Alya pernah menjadi perempuan yang mengangkat seorang pria ke puncak, tapi hidupnya berakhir dengan luka dan pengkhianatan.
Saat kembali ke hari perjanjian pernikahan, adiknya merebut Rafi, pria yang diyakini akan menjadi pewaris Pradipta Group. Alya justru “dibuang” untuk menikahi Arga, putra sakit-sakitan yang bahkan tak hadir di akadnya sendiri.
Namun mereka tidak tahu satu hal.
Takdir yang mereka rebut bukan milik Rafi.
Takdir itu ada di tangan Alya.
Di rumah Pradipta yang penuh racun, rahasia, dan ambisi, Alya akan menyelamatkan Arga, menghancurkan para pengkhianat, dan merebut kembali hidup yang seharusnya menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 04
Akad nikah digelar di ballroom hotel milik keluarga Pradipta.
Dua pelaminan berdiri bersebelahan, tetapi semua orang tahu pelaminan mana yang lebih disorot. Nabila duduk dengan kebaya putih gading, wajahnya lembut, matanya berkali-kali berkaca-kaca saat kamera mengarah kepadanya. Di sisinya, Rafi tampak seperti lelaki yang baru diberi tempat di meja utama setelah seumur hidup berdiri di sudut ruangan.
Alya duduk di pelaminan lain.
Di sampingnya tidak ada Arga.
Kursi pengantin pria dibiarkan kosong dengan alasan kesehatan.
Pihak Pradipta berkata Arga mengikuti akad dari ruang pribadi melalui sambungan video. Bima Pradipta menandatangani sebagai wali keluarga, pengacara mengurus dokumen, ustaz membacakan doa, dan semua berjalan sah menurut agama serta negara.
Para tamu berbisik.
"Kasihan, pengantinnya bahkan tidak muncul."
"Katanya sudah susah berjalan."
"Nabila lebih beruntung. Rafi memang tidak punya posisi, tapi setidaknya sehat."
"Alya itu anak angkat, wajar kalau dapat yang berat."
Alya mendengar semuanya.
Ia bahkan bisa menebak siapa yang sengaja membuat kursinya sedikit lebih rendah, siapa yang memilih bunga lebih pucat untuk pelaminannya, siapa yang mengatur kamera agar lebih sering mengarah ke Nabila.
Ratna Pradipta duduk di meja keluarga utama dengan kebaya hijau tua. Wajahnya anggun. Senyumnya bersih. Di sebelahnya, Daren dan istrinya, Dira, menyapa tamu dengan gaya pewaris utama.
Setelah akad selesai, seorang perempuan tua berkebaya cokelat mendekati Alya.
"Nyonya Alya."
Panggilan itu terdengar sopan, tetapi nadanya tidak.
Alya menoleh.
"Saya Marni, kepala rumah tangga kediaman Arga. Nyonya Ratna meminta saya menjemput Anda untuk menjalani tradisi penerimaan keluarga."
Nabila yang berdiri tidak jauh langsung menoleh.
Matanya bergerak cepat ke arah Ratna.
Alya menangkap itu.
Jadi bagian ini juga ada dalam ingatan Nabila.
"Tradisi apa?" tanya Alya.
Marni tersenyum. "Hanya tradisi kecil. Setiap menantu perempuan Pradipta harus menunjukkan hormat kepada keluarga suami sebelum memasuki rumah."
"Di ballroom?"
"Di taman samping. Semua keluarga inti akan menyaksikan."
"Tertulis di dokumen adat keluarga?"
Senyum Marni menegang. "Ini tradisi lisan."
"Tradisi lisan yang memerlukan saksi?"
Beberapa tamu mulai memperhatikan.
Marni menunduk sedikit. "Nyonya Ratna menunggu."
Sinta mendekat dengan cemas. "Alya, ikuti saja. Jangan membuat masalah di hari pernikahan."
Nabila segera menambahkan, "Mbak, ini keluarga besar. Kadang kita harus menurunkan ego."
Alya memandang adiknya.
"Kamu pernah menjalani tradisi ini?"
Nabila membeku.
"Aku... aku belum masuk ke keluarga Mas Arga."
"Tapi kamu tampak tahu aku harus menurunkan ego."
Wajah Nabila memerah.
Sinta menarik lengan Alya. "Sudah. Jangan berdebat."
Alya melepaskan tangannya perlahan. "Aku akan ikut."
Marni tampak lega.
Terlalu cepat.
Taman samping hotel sudah disiapkan seperti panggung kecil. Ada jalur kain merah menuju kursi Ratna. Di kanan kiri berdiri keluarga Pradipta, beberapa tamu penting, dan dua orang fotografer. Di ujung jalur, Alya melihat nampan perak.
Di atasnya ada mangkuk berisi air keruh kecokelatan.
Di sebelahnya ada handuk kecil dan selembar kertas.
Alya berhenti.
Marni berkata, "Menurut tradisi, menantu perempuan baru harus membasuh kaki ibu mertua sebagai tanda hormat, lalu membaca janji patuh kepada keluarga suami."
Para tamu berbisik lebih keras.
Sinta pucat.
Nabila menunduk, tetapi jari-jarinya menggenggam buket terlalu erat.
Alya menatap Ratna.
Ratna duduk tenang di kursi, seperti ratu dalam film keluarga. "Alya, ini hanya simbol. Jangan tegang. Keluarga yang baik dimulai dari kerendahan hati."
"Airnya apa?"
Ratna tersenyum. "Air bunga."
Alya melihat mangkuk itu lagi. Ada serpihan kecil mengambang. Bukan bunga. Mungkin tanah, mungkin pewarna, mungkin sesuatu yang sengaja dibuat menjijikkan agar foto terlihat memalukan.
"Dan kertas itu?"
Marni mengambilnya. "Janji untuk menghormati keluarga Pradipta, tidak membantah keputusan keluarga, dan mengutamakan nama baik suami."
"Tidak membantah keputusan keluarga?" Alya mengulang.
Daren tertawa kecil. "Jangan terlalu kaku, Alya. Ini hanya acara."
"Kalau hanya acara, kenapa ada fotografer?"
Daren berhenti tertawa.
Ratna berkata lembut, "Karena ini momen keluarga."
"Baik." Alya melangkah maju.
Sinta mengembuskan napas lega. Nabila juga tampak lega.
Alya berhenti tepat di depan nampan perak, lalu memandang Marni.
"Silakan tunjukkan caranya."
Marni terkejut. "Apa?"
"Kamu kepala rumah tangga. Kamu pasti paling paham tradisi. Tunjukkan dulu bagaimana membasuh kaki Nyonya Ratna dan membaca janji patuh."
Wajah Marni berubah.
Ratna menyipitkan mata. "Alya, kamu menantu. Bukan Marni."
"Justru karena saya menantu baru, saya tidak ingin salah." Alya tersenyum sopan. "Kalau salah gerakan, nanti dianggap tidak hormat. Lebih baik orang yang paling paham memberi contoh."
Beberapa tamu saling pandang.
Marni panik. "Nyonya, saya hanya pembantu."
"Pembantu juga manusia," jawab Alya. "Kalau tradisi ini mulia, siapa pun boleh memberi contoh."
Daren melangkah maju. "Cukup. Jangan mempermalukan Mama."
Alya menoleh kepadanya. "Saya mempermalukan?"
"Kamu membuat adegan."
"Adegan ini disiapkan sebelum saya datang." Alya menunjuk fotografer. "Saya hanya bertanya siapa yang pertama tampil."
Ratna berdiri.
Senyumnya masih ada, tetapi matanya dingin.
"Alya, keluarga kami menerima kamu meskipun Arga tidak bisa hadir di pelaminan. Jangan mulai pernikahan ini dengan sikap tidak tahu diri."
Kalimat itu membuat suasana membeku.
Sinta memejamkan mata.
Nabila menggigit bibir, tampak seolah ingin menangis untuk Alya, padahal matanya berkilat.
Alya menatap Ratna tanpa berkedip.
"Nyonya Ratna menerima saya?"
"Tentu."
"Atau Nyonya sedang mencoba membuat foto pertama saya sebagai istri Arga adalah foto saya berlutut membasuh kaki Anda dengan air kotor?"
Tamu-tamu terkesiap.
Marni mundur setengah langkah.
Ratna berkata pelan, "Jaga mulutmu."
"Saya menjaganya sejak tadi."
"Ini tradisi."
"Kalau tradisi, tunjukkan dokumen keluarga. Kalau tidak ada, sebut saja keinginan pribadi. Saya lebih mudah menolak keinginan pribadi."
Daren maju lebih dekat. "Alya."
Suara lain menyela.
"Berhenti."
Semua orang menoleh.
Bima Pradipta berdiri di pintu taman, ditopang tongkat. Wajah tuanya pucat, tetapi matanya masih tajam.
Di belakangnya berdiri Rafi dan Nabila. Rafi tampak bingung. Nabila tampak kecewa karena pertunjukan belum selesai.
Bima menatap mangkuk air, kertas janji, lalu Ratna.
"Apa ini?"
Ratna langsung berubah lembut. "Mas, hanya tradisi kecil. Alya salah paham."
"Tradisi keluarga Pradipta sejak kapan meminta menantu membasuh kaki?"
Ratna terdiam.
Daren berkata, "Papa, Mama hanya ingin--"
"Aku tanya ibumu."
Daren menutup mulut.
Bima menatap Marni. "Siapa yang menyiapkan ini?"
Marni gemetar. "Saya... saya hanya menjalankan perintah."
"Perintah siapa?"
Marni melirik Ratna.
Tidak perlu jawaban lain.
Ratna tertawa pelan. "Mas, jangan dibesar-besarkan. Alya hanya terlalu sensitif."
Alya mengambil kertas janji dari tangan Marni, lalu menyerahkannya kepada Bima.
"Pak Bima, saya tidak menolak menghormati keluarga. Saya menolak dipermalukan. Kalau ini bagian dari syarat menjadi istri Arga, saya perlu tahu sebelum dibawa ke rumahnya."
Bima membaca kertas itu.
Wajahnya semakin gelap.
"Buang."
Marni terkejut. "Pak?"
"Buang semua."
Ratna menarik napas. "Mas--"
"Tidak ada menantu Pradipta yang dipaksa berlutut di depan kamera." Bima menatap semua orang. "Kalau ada yang ingin dihormati, belajarlah bersikap pantas dihormati."
Kalimat itu menampar Ratna lebih keras daripada tangan.
Para tamu menunduk, tetapi bisik-bisik sudah bergerak seperti api.
Alya tidak tersenyum.
Ia menatap Ratna.
Ratna juga menatapnya.
Untuk pertama kalinya hari itu, topeng lembut perempuan itu retak.
Bima melangkah ke arah Alya.
"Mulai malam ini, kamu tinggal di kediaman Arga. Aku sudah minta mobil disiapkan."
"Baik, Pak."
"Jaga dia."
Alya mengangkat mata.
Ada sesuatu di suara Bima. Bukan perintah keluarga. Lebih mirip permintaan seorang ayah yang tahu dirinya gagal melindungi anak.
"Saya akan melihat dulu siapa yang harus dijaga darinya," jawab Alya.
Bima terdiam, lalu menghela napas.
Di sisi lain taman, Nabila memandang Alya dengan wajah kaku.
Alya melewatinya ketika kembali ke ballroom.
Nabila menahan langkahnya. "Mbak, kenapa harus seperti itu? Hari ini hari baik."
"Bagiku iya."
"Kamu membuat Bu Ratna malu."
"Dia menyiapkan panggung. Aku hanya memilih pemeran."
Nabila tidak bisa menjawab.
Alya mendekat sedikit, cukup agar hanya mereka berdua yang mendengar.
"Kamu kecewa aku tidak berlutut?"
Wajah Nabila memucat.
"Aku tidak--"
"Jangan khawatir." Alya tersenyum kecil. "Masih banyak kesempatan untuk kecewa."
Ia meninggalkan Nabila di tempat.
Malam itu, ketika mobil pengantin membawanya keluar dari hotel, Alya melihat pantulan wajahnya di kaca.
Tidak ada air mata.
Tidak ada takut.
Di layar ponsel, pesan dari perawat muncul lagi.
`Nona, obat malam sudah disiapkan. Mereka tidak tahu saya menghubungi Anda.`
Alya mengetik satu kalimat.
`Jangan berikan apa pun sebelum saya tiba.`