NovelToon NovelToon
Meraih Bintang

Meraih Bintang

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Bunga Lestari bukan siapa-siapa.

Yatim piatu dari desa kecil di Jawa Timur, dia datang ke Jakarta dengan satu tujuan: membalas dendam kepada orang yang menghancurkan keluarganya. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa pendidikan — yang dia punya hanya tinju dan tekad.

Tapi malam itu, di sebuah gala dinner yang dia coba susup, seorang pria asing menabraknya. Dan tiba-tiba, suara pria itu ada di dalam kepalanya.

Rangga Wicaksana — pewaris keluarga konglomerat, jenius hukum, tampan dingin — jiwanya terjebak di tubuh Bunga. Dia bisa merasakan apa yang Bunga rasakan. Mendengar apa yang Bunga pikirkan. Dan yang paling parah: dia tidak bisa keluar.

"Bantu aku menjatuhkan musuhku," kata Rangga.
"Bantu aku naik ke puncak," kata Bunga.

Perjanjian dimulai. Tapi bagaimana caranya menjaga rahasia, ketika dia bisa merasakan detak jantungmu setiap kali kamu berbohong?

🔥 Ikatan jiwa. Dendam. Cinta yang tak seharusnya. Dan satu gadis kampung yang bertekad meraih bintang — dengan caranya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 012

Noda Anggur

Peringatan Baskara terasa seperti pintu baru yang terkunci.

Sayangnya, Bunga tidak diberi waktu mencari kuncinya.

Dua malam kemudian, Melati mengajaknya menghadiri private dinner kecil di rumah salah satu kerabat Prawira. Bunga hampir menolak karena kepala dan tubuhnya mulai lelah mengejar jadwal orang kaya, tetapi Tuan Misterius mengingatkannya bahwa setiap acara adalah kesempatan membaca peta. Selain itu, Baskara akan datang.

"Kamu masih ingin mendekati dia?" tanya Tuan Misterius saat Bunga memakai dress biru gelap yang sama, kali ini dipadukan dengan blazer putih tulang dari Melati.

"Aku masih ingin mendekati Hartono."

"Itu bukan jawaban yang sama."

"Memang."

Rumah tempat dinner itu lebih kecil dari rumah Prawira, tetapi tamunya lebih tajam. Orang-orang yang datang tampak saling mengenal terlalu lama, sehingga kehadiran Bunga seperti noda baru di taplak putih. Mereka tidak mengusirnya. Mereka hanya melihat cukup lama untuk membuat seseorang ingin pergi sendiri.

Ratih datang terlambat.

Begitu melihatnya, Bunga langsung memahami maksud peringatan Baskara. Ratih tidak membawa pisau, tidak membawa bukti, tidak membawa tuduhan. Ia membawa senyum manis dan dua perempuan yang sejak awal menatap Bunga seperti proyek hiburan.

"Bunga," sapa Ratih. "Senang kamu datang. Aku kira setelah jadwal Anin yang padat, kamu akan terlalu sibuk."

"Saya belum sesibuk orang yang punya waktu mengurus hidup orang lain," jawab Bunga.

Tuan Misterius berkata, "Hati-hati."

Ratih tertawa kecil. "Kamu selalu segar."

Melati yang berdiri di samping Bunga langsung menyela, "Bunga datang bersamaku."

"Tentu," kata Ratih. "Kalian memang dekat sekali akhir-akhir ini."

Kalimat itu terdengar ringan, tetapi Bunga menangkap durinya. Seolah kedekatannya dengan Melati adalah kesalahan, atau barang curian.

Dinner dimulai dengan basa-basi, sup kecil, lalu hidangan utama. Bunga makan lebih pelan dari biasanya. Tuan Misterius bahkan sempat memuji caranya memegang pisau, pujian yang membuatnya curiga dunia akan kiamat. Baskara duduk di sisi meja yang berbeda, terlalu jauh untuk bicara, cukup dekat untuk melihat.

Dan ia melihat.

Bunga tahu karena beberapa kali mata mereka bertemu. Namun setiap kali itu terjadi, Baskara hanya menatap sebentar lalu kembali pada pembicaraan di depannya.

"Dia menjaga jarak," kata Tuan Misterius.

"Aku punya mata."

"Jangan berharap dia menolongmu."

"Aku tidak berharap."

Kebohongan itu terasa pahit di lidah.

Setelah makan, para tamu pindah ke area lounge. Musik pelan mengalun. Pelayan membawa minuman. Bunga memilih air putih, tetapi salah satu perempuan yang datang bersama Ratih berdiri terlalu dekat sambil memegang gelas anggur merah.

"Maaf, boleh lewat?" tanya perempuan itu.

Ruang di belakangnya kosong.

Bunga mundur setengah langkah. "Silakan."

Gerakan berikutnya terjadi terlalu rapi untuk disebut kecelakaan. Siku perempuan itu menyenggol gelas. Anggur merah tumpah ke blazer putih tulang dan turun ke dress biru Bunga, membentuk noda gelap seperti luka yang melebar.

Ruangan langsung sunyi.

"Aduh," kata perempuan itu, menutup mulut dengan tangan. "Maaf sekali. Aku tidak sengaja."

Tidak sengaja, tetapi matanya puas.

Bunga berdiri diam. Dingin anggur meresap ke kain, lalu ke kulit. Di dalam kepalanya, Tuan Misterius berkata sangat pelan, "Jangan memukulnya."

"Aku belum bergerak."

"Kakimu sudah siap."

Ratih mendekat dengan wajah cemas palsu. "Ya ampun, Bunga. Sayang sekali bajunya. Itu punya siapa?"

Pertanyaan itu jauh lebih kejam daripada noda anggur.

Beberapa tamu saling melirik. Mereka tahu. Atau setidaknya mulai menduga. Baju pinjaman. Posisi pinjaman. Tempat pinjaman. Bunga tiba-tiba merasa semua yang menempel di tubuhnya bukan kain, melainkan label harga yang belum dibayar.

Ia menoleh.

Baskara melihat dari dekat jendela.

Matanya bertemu mata Bunga.

Satu detik.

Dua detik.

Ia tidak bergerak.

Tidak mengatakan apa pun.

Mungkin karena ini bukan tempatnya ikut campur. Mungkin karena ia sedang menilai. Mungkin karena sejak awal ia memang bukan orang yang akan berdiri di depan orang lain untuk Bunga.

Sesuatu di dada Bunga retak kecil.

Sebelum ia sempat bicara, Melati maju.

"Cukup," kata Melati.

Suaranya tidak keras, tetapi ruangan mendengarnya.

Perempuan yang menumpahkan anggur mengerjap. "Mel, aku sudah minta maaf."

"Minta maaf itu ke Bunga, bukan ke udara."

Ratih tersenyum tipis. "Melati, jangan terlalu serius. Ini cuma kecelakaan."

Melati menatap Ratih. Untuk pertama kalinya, kelembutan di wajahnya hilang. "Kalau kecelakaan, ulangi permintaan maafnya. Kalau bukan, kita panggil pemilik rumah dan lihat rekaman CCTV."

Ruangan makin sunyi.

Bunga menatap Melati dari samping. Gadis itu biasanya lembut, kadang canggung, tetapi malam ini punggungnya lurus seperti garis yang tidak bisa dibengkokkan.

Perempuan itu akhirnya menoleh pada Bunga. Senyumnya kaku. "Maaf, Bunga. Aku benar-benar tidak sengaja."

Bunga bisa mempermalukannya. Ia bisa menyebutkan ruang kosong di belakang perempuan itu, sudut siku yang terlalu rapi, mata Ratih yang menunggu. Namun ia melihat tangan Melati sedikit gemetar di sisi tubuh. Melati sedang melawan lingkarannya sendiri demi Bunga.

Bunga tidak akan membuatnya berdiri lebih lama sendirian.

"Saya terima maafnya," kata Bunga. "Tapi lain kali kalau mau lewat, pilih jalan yang benar-benar ada orangnya."

Beberapa tamu menunduk menahan tawa. Wajah perempuan itu memerah.

Melati langsung menggandeng tangan Bunga. "Ayo. Kita bersihkan."

Di powder room, Melati hampir menangis lebih dulu.

"Maaf," katanya. "Aku yang mengajak kamu. Harusnya aku tahu mereka bisa seperti itu."

Bunga membuka blazer, melihat noda merah yang menyebar. "Kamu bukan yang menuang."

"Tapi aku bawa kamu ke sini."

"Dan kamu yang berdiri buat aku."

Melati menutup mata sebentar. "Kak Bas melihat."

Bunga tidak menjawab.

Tuan Misterius juga tidak.

Melati menggigit bibir. "Dia... kadang terlalu dingin. Bukan berarti dia tidak peduli."

Bunga membasahi tisu, menekan noda dengan pelan. "Kalau peduli tapi diam terus, bedanya apa buat orang yang sedang berdiri di depan ruangan?"

Melati tidak punya jawaban.

Malam itu, Bunga pulang lebih cepat. Melati memaksa mengantar sampai kos, tetapi Bunga menolak di depan gang. Ia ingin berjalan sendiri beberapa meter, membiarkan udara malam mengeringkan sisa bau anggur yang masih menempel.

"Kamu marah pada Baskara," kata Tuan Misterius.

"Tidak."

"Kamu kecewa."

Bunga berhenti di bawah lampu jalan yang berkedip.

"Aku kecewa pada diriku sendiri," katanya akhirnya. "Karena tadi, sepersekian detik, aku berharap dia maju."

Tuan Misterius diam.

Bunga memandangi noda merah di dress biru Melati.

"Kalau untuk naik ke atas aku harus menunggu orang seperti dia menolongku, mungkin aku memilih tangga yang salah."

"Kita bisa mencari tangga lain," kata Tuan Misterius.

Bunga mengusap noda itu dengan ibu jarinya. Warnanya tidak hilang.

"Atau," katanya pelan, "aku berhenti berharap tangga orang lain tidak akan patah saat kupijak."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!