NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Ketua Geng, Jiwa HRD

Transmigrasi: Ketua Geng, Jiwa HRD

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Transmigrasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nyvara

Sebelum transmigrasi, Bella adalah mimpi buruk SMA Garuda Bangsa. Ketua geng. Tukang bolos. Suka membuat keributan. Nilai nyaris tidak tertolong.
Setelah transmigrasi?
Ia datang ke sekolah tepat waktu, memakai seragam rapi, membawa agenda, dan mengadakan rapat sebelum pelajaran dimulai.
Teman-temannya mengira Bella sudah bertobat.
Mereka salah.
Bella yang lama ingin menguasai gengnya. Bella yang sekarang ingin mengelolanya.
Karena jiwa yang menempati tubuh itu adalah Sarah, mantan manajer HRD yang bahkan setelah mati pun masih berpikir tentang SOP, KPI, evaluasi, dan restrukturisasi.
Kini, geng paling berandalan di sekolah punya masalah baru.
Ketua mereka bukan lagi preman.
Ketua mereka adalah HRD.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

​Fase pertama dalam restrukturisasi manajemen mutu penerapan metode 5S yang diadopsi dari Jepang yaitu seiri, seiton, seiso, seiketsu, dan shitsuke. Bagi Sarah, kamar Bella yang mirip lokasi pasca-ledakan bom ini harus segera melewati tahap pertama, yaitu Seiri (Ringkas/Pemilahan). Konsep Seiri yang dimana memisahkan barang yang masih diperlukan dan menyingkirkan barang yang sudah tidak berguna.

​Sarah membuka pintu kamarnya perlahan, mengintip keluar. Rumah itu tampak besar, bernuansa minimalis modern yang menunjukkan bahwa keluarga ini memiliki daya beli tinggi. Suasana rumah sepi, jam di dinding lorong menunjukkan pukul 14:00.

​Ia menyelinap ke arah dapur, matanya yang tajam bak elang mencari ruang penyimpanan alat kebersihan. Di dalam sebuah kabinet di bawah wastafel, ia menemukan apa yang ia cari yaitu satu gulungan besar kantong plastik sampah berwarna hitam (polibag). Ia menyobek lima lembar kantong sampah raksasa itu dan membawanya kembali ke markasnya alias kamar Bella. ​Sesampainya di kamar, Sarah membentangkan kantong sampah pertama di tengah ruangan. Ia menggulung lengan kaus oblong kebesaran yang ia kenakan (yang bertuliskan kata-kata makian dalam bahasa Inggris, sesuatu yang sebenarnya ingin segera akan ia singkirkan juga nanti), mengikat rambut neonnya asal-asalan, dan mulai bekerja layaknya mesin bulldozer. Agak hiperbola memang, tapi biarlah.

​Area pertama, meja rias dan aksesoris. Sarah membuka laci meja rias, matanya menyipit jijik melihat tumpukan kosmetik murah, bulu mata palsu ekstra tebal, dan perhiasan berkarat.

"Kosmetik kadaluwarsa. Potensi bahaya iritasi kulit, menurunkan nilai estetika aset (wajah). Singkirkan," gumamnya dengan nada monoton bak robot. Dengan satu sapuan lengan, seluruh isi meja rias itu masuk ke dalam kantong sampah hitam. Gelang paku, kalung rantai anjing, dan anting-anting berdesain tengkorak menyusul ke dalam lubang hitam tersebut.

​Area kedua, lemari Pakaian. Ini adalah tantangan terbesar, sarah membuka pintu lemari dan disambut oleh aroma apek pakaian yang dicampur aduk antara yang bersih dan kotor. Ia menarik seluruh isi lemari dan membuangnya ke atas kasur, proses klasifikasi dimulai.

​"Jaket kulit sintetis dengan paku payung tajam. Tidak memenuhi standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Singkirkan," ucapnya sambil melempar jaket kebanggaan Bella ke dalam kantong sampah kedua.

"Stoking jaring-jaring robek. Tidak mematuhi standar dress code institusi pendidikan yang wajar. Singkirkan."

"Kaus bergambar jari tengah. Pelanggaran etika publik. Singkirkan."

"Celana jeans dengan robekan hingga memperlihatkan pakaian dalam. Singkirkan."

​Tangannya bergerak dengan presisi algoritma. Dalam waktu kurang dari empat puluh menit, dua kantong sampah raksasa telah terisi penuh oleh atribut punk dan pakaian-pakaian tidak senonoh milik Bella. Yang tersisa di atas kasur hanyalah beberapa potong kaus oblong polos berwarna netral, celana training abu-abu, beberapa potong kemeja yang sepertinya tidak pernah disentuh, dan seragam sekolah SMA Garuda yang kusut masai di sudut terdalam lemari.

​"Hanya 15% dari total pakaian yang memenuhi standar kepatuhan," Sarah mencatat dalam benaknya. "Inventory perlu diperbarui, namun sementara ini alokasikan sumber daya yang ada."

​Saat ia membungkuk untuk memungut sampah makanan di bawah kolong tempat tidur, tiba-tiba pandangannya berkunang-kunang. Napasnya terengah-engah, dan keringat dingin membasahi dahinya. Sarah terduduk di lantai, memegang dadanya yang berdebar terlalu cepat hanya karena aktivitas fisik ringan selama satu jam. ​Ia menganalisis kondisi fisiknya. Otot-otot tubuh Bella lembek. Paru-parunya terasa pendek, kemungkinan besar akibat paparan asap rokok pasif (mungkin aktif). Stamina gadis ini berada di titik nadir.

​"Ini masalah serius," desah Sarah, menyeka keringatnya. "Sebuah perangkat lunak (software) sehebat apa pun yang dimana itu otak dan pengalamanku tidak akan bisa beroperasi maksimal jika perangkat kerasnya (hardware) bobrok. Wadah ini membutuhkan program kebugaran (wellness program) segera, KPI Kesehatan akan menjadi prioritas bersamaan dengan akademik."

​Setelah beristirahat selama lima menit, ia memaksa tubuh lemah itu untuk bangkit kembali. Ia tidak menoleransi kelemahan, bahkan dari dirinya sendiri. Ia melanjutkan pemilahan hingga tidak ada satu pun sampah plastik, botol kosong, atau barang terlarang yang tersisa di ruangan itu. Total ada empat kantong sampah hitam besar yang kini bersandar di dekat pintu. Kamar itu seketika terasa dua kali lebih luas, meski debu masih menempel di mana-mana. ​Tahap Seiri dianggap selesai untuk saat ini.

Kini saatnya untuk tahap Seiso, yaitu tahap membersihkan kotoran yang menempel, baik di ruangan, maupun di tubuh ini. ​Setelah kamar bersih dari barang rongsokan, tahap selanjutnya dalam kamus HRD Sarah adalah Seiso atau Resik. Ia menarik napas dalam-dalam, mengambil handuk, dan berjalan masuk ke kamar mandi dalam yang ada di kamar Bella. ​Begitu lampu kamar mandi dinyalakan, Sarah meringis. Kamar mandi ini merefleksikan pemiliknya, botol sampo berserakan, cermin bernoda percikan air, dan handuk basah teronggok di lantai. Namun, Sarah menunda pembersihan ruangan. Prioritas utamanya saat ini adalah membersihkan aset utama, itu adalah tubuh Bella.

​Ia berdiri di depan cermin wastafel. Hal pertama yang harus dieksekusi adalah riasan mengerikan di wajahnya, sarah mencari pembersih makeup, namun yang ia temukan hanyalah sebotol baby oil yang terselip di balik sikat gigi.

​"Akan memakan waktu ekstra, tapi bisa diandalkan," gumamnya.

​Ia menuangkan minyak itu ke kapas dan mulai menggosok matanya, eyeliner tebal itu rupanya waterproof (anti-air) tingkat tinggi. Butuh waktu dua puluh menit dan setengah botol minyak untuk akhirnya melunturkan noda hitam di sekitar matanya. Saat riasan itu luntur sepenuhnya, Sarah mencuci wajahnya dengan sabun cuci muka (yang untungnya masih ada). ​Ketika ia mengangkat wajah dan menatap cermin kembali, ia terdiam cukup lama. Wajah di balik topeng berandal itu ternyata memiliki fitur yang sangat halus dan simetris. Kulitnya pucat akibat kurang paparan sinar matahari pagi dan nutrisi buruk, namun teksturnya tidak memiliki jerawat parah. Hidungnya kecil dan bangir, rahangnya tegas, dan matanya bulat dengan bulu mata asli yang lentik.

​"Material dasar (raw material) yang sangat bagus," nilai Sarah secara objektif. "Jika di grooming dengan standar profesional, penampilan fisik kandidat ini akan memberikan keunggulan kompetitif yang tinggi dalam negosiasi sosial."

*Remaja pemilik tubuh ini, tidak bisa berlaku efesien pada wajahnya. Nilai pemanfaatan sumber daya ? mines*

​Langkah kedua, tindik. Sarah mengangkat tangan kanannya, memegang anting di alis. Ia memutar penguncinya dan menarik besi dingin itu perlahan. Ada rasa ngilu kecil, namun ia tidak peduli. Ia meletakkan anting alis itu di wastafel. Selanjutnya, anting di bibir bawah. Ia melepasnya dengan hati-hati, dua lubang kecil tertinggal di wajahnya, merah dan sedikit meradang.

"Luka minor akan sembuh dengan sendirinya jika dijaga kebersihannya, bekasnya bisa ditutupi concealer."

​Langkah ketiga, bencana ekologi di atas kepalanya, rambut hijau neon. Sarah membuka laci kabinet kamar mandi dan menemukan gunting kertas berukuran sedang, ia tidak punya waktu atau dana saat ini untuk pergi ke salon. Dalam dunia korporat yang krisis, jika seseorang tidak punya spesialis eksternal, individu tersebut menggunakan sumber daya internal. ​Ia memegang ujung-ujung rambut Bella yang rusak akibat pemutih (bleaching), teksturnya seperti sapu ijuk yang terbakar. Tanpa ragu sebiji zarah pun, Sarah mulai memotong rambut itu. Crat..Crat..Crat.. Ia tidak peduli dengan model atau layering. Tujuannya hanya satu, menghilangkan bagian rambut berwarna terang yang terlihat sangat tidak profesional terlebih untuk status sebagai seorang pelajar.

​Gumpalan-gumpalan rambut hijau dan merah muda berjatuhan ke lantai basah kamar mandi, terlihat seperti bangkai burung beo liar. Sarah terus memotong hingga rambutnya kini mencapai sebahu, dengan potongan rata yang sangat tegas dan kaku, potongan bob lurus ala militer atau eksekutif ketat. Sisa warna rambutnya kini hanya cokelat gelap bekas bleaching di bagian atas, yang jauh lebih bisa ditoleransi oleh mata.

​"Jauh lebih representatif," guraunya dingin pada bayangannya sendiri. "Besok aku akan membeli pewarna rambut hitam pekat untuk menetralisir total warna ini."

​Setelah itu, ia menyalakan shower. Ia mandi dengan air dingin, menggosok tubuhnya dengan sabun hingga kulitnya memerah. Ia ingin melunturkan semua daki, bau rokok, dan sisa-sisa kemalasan masa lalu yang menempel di pori-pori Bella. Ia membayangkan air yang mengalir turun ke saluran pembuangan adalah dosa-dosa operasional Bella yang sedang dibersihkan dari sistem perusahaan. ​Setengah jam kemudian, Sarah keluar dari kamar mandi, ia mengenakan kaus oblong putih polos dan celana training abu-abu yang tadi telah ia pisahkan dari tumpukan baju punk. Wajahnya polos tanpa riasan sama sekali, rambutnya basah dan tersisir rapi ke belakang. Ia terlihat seperti manusia yang berbeda 180 derajat. Aura pemberontaknya sirna, digantikan oleh aura dingin, tajam, dan terstruktur.

​Ia kembali ke kamar dengan menggunakan kain lap basah, ia memulai tahap pembersihan ruangan. Ia mengelap meja belajar, menyingkirkan debu tebal di rak buku, menyapu lantai, hingga akhirnya menyusun buku-buku pelajaran di rak berdasarkan urutan alfabetis mata pelajaran. ​Kini, kamar itu tidak lagi terlihat seperti sarang penyamun. Kamar itu terlihat hampa, bersih, steril, dan sangat dingin. Persis seperti kantor HRD di Adidaya Tower.

​"Fase satu selesai. Waktunya menetapkan parameter operasional."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!