NovelToon NovelToon
THE QUEEN'S RETURN

THE QUEEN'S RETURN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Clarissa Pratama, istri lemah dari Dominic sang pewaris klan elit, selalu menjadi korban fitnah kejam Helena yang mengincar posisinya. Namun, setelah insiden fatal yang hampir merenggut nyawanya, tubuh Clarissa tidak lagi sama. Jiwa Ratu Victoria, seorang penguasa tangguh dari masa lalu, terbangun di dalam dirinya. Bagi Victoria, intrik domestik klan Pratama hanyalah permainan amatir. Dengan kecerdasan tajam dan wibawa mutlak, Clarissa yang baru mulai membalikkan keadaan. Ia mematahkan setiap perangkap Helena secara elegan, membuat Dominic terpikat sekaligus curiga. Sang Ratu telah kembali, siap mempertahankan mahkotanya dan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4. Badai di Tengah Malam

*Brak!*

Pintu kamar utama mansion Pratama terbuka lebar. Di ambang pintu, berdiri Dominic Pratama dengan napas yang sedikit memburu.

Jaket jasnya sudah tanggal, meninggalkan kemeja putih dengan dua kancing teratas yang terbuka. Wajahnya yang biasanya datar kini mengeras, memancarkan kepanikan yang berusaha ia tekan habis-habisan.

Di belakangnya, Tulus mengekor dengan wajah yang tidak kalah pucat, memegang sebuah tablet yang terus menyala.

Victoria tetap berdiri tegak di samping meja, tangan kirinya secara tidak kentara menggeser sapu tangan untuk menutupi mangkuk sup yang mulai menghitam.

Tatapan matanya menyipit, menilai situasi dengan cepat layaknya seorang penguasa yang siap menghadapi kudeta.

"Clarissa," suara Dominic berat, menggema di dalam kamar yang luas itu. Langkah kakinya yang panjang langsung mengikis jarak di antara mereka. Ia mencengkeram kedua bahu Victoria dengan erat, memaksa wanita itu menatap langsung ke dalam manik matanya.

"Kau baik-baik saja? Kau tidak memakan apa pun malam ini, kan?!"

Victoria menaikkan sebelah alisnya, merasakan cengkeraman tangan Dominic yang bergetar samar.

"Ada apa dengan kehebohan ini, Tuan Pratama? Mengapa kau mendobrak kamar istri sahmu tengah malam seperti sedang memburu pencuri?"

Dominic tidak menjawab sindiran itu. Pandangannya langsung menyapu ke seluruh ruangan hingga matanya tertumpu pada Maya yang masih bersimpuh di lantai dengan tubuh gemetar, dan... sebuah nampan perak di atas meja.

Sebelum Victoria sempat mencegah, Dominic menarik sapu tangan yang menutupi mangkuk tersebut.

Mata Dominic melebar. Bau langu yang mematikan itu langsung tercium oleh indra penciumannya.

Di dasar mangkuk, cairan hitam keunguan itu terlihat begitu pekat, mengikis sendok perak yang kini sudah patah menjadi dua bagian.

"Brengsek," desis Dominic, rahangnya mengeras hingga urat lehernya menonjol. Ia berbalik menatap Tulus yang berdiri di dekat pintu.

"Tulus! Blokir seluruh akses keluar mansion sekarang juga! Jangan biarkan satu pun pelayan atau penjaga meninggalkan gerbang utama!"

"Baik, Tuan!" Tulus segera berbalik dan berlari keluar koridor untuk melaksanakan perintah.

Victoria bersedekap, menatap Dominic dengan senyuman tipis yang dingin.

"Tampaknya kau tahu sesuatu yang tidak aku ketahui, Dominic. Mengapa kau bisa datang tepat waktu sebelum racun ini masuk ke tenggorokanku?"

Dominic membalikkan tubuhnya, menatap Victoria dengan tatapan yang dipenuhi rasa bersalah sekaligus amarah yang membara. Ia merogoh saku celananya dan melemparkan sebuah ponsel ke atas tempat tidur.

"Tulus baru saja berhasil memulihkan sebagian data dari sistem keamanan paviliun barat sebelum virus ransomware menghapusnya," ujar Dominic, suaranya terdengar seperti geraman tertahan.

"Ada satu pesan teks terenkripsi yang dikirim ke salah satu ponsel pelayan dapur setengah jam yang lalu. Pesan itu hanya berisi satu instruksi: Pastikan dia tidak bangun lagi besok pagi."

Victoria berjalan mendekati tempat tidur, mengambil ponsel tersebut dan memeriksa layar yang menampilkan nomor tidak dikenal.

"Dan kau langsung tahu bahwa targetnya adalah aku?"

"Karena nomor pengirim itu... adalah nomor rahasia yang hanya digunakan oleh Helena untuk menghubungi staf pribadiku," ucap Dominic lirih, suaranya tercekat di tenggorokan. Mengakui bahwa teman masa kecil yang selalu ia lindungi tega melakukan percobaan pembunuhan berencana adalah pukulan telak bagi harga dirinya.

Victoria tidak tampak terkejut. Jiwa Ratu Victoria di dalam dirinya sudah terlalu kenyang dengan intrik racun di istana. Ia justru melangkah mendekati Dominic, menatap pria itu dengan pandangan lurus yang mengintimidasi.

"Sekarang kau melihatnya sendiri, Dominic," bisik Victoria, suaranya terdengar sangat tenang namun menghujam dalam.

"Wanita yang kau sebut 'teman masa kecil' dan kau jaga dengan rasa tanggung jawab itu, baru saja mengirimkan tiket kematian untuk istri sahmu. Apakah kau masih akan meragukan kata-kataku di rumah sakit?"

Dominic mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih.

"Aku akan menyerahkannya ke polisi. Aku sendiri yang akan memastikannya membusuk di penjara."

"Tidak semudah itu, Suamiku," Victoria terkekeh dingin, membuat Dominic tertegun.

"Helena hanyalah sebuah tangan yang bergerak. Dia tidak akan berani bertindak sejauh ini di dalam mansion klan Pratama tanpa ada orang dalam yang mematikan sistem keamanan dan membantunya menyelundupkan racun ini ke dapur utama."

Dominic menyipitkan matanya.

"Maksudmu... ada pengkhianat di dalam keluarga besar Pratama?"

"Tentu saja," Victoria membalikkan tubuhnya kembali menghadap cermin besar, memperbaiki tatanan rambutnya dengan gestur yang sangat anggun seolah tidak terjadi hal besar.

"Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai, Dominic. Dan jika kau tidak bisa membersihkan orang-orangmu sendiri, maka aku yang akan memotong akar yang busuk itu dengan caraku."

Tepat pada saat itu, suara sirine mobil keamanan mansion terdengar berdengung keras di luar halaman. Dari jendela balkon, terlihat lampu sorot mulai mengitari area gerbang utama.

Namun, perhatian Victoria mendadak teralih ketika Maya—yang sejak tadi diam di lantai—tiba-tiba mengerang kesakitan. Tubuh pelayan muda itu melengkung, tangannya mencengkeram lehernya sendiri, dan dari sudut mulutnya mulai mengeluarkan busa putih.

Victoria terkesiap, langsung berlutut di samping Maya. Ia menyadari sesuatu yang mengerikan: uap dari sup beracun itu yang sejak tadi memenuhi ruangan tertutup ini ternyata mengandung racun gas dosis rendah yang mulai bereaksi pada tubuh Maya yang lemah.

Sementara itu, dari arah pintu kamar yang terbuka, terdengar langkah kaki lambat yang bergaung dari ujung koridor gelap, disertai ketukan tongkat kayu yang sangat familiar di telinga Dominic.

*Tok... Tok... Tok...*

Wajah Dominic mendadak pucat pasi mendengar suara ketukan tongkat tersebut.

"Kakek... seharusnya beliau masih berada di Singapura."

Sesosok pria tua berambut putih perak dengan setelan jas hitam kuno muncul di ambang pintu, menatap pemandangan mengerikan di dalam kamar dengan mata elang yang sangat dingin.

1
Anonim
Lanjutkan
Anonim
Teruskan
atulyaas
semangatt kakk, ditunggu updatenya yaaaa
sangat menarik sekali
Annida Annida
bagus , lanjut tor
nilim
akhirnya up jugaa aku tunggu kamuu kaa 😍, semangat ya kak 🫰
Senja_Puan: Waaah terima kasih kak😍
total 1 replies
nilim
BAGUSS UPP TERUSS😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!