NovelToon NovelToon
Mr. Edzard, I Want You!

Mr. Edzard, I Want You!

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi
Popularitas:1M
Nilai: 4.8
Nama Author: Stivani

"Kau begitu angkuh dan dingin, tapi aku menyukaimu."

Sebuah kisah cinta antara gadis yang merupakan pengawal dan seorang pria pewaris tunggal generasi ketiga perusahaan terbesar di Asia, Edzardians Group.

Siapa sangka Selita akan tergila-gila dengan Alvaro Edzard yang dijulukinya sebagai iblis tampan yang juga ternyata merupakan pria angkuh, kasar dan arogan!

Apakah Alvaro yang dingin itu akan membalas cinta Selita? Ataukah dia memiliki gadis di masa lalunya yang akan menjadi penghalang bagi Selita untuk mendapatkan hati Alvaro?

Penasaran? Kuyyy mampir ✨

©Copyright by Stivani, April 2020

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stivani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 : Tempat macam apa ini?

Seli pun akhirnya mengiyakan tawaran Alvaro. Bagaimana tidak, jika di tolak maka denda akan bertambah menjadi dua kali lipat. Mau tidak mau Seli harus menerima tawaran Al.

"Kau yang mengemudi!" melemparkan kunci mobil.

Ahh yang benar saja. Katanya mau mengantarku, kok aku yang di suruh menyetir. Ada-ada saja pria dingin ini.

Selita melajukan kendaraan dengan sangat cepat. Dia sangat ingat pesan ibunya, bahwa jam 1 sudah berada di rumah. Mereka akan menempuh perjalanan yang sangat panjang. Kira-kira jarak antara Jakarta dan kampung tempat orang tua Seli tinggal membutuhkan waktu kurang lebih 5 jam.

Perjalanan membosankan bersama big boss kini kembali terjadi. Keheningan kembali melanda kedua orang yang ada di dalam mobil itu. Selita sibuk menyetir sedangkan pria yang duduk di sebelahnya asik membaca laporan yang ada di tabletnya.

Beberapa jam kemudian Al merasa bosan. Mobil yang mereka tumpangi tak kunjung berhenti. Al sebenarnya tidak tahu di mana kedua orang tua Seli tinggal, dia juga tidak tahu waktu yang di butuhkan untuk bisa sampai di kampung halaman Seli.

"Kita di mana?" tanya Al.

"Kita sedang berada di desa Z,"

"Apa masih jauh tempat tinggalmu?"

"Sekitar dua jam lagi Tuan,"

Al menelan salivanya dengan kasar. Kebosanan hinggap dalam dirinya. Al menjadi gerah dan ingin sekali tiba di rumah Seli. Al menggerakan seluruh tubun layaknya seperti cacing. Seli pun merasa terheran-heran melihat tingkah Al. "Tuan kenapa? cacingan?"

"Sembarang saja kau bicara!"

"Trus kenapa gerak-gerak gak jelas seperti itu?"

"Aku hanya ingin saja! Memangnya tidak boleh?"

Seli terbahak mendengar ucapan konyol Al. Bisa-bisanya bos dingin itu melakukan hal yang tidak berfaedah seperti itu. "Bukan begitu Tuan, hanya aneh saja. Haha."

"Berhenti tertawa dan fokus mengemudi! Dasar siput."

"Tuan ngomong apa?"

"Saya bilang kau tuli!"

Seli memonyongkan bibirnya dan tidak menanggapi ucapan Al.

"Bangunkan aku jika sudah sampai."

"Hmmm," menganggukkan kepalanya.

Keheningan kembali melanda mobil itu. Selita terus mengemudi sedangkan Alvaro terlelap dalam tidurnya. Suara hantaman keras mengenai kaca mobil belakang. Hal itu membuat Al reflek terbangun.

"Suara apa itu?" tanya Al.

"Mungkin lemparan batu Tuan," jawab Seli santai.

"Mobilku dilempari batu, dan kau bersikap tenang? Tepikan mobilnya!"

Selita menuruti perintah bosnya. Gadis itu menepikan mobil. Dengan segera Al turun dan memeriksa apa yang terjadi dengan mobil mahalnya.

"Ahhh shit! Kaca belakang mobilku pecah! Siapa yang berani melakukan ini,"

Selita segera turun ketika mendengar teriakan Al. "Tuh kan bener Tuan. Mobil Tuan di lempari batu."

"Apa kau bilang? Siapa yang berani berbuat seperti itu, hah?"

"Memangnya Tuan mau apa? Memukul mereka, meminta ganti rugi? Atau mau melaporkan mereka ke kantor polisi?" ucap Seli setengah tertawa.

Al bingung dengan ucapan angkuh Seli. "Kalau iya kenapa, hah?" Hey! Keluar kalian yang berani melempar mobil saya! jangan jadi pengecut, lempar batu sembunyi tangan!" teriak Al nyaring.

Mendengar teriakan Al, dengan sangat cepat Selita membungkam mulut Al.

"Apa yang kau lakukan, lepaskan aku!" Al berbicara dengan suara yang samar karena mulutnya di umpat dengan tangan Selita.

"Tuan mau di jemput malaikat maut? Jangan teriak-teriak! Nanti kita bisa kena masalah."

"Ada apa memangnya?" menepis tangan Seli.

"Tuan Alvaro yang terhormat! Ini itu desa buka kota tempat tinggal para elit."

"Trus kalau ini desa, memangnya kenapa? Ada apa ini!" tanya Al semakin emosi.

"Konon katanya di desa ini tidak boleh sembarangan Tuan. Kalau mereka melihat orang asing biasanya mereka bersikap sangat kasar. Contohnya mobil Tuan yang di lempari batu. Jika Tuan tidak suka dengan cara mereka, mereka biasanya menjadikan musuh mereka sebagai makanan. Tuan tahu kan maksudku?"

Al mengerutkan kedua alisnya. Seolah apa yang di ucapkan Seli hanyalah sebuah dongeng pengantar tidur saja. "Cerita macam apa itu! Ayo lanjutkan perjalanan. Akusemakin gerah di sini. Ingin cepat-cepat tiba di rumahmu dan ingin cepat-cepat mandi!" Al berjalan memasuki mobil.

Sebenarnya Al merasa ngeri dengan cerita horror Seli. Untuk itu dia beralasan untuk bisa menghindar dari desa itu cepat-cepat. Seli menyusul Al. Dia terkekeh tanpa suara. Rupanya gadis itu mengerjai bosnya. Seli kembali mengemudi, raut wajahnya terlihat senang karena berhasil menjahili Alvaro.

"Apa perjalanan kita masih lama?" tanya Al.

"Tinggal beberapa menit saja Tuan," ucap Seli.

Al membuka kaca jendelanya dia terkesima dengan pemandangan indah yang ada di kampung itu. Sawah-sawah yang berjejeran dengan rapi, pepohonan yang rindang terasa enak di pandang mata. Orang-orang yang sibuk memanen gandum terlihat sangat ramai berada di pinggiran jalan.

"Apa pekerjaan pokok di kampung ini?"

"Kebanyakan petani Tuan. Ada sebagian anak muda yang merantau mencari kerja di Jakarta. Banyak juga anak muda yang setelah selesai sekolah langsung di nikahkan sama orang tua mereka. Malahan ada yang belum tamat sekolah masih berumur 14 tahun sudah menjadi ibu rumah tangga," jelas Seli.

"Apa kau juga sempat di jodohkan orang tuamu?" tanya Al.

"Hampir Tuan. Untung saja aku cepat-cepat keluar dari kampung. Aku belum siap menjadi istri. Aku masih ingin bekerja menjadi wanita karier. Tapi apalah daya aku hanya menjadi seorang wanita pekerja paruh waktu."

Al merasa iba dengan ucapan Seli. "Tapi kauu kan sekarang mendapat pekerjaan tetap," ucap Al.

"Ya aku bersyukur karena Tuan besar menerima lamaranku bekerja menjadi pengawal kakek Julian. Aku juga tidak tahu alasan kakek menerimaku, bahkan dia begitu baik padaku. Tapi setelah dia menyuruhku menjadi pengawal pribadi Tuan muda, aku sempat merasa sedih.

"Jadi kau tidak ingin bekerja denganku?" Amarah Al mulai memuncak.

"Bukan begitu Tuan. Tapi kan awalnya Tuan sangat membenciku, selalu membuatku menderita."

"Kau curhat?" timpal Al.

"Tidak Tuan, aku hanya bilang."

Al menggelengkan kepalanya. Dia bingung harus berkata apalagi. Benturan-benturan keras kini menggoyangkan kedua orang yang ada di mobil itu.

"Ini kenapa?"

"Jalan di sini memang rusak Tuan. Ya namanya juga pedalaman. Jadi begini nih jadinya," ucap Seli dengan tetap fokus mengemudi.

Seli menghentikan mobilnya di sebuah rumah kayu yang berukuran sedang. Ketika keduanya turun dari mobil, beberapa anak berbondong-bondong menghampiri Selita dan Al. Pria itu terkejut saat anak-anak mulai memegang mobil yang mereka tumpangi.

"Wah keren! Ternyata benda seperti ini nyata!" ucap seorang anak laki-laki.

"Aku juga punya mobil seperti ini, tapi ukurannya kecil."

Anak-anak itu tak henti-hentinya mengagumi mobil yang terparkir di halaman rumah itu. Al semakin bingung melihat tingkah kuno anak-anak di sekitarnya.

"Tuan biarkan mereka. Mereka hanya anak kecil yang belum pernah melihat mobil mewah seperti itu."

Al hanya mengangguk pelan dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Seorang anak menyentuh pakaiannya. Al terperanjat melihat anak itu penuh dengan kotoran di wajah dan pakaian yang dia kenakan.

"Hei! Jangan menyentuhku!" teriak Al kaget.

Seli menghampiri anak menunduk mengimbanginya.

"Hayy, apa kau mau coklat?" tanya Seli.

Anak itu menganggukan kepala. Seli memberikan dia permen. Anak kecil itu berlari dengan girang serta memanggil-manggil ibunya dari jauh. Al yang memperhatikan Selita merasa terheran-heran.

Tempat apa ini! Kenapa kuno sekali? batin Al.

"Selitaaaaa!" teriakan dari jauh.

"Ibuuuu,," berlari mendapatkan ibunya.

Bersambung...

Jangan lupa like, komen dan Vote 😘

1
Erni Cahaya Nst
smangat thor👍👍❤️❤️
⭐️asteri
kayaknya perlu di revisi thor.. baru 3 hari Square dr koma udah bisa di banting dan ga kenapa2
⭐️asteri
otor masa orang abis operation dan baru bangun dr koma bisa didotong sampe jatuh
⭐️asteri
kalimatnya bukan very much ,tapi too much
⭐️asteri
Lumpur sawah kan ga bau toorr
⭐️asteri
kalimatnya ambigu. mengeras dan kaku xixiix
Puspita Sari
nti KL seli udh diem gabbanyak omong AL kelabakan hahhaha
Kiki Oktaviani
awalnya kejam akhirnya pasti bucin deh 😊
Ami Kerto Surat
masakin sambel plus lalapan ikan asin udah
Ami Kerto Surat
vera
𝐀⃝🥀senjaHIATᴳ𝐑᭄⒋ⷨ͢⚤🤎🍉
kereeen👍👍👍🤩
Yanti Teku
ih Seli sfatx gak suka aq
Yanti Teku
tolong perbaiki sifatnya Selly,,,terlalu ikut campur
Yanti Teku
cobalah Seli cuek aja gitu Napa????biar Al pnsaran SMA kmu Seli.
Susana
😅😅
Susana
wah, Tuan Muda.
Sriningsih Rds
😆😆😆ngakak gegara ethan ma bobby👍👌
aunty destye
best👍👍😍
Ria
lanjut
Sidieq Kamarga
Hi hi hi hi hi 😂😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!