Kisah cinta tak akan selalu mulus jalannya, seperti yang Ayesha rasakan. Setelah lama hatinya kosong, tiba-tiba ada seseorang yang datang mengisi hari-harinya. Berpetualang bersama, mereka berdua memiliki mimpi membangun rumah tangga yang harmonis, tapi nasib berkata lain, setelah menikah sesuatu terjadi pada rumah tangga mereka. Ayesha harus melupakan mimpi-mimpi tersebut dengan mimpi yang lain yang belum pernah terfikirkan sebelumnya. Akankah Ayesha bisa melewati semuanya atau ia harus menyerah dengan semua yang terjadi di kehidupannya?
Angkasa sudah berhenti mencari tahu di mana keberadaan perempuan yang ia cintai sejak lama bahkan perempuan itu adalah cinta pertamanya. Semenjak gadis itu menghilang Angkasa selalu mencari di mana keberadaannya, namun selalu nihil hasilnya. Di saat sudah berhenti mencari informasi tentang gadis itu, saat itu ia justru mendapatkan alamat dimana gadis itu tinggal, tapi kenyataan membuatnya kecewa dan memilih untuk melupakan gadis pujaan hatinya. Tapi takdir berkehendak lain, saat ia sudah berhasil melupakannya. Takdir apakah itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil Rahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ALY 31
"Semua ini adalah ujian, jika kita bisa melewati ujian ini dengan baik, maka Tuhan akan menaikkan derajat kita. Semoga dengan kejadian ini membuat kita lebih hati-hati, dan tentunya lebih dekat dengan Sang Maha Kuasa," tutur Rangga setelah mendengar semua cerita Yesha, istrinya itu kini sudah lebih baik setelah membersihkan diri dan melaksanakan sholat.
"Sekarang kita temui Arga lagi, ajak ke sini. Tidak baik hanya berdua di sana sama Elsa," tambahnya.
Yesha pun menurut, ia mengikuti langkah Rangga menuju apartemennya. Baru saja mereka membuka pintu, keduanya di kejutkan dengan teriakan seseorang dan pintu yang di tutup dengan kasar.
"Aaa ngapain kamu masuk kamar ku!" jelas sekali itu suara Elsa.
Brak
Mereka pun langsung menuju sumber suara, terlihat di mana Arga berdiri mematung di depan kamar Elsa. Hal yang pertama kali di lakukan oleh Yesha adalah menarik adiknya itu, bukan tangan yang di tarik melainkan telinga.
"Sakit Kak, aku bukan anak kecil lagi, lepas," Arga merengek seperti anak kecil.
"Kamu sengaja mau ngintipin Elsa di kamar, kan?"
"Enggaklah, aku juga enggak tahu kalau itu kamar dia, di kamar sebelah jelas di pintu ada nama Kakak, ya aku kira kamar yang satunya kosong," jawab Arga sambil mengelus telinganya yang terasa panas.
"Sana kamu ikutin Kak Rangga, aku mau minta maaf sama Elsa,"
Arga dan Rangga pun meninggalkan apartemen Yesha menuju apartemen sebelah.
Sedangkan Yesha mengetuk pintu kamar Elsa, tak berapa lama pintu pun terbuka dengan wajah cemberut Elsa.
"Maafin adek gue El, dia enggak tahu kalo ini kamar Lo. Dia juga baru bangun tidur," ucap Yesha setelah masuk ke dalam kamar Elsa dan duduk di sisi ranjang.
"Gue cuma kaget Ki, untung pas dia buka pintu tadi gue udah pake baju, ya walaupun bawahannya masih handuk," gerutu Elsa.
"Yaudah sekali lagi, gue minta maaf atas nama adek gue ya. Oh ya, Lo udah makan belum? Kalau belum gue sama Kak Rangga berencana mau makan di luar, ikutan yuk biar rame,"
"Entar gue gangguin kalian, enggak ah, enggak enak gue sama Kak Rangga,"
"Ayolah, kita kan udah lama benget tuh enggak keluar bareng, dan sebentar lagi kita bakalan berpisah, ayo kita manfaatkan kebersamaan ini," Yesha membujuk Elsa dan akhirnya sahabatnya itu pun menyetujuinya.
Ternyata mereka tidak jalan bertiga melainkan berlima, karena Laura dan adik Yesha juga ikut, membuat Elsa sedikit lega, akhirnya ia tidak jadi baygon bakar, menyesakan dada.
"Ternyata adiknya Kia ganteng banget ya," bisik Laura, mengagumi ketampanan Arga.
"Ssst, Lo tu yah, enggak bisa liat cowok ganteng dikit," protes Elsa.
Laura yanga mencibir, lalu melanjutkan makan dengan tenang.
Sedangkan Arga yang di bicarakan tampak diam, bahkan wajahnya terlihat datar seperti memendam banyak masalah.
*****
"Kakak tadi udah telfon Mami, dan Mami menceritakan tentang Dinda, tapi tidak cerita tentang masalah kamu, katanya Kakak suruh tanya sendiri. Sekarang Kakak mau tanya, ada apa denganmu sampai kabur ke sini?" Yesha kini mengintrogasi adik laki-laki nya itu.
Mereka saat ini sudah berada di ruang tamu apartemen Rangga.
Arga menghembuskan nafas panjang sebelum memulai berbicara. "Aku ketahuan pacaran sama Livia," ucapnya sendu.
Yesha tampak terkejut mendengar penuturan Arga, lalu ia menggelengkan kepala, tidak percaya dengan apa yang di lakukan adiknya itu. "Kamu juga salah, Papi kan udah pernah bilang kalau enggak akan mengijinkan anaknya berhubungan dengan sepupu sendiri, meskipun dalam agama di perbolehkan. Apa kamu lupa dengan kejadian Bang Aufa? Masih ingat kan? Tentu saja Papi marah, karena sebelumnya sudah mewanti-wanti. Lagian Livia juga masih SMA, bisa-bisanya kamu seperti itu," Yesha kembali menggelengkan kepala.
Livia adalah anak dari Om Raffa adiknya Papi. Gadis itu dulunya tinggal di Singapura bersama kedua orang tuanya, tapi dua tahun belakangan ini mereka semua kembali ke Indonesia.
"Inget banget Kak, aku khilaf." Arga menunduk, ia memang sangat lemah jika berada di hadapan Kakak dan Maminya, entahlah ia seperti anak kecil jika berada di hadapan dua wanita itu.
"Terus Papi ngusir kamu?"
"Kasian Papi sama Mami, udah pusing karena mikir masalah Dinda di tambah kamu juga buat masalah. Pantes kalo Papi usir kamu, karena bukannya membantu Papi malah nambah pusing,"
"Kamu harus minta maaf sama mereka, dan jangan seperti itu lagi, karena sampai kapan pun Papi tidak akan menyetujui hubungan kalian, kamu sebaiknya cari perempuan lain tapi bukan untuk di jadikan pacar, jadikan sebagai istri," Yesha berbicara panjang lebar dan Arga terus mendengarkan dan memperhatikan Kakaknya itu berbicara.
"Aku udah minta maaf, tapi Papi tetap masih marah, Yaudah akhirnya aku pergi. Mungkin Papi akan maafin aku kalau hatinya sudah tenang,"
Yesha mengangguk, "Semoga saja seperti itu," ucapnya.
"Livia nya gimana?" tanyanya.
"Om Raffa akan mengirim Livia ke Singapura lagi, nanti di sana tinggal sama Omanya. Aku juga udah bilang sama dia buat lupain aku, karena aku tahu pasti Papi tidak akan pernah merestuinya," jawab Arga.
"Dinda kenapa bisa seperti itu sih Ga?" pertanyaan yang ia lontarkan membuat matanya kembali mengembun, mengingat adiknya tercinta.
"Entahlah Kak, aku udah puas hajar tu cowok. Aku sih percaya sama ucapan Dinda, tapi keputusan Papi seperti itu yaudah, bisanya cuma pasrah karena enggak ada yang bisa merubah keputusan Papi," jawabnya dengan sorot mata tajam, masih memendam amarah terhadap lelaki yang telah membuat adiknya seperti itu.
Setelah berbincang-bincang cukup lama dengan Arga, mereka pun masuk ke dalam kamar karena waktu juga semakin larut.
"Kamu tadi cerita tentang Aufa, emang ada apa? Dia suka sama kamu tapi Papi melarang gitu?" ternyata Rangga penasaran dengan ucapannya tadi, tapi entah kenapa tidak langsung di tanyakan. Mungkin takut jika mengganggu Kakak beradik itu bicara.
Yesha pun mengangguk, membenarkan ucapan Rangga. "Iya, dulu sebelum aku ke sini, Aufa mengajak ikut dengannya kuliah di LA, tadinya Papi setuju, tapi setelah tahu kalau Aufa memiliki rasa sama aku Papi melarangnya, entah dari mana Papi tahu semua itu, aku sendiri aja enggak tahu, Aufa enggak pernah bilang. Dan sejak saat itu Papi mewanti-wanti anak-anak nya supaya tidak berhubungan dengan sepupu," jelasnya.
"Kok enggak pernah cerita?" tanya Rangga.
"Ya, karena menurutku enggak penting, itu juga masa lalu, lagian aku juga enggak suka sama Aufa, aku udah anggap dia seperti Kakak kandungku sendiri,"
"Aku laki-laki paling beruntung bisa dapetin kamu, karena ternyata pesaingku banyak sekali," ucap Rangga sambil mendekat ke arah Yesha yang masih setia duduk di depan meja rias.
"Kak!" pekik Yesha saat tiba-tiba tubuhnya melayang ke udara.
"Sstt, jangan teriak nanti Arga denger, dikira aku nyiksa Kakak tercintanya nanti,"
"Kakak ngagetin tau enggak?" gerutunya.
"Maaf sayang, saking bahagianya bisa tidur berdua setelah sekian lama," ucap Rangga sambil mengedipkan sebelah mata. Ia sudah menurunkan tubuh Yesha di atas kasur dengan posisinya terlentang dan dirinya masih terduduk di sisi istrinya, menatap wajah cantik itu.
Entah kenapa Yesha menjadi gugup mendengar ucapan Rangga, tapi ia mencoba bersikap biasa saja takut jika Rangga justru mengejeknya.
"Salah sendiri," ucapnya.
"Salahnya?"
"Kita satu rumah, kalau cuma mau tidur berdua bisa-bisa saja, tanpa harus nungguin ada Arga di sini,"
"Iya juga ya, tapi aku takut khilaf, dan melupakan janjiku sendiri pada Papi mertua,"
Entah kenapa Yesha terkekeh mendengar ucapan Rangga, mungkin ia menertawakan Rangga karena janjinya yang justru menyusahkan dirinya sendiri.
"Kamu mengejek ya?" tanya Rangga, sejurus kemudian ia sudah berada di atas tubuh Yesha dengan kedua tangan sebagai penopang tubuhnya.
"Nanti khilaf beneran lho Kak, ingkar janji dong sama Papi," sebenarnya jantung Yesha sudah tak karuan tapi ia mencoba untuk bersikap biasa saja, takut jika Rangga benar-benar khilaf dan memakannya saat ini juga.
Rangga tersenyum penuh arti dan terus memandang wajah ayu di hadapannya, "Seperti biasa ya, tapi kalau khilaf harap maklum, karena udah enggak bisa nahan haus lagi," ucapnya.
.
.
.