Sinopsis
Sabrina, seorang gadis desa yang cerdas, berhasil meraih impiannya berkuliah di kampus elite ibu kota lewat jalur beasiswa.
Namun, kehidupan barunya yang tampak sempurna hancur berantakan ketika sebuah tragedi tak terduga terjadi: Sabrina nekat melompat dari lantai atas gedung kampus dan tewas seketika.
Kematian tragis tersebut menyisakan tanda tanya besar bagi orang-orang di sekitarnya. Apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok kampus megah itu hingga mendorong Sabrina mengambil langkah se-ekstrem itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nikmati malam ini.
Tak lama kemudian, sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul. Dari kejauhan, di antara kepulan asap tipis dan temaram lampu stroboskop yang membelah kegelapan diskotik, tampak Julian melangkah perlahan memasuki area VIP.
Langkah kakinya gontai, tidak seresah atau sesemangat biasanya ketika ia berkunjung ke tempat hiburan malam.
Setelan kemeja kasual berwarna gelap yang dikenakannya tampak sedikit kusut di bagian lengan, memperlihatkan betapa terburu-burunya ia keluar dari rumah demi menghindari pengawasan ketat sang ayah.
Wajahnya yang tampan kini terlihat jauh lebih tirus, dengan lingkaran hitam samar menghiasi bagian bawah matanya, menandakan betapa buruknya kualitas tidur yang ia jalani selama dua bulan terakhir pascamusibah berdarah di kampus.
"Nah! Itu dia si bos akhirnya mendarat juga!" seru Fano heboh seraya menunjuk ke arah kedatangan Julian.
Rian yang masih memangku teman menarinya langsung bersiul nyaring, mengacungkan botol minumannya tinggi-tinggi ke udara.
"Panjang umur lo, Lian! Baru aja diomongin! Sini gabung, gila lo lama banget!"
Julian hanya mengulas senyum tipis, sebuah senyuman hampa yang tidak sampai ke matanya. Ia berjalan mendekati meja VIP, mengabaikan dentuman musik yang meraung-raung di sekeliling mereka.
Sorot matanya tampak redup, seperti ada bayangan kelam yang terus mengikuti ke mana pun ia melangkah.
"Sorry telat. Bokap gue baru bisa diajak kompromi jam segini," ujar Julian dengan suara parau begitu sampai di meja.
Ia mengembuskan napas berat, seolah baru saja melepaskan beban ratusan kilogram dari pundaknya setelah berhasil lolos dari cengkeraman Pramudiya.
"Halah, yang penting lo sampai di sini dengan selamat!" timpal Rian seraya membenarkan posisi duduk cewek di pangkuannya.
"Malam ini lo bebas. Lupakan bokap lo, lupakan urusan kampus, lupakan semuanya. Minum dulu nih!"
Rian dengan sigap menuangkan minuman keras ke gelas kosong dan menyodorkannya pada Julian.
Julian menerima gelas itu tanpa banyak bicara. Namun, saat jemarinya menyentuh permukaan gelas porselen yang dingin, matanya tak sengaja beradu pandang dengan Adrian.
Adrian, yang sejak tadi terdiam akibat mimpi buruk di toilet, menatap Julian dengan pendar mata gelisah dan penuh kecemasan.
Julian memegang gelas, lalu menenggak cairan beralkohol itu hingga kandas dalam satu tegukan besar, berharap rasa terbakar di tenggorokannya bisa rasa lelah yang dia rasakan akhir-akhir ini.
Gelas kosong di tangan Julian mendarat di atas meja dengan dentuman pelan namun tegas. Alkohol menyengat kerongkongannya, memberi sensasi hangat sesaat yang cukup untuk membakar habis sisa pikirannya.
"Nah, gitu dong! Itu baru Julian yang gue kenal!" sorak Rian puas. Ia menepuk bahu teman menarinya di pangkuan, lalu berdiri seraya menepis sisa jeda di antara mereka.
"Yuk, ah! Nggak usah banyak mikir lagi. Kita ke lantai dansa sekarang, buang semua beban!"
Fano langsung meloncat bangkit, menyambar sisa botol minuman dan mengacungkannya tinggi-tinggi.
"Let's go! Malam ini milik kita!"
Tanpa menunggu balasan, Rian memimpin jalan menarik pasangan menarinya kembali meluncur ke tengah kerumunan.
Fano menyusul cepat di belakangnya, siap melebur dalam keriuhan. Julian mengembuskan napas panjang, membuang sisa keraguan, lalu mengangguk ke arah Adrian.
Mau tak mau, Adrian yang masih dibayangi sisa mimpi buruknya ikut bangkit dari sofa, mengekor langkah Julian menuju riuhnya lantai dansa.
Begitu keempatnya menginjakkan kaki di tengah lautan manusia, dentuman bass yang pekak seketika menghantam seluruh tubuh mereka.
Lampu stroboskop liar menyambar-nyambar dalam kegelapan, membiaskan siluet ratusan orang yang bergerak dalam ritme yang sama.
Rian dan Fano langsung membaur tanpa canggung, menari liar, melompat, dan berteriak menyaingi raungan musik.
Julian memejamkan mata erat-erat, membiarkan getaran lantai diskotik merayap dari telapak kakinya hingga ke dada.
Ia melemparkan kepalanya ke belakang, menggerakkan tubuhnya mengikuti irama dentuman yang kencang, berusaha keras menenggelamkan rasa bersalah, cengkeraman sang ayah, dan bayangan wajah bersimbah darah yang selama dua bulan ini menyiksanya.
Di sebelahnya, Adrian ikut meluapkan segalanya. Gerakan tubuhnya yang makin tak beraturan seolah menjadi pelampiasan atas rasa takut dan keringat dingin yang mengucur sejak ia terbangun di sofa tadi.
Dengan napas terengah-engah dan pakaian yang sebagian basah oleh keringat, keempatnya akhirnya melangkah keluar dari lautan manusia di lantai dansa.
Suhu tubuh mereka memuncak, namun tawa puas dan kepuasan semu tampak melingkupi wajah mereka.
Beban yang selama dua bulan terakhir bersemayam di pundak Julian seolah menguap begitu saja, terbilas oleh dentuman musik dan keringat malam itu.
Mereka kembali menduduki sofa VIP yang empuk di sudut ruangan. Rian menyandarkan punggungnya yang lelah seraya menghempaskan diri dengan santai, sementara Fano melambaikan tangan dengan gestur tegas memanggil waiter yang bersiaga di sekitar area.
"Pesan minuman terbaik yang ada di sini!" seru Rian penuh percaya diri begitu pelayan pria berseragam hitam itu menghampiri meja mereka.
Suaranya lantang, bernada pamer yang jumawa.
"Bawa satu botol Macallan Single Malt paling tua dan mahal yang kalian punya. Malam ini teman gue yang bayar!"
Rian menepuk bahu Julian pelan seraya terkekeh, disambut kekehan puas dari Fano dan tawa tipis dari Julian sendiri.
Bagi mereka, uang bukan lagi masalah, terlebih dengan keberadaan Julian, putra dari donatur terkaya di kampus mereka.
Pelayan itu mengangguk patuh dengan sikap penuh hormat, mencatat pesanan kelas atas tersebut, lalu bergegas pergi meninggalkan meja VIP.
Tak butuh waktu lama, pelayan itu kembali membawa satu botol wiski eksklusif dalam kemasan mewah, dikawal oleh dua kraf es batu transparan dan gelas-gelas kristal yang mengilat diterpa lampu remang.
Ia menuangkan cairan berwarna emas pekat itu ke dalam gelas masing-masing dengan sangat hati-hati. Aroma kayu ek yang matang, rempah halus, dan alkohol berkualitas tinggi seketika merebak di udara, mengalahkan bau asap rokok yang tipis.
"Ini dia!" Fano meraih gelas kristalnya yang berembun, mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara.
"Untuk malam ini! Untuk kita yang berhasil lewatin semua kekacauan!"
"Toast!" sahut Rian nyaring.
Adrian yang duduk di samping Julian mengaitkan jemarinya pada gelas kristal itu.
Dentingan gelas kristal beradu nyaring di tengah meja, menciptakan gema halus yang tenggelam dalam riuh musik diskotik.
Julian mengangkat gelasnya, menatap cairan emas berkilau di dalamnya sejenak sebelum menyesapnya perlahan.
Rasa terbakar yang pekat dan berkelas meluncur mulus membasahi tenggorokannya yang kering, memberi rasa tenang yang sangat ia idamkan.