Aurelia Calista seorang remaja anak satu-satunya dari keluarga sederhana Bayu dan Lila. Walaupun mereka hidup sederhana tapi Aurelia tidak kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Berbeda dengan pria bernama Grayson Balindra seorang anak broken home yang ditinggal bercerai oleh orang tuanya sehingga pemuda itu tidak mendapatkan peran apapun baru saja pindah ke sekolah aurelia. Pertemuan pertamanya dengan gadis itu membuat Grayson tertarik dan terobsesi. Dari situlah hidup Aurelia yang biasa tenang seketika berubah.
Bagaimana kisah selanjutnya, yuk baca. Obsesi gila Grayson.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Matahari perlahan mulai terbenam di balik cakrawala barat, menyisakan bias cahaya jingga kemerahan yang menembus jendela-jendela kaca besar sebuah rumah mewah bergaya modern minimalis di kawasan elit ibu kota. Rumah megah itu tampak sangat megah, berdiri kokoh di atas tanah yang luas dengan arsitektur futuristik yang didominasi warna monokrom.
Namun, di balik kemegahannya yang luar biasa, suasana di dalam rumah tersebut terasa begitu hampa, dingin, dan sunyi senyap. Tidak ada suara canda tawa keluarga, tidak ada aroma masakan hangat dari dapur yang menyambut sore hari, dan tidak ada kehangatan yang biasanya mengisi sebuah rumah tempat pulang.
Hanya ada kesunyian yang mencekam. Kedua orang tua Grayson telah lama mengabaikan rumah ini setelah ikatan pernikahan mereka resmi kandas di meja hijau beberapa tahun lalu. Ayahnya sibuk mengurus bisnis internasional di luar negeri dan jarang sekali menginjakkan kaki di tanah air, sementara sang ibu memilih hidup bebas di luar negeri bersama keluarga barunya.
Rumah mewah itu praktis hanya diserahkan sepenuhnya kepada seorang wanita paruh baya yang bekerja sebagai kepala Asisten Rumah Tangga (ART) di sana, Bibi Darmi. Wanita itu hanya datang untuk merapikan rumah, memasak sesekali, lalu kembali ke paviliun belakang atau pulang ke rumahnya sendiri saat malam menjelang.
Di ruang tengah yang luas dan mewah, Grayson Balindra duduk bersandar di atas sofa kulit berwarna hitam legam. Seragam sekolahnya sudah dilepas, digantikan oleh kaus hitam polos berlengan pendek yang memperlihatkan otot lengannya yang kencang serta tato tipis samar di pergelangan tangannya. Di atas meja marmer di hadapannya, berserakan beberapa bungkus makanan cepat saji dan kaleng soda dingin yang belum disentuh.
Sorot mata pemuda itu tampak kosong menatap layar televisi yang menyala tanpa suara. Namun, di dalam kepalanya, bayangan seorang gadis berambut ikal dengan seragam rapi dan wajah geram karena kesal terus berputar tanpa henti. Wajah Aurelia Calista seolah terpatri di dalam retinanya, menolak untuk pergi barang sedetik pun.
Ting!. Tonk!
Suara bel gerbang utama rumah berbunyi nyaring, memecah keheningan sore di dalam rumah mewah tersebut. Beberapa detik kemudian, pintu utama bergeser terbuka, menampilkan tiga orang pemuda yang melangkah masuk dengan gaya urakan sambil tertawa keras. Mereka adalah Rian, Satya, dan Bima—tiga orang teman terdekat Grayson yang setia mendampinginya ke mana pun sejak ia pindah ke sekolah baru.
"Wah, gila! Rumah lu makin hari makin sepi aja, Gray. Kayak istana berhantu tahu nggak," celetuk Rian sambil melempar tas ranselnya begitu saja ke atas sofa tunggal, lalu merebahkan tubuhnya dengan santai.
Satya menyusul di belakangnya sambil mengambil sebotol air mineral dingin dari kulkas mini di sudut ruangan. "Biasa lah, anak orang kaya tapi kurang kasih sayang. Makanya betah banget nongkrong di jalanan."
"Udah, nggak usah banyak omong kalian," potong Grayson dengan suara beratnya yang dingin. Ia menegakkan duduknya, lalu menatap tajam ke arah tiga temannya secara bergantian. "Ada hal penting yang harus kalian lakuin buat gua."
Mendengar nada bicara Grayson yang serius dan tidak biasa, Rian langsung mengubah posisi duduknya menjadi tegak. Satya dan Bima pun saling berpandangan, menyadari bahwa teman mereka itu sedang tidak ingin diajak bergurau.
"Serius amat, Bos. Ada apa nih? Siapa yang cari gara-gara lagi sama lu?" tanya Satya penasaran, meletakkan botol minumannya di atas meja.
Grayson menyilangkan kedua tangannya di depan dada, sementara bola mata amber-nya memantulkan cahaya lampu ruangan yang kekuningan. "Gua mau kalian cari tahu semuanya tentang satu anak di sekolah."
"Siapa?" sambar Bima cepat, memainkan rokok elektrik di tangannya. "Anak OSIS yang sok caper tadi siang? Atau anak basket yang sering sok jagoan?"
"Bukan," jawab Grayson dingin. "Gadis yang duduk di sebelah gua tadi pagi. Aurelia Calista."
Rian mengerutkan keningnya, mencoba mengingat-ingat nama tersebut. "Ohhh... gadis manis yang tadi lu pelototin habis-habisan di kelas? Yang rambutnya ikal sebahu terus waktu lu ajak ngobrol malah pasang muka cemberut itu?"
"Iya, dia," sahut Grayson singkat, sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyuman tipis yang berbahaya. "Gua mau kalian cari tahu riwayat hidupnya. Di mana rumahnya, siapa aja keluarganya, bagaimana kesehariannya, siapa teman-temannya selain dua gadis cerewet di kant tadi, dan... hubungan dia sama ketua OSIS yang sok akrab sore tadi."
Satya tertegun sejenak, lalu terkekeh pelan penuh arti. "Wah, wah... jangan bilang lu naksir sama tuh cewek, Gray? Baru sehari sekolah di sana, lu udah ngincer anak orang aja. Tapi emang sih, dari segi tampang, tuh anak imut banget, polos, cocok banget dijadiin mangsa buat pawang sekelas lu."
"Gua nggak nanya pendapat lu tentang penampilannya, Sat," desis Grayson tajam, membuat Satya langsung mengangkat kedua tangannya ke udara tanda menyerah. "Gua cuma mau data lengkapnya di tangan gua secepat mungkin. Besok pagi, gua udah harus pegang semua informasinya."
"Siap, Bos! Urusan mata-mata gini mah serahin ke Rian. Dia jago banget kalau soal stalking cewek," puji Bima sambil menepuk bahu Rian.
Rian mendengus bangga sambil merapikan kerah bajunya. "Tenang aja, Gray. Besok sebelum bel masuk berbunyi, biodata lengkap si Aurelia Calista itu udah ada di meja lu. Mulai dari makanan kesukaannya sampai warna kaos kakinya bakal gua bedah tuntas."
Grayson mengangguk pelan. Ia kembali menyandarkan punggungnya ke sofa, menutup matanya sejenak sambil menarik napas dalam-dalam. Di dalam benaknya, bayangan Aurelia tersenyum ramah kepada Galang sang ketua OSIS sore tadi kembali melintas, memicu gelombang rasa tidak suka yang pekat di dalam dadanya.
"Bagus," gumam Grayson pelan, hampir tidak terdengar. "Ingat, jangan sampai ada satu detail pun yang terlewat. Karena mulai sekarang... gadis itu adalah milik gua."
Keempat pemuda itu pun melanjutkan obrolan santai mereka di ruang tengah rumah mewah yang sunyi itu, sementara malam perlahan mulai merangkak turun, membawa serta rencana-rencana gelap yang siap mengubah hidup Aurelia untuk selamanya.