Amara pernah memiliki keluarga yang ia cintai. Namun setelah bertahun-tahun mendukung suaminya dari nol, ia justru dikhianati.
Sebagai ibu tunggal dengan tiga anak, Amara berusaha bangkit dari luka dan kehancuran. Takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang pria mafia yang memberinya sebuah kerajaan.
Kini, di mata dunia, Amara hanyalah seorang ibu sederhana yang bekerja sebagai careworker.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik sosok pendiam itu, tersembunyi seorang penguasa dunia bawah tanah.
Amara membangun kerajaan demi ketiga anaknya. Ia ingin mereka memiliki masa depan, tetapi tidak pernah ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang bergantung pada kekayaan.
Karena seorang ibu akan melakukan apa pun untuk melindungi anak-anaknya.
Bahkan jika ia harus menjadi seorang mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princess Catalunya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
POV Reza
Pagi itu, Reza datang seperti biasa. Ia memarkirkan mobil di area yang sudah disediakan untuk kendaraan operasional, memeriksa kembali kondisi mobil, kemudian berjalan masuk ke gedung utama perusahaan.
Seragam kerjanya rapi. Sepatu hitamnya bersih. Rambutnya pun tertata sederhana.
Tidak ada seorang pun yang akan menyangka bahwa lelaki yang berjalan melewati lobi itu pernah menjadi bagian dari kehidupan pemilik perusahaan.
Bagi orang-orang di gedung itu, Reza hanyalah seorang driver. memang faktanya ia adalah seorang driver di perusahaan tersebut. Sejak pertama kali bekerja di sana, ia sudah memahami bahwa satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan menerima posisinya.
Ia tidak datang untuk mencari kembali kehidupan lamanya. Namun ia datang untuk bekerja. Membayar kebutuhan hidup dan menjalani hari-harinya tanpa mengharapkan sesuatu yang sudah tidak mungkin kembali. Pagi itu pun sama.
Namun ketika melewati lobi utama, langkah Reza sedikit melambat. Bukan karena sesuatu yang menarik perhatiannya. Melainkan karena beberapa karyawan tampak berkumpul di depan layar digital besar yang biasanya digunakan perusahaan untuk menampilkan informasi internal.
Reza mengernyit.
"Ada apa?"
Ia sebenarnya tidak terlalu peduli.
Mungkin pengumuman kenaikan jabatan, atau mungkin informasi rapat. Atau mungkin juga pengumuman perusahaan mengenai perubahan jadwal kerja. Hal-hal seperti itu bukan urusannya.
Ia hendak terus berjalan ketika salah seorang karyawan perempuan yang berdiri di depannya berkata,
"Serius? Mereka benar-benar akan menikah?"
Temannya tertawa.
"Iya. Undangannya bahkan terbuka."
"Undangan terbuka untuk seluruh karyawan?"
"Katanya begitu."
Reza berhenti. Keningnya sedikit berkerut. Undangan? Untuk pernikahan? Ia menoleh ke layar. Namun posisinya masih terlalu jauh. Yang terlihat hanya latar belakang putih dengan beberapa tulisan formal.
Reza sebenarnya tidak berniat mendekat. Tetapi rasa penasaran kecil muncul di kepalanya. Karyawan siapa yang menikah sampai perusahaan menampilkan undangan di layar sebesar itu?
Ia berjalan beberapa langkah mendekati kerumunan. Beberapa orang masih membicarakannya.
"Katanya acaranya di tempat khusus."
"Ya, aku juga dengar."
"Yang menikah siapa sebenarnya?"
"Makanya lihat layarnya."
Reza hampir tersenyum. Ternyata bukan hanya dirinya yang penasaran. Ia berdiri di bagian belakang kerumunan. Tidak ingin ikut campur, namun matanya kemudian perlahan naik ke layar.
Tulisan pertama terbaca.
PENGUMUMAN PERNIKAHAN
Reza mengangkat alis.
"Oh."
Hanya itu reaksinya. Ia hampir berbalik. Menurutnya tidak ada alasan baginya untuk membaca lebih jauh. Pernikahan seseorang bukan urusannya. Namun entah mengapa, sebelum benar-benar pergi, matanya kembali tertuju pada layar.
Di bawah tulisan itu terdapat dua nama. Reza membaca nama pertama. Kemudian nama kedua. Dan untuk beberapa detik, dunia seperti berhenti bergerak.
AMARA PRADIPTA
Napasnya tertahan. Matanya tidak bergerak. Ia membaca nama itu sekali lagi.
Itu Amara.
Tidak mungkin.
Namun nama berikutnya membuat seluruh keraguan itu lenyap.
LEON VOLKOV
Reza berdiri diam. Kerumunan orang di depannya masih bergerak. Beberapa karyawan tertawa. Seseorang bahkan terdengar mengucapkan selamat. Namun suara-suara itu perlahan terasa jauh. Seolah-olah Reza berdiri di tempat yang berbeda. Di depan matanya hanya ada dua nama.
Amara Pradipta.
Leon Volkov.
Tangannya yang sejak tadi memegang kunci mobil perlahan mengencang.
Jadi, mereka benar-benar akan menikah. Reza menatap layar lebih lama. Di bawah kedua nama tersebut terdapat keterangan mengenai acara dan undangan. Undangan resmi, terbuka bagi seluruh karyawan perusahaan. Baik perusahaan utama maupun cabang perusahaan.
Reza menelan ludah. Karyawan. Berarti ia juga menerima undangan itu. Bukan sebagai seseorang dari masa lalu Amara, atau mantan suami. Bukan sebagai ayah dari anak-anak Amara. Melainkan sebagai karyawan.
Entah kenapa, justru kata itu yang paling lama tinggal di kepalanya. Reza menundukkan pandangan. Ia seharusnya tidak terkejut dan tidak merasa apa-apa.
Bukankah selama ini ia sudah tahu bahwa Amara memiliki kehidupan sendiri? Bahkan ia sudah melihat bagaimana perempuan itu perlahan membangun hidupnya.
Bukankah ia juga sudah beberapa kali melihat Amara dalam berbagai acara keluarga? Saat Arsen menikah, saat Raka menikah dan saat Naila menikah.
Ia datang sebagai undangan perusahaan, dan berdiri di antara karyawan lain. Melihat Amara dari kejauhan. Tidak pernah mendekat.
Ia juga tidak pernah mencoba berbicara lebih dari yang diperlukan. Ia sudah terbiasa dengan posisi itu. Lalu mengapa pengumuman sederhana ini terasa berbeda?
Reza menarik napas panjang.
"Pak?"
Suara seseorang membuatnya tersadar. Ia menoleh.
Seorang karyawan berdiri di sampingnya.
"Pak Reza, Bapak kenal Madam?"
Reza terdiam sebentar.
Kemudian menggeleng kecil.
"Kenal."
Jawabannya singkat.
Karyawan itu tersenyum.
"Hebat ya. Bos kita ternyata akan menikah dengan Leon Volkov."
Reza kembali melihat layar.
"Iya."
"Katanya pernikahannya bakal besar."
Reza hanya mengangguk. Karyawan tersebut kemudian pergi meninggalkan Reza yang masih berdiri di sana sendirian.
Setelah bertahun-tahun, ini pertama kalinya ia merasa sebuah nama yang sudah sangat dikenalnya tiba-tiba terasa asing.
Amara Pradipta.
Nama yang dahulu hanya ia panggil tanpa berpikir. Dulu Amara adalah istrinya.
Perempuan yang dulu tidur di sampingnya. Perempuan yang pernah menunggunya pulang. Perempuan yang pernah memanggil namanya dengan suara lembut. Perempuan yang pernah memastikan semua pakaiannya bersih, rapi dan wangi saat harus ia berangkat bekerja. Perempuan yang dulu percaya bahwa mereka akan menua bersama.
Dan sekarang, perempuan itu akan menjadi istri orang lain.
Reza menutup matanya sesaat. Sebuah ingatan lama muncul begitu saja. Pernah sekali, Amara menunggunya hingga tertidur di sofa. Namun Reza pulang dalam keadaan mabuk dan langsung tidur di kamarnya. Reza selalu marah jika Amara bertanya terlalu jauh tentang kehidupan di tempat kerjanya. Kadang mereka akan bertengkar. Bahkan uang tunjangan untuk anak-anaknya pun, ia berikan untuk keponakan-keponakannya.
Ia sadar, bahwa betapa tidak bahagianya Amara saat hidup bersamanya. Sekarang, ia bertanya-tanya. Kapan terakhir kali ia benar-benar melihat Amara?
Reza membuka mata. Layar besar itu masih menampilkan pengumuman yang sama.
Amara Pradipta.
Leon Volkov.
Ia menghela napas.
Dulu, ketika pertama kali datang melamar pekerjaan di perusahaan ini, Reza bahkan tidak tahu bahwa perusahaan tersebut milik Amara.
Ia hanya membutuhkan pekerjaan, dan tidak punya banyak pilihan.
Ia datang dengan pakaian sederhana, membawa dokumen lamaran, dan duduk di antara beberapa pelamar lain.
Saat itu ia bahkan tidak membayangkan akan bertemu seseorang dari masa lalunya.
Sampai akhirnya ketika namanya dipanggil, ia masuk ke dalam ruangan interview. Dan pria yang ia temui adalah Arsen. Anak laki-lakinya sendiri.
Reza masih mengingat tatapan pertama mereka. Tidak ada pelukan. Tidak ada kata "Ayah". Hanya tatapan profesional. Arsen mengenalnya. Dan Reza tahu dari mata anak itu bahwa Arsen sudah mengetahui siapa dirinya.
Namun Arsen tetap memperlakukannya seperti pelamar lain. Tidak ada perlakuan khusus. Hanya profesionalisme.
Saat itulah Reza mengetahui bahwa perusahaan tersebut adalah milik Amara. Perempuan yang dulu ia tinggalkan dalam keadaan yang tidak mudah.
Perempuan yang ternyata telah membangun kehidupan jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.
Reza akhirnya mendapatkan pekerjaan itu. Ia bekerja karena ia memang membutuhkan pekerjaan dan harus membuktikan bahwa ia layak berada di sana. Itu sebabnya ia tidak pernah mengeluh ketika hanya menjadi driver.
Tetapi selama bekerja di sana, ia perlahan melihat sesuatu yang tidak pernah ia pahami ketika masih menjadi suami Amara.
Perempuan itu bukan hanya kuat. Ia ternyata jauh lebih kuat daripada yang pernah ia bayangkan. Reza pernah melihatnya dari jauh ketika menghadiri acara pernikahan Arsen.
Amara berdiri di samping anaknya dan kelihatan bahagia. Kemudian saat Raka menikah, lalu Naila.
Setiap kali Reza datang sebagai undangan karyawan, ia selalu memilih tempat yang tidak terlalu dekat. Ia melihat keluarga itu dari jauh.
Dan setiap kali pulang, ia membawa perasaan yang sulit dijelaskan. Sebuah kesadaran perlahan bahwa dirinya sudah tidak memiliki tempat di sana.
Sekarang pengumuman itu membuat kesadaran tersebut menjadi jauh lebih nyata.
Amara akan menikah. Bukan sekadar memiliki pasangan. Namun ia akan menikah dengan Leon Volkov.
Reza tersenyum tipis. Senyum yang bahkan tidak ia sadari.
Ia pernah melihat cara Leon memandang perempuan itu. Ia pernah melihat bagaimana kebersamaan Leon dengan anak-anak Amara.
Dan sekarang, seluruh dunia sedang menyaksikan pengumuman tersebut. Reza mengembuskan napas. Mungkin memang sudah waktunya. Bukan bagi Amara untuk melupakan masa lalu.
Tetapi bagi dirinya sendiri untuk berhenti berharap bahwa masa lalu itu suatu hari akan mengetuk pintunya kembali.
Ia mengambil kunci mobil yang tadi hampir terlepas dari genggamannya. Kemudian berbalik meninggalkan lobi.
Namun baru beberapa langkah, ia berhenti. Tanpa sadar, ia menoleh sekali lagi ke layar. Nama itu masih ada di sana.
Amara Pradipta & Leon Volkov.
Reza menatapnya beberapa detik. Lalu menundukkan kepala, kemudian melangkah pergi. Hari kerjanya masih panjang.