Area GxG ya~
******
Satu sekolah, beda kelas, tapi ributnya bisa tiap hari. Kara dan Narisa, dua anak SMA yang sepertinya lahir tanpa kemampuan berdamai.
Awalnya semua biasa saja. Sampai suatu hari... mereka menikah.
Iya. Menikah.
Kok bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Pukul satu malam motor Kara memasuki halaman rumah. Gerimis masih turun, sementara kilat sesekali membelah langit.
Setelah mengunci pagar dan melepas jas hujan, Kara mengambil kunci cadangan dari ransel. Tapi saat dimasukkan ke lubang kunci, tidak bisa. Kunci dari dalam masih terpasang.
Kara mengernyit.
"Berarti dia di dalam?" gumamnya pelan. " Sama siapa?"
Karena setahunya, cewek penakut itu mustahil bertahan sendirian di rumah malam-malam begini.
Tok. Tok. Tok.
Tidak ada jawaban.
Kara mengetuk lagi lebih keras.
"Bonar!"
Tetap sunyi.
Kara menggaruk kepala frustrasi.
"Gw masuk dari mana, anjir..."
Dia sudah lelah, dingin, ngantuk, dan sekarang masih harus memikirkan cara untuk masuk ke rumah sendiri.
Akhirnya Kara mengitari rumah menuju jendela kamarnya. Dulu dia pernah memperhatikan model kunci jendela itu dan sempat kepikiran menggantinya karena gampang dibobol. Ternyata sekarang malah dia sendiri yang mau bobol rumah.
Dengan kunci motor, Kara menyelipkannya ke celah dekat pengunci. Sedikit diungkit.
Clek.
Terbuka.
Kara langsung melirik jendela itu dengan perasaan campur aduk.
"Gawat banget kalau maling tau."
Dia melempar ransel lebih dulu ke dalam, lalu memanjat masuk ke kamar gelap miliknya. Setelah jendela dikunci lagi, Kara melepas jaket dan mengusap rambut yang sedikit basah.
Rumah masih terang. Kara awalnya cuma ingin memastikan Narisa ada di kamar sebelum dia tidur. Tapi begitu pintu kamar dibuka, lampunya masih menyala. Tapi ranjang kosong.
Kara langsung masuk tanpa menutup pintu. Jantungnya mendadak tidak enak saat melihat ponsel Narisa tergeletak di atas kasur.
Pintu tadi terkunci dari dalam, Lampu nyala. Ponsel ada. Berarti orangnya harusnya ada di rumah juga.
"Bonar?"
Kara berjalan cepat ke kamar mandi. Kosong. Dadanya langsung mencelos.
Dia balik lagi ke kamar Narisa. Kali ini matanya menangkap sandal rumah yang cuma ada satu di dekat ranjang, dan ujung selimut yang terjulur dari bawah.
"Satunya mana.." gumamnya pelan.
Kara mulai merinding sendiri.
Matanya menyapu bawah ranjang. Lalu dia membeku. Ada gumpalan manusia tengkurap di sana.
Rambut acak-acakan. Selimut setengah melilit kaki. Napasnya pelan teratur menghadap tembok.
Kara langsung jongkok.
"Bonar."
Tidak bangun.
Tangannya menjulur menyentuh punggung cewek itu sedikit lebih kuat.
"Bonar!"
Narisa menggeliat lalu tersentak bangun.
Dugh!
"Aduh." Kepalanya langsung membentur bawah ranjang.
Narisa meringis sambil memfokuskan mata beberapa detik.
"Santen?"
"Lo ngapain di bawah?" tanya Kara bingung setengah mati. "Di sini sempit. Buru keluar."
Heran dia. Kok muat? batinnya.
Narisa masih menatap curiga.
"Lo beneran Santen kan?"
"Ya iya lah."
"Bukan makhluk anu?"
"Anu apaan dah? Sini buru."
Narisa diam sebentar lagi sebelum akhirnya beringsut keluar. Baru setengah badan keluar dari kolong, wajahnya langsung kusut menyedihkan.
"Santen..."
"Apa?"
"Gw takut."
"Takut apaan?"
"Uh." Narisa menarik sisa tubuhnya cepat lalu langsung nabrak Kara sampai mereka berdua terduduk di lantai. "Gw takut banget tau. Petirnya kayak mau nyamber rumah. Terus tadi ada bunyi galon. Habis itu lemari bunyi. Habis itu-"
"Bayangan dari otak lo sendiri itu mah."
"Gw serius! Rumah ini pasti ada demitnya. Gw takut."
Kara meringis. "Kebalik, bego. Demit yang harusnya takut sama lo."
Narisa malah memeluk makin erat.
"Lo pikir kenapa gw milih masuk kolong?"
Kara akhirnya menghela napas panJang.
"Yaudah iya. Kan gw udah pulang."
Narisa diam. Pelukannya tidak lepas. Malah makin erat sedikit demi sedikit. Entah karena dia masih setengah sadar, atau justru terlalu sadar kalau orang yang paling dia cari dari tadi memang Kara. Anehnya, rasa takut itu langsung turun banyak.
Sementara Kara hanya menepuk-nepuk punggung Narisa pelan sambil menahan perasaan aneh di dadanya sendiri.
Baru ditinggal sehari sudah masuk kolong ranjang. Kalau sebulan... jangan-jangan ini anak gali tanah buat bikin bunker anti-demit.
**
*
Keesokan paginya Kara bangun jam tujuh.
Iya. Jam tujuh.
Semua gara-gara dia harus menenangkan Narisa semalaman sambil mendengarkan teori-teori liar tentang demit, petir, suara galon, dan kemungkinan setan tinggal di balik jendela kamar.
Begitu sadar jam sudah kelewat pagi, Kara langsung lompat dari kasur dan buru-buru mandi.
Setelah selesai berpakaian, dia hendak mengambil sepatu sekolah. Tapi tangannya malah berhenti di udara.
Dua pasang sepatu masih ada.
Kara mengernyit.
"Lah? Berarti dia belum berangkat?"
Dia langsung berbalik menuju kamar Narisa.
Ceklek.
Kara terdiam.
Narisa ternyata sudah rapi dengan seragam. Cewek itu rebahan sambil main ponsel seolah tidak ada kewajiban ke sekolah.
"Eh, udah siap?" Narisa bangkit santai. "Yuk berangkat."
"Lo.." Kara sampai bingung sendiri. "Gw kira udah pergi duluan."
"Kagak lah, Upacara. Jam pertama ngebosenin. Nah, daripada bolos gak jelas, mending di rumah nyantai."
"Lo lupa sama ancaman Rahayu?"
Narisa menatap polos.
"Itu siapa ya? Kayak kenal."
Dia langsung menyambar tas dan menyenggol bahu Kara saat keluar kamar.
Kara menatap punggungnya beberapa detik.
"Ini anak takut demit, tapi gak ada takut-takutnya dihukum."
~
Sampai di sekolah, mereka masuk lewat pagar belakang seperti biasa. Security yang berjaga bahkan Cuma menguap sambil melambaikan tangan malas.
"Terserah kalian dah."
Saat Kara berjalan ke arah gedung kelas, Narisa malah belok ke kantin,
"Lah, Bonar?"
"Sarapan dulu lah. Laper."
Kara diam sebentar, lalu refleks mengusap perutnya sendiri.
Oke. Dia juga lapar.
Akhirnya mereka duduk di salah satu meja kantin sambil menunggu pesanan datang. Penjaga kantin sudah terlalu hafal dengan muka dua anak ini dan gengnya, jadi tidak ada yang peduli.
Baru makan setengah, sosok paling ditakuti anak-anak muncul dari kejauhan. Pak kasim. Lengkap dengan aura galak dan kumis melengkung.
"Kalian-"
"Pak, tunggu," Narisa langsung mengangkat tangan santai. "Kita berdua maag. Tadi Bu Olin suruh sarapan dulu."
Nama Olin selalu punya efek penenang tersendiri. Dia petugas UKS muda yang terkenal lembek ke murid.
Pak kasim menyipit curiga. "Mana suratnya?"
Narisa langsung pura-pura kaget.
"Lah, Bu Olin gak ngasih tuh. Yaudah nanti kita ke UKS sama-sama aja, pak. Biar bapak dengar sendiri."
Pak Kasim berdehem panjang lalu pergi. Tapi lima menit kemudian, dia balik lagi.
"Udah makannya? Ayo."
Narisa dan Kara saling pandang malas sebelum akhirnya bangkit mengikuti beliau ke UKS.
Begitu sampai, Olin yang sedang menyusun obat langsung menoleh. Cewek itu sempat terlihat bingung melihat dua murid dan satu staf keamanan datang bersamaan.
"Maaf, ada yang sakit?" tanyanya lembut.
"Loh, ibu gimana sih?" Narisa langsung akting tanpa dosa. "Kan tadi ibu yang nyuruh saya sama Santen makan gara gara maag."
Olin berkedip sebentar. Lalu matanya berpindah ke Kara yang memang kelihatan capek. Matanya merah dan wajahnya kusut karena kurang tidur.
Olin langsung paham arah kebohongan itu.
"Oh, iya benar," katanya cepat. "Saya yang suruh, pak,"
"Tapi mereka masih bawa tas," kata Pak kasim curiga. "Harusnya udah sempat masuk kelas."
"Tadinya mau saya suruh pulang," lanjut Olin santai. "Tapi mereka bilang masih kuat belajar."
Pak kasim menatap Kara yang kelihatan setengah mati ingin rebahan, lalu melirik Narisa yang pura-pura lemas. Akhirnya dia menghela napas panjang.
"Yaudah. Kalau udah sehat masuk kelas sana."
"Kara belum fit, pak," sela Olin cepat. "Kayaknya dia kurang istirahat. Saya kasih obat dulu."
Pak kasim menatap beberapa detik lagi sebelum akhirnya menyerah dan pergi. Begitu pintu UKS tertutup, Narisa langsung mendecak.
"Bawel bener jadi bapak-bapak," Lalu dia menoleh ke Kara. "Lo mau tidur lagi?"
Belum sempat Kara menjawab, Olin sudah lebih dulu bicara.
"Kamu kelihatan capek banget. Tidur dulu aja."
"Nggak usah. Mau masuk kelas aja," ujar Kara, walau matanya memang sudah setengah tertutup.
"Tidur dulu," kata Olin sambil menunjuk salah satu ranjang UKS. "Saya gak tau kamu habis ngapain semalaman, tapi kamu butuh istirahat."
Kara langsung menoleh ke Narisa. Cewek itu malah mengangkat bahu santai.
"Jangan liat gw. Muka lo lagi seger juga tetep aja mirip monyet."
"Anjir lo."
Kara mendengus pelan, tapi akhirnya tetap berjalan malas ke ranjang UKS. Begitu dia rebahan, Olin menarik selimut tipis lalu membentangkannya sampai menutupi setengah tubuh Kara dengan telaten.
Narisa masih berdiri di sana sambil memperhatikan.
Mungkin itu hal biasa. Sebagai petugas UKS wajar kalau Olin perhatian ke murid. Lagipula umur cewek itu juga cuma beda beberapa tahun dari mereka.
Tapi... Olin kembali membawa vitamin dan segelas air.
"Minum ini dulu. Biar badan kamu gak tumbang."
Kara mengernyit, tapi tetap duduk dan menerima obat itu.
"Gw ini gak sakit. Kenapa jadi kayak pasien beneran."
"Yang masuk UKS otomatis pasien," jawab olin ringan.
Kara baru mau rebahan lagi saat Narisa mendekat lalu duduk di pinggir ranjang UKS. Ekspresinya sudah berubah sejak tadi.
"Santen."
"Hm?"
"Gw di sini aja deh. Males masuk kelas."
"Loh, kamu gak sakit, Risa." kata Olin sedikit tegas. "Nanti wali kelas kamu protes."
Narisa langsung menoleh.
"Kan ibu bisa bohong lagi kayak tadi."
"Saya cuma bisa bohong sekali. Itupun sebenarnya udah salah."
Narisa menghela napas panjang lalu menatap Kara dengan wajah ditekuk.
"Masuk sana," kata Kara datar. "Biasanya juga lo diem-diem main hape di kelas."
Narisa memutar mata malas. Dia melirik Olin yang terus menatap Kara dengan raut khawatir. Lalu bibirnya maju sedikit.
Kara langsung curiga.
"Apaan?"
"Cipok dikit."
Kara mengernyit geli.
"Anjir. Muka lo kayak mujair."
"Lo gak mau, gw kasih Cakra ya-"
Cup.
Kara langsung nyosor cepat lalu duduk lagi seolah tidak terjadi apa-apa.
"Udah kan?" Tangannya menepuk pelan kepala Narisa dua kali. "Gih sana."
Narisa diam.
Olin juga diam.
Ruangan mendadak hening dua detik.
Narisa akhirnya bangkit pelan lalu keluar tanpa bicara apa-apa lagi. Kepalanya kosong. Benar-benar kosong.
Begitu pintu UKS tertutup, Kara langsung rebahan lagi sambil menarik selimut sampai dada. Sementara Olin baru sadar dia tadi ikut diam terlalu lama gara-gara kejadian absurd itu.
"Kalian... pacaran?"
Kara melirik sebentar, lalu membalikkan badan membelakangi Olin.
"Bukan urusan lo. Ini urusan bocah. Lo udah tua diem aja."
Olin langsung mendelik.
"Aku belum tua, Kara. Kita cuma beda empat tahun."
"Terserah."
Olin terdiam sebentar sebelum akhirnya duduk di kursi dekat ranjang.
"Cantika gimana?" tanyanya pelan. "Aku tau kalian dekat. Kamu mau mainin dia?"
Mata Kara terbuka perlahan. Dia menatap kosong ke dinding. Mainin?
Daripada mempermainkan, dia bahkan tidak mengerti apa yang sebenarnya dia rasakan ke Cantika.
"Itu tetap bukan urusan lo," jawabnya akhirnya. "Tapi seenggaknya dia lebih jujur daripada lo."
Olin langsung diam.
Sementara itu Narisa berjalan menuju kelas masih dengan kepala kosong. Begitu sampai depan pintu, langkahnya berhenti. Dia berdiri mematung.
Barusan apa?
Dia minta... dicium? Di depan orang? Dan yang lebih parah... Kara melakukannya.
Narisa langsung memegangi kepalanya sendiri.
"Gak mungkin cemburu dong," gumamnya pelan sambil ketawa garing. "Enggak dong. Minta cium aja udah aneh. Masa iya pake cemburu. Gw pasti kesambet setan tadi malem."
Hening satu detik. Dua detik. Lima detik.
Mata Narisa membelalak.
"GOBLOKKKKK!"
Tak lama, dua pintu kelas langsung terbuka nyaris bersamaan.
"Narisa! Kamu kenapa?!"
Narisa yang masih memegang kepala langsung menoleh.
Di depan kelas IPS 3 dan IPS 4, dua guru berdiri dengan wajah heran. Sementara murid-murid sudah berebut mengintip keluar.
"Risa kerasukan ya?"
"Jangan-jangan abis liat setan."
"Panggilin dukun buru."
Narisa menutup wajahnya sendiri.
Sudah lah.
Semakin lama isi kepalanya memang makin tidak berbentuk.
-
-
Pekerjaan hari ini lebih santai dibanding malam sebelumnya. Kara bahkan sempat beberapa kali membalas chat Harum sambil berdiri dekat bar.
Begini:
Haram: " Jadi sebelumnya lo pernah cium Narisa. Terus tadi dia minta lagi? Ketagihan bibir lo kali."
Karang: "Gw bilang cuma kecup doang, njir. Selisih waktunya jauh. Yang dulu gegara gw kesel."
Haram: "Yang tadi?"
Karang: "Ya mana gw tau. Kesambet kali dia. "
Haram: "Gw rasa doi udah suka sama lo."
Kara mengernyit kecil, lalu menoleh saat Jamal mendekat sambil menyerahkan nampan.
"Meja lima, Ra."
"Oke. "
Kara langsung menyimpan ponselnya lalu mengantar pesanan.
Kafe malam ini tetap ramai, tapi dia sudah tidak secanggung kemarin. Bahkan beberapa pengunjung yang kemarin salah mengira dia cowok terlihat datang lagi malam ini.
Selesai mengantar pesanan, Kara kembali membuka chatnya.
Haram: "Lo coba tembak aja."
Karang: "Mau ngapain?"
Haram: "Ya biar jelas."
Karang: "Dia udah jadi bini gw, kocak lo."
Haram: " Terus lo mau nunggu sampe dia nempel sendiri? Bukannya lo bilang kalian bisa pisah kapan aja?"
Kara mendengus kecil.
Karang: "Konsep cewek sama cewek belum ada di kepala dia."
Haram: "Kalau bisa sih jangan ya."
Karang: "Nah itu."
Haram: "Soalnya lawannya lo. Coba kalo CEO kayak di film, gak ada ruginya dia."
Karang: "Bangsat lo. Semoga lo jomblo sampe mati."
Haram: "Huahahaha."
Kara langsung mematikan layar ponselnya. Ngobrol sama Harum malah bikin kepalanya makin ribut sendiri. Lagipula dia juga tidak enak kalau terlalu sering pegang ponsel waktu kerja.
Dia diam beberapa detik, lalu tanpa sadar menyentuh bibirnya sendiri.
Tapi... kenapa tadi Narisa minta cium ya?
~
Di sisi lain, Narisa sudah rebahan di kasur sejak tadi.
Seluruh rumah terang benderang, bahkan televisi sengaja dibiarkan menyala supaya ada suara.
Dia takut? Jelas. Tapi ternyata ada hal lain yang lebih mengganggu dibanding suara jam.
Sejak kejadian di UKS tadi, kepalanya tidak berhenti ribut sendiri.
"Apa iya gw cemburu sama Olin?" gumamnya pelan. Dia menatap langit-langit beberapa saat.
"Tapi cara ngomongnya gak harus gitu juga kan? Sok perhatian banget. Emang boleh ganjen sama bini orang?"
Narisa langsung membelalak sendiri.
"Eh, kok gw jadi ikutan nyebut bini sih?" Dia mengernyit. "Najis. Ketularan si santen."
Blubuk!
Narisa langsung menoleh ke arah pintu.
"Galon tai. Gw udah hapal suara lo. Gak usah sok horor."
Dia menghela napas panjang lalu kembali berguling di kasur.
Suka? Najis.
Cemburu? Amit-amit.
Kangen? Mending kangen setan sekalian.
Lah, kenapa jadi setan lagi sih?
Grok. Grok.
Narisa hampir lompat waktu ponselnya berbunyi. Begitu melihat nama pengirimnya, dia langsung diam beberapa detik.
"Dih. Anjir. Masa gw deg-degan cuma dichat dia?"
Dia berdehem kecil lalu membuka pesan itu.
"Lo udah tidur? Mau dibawain cemilan dari sini?"
Senyum Narisa langsung mekar sendiri. Tanpa banyak mikir, dia cepat-cepat membalas.
~
Di kafe Skubidu, Kara kembali membuka ponselnya di sela jam sibuk.
Bonar:
"Mau. Bawain kentang, dimsum, onion ring, churros, sama chicken pop. Minumnya caramel milk tea."
Kara menatap daftar itu beberapa detik sebelum sudut bibirnya naik tipis.
"Ngerampok banget," gumamnya pelan. "Belum juga gajian."
Untung ada harga karyawan.
Di dekat bar, Jamal dan Sofian menoleh bersamaan. Kara yang sadar diperhatikan langsung mengernyit.
"Kenapa?"
Jamal geleng-geleng kepala.
"Heran aja. Ternyata lo bisa senyum juga."
"Biasanya juga ketawa. Lebay lo, bang."
Jamal melirik Sofian.
"Senyumnya beda kan?"
"Dapet chat dari crush sekolah kali." celetuk Sofian santai.
Kara langsung memutar mata malas lalu melirik ponselnya lagi.
"Cepet pulang lo."
"Tuh kan, senyum lagi." celetuk Jamal.
Kara mengabaikan dan menyimpan ponselnya tanpa membalas.
Dua orang itu memang hobinya merecoki hidup orang.
.