NovelToon NovelToon
Kakak Tiri Kuu Yang Dingin

Kakak Tiri Kuu Yang Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Terlarang
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: bulane

"Mama akan menikah."

Kalimat itu menghantamku tanpa aba-aba.

"Aku tidak setuju, Ma..."

Suaraku bergetar, berharap keputusan itu masih bisa berubah.

"Mama berhak bahagia, Amerta."

Kalimat sederhana itu seolah menjadi palu yang menghancurkan seluruh angan-anganku.

Amerta Bunga Adiguna.

Namaku dipanggil untuk menerima kenyataan yang tak pernah siap kuhadapi.

Di balik rumah yang diselimuti nuansa temaram, berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan tatapan yang sulit ditebak. Ia hanya mengamati jalannya acara dari kejauhan, membiarkan keheningan berbicara lebih banyak daripada kata-kata.

Mahesa Putra Dirgantara.

Sosok yang kehadirannya perlahan mengubah seluruh jalan hidupku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bulane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 4

Langkah kaki Amerta terasa ringan saat ia menyusuri koridor Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Riuh rendah suara mahasiswa baru yang saling berkenalan memenuhi koridor, menciptakan atmosfer yang kontras dengan kesunyian kastil megah milik Ayah Dirga. Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, Amerta merasa bisa bernapas bebas tanpa perlu mengkhawatirkan aura intimidasi dari Mahesa.

Setelah mengantre cukup lama di selasar, Amerta akhirnya mendapatkan map plastik berisi jas almamater berwarna kuning makara—warna kebanggaan universitas ini. Ia segera memakai jas tersebut di atas kemeja putihnya. Saat menatap pantulan dirinya di kaca jendela besar, seulas senyum terukir di wajahnya. Ada rasa bangga yang menyeruak di dadanya; ia berhasil berdiri di sini karena kerja kerasnya sendiri.

"Hei! Kamu dari jurusan Manajemen juga, ya?"

Sebuah tepukan ringan di bahu membuat Amerta menoleh. Seorang gadis berambut pendek dengan senyum ceria sudah berdiri di sampingnya, mengenakan almamater kuning yang sama.

"Eh, iya," jawab Amerta ramah. "Aku Amerta."

"Aku Dinda! Salam kenal, ya. Wah, syukurlah akhirnya aku ketemu teman satu jurusan. Dari tadi aku bingung nyari ruang aula untuk pengenalan fakultas," cerocos Dinda tanpa canggung, langsung menggandeng lengan Amerta.

Kehadiran Dinda yang ceria membuat hari pertama Amerta terasa jauh lebih mudah. Mereka berjalan beriringan menuju aula utama, mengikuti arus mahasiswa baru lainnya.

Namun, kenyamanan itu tidak bertahan lama. Begitu mereka melangkah masuk ke dalam aula, suasana mendadak berubah menjadi sangat disiplin dan tegang. Di barisan depan dan sisi-sisi ruangan, tampak para senior dengan wajah tegas dan tatapan menyelidik sedang mengawasi setiap gerak-gerik mahasiswa baru.

Amerta dan Dinda segera mengambil tempat duduk di barisan tengah. Sesi pengenalan fakultas pun dimulai dengan pemaparan materi dari jajaran dekanat, disusul oleh pengenalan organisasi mahasiswa. Amerta fokus mencatat setiap informasi penting di buku kecilnya, hingga tiba saatnya sesi tanya jawab dibuka.

"Baik, untuk sesi kali ini, kakak-kakak dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang akan mendampingi dan menilai keaktifan kalian," ujar pembawa acara dari pengeras suara.

Seorang senior laki-laki bertubuh tinggi dengan ban lengan bertuliskan 'Komisi Disiplin' melangkah ke tengah panggung dengan angkuh. Matanya menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya pandangannya terkunci pada barisan tempat Amerta duduk.

"Kalian yang di barisan tengah, yang memakai jam tangan merah dan yang rambutnya dikuncir kuda. Maju ke depan," perintah senior itu dengan suara lantang yang menggema di langit-langit aula.

Amerta tersentak. Ia refleks menyentuh kuncir rambutnya. Di sebelahnya, Dinda juga tampak pucat karena ia memakai jam tangan berwarna merah. Seluruh mata di dalam aula kini tertuju pada mereka berdua, berbisik-bisik menebak kesalahan apa yang telah mereka perbuat.

"Maju. Jangan membuang waktu," desak senior itu lagi, nadanya mulai meninggi.

Dengan tubuh sedikit gemetar, Amerta dan Dinda berdiri dari kursi mereka. Amerta mencoba mengingat-ingat apakah ada aturan atribut yang ia langgar, namun seingatnya semua barang yang ia bawa sudah sesuai dengan panduan yang diberikan panitia lewat email resmi.

Begitu sampai di depan panggung, senior bernama tumpeng di papan namanya—Rian—menatap mereka berdua dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan.

"Kalian tahu apa kesalahan kalian?" tanya Rian dingin, melipat kedua tangannya di dada.

"Maaf, Kak, setahu saya atribut kami sudah lengkap dan sesuai peraturan," jawab Amerta berusaha tetap tenang, meski jantungnya berdegup kencang.

"Berani menjawab?" Rian menaikkan sebelah alisnya, merasa otoritasnya ditantang di depan ratusan mahasiswa baru. "Kalian terlambat masuk ke barisan aula tadi. Saat materi pertama dimulai, kalian baru sibuk mencari tempat duduk. Itu artinya kalian tidak menghargai waktu dan dosen yang berbicara di depan."

Dinda hendak memprotes karena mereka terlambat akibat antrean pembagian almamater yang mengular, namun Amerta menahan ujung lengan almamater sahabat barunya itu. Amerta tahu, berdebat dengan panitia disiplin di hari pertama hanya akan memperpanjang masalah.

"Kami minta maaf, Kak. Kami tidak akan mengulanginya lagi," ucap Amerta pelan, menundukkan kepalanya.

Rian mendengus, tampak tidak puas dengan jawaban yang terlalu mudah itu. Ia bermaksud memberikan hukuman ringan berupa hafalan visi-misi fakultas untuk memberikan contoh kepada mahasiswa lain. Namun, sebelum kata-kata hukuman itu keluar dari mulutnya, seorang staf dosen paruh baya yang mendampingi di barisan kursi undangan berdiri dan berjalan menghampiri panggung.

"Rian, cukup," potong dosen tersebut dengan wibawa. "Mereka terlambat karena kendala teknis di bagian logistik almamater, bukan karena kesengajaan. Kembalikan mereka ke tempat duduk."

Rian tampak terkejut, namun ia tidak bisa membantah perintah dosen. Dengan sisa-sisa keangkuhannya, ia mendelik ke arah Amerta dan Dinda. "Sana kembali ke tempat duduk kalian. Anggap diri kalian beruntung hari ini."

Amerta menghela napas lega yang teramat sangat. Ia dan Dinda bergegas kembali ke kursi mereka dengan langkah cepat. Sepanjang sisa acara, Amerta berusaha menjaga fokusnya, meski sesekali ia bisa merasakan tatapan tidak suka dari Rian yang masih mengawasinya dari kejauhan.

Sesi fakultas akhirnya berakhir menjelang sore hari. Ratusan mahasiswa baru mulai membubarkan diri dari aula dengan wajah-wajah lelah namun lega. Amerta dan Dinda berjalan keluar gedung menuju area taman fakultas yang rindang untuk beristirahat sejenak sebelum pulang.

"Gila ya, senior tadi seram banget. Untung ada dosen yang belain kita," keluh Dinda sambil mengipasi wajahnya dengan buku catatan. "Aku benar-benar syok tadi, Ta."

"Iya, untung saja masalahnya tidak diperpanjang," balas Amerta sambil melepaskan ranselnya dan duduk di bangku taman.

Saat itulah, ingatan Amerta kembali pada kalimat terakhir yang diucapkan Mahesa di dalam mobil sport hitamnya pagi tadi: “Jika ada yang mengganggumu di kampus ini, sebut namaku.”

Amerta merenung, menatap ujung sepatu ketsnya. Mengapa Mahesa bisa begitu percaya diri mengatakan hal itu? Apakah pengaruh nama Mahesa memang sefatal itu di fakultas ini? Rasa ingin tahu Amerta kembali terusik. Ia melirik Dinda yang sedang asyik meminum air mineralnya, lalu mencoba memancing informasi.

"Din... kamu tahu tidak, siapa alumni dari jurusan kita yang paling berpengaruh atau terkenal beberapa tahun belakangan ini?" tanya Amerta berpura-pura kasual.

Dinda langsung menegakkan tubuhnya, matanya berbinar seketika seolah topik itu adalah keahlian utamanya. "Wah, kalau itu sih semua anak Manajemen juga tahu, Ta! Ada satu nama yang legendaris banget di fakultas ini. Lulusan terbaik dengan IPK sempurna, langsung menjabat sebagai CEO muda di salah satu konglomerat terbesar di Indonesia sebelum usianya tiga puluh tahun. Bahkan namanya dipahat di prasasti donatur utama gedung perpustakaan baru kita!"

Jantung Amerta berdesir aneh. "Siapa namanya?"

"Mahesa Dirgantara," jawab Dinda mantap, penuh nada kagum yang tidak ditutupi. "Dia itu tipe-tipe cowok genius yang dingin, tampan, tapi tidak tersentuh. Dulu katanya banyak banget mahasiswi yang mencoba mendekati, tapi tidak ada satu pun yang berhasil melewati dinding esnya. Kenapa kamu tanya tentang dia, Ta?"

Amerta tertegun di tempatnya, tenggorokannya mendadak terasa kering. Bayangan kakak tirinya yang ketus, yang semalam menyalakan lilin aromaterapi untuknya dengan ekspresi lelah, kini tumpang tindih dengan reputasi mentereng yang baru saja dijabarkan oleh Dinda. Laki-laki sedingin es itu ternyata adalah matahari yang bersinar terlalu terang di kampus ini.

"Eh, tidak apa-apa. Cuma... tidak sengaja mendengar namanya saja tadi," bohong Amerta, mencoba mengalihkan pembicaraan dengan senyum kaku.

Matahari sore mulai tenggelam, membiaskan warna jingga di langit kampus Universitas Indonesia. Amerta berdiri dari bangku taman, berpamitan dengan Dinda untuk menuju area depan gerbang utama kampus. Sambil berjalan, tangannya meraba ponsel di dalam saku almamater kuningnya. Ia menatap layar ponsel yang menampilkan ruang obrolan kosong antara dirinya dan Mahesa.

Sebuah pesan singkat masuk dari nomor Bi Sumi: “Non Amerta, Den Mahesa berpesan kalau malam ini beliau ada rapat makan malam dengan klien sampai larut, jadi Non Amerta tidak perlu menunggu di ruang makan.”

Amerta menghela napas, menyimpan kembali ponselnya. Rasa hangat yang sempat muncul semalam perlahan menguap, digantikan oleh realitas bahwa Mahesa tetaplah Mahesa yang menjaga jarak. Namun, saat ia melangkah menuju halte busway kampus, Amerta menyadari satu hal; ia tidak lagi melihat Mahesa sebagai sosok monster yang kejam, melainkan sebagai sebuah teka-teki besar berselimut es yang perlahan-lahan mulai menunjukkan polanya.

1
Tunik nur Agustina
seruu
Tunik nur Agustina
seruuuu thorr
azzura faradiva
Yach....cuma seuprit doang upnya😔
azzura faradiva
wow....keren poollll sekalinya up 7 bab sekaligus👏🏻👏🏻
azzura faradiva
lanjut....,bagus ceritanya
bulane: terimakasih atas dukungan nya🫶🏻🫶🏻
total 1 replies
seruuuu bangettt
ela
semangat kakk💪🤩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!