Kirania, gadis berusia 23 tahun, sedang merasakan kebahagiaan di mana dia akan menjadi seorang pengantin. menikah dengan seorang pemuda tampan dari keluarga wijaya grub. salah satu keluarga terkaya di indonesia. dia bernama Devano wijaya.
Namun kebagian nya hancur saat Kirania tahu kalo Devano menikahinya nya hanya untuk segera mendapatkan hak waris dari orang tuanya, dan lebih parah lagi, Devano ternyata memiliki kekasih yang sangat ia cintai.
Kirania yang tau hal itu masih berusaha untuk menerima semua itu, bukan harta yang ia kejar, tapi Devano adalah teman masa kecil nya yang lama pergi. Di tambahan Kirania sangat mencintai Devano.
📿📿📿📿
Seperti apa perjuangan kirania merebut hati suami nya dan bagai mana perjuangan nya untuk tetap bertahan dengan Devano yang memutuskan untuk menikah kembali dengan kekasih nya itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Penyesalan, rasa itu yang kini masih Devano rasakan, penyesalan atas apa yang sudah dia lakukan terhadap Kirania, wanita yang sangat dia cintai. meski ia tidak bermaksud melakukannya itu padanya tapi rasa sesal itu terus membayangi nya.
Dan kini Devano tengah berjalan menuju kolam yang biasa Kirania datangangi, bahkan setiap hari Kirania selalu menghabiskan waktu disana, bahkan malam Devano sering melihat Kirania berada di sana. Begitu terkejutnya saat Devano melihat apa yang ada di dalam kolam itu, yah...kolam brudu. terdapat banyak berusu di sana dan beberapa katak kecil yang karena dinding kolam atau daun bunga teratai.
"Kiran maafkan aku." tangis Devano kembali pecah." Selama ini kamu pasti tersiksa, karena sikapku padamu." ucapan Devano lagi. Rasa bersalah Devano pada kirania sangat lah besar, sampai ia tidak bisa berkata apa-apa lagi hanya maaf yang bisa ia katakan.
"Bodoh!, kamu bodoh Dev!, ini yang yang kamu bilang cinta?, Cinta macam apa ini?! kalau aku cinta dengan nya kenapa kamu tidak bisa mengenalinya?, Kenapa!!" Devano terus menyalahkan dirinya sendiri akan apa yang terjadi pada Kirania karena nya.
Devano mengingat kembali kenangan saat masih tinggal dalam satu atap bersama Kirania, mengingat kembali saat Kirania selalu memperhatikannya, dari menyajikan makanan nya, menyiapkan baju saat pagi hari dan, membatu nya melepas sepatu saat ia pulang kerja, bahkan senyum kirani, tawa kirania saat tengah berbincang dengan para pelayannya dan saat Kirania gerak-gerik kirania saat ia menginginkan sesuatu. Semua hal yang Kirania lakukan Devano ingat dengan jelas, bahkan saat ia berpikir buruk Devano yang devano pikirkan akan Kirania masih ia ingat dengan jelas. Dan hal itu membuat Devano semakin bersalah, karena ia tidak pernah memperlakukan Kirania yang ternyata Cebong kecil yang sangat dia cintai dengan cara yang baik.
"Nia, Maafkan aku."Gumam Devano lagi.
"NIAAAAAA!!!!!
Devano yang frustasi hanya bisa berteriak memanggil wanita yang sudah pergi darinya karena kesalahan dan kebodohanya sendiri.
Kletak...!
Benda pipih berwarna hitam keluar dari saku celana nya, menunjukan sebuah foto Kirania yang menjadi wallpaper di layar kunci utama pada ponsel nya, entah sejak kapan foto itu terpasang disana. Melihat hal itu Devano juga merasa heran sejak kapan foto itu terpasang di sana.
Devano meraih, dan menatap lekat wajah cantik dengan senyum yang manis yang terpasang pada layar ponselnya.
"Nia." Gumam Devano lagi. Air mata Devano terus saja mengalir saat ia teringat kembali dengan semua kesalahan nya. Devano membuka galeri pada ponsel nya dan ia melihat beberapa foto Kirania dia sana, foto yang di ambil dalam waktu yang sama, itu saja dia ambil di foto yang dikirim oleh orang misterius yang tidak lain adalah Nara yang menjadi orang misterius itu. foto Kirania bersama dokter julian di sebuah kafe.
Tiba-tiba Devano kembali bersemangat, ia bangkit dan berjalan masuk kedalam rumah, di ruang tengah ia bertemu dengan Juw.
"Tuan muda Anda-" Juw yang berniat menanyakan kemana di akan pergi, namun ia urungkan saat melihat Devano yang tidak memperhatikannya bahkan melewatinya begitu saja.
Juw yang mencemaskan keadaan Tuan mudanya bergegas mengikuti Devano yang berjalan ke arah depan.
"Tuan ada mau kemana?!," tanya Juw lagi namun Devano tidak mengindahkan pertanyaan Juw, ia tetap berjalan dan masuk kedalam salah satu mobil berwarna hitam yang terparkir di depan mansion, macu mobilnya dengan cepat menuju gerbang mention yang berjarak hampir seratus meter dari rumah utama.
Juw yang tidak mau terjadi apa-apa dengan Tuan mudanya bergegas menyusul dengan mobil lainya yang, memacu dengan cepat agar tidak kehilangan jejak sang Tuan muda.
Juw terus mengikuti kemana Devano pergi, Mobil itu berhenti di rumah sakit dimana Indira di rawat, Devan tak lantas keluar saat ia tiba di parkiran rumah sakit, Devan hanya menatap pintu utama rumah sakit yang mana banyak para pengunjung rumah sakit yang hilir mudik memasuki rumah sakit, di antara sekian orang yang Devano lihat, salah satunya ada yang Devano kenal dan sangat ingin dia dilihat bahkan sangat dirindukan ya. Di adalah Kirania yang tengah berjalan dengan dokter julian memasuki rumah sakit itu.
"Apa kamu baik-baik saja tanpa aku?, tapi aku tidak, aku hancur tanpa kamu, bertahun- tahun aku mencoba untuk mengikhlaskan mu meski sulit untuk, dan setelah aku mulai bisa menerima kenyataan, kamu hadir kembali dalam hidupku, kamu datang tanpa aku duga,, tinggal bersama ku tanpa aku sadari, dan kini aku harus rela melepas mu kembali. Nia, aku sungguh tidak sanggup, aku tak sanggup lagi untuk melupakanmu untuk kedua kakia nya, apalagi kamu pergi karena kesalahanku sendiri,"
"Nia, maafkan aku, kembali lah pada ku, aku tidak mau kehilangan kamu untuk kedua kali nya, lebih baik aku mati kalau harus berpisah dengan mu."
Devan tidak memalingkan pandanganya sampai Kirania hilang dari pandangannya.
Dari balik tembok, di mana Kirania menghilang dari pandangan Devan, tanpa Devan ketahui ternyata Kirania melihat Devan yang tengah memperhatikannya dari kejauhan, sebelum Devan mengetahui keberadaan nya yang juga berada di area tempat parkir rumah sakit, Kirania jauh lebih dulu melihat kedatang mobil Devano yang memasuki area parkir, untuk sejenak Kirania mentapa mobil Devan, dan setelah itu ia berjalan masuk kedalam rumah sakit seolah tidak melihat keberadan Devano.
"Kamu yakin baik-baik saja?" Tanya Julian yang juga mengerti apa yang sedang Kirania rasakan saat ini.
"Aku tidak baik,aku merindukannya, tapi aku juga kcewa dengan nya," Mengatakan apa yang tengah kurasakan saat ini.
"Mungkin saat ini kalian memang lebih baik untuk tidak bertemu, kalian tenangkan diri kalian masing-masing, setelah itu baru kalian bicarakan masalah ini secara baik-baik."
"Mungkin ini jauh lebih baik, aku masih belum siap bertemu dengan nya,"
"Aku hanya bisa mendukung apa yang menjadi keputusanmu, ingat ada aku yang akan selalu ada untuk mu, jangan pernah merasa sendiri."
"Terimakasih karena kamu mau menemaniku disaat aku membutuhkan seseorang untuk bersandar, maaf juga karena aku sudah sudah merepotkanmu."
"Tidak masalah, semua ini aku lakukan karena aku peduli denganmu." Julin tampak tulus mengatakan hal itu, dan Kirania menghargai itu.
"Yasudah kita kembali keruangan Diara." ucap Julian. Keduanya beranjak pergi, namun Kirania menyempatkan diri untuk melihat Devano yang masih berada di posisinya.
Dari sisi yang berbeda tampak Juw juga tengah memperhatikan Devano yang tengah dirundung kesedihan akan perpisahan dengan kirania.
salfok sama boneka kudanya kirania mirip kudanya J-HOPE BTS