📍Update 🚥 16 : 16 WIB
Duabelas tahun lalu, Elfiana Putri (Elle) dikhianati oleh taruhan konyol cinta pertamanya, William Adinata (Liam). Kini, takdir membawa mereka kembali dalam sebuah pernikahan pura-pura demi sang Papa.
Di antara luka masa lalu yang belum sembuh dan kebenaran yang perlahan terkuak, bisakah Elle menjaga hatinya agar tidak hancur untuk kedua kalinya?
❣️ I write what I want to write. ❣️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4 - Pressure
Sepanjang perjalanan kembali ke kantor, pikiranku masih tertuju pada pertemuanku dengan Liam tadi.
Setelah bertahun-tahun tidak pernah bertemu, aku bahkan hampir berhasil melupakannya. Namun sekarang, kami justru dipertemukan kembali sebagai rekan bisnis.
Begitu sampai di kantor, aku dan Aldi langsung menuju divisi kami.
“Eh, kalian udah pulang? Meeting-nya lancar?” tanya Doni begitu kami masuk.
“Lancar, Mas,” jawab Aldi.
Aku hanya mengangguk.
“Ya udah, ayo kita kumpul di sofa. Kita dengarkan permintaan klien,” ujar Doni.
Kami semua langsung berkumpul di area sofa.
“Di, kamu aja yang ngomong,” kataku sambil menyerahkan tabletku kepada Aldi sebelum duduk.
“Ayo, Di,” ujar Doni.
“Oke, teman-teman. Produk yang diminta Adinata Food untuk kita buatkan iklannya adalah minuman yang mengandung ginseng bernama Ginsera...” jelas Aldi.
Aku tidak terlalu memperhatikan penjelasannya.
Pikiranku masih tertinggal di Adinata Food.
Masih tertinggal pada Liam.
Dari sekian banyak orang dari masa laluku, kenapa aku harus bertemu dengannya?
Apakah Tuhan sedang mempermainkanku?
“Elle... Elle!”
Suara Doni membuatku tersadar.
“Hah?” Aku menoleh.
“Kenapa kamu malah bengong?” tanya Doni.
“Maaf, Mas.”
“Apa kamu sakit?”
“Nggak, Mas. Aku baik-baik aja, kok.”
“Apa kalian berantem tadi?” tanya Rendi.
“Nggak! Memangnya kami mau berantem soal apa?” jawabku.
“Ya... urusan kalian berdua,” sahut Rendi santai.
“Kami nggak berantem, Ren. Tapi memang sejak dari Adinata Food, Elle kelihatan aneh. Apalagi waktu melihat CEO-nya,” kata Aldi.
“Aldi! Kenapa kamu bahas itu, sih?” tegurku.
“Aduh... Mama sama Papa berantem, guys,” goda Nino.
“Nino!” seruku kesal.
“Udah... udah. Kalian berdua ini memang suka banget ngusilin Elle dan Aldi,” ujar Doni.
“Ya gimana kita nggak usilin mereka, mereka tiba-tiba cinlok,” kata Rendi.
“Aku nggak begitu, ya!” bantahku.
“Ya ampun, sabar, ya, Di...” kata Nino. “Tapi apa kamu cemburu karena Elle perhatiin CEO Adinata Food?”
Kami semua langsung menatap Aldi.
“Ehm... itu...” Aldi terbata.
“Iya juga nggak apa-apa, kok. Wajar kalau kita cemburu lihat orang yang kita suka perhatiin cowok lain,” ujar Rendi santai.
“Memangnya CEO Adinata Food itu kayak apa?” tanya Bintang. Dia menoleh kepada Mona. “Mon, kamu tahu nggak?”
Mona menggeleng.
“Katanya pacar kamu sekretarisnya CEO,” ujar Bintang.
“Tapi pacarku nggak pernah nunjukkin fotonya,” jawab Mona.
“Yaelah... terus gimana CEO Adinata Food?” tanya Bintang lagi.
“Biasa saja,” jawabku.
“Hah?” Bintang terlihat tidak percaya.
“Ganteng, kok. Masih muda juga. Umuran kita-kita,” jawab Aldi.
“Biasa aja, Aldi,” sanggahku.
“Kalau biasa aja, kenapa kamu bengong waktu lihat dia?” tanya Aldi.
“Tadi kan aku udah jelasin.”
“Guys, guys... mending kita pergi saja. Biar Mama dan Papa selesain urusan mereka.” Rendi langsung menarik Nino menjauh.
Doni menatapku dan Aldi.
“Kalian berdua, tolong lebih profesional lagi. Urusan pribadi jangan dibawa ke pekerjaan. Kita ini tim.”
“Iya, Mas,” jawabku dan Aldi hampir bersamaan.
“Ya udah. Balik ke meja kalian.”
Aku dan Aldi mengangguk, lalu kembali ke meja masing-masing.
Begitu aku duduk, Mona langsung mendekat.
“Beneran CEO Adinata Food biasa aja?” tanyanya lirih.
Aku mengangguk.
“Berarti masih gantengan Kak Davin?”
Aku berpikir sebentar.
“Ehm... sama, kayaknya.”
Plak!
Mona memukul lenganku pelan.
“Itu mah bukan biasa. Itu ganteng, Ibu Peri.”
Aku menatapnya.
“Tapi buatku sama aja, Monalisa,” jawabku.
Aku memanggilnya Monalisa karena setiap mendengar nama Mona, aku selalu teringat pada lukisan Mona Lisa karya Leonardo da Vinci.
“Ah, payah kamu, Elle.”
Mona kemudian kembali ke mejanya.
Aku hanya menghela napas.
Liam memang lebih tampan daripada Davin.
Tapi aku tidak ingin membicarakan ketampanannya. Apalagi mengingat apa yang pernah dia lakukan kepadaku.
Itu terlalu menyakitkan.
Malam harinya, aku makan sambil menonton televisi. Namun, pikiranku kembali pada kejadian hari ini.
Memang, sebagai manusia aku hanya bisa membuat rencana. Tuhanlah yang menentukan apa yang akan terjadi.
Aku sudah meninggalkan kampung halamanku demi menghindari Liam. Aku bahkan begitu yakin bahwa kami tidak akan pernah bertemu lagi.
Tapi hari ini, semua keyakinanku itu runtuh.
Tak lama kemudian, ponselku berdering.
Kulihat layar ponselku. Ibu menelepon melalui video call.
Aku langsung mengangkatnya.
“Elle...” ucap Ibu dan Ayah hampir bersamaan.
Kulihat mereka duduk berdampingan.
“Ibu... Ayah... Kalian berdua sehat, kan?”
“Sehat. Kamu sehat, kan?” tanya Ibu.
“Sehat, kok, Bu. Cuma sibuk kerja aja.”
“Jangan terlalu memaksakan diri dalam pekerjaan, ya. Nanti malah tumbang,” ujar Ayah.
“Iya, Yah.”
“Elle... lusa Alma, anaknya Bu Ayu, mau menikah, lho,” kata Ibu.
“Oh, iya? Wah... syukurlah.”
“Kok syukurlah? Kamu dilangkahi sama adik kelas kamu, lho,” ujar Ibu.
“Terus aku harus gimana, Bu?”
“Ya kamu nyusul dia dong.”
“Ibu...” Ayah langsung menegur. “Kenapa Ibu begitu?”
“Ya soalnya yang seumuran sama Elle sudah banyak yang menikah, Yah. Alma yang lebih muda saja mau menikah.”
Aku menghela napas.
“Bu, aku juga mau menikah. Tapi aku belum menemukan cowok yang sesuai kriteriaku,” ucapku berbohong.
Bukannya belum menemukan.
Aku hanya sudah tidak percaya lagi kepada laki-laki.
“Jangan cari yang sempurna, Elle. Nggak ada manusia yang sempurna di dunia ini,” kata Ibu.
“Iya, aku tahu. Aku nggak cari yang sempurna, kok.”
Aku terdiam sejenak.
“Aku cuma ingin seseorang yang bisa buat aku merasa nyaman dan bisa aku percaya.”
“Iya, betul. Kamu harus mencari laki-laki yang bisa dipercaya. Bertanggung jawab juga,” ujar Ayah.
“Iya, Yah.”
“Apa di tempat kerjamu nggak ada yang seperti itu?” tanya Ibu.
“Nggak ada. Yang bisa dipercaya mungkin ada, tapi yang buat aku nyaman kalau berada di dekatnya... nggak ada.”
“Terus teman-teman sekolahmu bagaimana?” tanya Ibu.
Aku terdiam.
Teman sekolah?
Ada.
Tapi dia sudah menghancurkan rasa percayaku kepadanya.
“Nggak ada, Bu,” jawabku.
Ibu menghela napas panjang. Aku tahu dia kecewa dengan jawabanku.
“Sudah, Bu. Biarkan saja. Toh, kalau sudah waktunya, Elle pasti akan menikah. Lagi pula, Elle baru dua puluh sembilan tahun,” ujar Ayah.
“Nah, justru karena itu. Mumpung masih dua puluh sembilan. Tahun depan sudah tiga puluh. Kalau sudah tiga puluh, agak berisiko untuk melahirkan,” kata Ibu.
Melahirkan?
Astaga...
“Ah, Ibu... melahirkan. Nikah aja belum.”
“Ya makanya menikah. Ibu juga ingin seperti ibu-ibu yang lain, bisa menggendong cucu.”
“Sudah, Bu. Jangan memaksa Elle. Nanti Elle malah terbebani.” Ayah menatap ke arahku.
Ibu kembali menghela napas.
“Elle, jangan terlalu dipikirkan omongan Ibu, ya. Kamu nikmati saja hidupmu di sana dan kerja yang baik. Terus jangan aneh-aneh,” ujar Ayah.
“Iya, Yah.”
“Ya sudah, sudah malam. Lebih baik kamu istirahat. Jangan lupa makan.”
“Iya, Yah.”
Video call berakhir.
Aku meletakkan ponsel di atas meja, lalu menghela napas panjang.
Siang tadi aku bertemu kembali dengan Liam.
Sekarang aku malah disuruh menikah.
Memang ya hidup bisa semengejutkan ini.
Rasanya seperti berjalan di lahan kosong yang penuh ranjau. Dari luar terlihat aman, tetapi aku tidak pernah tahu di mana harus melangkah agar tidak menginjak salah satunya.
