Menceritakan seorang gadis yang dijodohkan dengan seorang Kapten Pilot. Namun, gadis tersebut kabur di hari pernikahannya.
Kemudian mereka kembali dipertemukan dan gadis tersebut jatuh cinta pada Kapten Pilot. Mereka berdua sempat menjalin hubungan kekasih, Namun ternyata Kapten Pilot hanya menjadikan gadis tersebut hanya sebagai pempiasan cintanya saja karena hubungannya dengan kekasih lamanya tidak direstui kedua orang tuanya.
Gadis tersebut sangat kecewa saat mengetahui cintanya hanya dijadikan pelampiasan saja, gadis tersebut membenci Kapten Pilot karena telah mempermainkan cintanya dan gadis tersebut memutuskan hubungannya dengan Kapten Pilot.
Hati Kapten Pilot itu merasa aneh, kehidupannya hampa tanpa gadis tersebut hatinya terasa kosong. Kapten Pilot itu berusaha meminta maaf namun, gadis tersebut terlanjur kecewa. Hati tidak ada yang tau, gadis tersebut kembali mencintai Kapten pilot secara diam-diam dan alangkah kecewanya lagi saat gadis tersebut menyaksikan dengan matanya sendiri, menyaksikan kekasih lama Kapten Pilot mencium pipi Kapten Pilot dan itu membuat gadis tersebut sampai kecelakaan.
Perjalanan cinta mereka begitu banyak ujian cinta di dalamnya. Tidak hanya sampai disitu saja, saat takdir telah menyatukan mereka dalam hubungan pernikahan, ada saja ujian yang menimpa cinta mereka. Bahkan lebih parah lagi setelah mereka menikah, rumah tangga mereka sempat hancur dengan perceraian diantara mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irma blw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KAPTEN PILOT
Setelah malam itu, Dokter Nisa berbicara dari hati ke hati dengan suaminya tentang punya anak.
Akhir dari keputusan bersama antara Dokter Nisa dan suaminya adalah sambil berusaha untuk segera mengandung anak, Dokter Nisa juga akan tetap bekerja di rumah sakit sampai dirinya mengandung.
Jujur hati Kapten Rijal merasa bahagia saat istrinya mau punya anak segera darinya. Selama pernikahannya Kapten Rijal ingin membicarakan soal anak tapi dia menghargai perasaan Dokter Nisa.
Kapten Rijal tidak ingin membicarakan anak jika dirinya yang memulai membicarakan soal anak. Kapten Rijal begitu takut melukai hati istrinya, belajar dari pengalamannya sewaktu mereka sempat memiliki hubungan kekasih.
Hari ini Dokter Nisa kembali kerja di rumah sakit, kebetulan suaminya yang mengantarnya ke rumah sakit tempat Dokter Nisa bekerja.
''Sayang. Kamu telepon aku kalau kamu sudah pulang kerja, biar aku jemput kamu.'' Ucap Kapten Rijal di dalam mobil bersama istrinya.
Yang mana mobilnya sudah terparkir di halaman rumah sakit.
''Iya sayang. Aku bakalan minta kamu jemput aku kok, lagian aku mau mampir ke mall nanti sepulang kerja.'' Ucap Dokter Nisa.
''Ya sudah, kamu masuk sana.'' Ucap Kapten Rijal mencium kening istrinya.
''Oke sayang, kamu hati-hati di jalan ya!.'' Ucap Dokter Nisa mencium punggung tangan suaminya dan keluar dari mobil.
''Dah.'' Ucap Kapten Rijal melambaikan tangannya pada Dokter Nisa.
''Dadah, hati-hati.'' Ucap Dokter Nisa membalas melambaikan tangannya pada suaminya yang sudah melajukan mobilnya pulang ke rumah.
''Bismillah, semoga hari ini berjalan lancar.'' Ucap Dokter Nisa menatap bangunan yang menjulang tinggi di depannya.
Dokter Nisa pun masuk ke dalam koridor menelusuri lorong rumah sakit.
Sepanjang hari, Dokter Nisa begitu sibuk dengan pekerjaannya sebagai Dokter harus siap siaga melayani pasien yang sakit.
Tidak terasa pagi akan berganti malam. Senja mulai mengambil alih walau sesaat tapi senja adalah pengingat untuk semua manusia di dunia bahwa hari sudah akan malam.
Dreetttt....(suara panggilan masuk dari HP)
"Halo?." Tanya Nisa menerima panggilan masuk dari HPnya tanpa melihat siapa yang menelponnya.
"Sayang dimana? masih di rumah sakitkan?." Tanya Kapten Rijal dari sebrang telepon.
"Iya, bentar lagi mau pulang. Lagi nyusun berkas dulu, masuk aja." Jawab Dokter Nisa ternyata yang menelponnya adalah suaminya sendiri.
"Oke sayang." Ucap Kapten Rijal memutuskan sambungan telepon kemudian keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah sakit menemui istrinya.
Tidak lama kemudian Kapten Rijal telah menemukan ruangan istrinya yang di atas pintu tertera nama istrinya.
Kapten Rijal langsung masuk ke ruangan istrinya, melihat wajah istrinya yang begitu tampak lelah dari lubuk hati Kapten Rijal merasa tidak tega melihat istrinya harus begini setiap hari.
''Sayang.'' Sapa Kapten Rijal duduk di kursi meja depan istrinya.
''Kamu sudah lama nunggu aku?.'' Tanya Dokter Nisa masih sibuk menandatangani beberapa berkas di depannya.
''Nggak kok paling baru 10 menit.'' Jawab Kapten Rijal.
''Bentar ya nanggung nih, berkasnya masih ada 10 map yang harus aku tanda tangani.'' Ucap Dokter Nisa.
''Iya, santai aja. Aku kesini memang mau jemput istri aku.'' Ucap Kapten Rijal menenangkan istrinya agar tidak terburu-buru.
''Makasih ya sudah mau mengerti.'' Ucap Dokter Nisa.
''Iya sayangku.'' Ucap Kapten Rijal mengelus lengan istrinya.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya istri Kapten Rijal sudah selesai dengan pekerjaannya.
Mereka pun langsung bergegas menuju ke mobil. Di perjalanan Kapten Rijal melirik istrinya, satu kalimat yang ingin dia ucapkan namun takut istrinya marah dengan ucapannya.
''Kamu kenapa sayang? kok liatin aku gitu?.'' Tanya Dokter Nisa keheranan melihat suaminya yang sesekali meliriknya tanpa bersuara.
''Nggak kok.'' Jawab Kapten Rijal singkat lalu kembali fokus menyetir.
''Masa nggak ada sih.'' Ucap Dokter Nisa tidak percaya.
''Sayang kamu kan katanya mau ke mall dulu sebelum pulang, jadi nggak?.'' Tanya Kapten Rijal mengalihkan pembicaraan.
''Besok aja deh.'' Jawab Dokter Nisa.
''Kalau begitu, kita makan dulu aja sebelum pulang.'' Ucap Kapten Rijal.
''Terserah kamu sih sayang.'' Ucap Dokter Nisa tersenyum.
Mereka pun singgah di resturan yang mereka lewati.
''Kamu nggak masalah makan seafood?.'' Tanya Kepten Rijal pada Dokter Nisa karena resturan yang disinggahinya adalah resturan seafood.
''Nggak apa-apa, malah tadi aku mau rekomendasikan makan seafood. Taunya kamu bisa baca hati aku.'' Ucap Dokter Nisa.
''Iya dong itu tandanya aku sayang kamu.'' Ucap Kapten Rijal.
''Sudah ah, aku nggak kenyang lho kalau makan gombalan kamu doang.'' Ucap Dokter Nisa.
''Hahahaa, ya sudah ayok!.'' Seru Kapten Rijal keluat dari mobilnya dan diikuti Dokter Nisa.
Mereka berdua pun masuk ke resturan tersebut. Mereka berdua mengambil tempat duduk pojokan dekat dinding kaca yang membuat yang duduk di pojokan itu bisa melihat pemandangan di luar resturan.
Setelah memesan makanan dan makanan mereka pun datang, mereka langsung mencicipi makanan mereka.
Tidak lama kemudian meraka telah selesai makan, mereka berdua pun membayar makanan mereka.
Mereka berdua keluar dari resturan dan melangkah ke parkiran tempat mereka memarkirkan mobilnya tadi.
Saat hendak masuk ke dalam mobil, Dokter Nisa tidak sengaja melihat di depannya agak kejauhan tampak seorang pria yang dia kenal berjalan hendak masuk ke dalam resturan.
Dokter Nisa pun hendak melangkah menghampiri pria tersebut, namun langkahnya terhenti ketika bocah laki-laki menghampri pria tersebut disusul perempuan dari belakang bocah laki-laki itu.
Pria tersebut mengendong bocah laki-laki itu masuk ke dalam resturan diikuti perempuan tadi dari belakang pria itu.
Tanpa di sadari air mata Dokter Nisa jatuh di pipinya.
Kapten Rijal yang keheranan melihat istrinya berdiri di samping pintu, menegur istrinya dengan bunyi klakson mobil. Karena kebetulan Kapten Rijal sudah masuk ke dalam mobil lebih dulu dari pada Dokter Nisa.
Dokter Nisa yang kaget dengan bunyi klakson mobil, buru-buru menghapus air matanya kemudian masuk ke dalam mobil.
Setelah Dokter Nisa masuk ke dalam mobil, Kapten Rijal langsung melajukan mobilnya berharap mereka segera tiba di apartemen, agar istrinya bisa istirahat di apartemen.
Di tengah perjalanan pulang menuju apartemen, Dokter Nisa hanya diam menatap keluar jendela mobil menatap pinggir jalanan yang dilewatinya.
''Kamu kenapa?.'' Tanya Kapten Rijal pada Dokter Nisa.
''...'' Tidak ada jawaban dari Dokter Nisa yang tetap menatap ke arah luar jendela mobil tanpa berbalik menatap suaminya.
''Sayang kamu kenapa?.'' Tanya Kapten Rijal lagi pada Dokter Nisa.
''...'' Namun tetap sama, tidak ada jawaban dari istrinya tersebut.
Kapten Rijal pun mengrem memdadak mobilnya. Alhasil tubuh Dokter Nisa hampir terhuyung ke depan. Dokter Nisa berbalik menatap Kapten Rijal.
''Kamu kenapa sih?.'' Tanya Kapten Rijal setengah emosi.
Dokter Nisa masih terdiam tanpa menjawab pertanyaan suaminya.
''Kamu kenapa? Apa kamu nggak dengar aku bertanya sama kamu?.'' Tanya Kapten Rijal dengan suara tinggi.
''Bukan urusan kamu.'' Ucap Dokter Nisa membalas dengan suara tinggi.
''Kamu ini anggap aku apa sih? aku ini suami kamu, semua urusan kamu termasuk masalah kamu itu juga urusan aku, kamu jangan keras kepala sok-sok pendam masalah sendiri. Bisa nggak sih kamu hargai aku ha.'' Bentak Kapten Rijal sangat emosi bisa-bisa Dokter Nisa bilang bukan urusannya dia menganggap dirinya apa pikir Kapten Rijal.
''Kamu kok ngebentak aku sih hiks... Hikss.'' Ucap Dokter Nisa terisak mulai menangis.
''Bagaimana aku nggak ngebentak, aku nanya kamu nggak jawab, aku nanya kamu bilangnya bukan urusan aku.'' Ucap Kapten Rijal masih dengan suara tinggi.
''Kamu tuh nggak mengerti perasaan aku hiks... Hiks... Hiks.'' Ucap Dokter Nisa.
''Aku mau mengerti bagaimana perasaan kamu? sedangkan kamu nggak mau cerita kamu kenapa.'' Ucap Kapten Rijal menurunkan nada bicaranya menjadi nada bicara normal.
''Aku belum bica cerita.'' Ucap Dokter Nisa menyeka air matanya.
''Terus bagaimana aku bisa mengerti perasaan kamu kalau kamu nggak mau cerita, aku ini bukan allah yang tau semua isi hati kamu.'' Ucap Kapten Rijal.
''Hiks... Hikss... Hiks...'' Dokter Nisa malah menangis senggukan mengingat pria tadi yang dilihatnya di depan resturan.
''Ah. Terserah kamu deh.'' Ucap Kapten Rijal kembali melajukan mobilnya menuju ke apartemen.
Apapun masalah yang sedang kita hadapi cobalah curhatkan apa yang kita pendam. Agar beban hati dan pikiran bisa berkurang dan perasaan bisa lega.
Karena memendam sendirian suatu masalah itu bisa membuat penyakit batin juga bisa mempengaruhi kesehatan mental dan fisik seperti memicu penyakit stress.
Mohon maaf bila ada kesalahan kata, penempatan tanda baca, dan huruf besar. Mohon pengertiannya ya.
Guys🤗 segini dulu ya kita lanjut ke part berikutnya😉
Nisa kok gak bisa move on yaw, kapten aja bisa move on dr pacarnya dl masak Nisa nggak bisa