"Cinta" satu kata yang penuh makna. Terkadang butuh pengorbanan untuk menunjukkan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
****
Gunawan duduk di dalam ruangannya yang luas, menatap layar komputer yang menampilkan laporan tentang pergerakan Fahira. Setiap langkah putrinya, setiap orang yang ditemuinya, semuanya telah ia pantau dengan cermat.
Ia tahu bahwa Fahira semakin dekat dengan menemukan Doni. Dan itu adalah sesuatu yang tidak bisa ia biarkan terjadi.
Gunawan menghela napas panjang sebelum menghubungi salah satu anak buahnya.
“Saatnya kita mulai,” katanya singkat.
Di seberang telepon, suara berat anak buahnya terdengar, “Apa yang harus kami lakukan, Pak?”
Gunawan menyeringai tipis. “Pisahkan mereka dengan cara apa pun.”
“Baik, Pak.”
Panggilan terputus, dan Gunawan bersandar di kursinya dengan ekspresi puas.
Jika Fahira tidak mau mendengar peringatannya, maka ia akan membuatnya belajar dengan cara yang lebih keras.
Sementara itu, di barak Pulau N, Fahira merasakan sesuatu yang tidak beres.
Sejak beberapa hari terakhir, ia merasa ada yang mengikuti setiap langkahnya. Bukan hanya itu, beberapa pesan aneh mulai masuk ke ponselnya, mengingatkannya untuk berhenti mencari Doni.
Namun, bukannya takut, ia justru semakin yakin bahwa ia berada di jalur yang benar.
“Gabriel, gue rasa Ayah mulai bergerak,” kata Fahira saat menemui sahabatnya di ruang tengah barak.
Gabriel yang sedang membaca laporan tentang pergerakan Doni langsung menutup mapnya dan menatap Fahira dengan serius.
“Lo yakin?”
Fahira mengangguk. “Ada yang mengikuti gue. Dan gue juga dapet pesan aneh.”
Gabriel mengerutkan kening. “Lo udah coba lacak siapa yang ngirim?”
“Udah, tapi nggak bisa.”
Gabriel mendecak kesal. “Berarti mereka profesional.”
Fahira menghela napas. “Gue harus cepet nemuin Doni sebelum semuanya jadi makin kacau.”
Gabriel menatapnya lekat-lekat. “Lo yakin ini keputusan yang tepat?”
Fahira balas menatapnya. “Doni nggak akan nyerah buat gue. Jadi gue juga nggak akan nyerah buat dia.”
Gabriel tersenyum tipis. “Kalau gitu, kita harus bergerak cepat.”
Di tempat persembunyiannya, Doni akhirnya mendapatkan titik terang.
Selama ini, ia mengira Gunawan adalah satu-satunya orang yang ingin menjauhkannya dari Fahira. Tapi setelah menelusuri beberapa jejak yang ditinggalkan oleh musuh-musuhnya, ia menemukan bahwa ada pihak lain yang juga ingin ia lenyap.
Dan orang itu adalah seseorang yang bahkan lebih berbahaya dari Gunawan.
Doni mengepalkan tangannya.
Ia harus kembali sebelum semuanya terlambat.
Malam itu, saat Fahira dan Gabriel bersiap untuk mencari petunjuk baru tentang Doni, tiba-tiba listrik di barak padam.
Seketika, suasana menjadi mencekam.
Fahira langsung meraih ponselnya dan menyalakan senter. “Gabriel, lo di mana?”
“Aku di sini,” suara Gabriel terdengar di dekatnya.
Mereka saling mendekat, waspada terhadap setiap pergerakan di sekitar mereka.
Tiba-tiba, suara tembakan terdengar dari luar barak.
Mata Fahira membesar. “Ini nggak mungkin kebetulan.”
Gabriel langsung menarik tangan Fahira. “Kita harus pergi dari sini.”
Namun sebelum mereka sempat bergerak lebih jauh, beberapa pria bersenjata masuk ke dalam barak.
Salah satu dari mereka menatap Fahira dengan tajam. “Maaf, Nona, tapi ini perintah.”
Fahira menegang. “Perintah dari siapa?”
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya memberi isyarat pada anak buahnya untuk menangkap Fahira.
Tapi sebelum mereka bisa menyentuhnya, sebuah tembakan melesat tepat ke arah salah satu pria itu, membuatnya tersungkur ke tanah.
Semua mata langsung mencari sumber tembakan itu.
Dan di sanalah dia berdiri.
Doni.
Dengan tatapan tajam dan pistol yang masih mengepul, ia akhirnya kembali.
Di tempat lain, Gunawan menerima laporan bahwa rencananya telah gagal.
Ia mengepalkan tangannya dengan marah.
“Doni kembali?” tanyanya dengan nada dingin.
Anak buahnya mengangguk. “Ya, Pak. Dia menyelamatkan Nona Fahira.”
Gunawan tersenyum sinis. “Menarik.”
Ia lalu bangkit dari kursinya dan menatap keluar jendela.
“Kalau begitu, kita harus menaikkan taruhannya.”
Karena bagi Gunawan, ini baru permulaan.
Fahira masih belum bisa mempercayai apa yang dilihatnya. Setelah sekian lama, Doni akhirnya muncul di hadapannya. Namun, ada sesuatu yang berbeda darinya. Bukan hanya sikapnya yang lebih tajam dan penuh kewaspadaan, tapi juga kehadiran beberapa pria lain di belakangnya—mereka adalah orang-orang yang tampak terlatih dan siap bertempur kapan saja.
“Fahira, ikut aku sekarang,” suara Doni dingin dan tegas.
Fahira menatapnya dengan penuh kebingungan. “Doni… apa yang terjadi? Kenapa kamu baru muncul sekarang?”
Doni tidak menjawab. Matanya menatap tajam ke arah para pria bersenjata yang masih bertahan, meskipun beberapa dari mereka sudah lumpuh karena tembakannya.
“Kita harus pergi,” kata Doni lagi.
Namun sebelum Fahira bisa bereaksi, suara Gunawan tiba-tiba terdengar dari pengeras suara yang entah dari mana sumbernya.
“Kalian pikir bisa kabur begitu saja?”
Mata Fahira membesar. “Papa…”
Doni langsung menarik Fahira ke belakangnya, melindunginya. Gabriel juga bergerak sigap, menyiapkan senjatanya.
Dari luar, terdengar suara deru mobil yang mendekat dengan cepat. Tak lama kemudian, beberapa SUV hitam berhenti di depan barak, dan puluhan pria bersenjata keluar dari dalamnya.
Gunawan akhirnya menampakkan diri. Dengan jas hitamnya yang rapi dan ekspresi penuh kuasa, ia melangkah mendekat dengan percaya diri.
“Doni,” katanya dengan nada tenang, namun penuh ancaman. “Kau membuat kesalahan besar dengan kembali.”
Doni menatap pria itu tanpa gentar. “Aku tidak akan lari lagi.”
Gunawan menyeringai tipis. “Bagus. Maka aku tidak perlu repot mencarimu.”
Seketika, anak buah Gunawan mengangkat senjata mereka, mengarahkannya ke Doni dan timnya.
Namun, Doni sudah bersiap. Dalam hitungan detik, pertempuran pecah.
Fahira merunduk, berlindung di balik meja bersama Gabriel. Suara tembakan menggema di sekeliling mereka, menciptakan ketegangan yang luar biasa.
“Doni nggak mungkin menang kalau terus di sini!” teriak Gabriel.
Fahira mengangguk. “Kita harus pergi!”
Doni yang mendengar itu langsung berlari ke arah mereka. “Ikut aku!”
Dengan sigap, mereka bertiga berlari keluar dari barak, menghindari peluru yang beterbangan. Salah satu anak buah Doni langsung membuka pintu mobil yang sudah disiapkan.
“Masuk!”
Tanpa berpikir panjang, Fahira dan Gabriel langsung masuk, diikuti oleh Doni. Begitu pintu tertutup, mobil itu langsung melaju kencang meninggalkan lokasi.
Namun, pengejaran belum selesai.
SUV hitam milik Gunawan mulai mengejar mereka dengan kecepatan tinggi.
“Pegangan!” teriak sopir mereka sebelum membanting setir tajam ke kanan, mencoba menghindari mobil yang mengejar.
Doni segera meraih senapan yang ada di dalam mobil dan menurunkan kaca jendela. Dengan presisi luar biasa, ia menembak ban salah satu SUV yang mengejar mereka.
Brak!
Mobil itu oleng dan menabrak pohon di pinggir jalan, tapi masih ada dua mobil lain yang terus mengejar.
“Kita nggak bisa lari terus!” teriak Fahira.
Doni menggeram. “Kita harus sampai ke tempat aman dulu!”
Namun, sebelum mereka bisa berpikir lebih jauh, salah satu mobil Gunawan berhasil menyalip dan menabrak bagian belakang mobil mereka.
Fahira berteriak ketika mobil mereka hampir terguling.
Doni segera menarik Fahira ke pelukannya, melindunginya dari benturan.
Gabriel juga menahan dirinya di kursi, sementara sopir mereka berusaha mengendalikan mobil.
Namun pada akhirnya, mereka tidak bisa menghindari tabrakan keras yang membuat mobil mereka berhenti di tengah jalan.
Asap mengepul dari kap mesin.
Mereka terjebak.
Gunawan keluar dari mobilnya dengan santai.
Beberapa anak buahnya mendekat, mengarahkan senjata ke Doni dan yang lainnya.
Fahira menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. “Ayah… hentikan ini.”
Gunawan mendengus. “Aku sudah memperingatkanmu, Fahira. Tapi kau tidak mau mendengarkan.”
Doni berdiri di depan Fahira, melindunginya. “Jangan bawa dia ke dalam masalah kita.”
Gunawan menatapnya tajam. “Kau pikir aku hanya ingin menjauhkanmu dari Fahira?”
Doni mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”
Gunawan menyeringai. “Ada seseorang yang lebih menginginkanmu mati selain aku.”
Doni terdiam.
Gunawan melanjutkan, “Aku ingin menjauhkanmu dari Fahira bukan hanya karena aku tidak menyukaimu. Tapi karena jika kau tetap di dekatnya, dia juga akan menjadi sasaran.”
Fahira menatap ayahnya dengan bingung. “Apa maksud Ayah?”
Gunawan menghela napas. “Ada musuh yang lebih besar di luar sana. Dan mereka ingin Doni mati.”
Doni menggertakkan giginya. “Siapa?”
Gunawan hanya tersenyum samar. “Kau akan segera tahu.”
Tiba-tiba, suara tembakan lain terdengar dari kejauhan.
Gunawan menoleh ke belakang dengan ekspresi terkejut.
Dari balik pepohonan, sekelompok pria bersenjata muncul. Tapi mereka bukan anak buah Gunawan.
Mereka adalah orang lain.
Dan mereka langsung menembaki semua orang tanpa pandang bulu.
“Berlindung!” teriak Doni.
Fahira segera merunduk, sementara Doni dan Gabriel mulai menembak balik.
Gunawan dan anak buahnya juga terpaksa bertarung melawan kelompok tak dikenal itu.
Di tengah kekacauan, Doni mulai menyadari sesuatu.
Musuh mereka kali ini lebih terorganisir, lebih brutal.
Dan jika Gunawan tidak tahu siapa mereka…
Maka itu berarti ada pihak ketiga yang selama ini bersembunyi di balik bayangan.
Pertanyaannya, siapa mereka?
Dan apa yang mereka inginkan?
Dalam situasi kacau itu, Doni melihat kesempatan untuk melarikan diri.
“Gabriel, bawa Fahira keluar dari sini!”
Gabriel mengangguk dan langsung menarik Fahira ke belakang mobil.
Namun, sebelum mereka bisa pergi lebih jauh, salah satu pria misterius itu berhasil menangkap Fahira.
Fahira berteriak saat tubuhnya ditarik kasar.
“Fahira!” teriak Doni.
Tanpa berpikir panjang, Doni langsung menerjang pria itu dan menghantamnya dengan keras.
Gabriel juga ikut membantu, menembak orang-orang di sekitarnya.
Akhirnya, setelah pertarungan sengit, mereka berhasil melarikan diri ke dalam hutan.
Namun, mereka tahu ini belum berakhir.
Musuh baru telah muncul.
Dan ini baru permulaan.
Sementara itu, Gunawan menatap anak buahnya yang sudah banyak terluka.
Ia menggertakkan giginya.
Ia pikir ia bisa mengendalikan situasi.
Namun, sekarang ia sadar…
Ada ancaman yang lebih besar dari Doni.
Dan ia harus mencari tahu siapa mereka sebelum segalanya menjadi semakin buruk.
####
Di sebuah kedai kopi kecil, Shun dan Nagisa bertemu secara tak terduga. Percakapan ringan, secangkir kopi, dan keheningan yang nyaman perlahan menumbuhkan sesuatu di antara mereka. Namun, tak semua kenangan diciptakan untuk bertahan selamanya…
Ketika masa lalu, rahasia, dan takdir mulai menguji mereka, mampukah kenangan itu tetap hidup?
Sebuah kisah tentang pertemuan, kehilangan, dan arti merelakan.