NovelToon NovelToon
JERAT CINTA SANG MAFIA

JERAT CINTA SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:941
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Satu-satunya hal yang lebih berbahaya daripada membobol brankas mafia... adalah jatuh cinta pada pemiliknya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sudut Dingin Penguasa

​Mesin V8 dari sedan lapis baja hitam milik Devan bergumuruh halus menembus jalanan kota yang diselimuti hujan deras. Di dalam kabin yang temaram, suasana terasa mencekam dan sarat ketegangan. Aria duduk di kursi belakang dengan tangan terikat manset kulit tebal, sementara Devan duduk di sampingnya dalam diam, menyandarkan kepala sembari menatap rintik air yang membasahi kaca jendela. Tidak ada kata yang terucap sepanjang perjalanan, namun keberadaan Devan di sebelahnya sudah cukup menciptakan tekanan udara yang berat.

​Ketika kendaraan berhenti, Aria diseret masuk ke dalam sebuah bangunan megah berarsitektur modern gergasi yang berdiri terisolasi di pinggiran kota—markas utama sekaligus kediaman pribadi klan Argantara.

​Aria ditarik menyusuri koridor berdinding marmer hitam hingga masuk ke dalam sebuah ruang kerja berukuran luas. Ruangan itu didominasi warna gelap dengan dinding kaca besar setinggi langit-langit yang memperlihatkan pemandangan gumpalan awan mendung dan hujan deras di luar. Di tengah ruangan, berdiri sebuah meja kayu jati solid yang tebal dan dua kursi kulit elegan.

​KLIK.

​Anak buah Devan melepas cengkeraman mereka dan langsung keluar ruangan begitu Devan memberi isyarat tangan. Pintu ganda terbuat dari kayu jati tebal tertutup rapat, menyisakan Aria berdua saja dengan sang penguasa dunia bawah.

​Devan berjalan santai menuju meja kerjanya. Ia melepaskan jas hitamnya yang bernoda debu, menyampirkannya ke sandaran kursi, lalu menuangkan dua sloki minuman beralkohol amber hangat dari botol kristal. Pria itu meneguk cairan tersebut perlahan, membiarkan keheningan menyiksa mental Aria terlebih dahulu.

​Aria berdiri tegap di tengah ruangan. Meski gaun beludru hitamnya sedikit terkoyak di bagian bawah dan rambutnya berantakan, ia menolak untuk terlihat lemah. Tatapannya lurus, dingin, dan penuh tantangan, mengamati setiap gerak-gerik Devan.

​"Duduk," ujar Devan singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari gelas kristalnya. Suaranya datar, tetapi mengandung perintah mutlak yang biasa membuat para pembunuh bayaran bertekuk lutut.

​"Aku lebih suka berdiri," balas Aria tajam, menyilangkan dadanya yang terkunci posisi tegap.

​Devan akhirnya membalikkan badan, melangkah perlahan mengitari meja hingga posisinya kini berjarak dua meter di depan Aria. Pria itu menyandarkan pinggulnya di tepi meja, melipat kedua tangannya di dada. Matanya yang gelap memindai Aria dari ujung kepala hingga jemari kakinya yang telanjang.

​"Kamu punya keberanian yang cukup besar untuk ukuran seorang wanita yang baru saja gagal melarikan diri," tutur Devan dengan nada bicara yang sangat teratur. "Atau mungkin kamu hanya terlalu naif sampai tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa?"

​Aria tertawa kaku—sebuah tawa kecil yang sarat ejekan. "Aku tahu betul siapa kamu, Devan Argantara. Pemimpin klan mafia yang mengontrol jalur distribusi dan hukum gelap kota ini. Tapi kalau kamu berharap aku bakal berlutut, memohon ampun, atau menangis ketakutan seperti mangsamu yang lain... kamu salah besar."

​Devan mengangkat sebelah alisnya, sedikit terkejut namun terhibur dengan daya tahan emosional wanita di depannya. "Begitu?"

​Devan merogoh saku celananya, mengeluarkan kalung berlian The Scarlet Tear, lalu meletakkannya di atas meja kayu di sampingnya. Kilau merah darah dari permata itu memantulkan cahaya redup ruangan.

​"Kalung ini bernilai dua ratus miliar di pasar gelap," kata Devan. "Tapi bukan itu yang membuatmu menyusup ke ruangan brankas klan Vane yang dijaga sistem keamanan level militer. Siapa yang menyuruhmu, Aria? Klan musuh? Atau institusi hukum yang ingin mencari celah untuk menjatuhkan Argantara?"

​Aria menatap kalung itu sejenak sebelum kembali mengunci pandangannya pada mata Devan. "Aku bekerja sendiri. Tidak ada bos, tidak ada instansi, dan tidak ada pesanan dari musuhmu. Aku menginginkan kalung itu karena nilainya cukup untuk membuatku pensiun dari dunia ini selamanya."

​"Kebohongan yang cukup rapi," potong Devan dingin. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Aria tepat di manik matanya. "Seorang peretas dan pencuri independen tidak akan tahu celah firewall sekunder brankas klan Vane tanpa ada dokumen internal yang dibocorkan. Siapa orang dalam yang memberimu informasi itu?"

​"Cari tahu saja sendiri kalau kamu merasa dirimu sekuasai itu!" tantang Aria tanpa rasa gentar sedikit pun.

​Atmosfer di ruangan itu mendadak merosot ke titik beku. Aura intimidasi Devan merebak memenuhi setiap sudut kamar. Pria itu melangkah maju dengan cepat, mengikis jarak hingga ia berdiri tepat di hadapan Aria. Aura dominasinya begitu kuat hingga membuat napas Aria tertahan seketika.

​Devan mengulurkan tangannya, mengangkat dagu Aria menggunakan jemarinya yang panjang dan dingin. Cengkeramannya tidak meremukkan, namun cukup kuat untuk mengunci posisi kepala Aria agar tidak bisa berpaling.

​"Jangan bermain-main dengan kesabaranku, Little Bird," bisik Devan dengan suara berat yang bergetar penuh ancaman. "Di tempat ini, aku bisa membuatmu hilang tanpa jejak dalam hitungan detik. Tidak ada polisi yang akan mencarimu, tidak ada hukum yang bisa menyelamatkanmu."

​Aria merasakan dorongan rasa takut yang tipis mencoba menyusup ke dalam dadanya, tetapi rasa gengsi dan insting bertahannya menolak untuk tunduk. Ia tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari mata Devan.

​"Kalau begitu lakukan saja!" cetus Aria, suaranya lantang menggelegar di ruangan yang sunyi. "Bunuh aku sekarang! Tapi kalau kamu membunuhku, kamu tidak akan pernah tahu siapa sebenarnya orang dalam di klanmu sendiri yang menjual data brankas itu ke pasar gelap!"

​Cengkeraman jari Devan di dagu Aria membeku seketika.

​Iris mata Devan menyipit tajam. "Apa maksudmu?"

​Aria menyunggingkan senyum tipis—senyuman penuh kemenangan dari seorang pemain skak mat. "Kamu pikir aku mendapatkan peta brankas itu dari klan Vane? Salah. Peta dan kode enkripsi sekunder itu dijual oleh orang kepercayaanmu sendiri di jaringan enkripsi Dark Web dua minggu lalu."

​Devan terdiam. Selama beberapa detik yang menegangkan, tidak ada suara selain deru hujan deras yang menghantam kaca jendela di luar. Pria itu menatap dalam-dalam ke dalam mata Aria, mencari celah kebohongan atau gertakan sambal. Namun yang ia temukan hanyalah keyakinan mutlak dan kecerdasan yang sangat berbahaya.

​Devan perlahan melepaskan cengkeramannya dari dagu Aria. Ia mundur satu langkah, mengusap rahangnya sendiri sembari mencerna fakta baru tersebut. Pengkhianat internal adalah ancaman terbesar bagi setiap organisasi mafia, dan Aria baru saja melempar bom informasi yang sangat vital baginya.

​"Kamu tahu siapa orangnya?" tanya Devan, suaranya kini kembali tenang, namun jauh lebih berbahaya daripada sebelumnya.

​"Mungkin ya, mungkin tidak," jawab Aria santai, merapikan gaun bagian atasnya yang sedikit mengendor. "Dan informasi itu tidak gratis, Tuan Argantara."

​Devan menatap wanita di depannya dengan pandangan yang berubah total. Di matanya, Aria bukan lagi sekadar pencuri bernasib sial yang terjebak di tengah perang antar-klan. Wanita ini adalah sebuah senjata cerdas yang berbahaya, lincah, dan sangat sulit untuk ditaklukkan.

​Sebuah ukiran senyum tipis yang sarat akan intrik dan ketertarikan perlahan muncul di sudut bibir Devan Argantara.

​"Aria..." panggil Devan pelan, melipat tangannya kembali di dada. "Kamu baru saja mengubah posisimu dari seorang tawanan... menjadi investasi bernilai tinggi bagiku."

​"Aku tidak berminat menjadi investasimu," potong Aria cepat.

​"Kamu tidak punya hak untuk memilih," ujar Devan tegas, lalu melangkah ke arah meja dan menekan tombol interkom. "Mulai malam ini, kamu tinggal di markas ini. Setiap langkahmu akan diawasi, dan kamu akan membantuku menemukan pengkhianat itu serta membobol targetku berikutnya."

​Aria mengepalkan jemarinya kuat-kuat. "Dan kalau aku menolak?"

​Devan membalikkan badan, menatap Aria dengan kilatan mata yang tajam nan memikat. "Kamu tidak akan menolak, Little Bird. Karena di luar sana, klan Vane sedang memburumu. Dan satu-satunya tempat aman di seluruh kota ini... adalah berada di bawah pengawasanku."

1
Ariany Sudjana
wah mantap ini Aria dan Devan bisa jadi pasangan mafia tangguh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!