"Mentari, istri bocah ku......aku sangat mencintaimu. Taukah kau seberapa besar cinta ku pada mu?" (Arkana Anggara Wijaya)
"Memangnya seberapa besar pacar ku ini mencinta aku?" (Mentari)
"Tidak besar, kecil sekali!" (Arka Anggara Wijaya)
"Ngapain nanyak kalau gitu!" (Mentari)
"Mentari?" (Arkana Anggara Wijaya)
"Em!" (Mentari)
"Cinta ku pada tak seluas samudera dan tidak sedalam lautan biru, tapi aku lebih mencintai mu dari pada diri ku sendiri, dan aku cemburu walau yang memandang mu seorang wanita. Aku ingin mengurung mu dalam sangkar cintaku. Agar tidak ada yang dapat menyentuh mu, kau Mentari ku dan hanya boleh menyinari ku saja. Biarlah aku menjadi budak cinta mu," (Arkana Anggara Wijaya)
"Pacar ish.....Tari gemuszzzz, oppa sarangheo," (Mentari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Mentari terlalu pusing memikirkan penyebab dirinya bisa mendapatkan tanda merah.
"Kenapa ya?!" Mentari mengacak rambut nya karena terlalu pusing.
"Hai Genk!!!!" seru Dino perlahan mendekati Mentari.
"Hay bebs.....gw kangen tau sama lu!" tambah Robi lagi yang mendekati Mentari.
"Lebay!" ketus Lala.
"Lu yang jijai!" jawab Rabi yang tidak suka dengan keketusan Mentari, "Emang kalian nggak kangen apa kita itu udah nggak pernah ngumpul bareng! Terutama lu Tar, Lu sekarang udah menjauh banget dari kita!" terang Robi lagi.
"Iya juga sih.....yang di bilang Robi emang bener banget!" lanjut Lala.
"Sorry ya Genk......" Mentari juga merasakan hal yang di katakan oleh Robi, tapi mau bagaimana lagi kehidupan kini sudah berbeda dengan status istri yang ia miliki.
"Gimana kalau hari ini kita hang out?" kata Dino mengutarakan pendapatnya.
"Gw setuju!" teriak Rika.
"GW mah Ok baee!" lanjut Lala dengan suara tidak kalah menghebohkan.
"Tar lu kok die Bae?!" tanya Rika yang melihat wajah Mentari hanya sibuk menimbang-nimbang sesuatu.
"Gw nggak usah ya Genk," kata Mentari dengan tidak enak hati.
"CK......" Dino berdecak karena kecewa, "Lu dah berubah banget Tar, biasanya lu yang paling hobi kalau beginian," Dino dapat merasa jika Mentari sudah tidak seperti dulu lagi, dan ia pun bingung ada apa dengan Mentari.
"Tau nih anak, lu udah beda banget!" timpal Rika dengan wajah masam.
"Nggak asik.....gw jadi males.....mending gw balik terus bobo di rumah," Lala memutar badannya dan berniat pergi dengan begitu saja.
"Lala......gw juga ikut bareng kalian," kata Mentari dengan suara yang cukup kencang agar Lala mengurungkan niatnya untuk pulang.
Lala berbalik dan ia tersenyum, "Lu serius Tar?"
"Serius lah masa kagak!"
"Asik......" Lala langsung berlari dan memeluk Mentari dengan bahagia.
"Asek....." Rika juga ikut memeluk Lala dan Mentari.
"Ok ...... jadi hari ini kita jalan ya Genk?!" tanya Dino dengan penuh bahagia.
"Yoi bro......" jawab Mentari dan semuanya tertawa dengan begitu bahagia.
"Kuy lah....." semuanya keluar dari kelas dan mereka menuju parkiran, di mana mobil mereka sudah terparkir dengan rapi.
"Kita bawa satu mobil aja lah, nggak asik kalau bawa mobil semua kan?" kata Dino mengutarakan ide nya.
"Ok.....pakek mobil gw aja lah," tawar Robi, "Kan mobil gw baru ini.....baru di beliin bokap," tambahnya lagi dengan bangga menunjukan mobil kesayangan nya itu.
"Bereslah, gw mah Ok," kata Mentari dan ia langsung masuk ke mobil milik Robi, lalu duduk manis di samping Robi sementara Robi yang mengemudi dan ketiga temannya duduk di jok belakang.
"Gaskan bos!" teriak Lala.
"Brisik lu!" Rika menggosok telinganya, karena suara Lala sangat membuat telinga Lala tidak nyaman.
"Hehehehe....." Lala tersenyum karena melihat Rika kesal pada dirinya.
"Ok....." Robi mulai mengemudikan mobilnya, dan ia terlihat begitu fokus, "Kita kemana Genk?" tanya Robi.
"Ke tempat biasa aja deh....lama kan kita nggak ke cafe idola kita itu," kata Doni.
"Setuju!"
Kelimanya terlihat sangat bahagia dengan musik yang begitu kencang tanpa merasa bising sedikitpun, kelimanya bergoyang di dalam mobil. Dan lama sekali mereka tidak merasakan hal itu, tidak lama kemudian mereka sampai di cafe idola mereka.
"Turun Genk!" seru Lala orang yang paling heboh di antara teman lainnya.
Kelimanya turun dari mobil dan mulai melangkah masuk ke dalam cafe, mereka mulai mencari tempat duduk ternyaman hingga akhirnya mereka duduk di sofa yang cukup nyaman.
"Pesan apa Genk?" tanya Robi.
"Gw mah bebas, yang penting di bayarin," kata Mentari dengan santai, karena memang uang di sakunya sudah tidak seberapa.
"Sip....semuanya gw yang traktir....." kata Robi dengan bahagianya.
"Wah keren lu Rob," Rika terlihat antusias dan mereka mulai memesan sesuai keinginan mereka.
Lama kelimanya saling melempar candaan, sampai akhirnya ada seseorang yang tiba-tiba menarik lengan Mentari. Kelimanya diam dan menatap Arka yang ternyata memegang lengan Mentari, begitu juga dengan Mentari yang terlihat kaget.
"Pulang!" titah Arka.
"Pak Arka?"
"Pak Arka?"
"Pak Arka?"
"Pak Arka?"
Ke empat teman Mentari cukup terkejut, keempatnya juga langsung ikut berdiri dan juga terlihat bingung dengan Arka yang tiba-tiba datang. Bahkan tangan Arka langsung memegang tangan Mentari.
Siapa Arka?
Ada apa?
Kenapa Arka dan tiba-tiba Arka memegang tangan Mentari?
Semua sangat bingung dan membuat Lala, Rika, Dino dan Robi bertanya-tanya. Mereka benar-benar butuh jawaban.
Mentari tidak bisa bicara karena ia benar-benar kehabisan kata-kata, ia hanya menatap teman-teman dengan wajah yang ketakutan.
"Tari?!" Lala menatap Mentari dengan wajah bingung.
"Gw jelasin nanti ya..." kata Mentari.
Dan Arka langsung menarik Mentari pergi begitu saja, meninggalkan teman-temannya yang lain yang menatap nya dari kejauhan.
"Kak apa sih!" Mentari kesal dan ia berusaha menghempaskan tangan Arka, tapi tidak bisa tangan Arka terlalu kuat mencengkram tangannya.
Arka tidak berbicara satu patah kata pun, ia memasukan Mentari kedalam mobil. Sesaat kemudian Arka ikut naik dan mengemudikan mobilnya.
"Kak Arka sengaja ya!" tanya Mentari dengan berapi-api, ia sangat tidak suka dengan apa yang di lakukan oleh Arka saat ini, "Lu sengaja kan Kak, biar temen-temen gw tahu tentang kita ini!"
Mentari kesal dan hatinya masih menolak apa yang di lakukan oleh Arka, namun Arka hanya diam tanpa sepatah kata pun.
"Kak lu keterlaluan banget! Gw nyesel setuju buat nikah sama lo!" teriak Mentari lagi.
Citt.
Arka menghentikan mobilnya di tengah jalan dan menatap Mentari.
"Gw kesel sama lo Kak, gw nyesel tau nggak.? Gara-gara pernikahan gila ini gw sekarang nggak bebas, masa-masa indah gw di jaman sekolah hilang karena nikah sama lo!" kata Mentari lagi dengan suara yang semakin meninggi.
"Diam!" bentak Arka, sebenarnya Arka tidak ada niatan untuk membentak Mentari. Hanya saja ia tidak suka dengan Mentari yang pergi bersama dengan laki-laki lain, di tambah lagi berulang kali Dino merangkul pundak Mentari. Entah mengapa batinnya tidak bisa menerima, hingga begitu ia mendapat laporan dari mata-mata yang ia kirimkan, di tambah lagi dengan fhoto-fhoto Mentari yang begitu dekat dengan teman prianya seakan membuat darah Arka semakin mendidih.
Mentari terkejut dan ini kali pertama nya Arka membentak dirinya, "Lu jahat Kak, gw benci sama lo!"
Arka diam dan kembali melanjutkan laju mobilnya, ada rasa penyesalan saat membentak Mentari. Namun semua terjadi begitu saja, semua seakan membuatnya hilang kendali tanpa bisa di hindari.
***
Yang masih mau lanjut like dan Vote, makasih ya buat Kaka cantik dan ganteng yang udah kasih hadiah, like dan Votenya.
Paling tidak sekarang suami yg kayak es beku sdh mencair.
Tadinya cerita awal dimulai dari Arka dan Rembulan lalu masuklah sosok Mentari, dikupas Thor tentang mereka.