil menghampiri suaminya. Dia membawakan makanan di dalam kotak bekal berwarna merah.
"Aku tidak membawa ini." jawab Satria yang akan naik ke dalam mobilnya.
"Tidak membawa apa? Bukankah kakak belum sarapan, nih aku buatkan sarapan sekalian makan siang nya juga."
"Ngapain bawa yang kaya gini? Aku bisa beli makanan di luar!" Satria menolak pemberian Amayra.
"Beli diluar? Sayang banget uangnya, sayang banget makanan nya! Padahal aku sudah buat banyak, Allah tidak suka sama orang yang buang-buang makanan." Amayra menundukkan kepalanya, dia sedih karena makanan nya ditolak oleh Satria.
"Lihatlah! Kamu berekspresi begini, memperlihatkan seperti aku seseorang yang bersalah." gerutu Satria yang tidak mau membawa kotak bekal berwarna merah dan ada gambar princess di luar kotaknya.
Amayra tidak punya pilihan lain selain menyimpan kotak bekal itu ke dalam mobil Satria. "Hei!" Satria terkejut karena Amayra meletakkan kotak itu di dalam mobilnya.
"Cepat berangkat kak, nanti terlambat! Jangan lupa makanan nya juga dihabiskan, jangan mubazir. Allah tidak suka dengan orang yang mubazir!" Amayra tersenyum lembut, dia mengingatkan suaminya untuk menghabiskan makanan di kotak bekal itu.
"Ah.. kamu ini.." Satria menggeleng-geleng sambil tersenyum lembut. Kemudian, Amayra mencium tangan suaminya seraya memberikan salam.
"Semoga pekerjaan mulia kakak selalu dilancarkan, semoga Allah selalu menyertai setiap langkah kakak dan melindungi kakak dimana pun kakak berada..." ucap Amayra tulus mendoakan suaminya yang akan pergi melakukan pekerjaan mulia sebagai dokter.
Satria terpana mendengar ucapan Amayra padanya, sekilas dia merasa hatinya berdebar. Namun dia hanya menjawab. "Aamiin, makasih ya."
Setelah itu setiap pagi Amayra selalu menyiapkan bekal untuk Satria. Walaupun malu, sering di ejek teman-teman kerja nya di rumah sakit, karena dia membawa bekal makanan. Tapi Satria senang mendapatkan bekal makanan dari istrinya, meski dia tidak bicara pada Amayra.
#End flashback
"Amayra.." gumam Satria pelan.
"Kakak bilang apa?" tanya Clara sambil menengadah ke arah Satria.
Aku yakin dia memanggil nama Amayra? Gadis kampungan itu?
"Kamu makan sendiri saja, atau berikan pada orang lain." Satria menolak makanan pemberian Clara.
"Lho? Kok gitu sih kak? Aku bawa ini buat kakak loh!" Clara terheran-heran karena lagi-lagi Satria menolaknya.
"Aku gak lapar." jawab Satria dingin.
"Yah..!" Clara kesal dengan penolakan Satria terhadap dirinya.
Satria meminta Clara untuk pergi karena dia ingin sendirian di ruangan itu. Clara pergi dengan kesal, sementara Satria terlihat resah.
"Sebenarnya ada apa dengan ku? Kami bahkan bukan suami istri sungguhan! Lalu kenapa aku memikirkan nya??" Satria gusar sendiri.
"Kak Satria, ayo makan dulu!"
Satria tercekat mendengar suara Amayra tepat di samping telinganya, kemudian dia menengok ke kursi yang ada disampingnya. Dia melihat Amayra sedang tersenyum padanya.
"May..ra??" Satria menggesek-gesek matanya, meyakinkan bahwa Amayra benar-benar ada disampingnya.
Kemudian bayangan Amayra menghilang. "Ah! Kenapa terus ada bayangannya di mana-mana? Aku pasti sudah gila! Sebenarnya ada apa denganku sih?!" Satria kebingungan melihat bayangan Amayra ada dimana-mana.
.
.
🍀Di rumah Harun🍀
Amayra sedang duduk sambil menyetrika pakaian ayahnya. Sudah lama dia tidak melakukan pekerjaan itu di rumahnya.
"Apa kamu kesini untuk menyetrika baju ayah? Cepat hentikan itu! Lalu katakan pada ayah, apa ada sesuatu yang terjadi di rumah mertua mu?" tanya Harun menganalisis alasan Amayra tiba-tiba pulang ke rumah nya.
Amayra menelan ludahnya, dia masih melanjutkan kegiatan nya melipat pakaian."Tidak ada apa-apa ayah, aku hanya ingin menginap saja di rumah ku sendiri. Apakah tidak boleh? Sudah dua bulan aku tidak pulang kemari."
"Apa ibu mertuamu menyulitkan kamu?" Harun tampaknya tidak percaya dengan apa yang dikatakan Amayra. Dia bahkan merasa kalau Nilam mungkin mempersulit Amayra di rumah besar bak istana itu.
"Tidak ada apa-apa ayah! Sungguh! Kenapa ayah tidak percaya padaku?" tanya Amayra heran, seperti nya apa yang dia katakan tidak dipercaya oleh sang ayah.
Harun menatap putrinya dengan tegas,"May, ayah tidak pernah mengajarkan kamu untuk berbohong!"
"Oh ya ayah, udah waktunya jam makan siang ya? Aku udah lapar nih, kita makan yuk!" ajak Amayra sambil mencabut setrikaan, dia mengalihkan pembicaraan. Amayra langsung beranjak pergi ke dapur.
"Kalau kamu gak mau jawab yang itu. Jawab aja yang ini, kenapa kamu diantar kakak ipar mu bukannya suamimu?" tanya Harun membuat Amayra mengehentikan langkahnya dengan terpaksa.
Gadis itu membantu di dekat dapur, matanya melirik kesana kemari dengan bingung.
Ngomong-ngomong, aku juga tidak tau kenapa dia mengantarku? Bukankah dia benci aku?
...---***---...
ceritanya bagus, keren banget dan banyak ilmu yang bisa diambil, semoga kakak Author selalu sehat, selalu semangat dan selalu sukses, aamiin yaa Rab...🙏🙏🙏💪💪💪