Lim Mei Li bukan wanita biasa.
Di usia 7 tahun, dia menyaksikan ibunya melompat dari balkon — dipaksa oleh keluarga yang seharusnya melindunginya. Di usia 12, dia kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa. Di usia 16, dia sudah menguasai kerajaan bisnis yang membuat dunia gemetar.
Sekarang, di usia 23, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai anak yang dibuang. Tapi sebagai predator yang sudah terlalu lama menunggu.
Keluarga Tan — konglomerat yang menghancurkan ibunya — akan merasakan apa artinya takut. Satu per satu, mereka akan jatuh.
Tapi di tengah permainan balas dendam ini, seseorang muncul yang tidak ada dalam rencananya.
Arka Wicaksana Pradipta. Pewaris keluarga militer paling berkuasa di negeri ini. Pria yang selama 15 tahun tidak bisa disentuh oleh wanita manapun — kecuali dia.
"Aku menunggumu," katanya. "Tidak terburu-buru."
Mei Li tidak pernah berencana untuk jatuh cinta. Tapi setiap kali Arka tersenyum, benteng yang dia bangun selama 16 tahun... mulai retak.
Di bawah bibirnya, dia menemukan kegilaan yang tidak pernah dia minta.
🔥 Revenge × CEO Romance × Strong Female Lead
💎 "Jangan pernah meremehkan wanita yang kembali dengan membawa seluruh dunia di tangannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4
Pukul delapan pagi, rekening pertama milik Tan Group berhenti bergerak.
Bukan seluruhnya. Belum.
Hanya satu rekening escrow untuk proyek kawasan utara, lalu dua rekening anak perusahaan, kemudian satu jalur kredit yang selama ini dipakai Edmond Tan untuk menutup lubang arus kas. Angkanya tidak cukup untuk membunuh keluarga Tan, tetapi cukup untuk membuat para direktur keuangan mereka berkeringat sebelum kopi pagi habis.
Di lantai tertinggi Koh Tower, SCBD, Amy meletakkan tiga map tebal di atas meja Lim Mei Li.
"Perintah pembekuan sementara sudah masuk melalui pengadilan niaga," katanya. "Alasan utama: sengketa waris keluarga Lim, dugaan pemindahan aset di bawah tekanan, dan indikasi penyalahgunaan identitas anak di bawah umur."
Mei Li berdiri di depan jendela kaca, memandang Jakarta yang tampak terlalu tenang dari ketinggian. Di bawah sana, orang-orang tetap berangkat kerja, memesan kopi, mengeluh macet, tidak tahu bahwa satu keluarga lama sedang merasakan dinding pertama menutup.
"Reaksi mereka?"
"Panitia proyek panik. CFO Tan Group menghubungi tiga bank dalam dua puluh menit. Rachel Gu menelepon kantor hukum lama mereka. Tan Bao Shan belum muncul di publik."
Bella yang berdiri di dekat pintu menambahkan, "Pengawal Tan Residence diganti dua kali sejak subuh. Mereka takut ada rekaman dari makan malam semalam."
"Memang ada," kata Mei Li.
Amy membuka tablet, menampilkan potongan video ruang makan. Bukan rekaman kasar dari ponsel. Sudutnya bersih, audio jelas, cukup untuk menunjukkan wajah Rachel saat nama Lim Yun disebut, tangan Tan Bao Shan yang gemetar, dan pengakuan diam yang lebih kuat daripada teriakan.
"Kita unggah?" tanya Amy.
"Belum."
Bella mengangkat alis. "Boss ingin menunggu mereka menyerang dulu?"
Mei Li akhirnya berbalik. Hari ini ia memakai setelan putih dengan garis hitam tipis di pinggang. Melati putih masih ada di rambutnya, tetapi kipas batik tidak terlihat. Sebagai gantinya, di meja tergeletak surat kuasa yang sudah ditandatangani.
"Aku ingin mereka memilih sendiri cara mati reputasinya."
Amy mengangguk seolah itu jawaban paling wajar di dunia.
Pintu ruangan terbuka setelah dua ketukan. Ricky Koh masuk dengan langkah cepat, wajahnya tegang tetapi matanya bersinar. Pria Tionghoa itu menunduk hormat.
"Jie."
Mei Li menoleh. "Ricky."
"Tim bank sudah mengikuti instruksi. William juga sudah menahan semua komunikasi langsung dari Tan Group. Tapi..." Ia berhenti, menatap map di meja. "Mereka akan melawan keras."
"Bagus."
Ricky tertawa pendek, gugup. "Jie, hanya kamu yang mendengar kalimat itu seperti kabar baik."
"Kalau mereka tidak melawan, aku tidak punya alasan untuk memotong lebih dalam."
Ricky langsung diam. Ia pernah melihat sisi itu dari Mei Li di luar negeri, tetapi mendengarnya di Jakarta, dengan nama Tan di antara mereka, tetap membuat tengkuknya merinding.
***
Di Tan Residence, suara gelas pecah terdengar dari ruang kerja utama.
"Bagaimana mungkin pengadilan mengeluarkan perintah secepat itu?" Edmond membentak pengacara di hadapannya. "Kami keluarga Tan!"
Pengacara paruh baya itu mengusap keringat di pelipis. "Tuan Edmond, dokumen yang mereka ajukan sangat lengkap. Ada catatan kelahiran anak perempuan yang dulu dibuang keluarga Tan, catatan pemindahan aset dari keluarga Lim setelah Lim Yun meninggal, bahkan surat perwalian lama yang seharusnya tidak pernah keluar dari arsip internal."
Rachel berdiri kaku di samping sofa. Wajahnya pucat sejak pagi. "Itu palsu."
Pengacara menatapnya hati-hati. "Nyonya, kalau palsu, mereka terlalu berani. Tapi sampai saat ini, nomor dokumen dan stempel rumah sakit cocok."
"Tutup mulutmu," desis Rachel.
Tan Bao Shan duduk di kursi utama, wajahnya gelap. Sejak malam tadi, ia belum tidur. Setiap kali menutup mata, ia melihat wajah Lim Yun. Bukan seperti saat perempuan itu muda, lembut, dan ketakutan. Melainkan wajah Lim Mei Li yang menatapnya seolah tahu seluruh kebenaran.
Jasmine mondar-mandir di dekat rak buku. "Jadi dia benar-benar kakak tiriku?"
"Jangan sebut dia begitu!" Rachel membentak.
Jasmine terkejut. Matanya memerah, bukan karena sedih, tetapi karena dunia yang ia pakai untuk berdiri tiba-tiba retak. "Kenapa tidak ada yang memberitahuku? Semalam aku terlihat bodoh di depannya!"
Stella menyilangkan tangan. "Yang penting sekarang, gosip ini jangan sampai keluar. Grup sosialita sudah bertanya kenapa aku pulang lebih awal dari makan malam keluarga."
Michelle tertawa pahit. "Kamu masih memikirkan grup sosialita?"
"Reputasi itu aset," balas Stella tajam.
"Cukup!" Tongkat Tan Bao Shan menghantam lantai.
Semua orang terdiam.
Lelaki tua itu menatap pengacara. "Buka pembekuan itu."
"Kami akan ajukan keberatan, Tuan Besar, tapi butuh waktu."
"Aku tidak punya waktu."
"Ada satu hal lagi." Pengacara menelan ludah. "Pihak Lim Mei Li juga meminta audit independen atas aset warisan Lim Yun yang masuk ke Tan Group enam belas tahun lalu."
Rachel seperti kehilangan darah dari wajahnya.
Edmond menatap istrinya. "Rachel?"
"Jangan lihat aku seperti itu," katanya cepat. "Semua keputusan waktu itu dibuat oleh keluarga."
Tan Bao Shan menutup mata. Satu detik. Dua detik. Ketika membukanya lagi, keputusannya sudah jatuh.
"Keluar."
Pengacara itu ragu. "Tuan Besar?"
"Keluar sekarang."
Tidak ada yang berani menahan saat pengacara pergi.
***
Di kantor KADIN, Arka membaca laporan yang baru saja diterima asistennya.
Nama Lim Mei Li muncul dengan data yang terlalu bersih. Pendidikan luar negeri, jaringan investasi, posisi di beberapa perusahaan, koneksi Koh Group. Semua terlihat masuk akal, rapi, bahkan mengesankan.
Terlalu rapi.
"Tidak ada riwayat sebelum usia tujuh tahun?" tanya Arka.
Asistennya berdiri di depan meja. "Hanya catatan lama dari keluarga Tan, Pak. Setelah keluar dari Indonesia, datanya berpindah beberapa kali. Ada bagian yang tertutup."
"Ditutup oleh siapa?"
"Kami belum bisa pastikan. Setiap jalur yang kami buka berhenti di firma hukum luar negeri."
Arka menatap foto kecil di laporan. Mei Li di sebuah acara amal di Singapura, memakai gaun hitam, wajahnya dingin. Di bawah foto itu, tertulis: Lim Mei Li, private investor.
Private investor.
Ia hampir tersenyum.
Perempuan yang bisa membuat keluarga Tan gemetar hanya dengan satu nama tidak mungkin sesederhana itu.
"Pantau perkembangan Tan Group," katanya. "Bukan untuk membantu mereka. Aku hanya ingin tahu langkah berikutnya."
"Baik, Pak."
Ponsel Arka bergetar. Dimas.
Mas, lo semalam ke rumah Tan? Gue dengar ada drama. Spill dong.
Arka mengetik balasan singkat.
Jangan ikut campur.
Dimas membalas dalam tiga detik.
Wah, berarti dramanya besar.
Arka meletakkan ponsel tanpa menjawab.
***
Menjelang malam, Tan Bao Shan masuk ke ruang doa leluhur sendirian. Di depan papan nama keluarga, ia berdiri lama tanpa membakar dupa. Matanya menatap nama-nama yang selama ini ia gunakan sebagai alasan untuk menekan siapa pun yang melawan.
Keluarga.
Martabat.
Warisan.
Semua kata itu terasa kosong ketika rekening-rekening mulai terkunci.
Ia mengeluarkan ponsel tua dari laci kecil di bawah meja altar. Nomor di dalamnya tidak pernah disimpan dengan nama, hanya deretan angka yang pernah dipakai untuk pekerjaan kotor keluarga.
Panggilan tersambung pada nada ketiga.
"Ada perempuan," kata Tan Bao Shan tanpa salam. "Namanya Lim Mei Li."
Suara di seberang tertawa rendah. "Perlu diberi pelajaran?"
Tan Bao Shan menatap hujan yang mulai turun di luar jendela.
"Tidak."
Ia menggenggam ponsel lebih erat.
"Singkirkan dia."