NovelToon NovelToon
Married To Captain Ren

Married To Captain Ren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Taraline

Aku dijodohkan dengan seorang kapten tentara. Masalahnya, pria itu terlihat lebih cocok menikah dengan jadwal tugasnya daripada denganku.

Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan 🙏 Selamat membaca 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taraline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Tiga minggu.

Dua puluh satu hari. Lima ratus empat jam.

Selama itu pula Cia tidak mendengar satu patah kata pun dari Kapten Ren Adhyaksa sejak pria itu meninggalkannya di rubanah parkir studio foto. Ponsel Ren tidak pernah aktif. Pesan singkat yang Cia kirimkan—yang awalnya berisi makian protes, lalu berubah menjadi pertanyaan formal, hingga akhirnya hanya berupa satu tanda tanya—tidak pernah berstatus terkirim.

Cia menatap layar ponselnya yang menyala di atas meja nurse station IGD. Jari telunjuknya yang terpasang plester hypoallergenic terus-menerus menarik layar ke bawah, me-refresh halaman portal berita nasional.

Headline berita hari ini masih sama seperti dua hari lalu: "Kontak Senjata di Perbatasan Timur Berlanjut, Dua Prajurit Dinyatakan Gugur, Lima Luka Berat."

Tidak ada nama yang dirilis. Militer menjaga kerahasiaan informasi dengan sangat ketat.

Cia menggigit kuku ibu jarinya, sebuah kebiasaan buruk yang sudah lama ia tinggalkan dan kini kembali lagi. Jantungnya berdetak dengan ritme yang tidak nyaman. Sensasi dingin merayap dari ujung kaki hingga ke tengkuknya setiap kali ia membaca kata 'gugur' dan 'luka berat'.

"Heh, melamun aja. Pasien bedah di bed nomor empat udah lo ganti perbannya belum?"

Sebuah tepukan di bahu membuat ponsel Cia nyaris tergelincir jatuh dari meja. Nayla berdiri di sebelahnya dengan papan jalan di tangan, menatap sahabatnya itu dengan alis bertaut.

Cia buru-buru mematikan layar ponselnya. "U-udah. Tadi udah dicek sama residen juga."

Nayla memicingkan mata, lalu menarik kursi dan duduk di sebelah Cia. "Lo kenapa, sih? Tiga minggu ini lo kayak zombie. Kantung mata lo makin item, kerjaan lo scrolling berita militer terus. Lo... mikirin Kapten Kulkas itu, ya?"

"Enak aja!" bantah Cia terlalu cepat, suaranya sedikit meninggi hingga seorang perawat senior menoleh ke arah mereka. Cia segera merendahkan volumenya. "Gue cuma... gue cuma takut."

"Takut dia kenapa-napa?" goda Nayla pelan, ujung bibirnya melengkung naik.

"Takut acaranya batal dan Papa malu!" kilah Cia keras kepala. Ia membuang muka, menatap pintu kaca IGD yang sibuk. "Tenda udah dipasang di rumah. Undangan udah disebar. Katering udah dibayar lunas. Besok malam itu acara siraman, lusa akad. Kalau dia tiba-tiba hilang atau... atau kenapa-napa di sana, yang repot keluarga gue, Nay."

Nayla mendesah pelan, menepuk punggung Cia. "Cia, Cia. Lo itu dokter. Mulut lo bisa bohong, tapi respons fisiologis tubuh lo nggak bisa. Mata lo merah, jari lo gemetar. Lo peduli sama dia, mengaku saja."

Cia terdiam. Ia meremas tangannya sendiri yang memang terasa dingin dan sedikit bergetar. Apakah ia peduli? Pada pria arogan yang memaksa masuk ke hidupnya tanpa permisi? Pria yang menganggap pernikahan hanyalah sebuah misi dan tanggung jawab?

Tentu saja tidak, batin Cia keras. Gue cuma manusiawi. Siapapun pasti khawatir kalau orang yang dikenalnya ada di medan perang.

Namun, memori saat tangan hangat Ren membetulkan kerah kemejanya di studio foto itu kembali berkelebat, menembus pertahanannya, meninggalkan rasa sesak yang tak kasat mata di dada Cia.

H-1 Akad Nikah. Pukul 19.00 WIB.

Suasana di apartemen keluarga Cia malam itu terasa sangat kontras. Di luar, dekorasi melati dan tenda putih gading sudah terpasang rapi, memancarkan aura perayaan yang membahagiakan. Namun di ruang tamu, atmosfernya terasa setebal dan sekaku beton.

Kolonel Arman Adhyaksa, ayah Ren, duduk di sofa dengan seragam dinas upacara yang sudah digantinya dengan kemeja rapi. Wajah tuanya yang penuh garis ketegasan tampak kaku. Rahangnya mengeras, tatapannya lurus menatap cangkir teh yang asapnya sudah lama menghilang.

Di seberangnya, ayah dan ibu Cia duduk dengan raut cemas yang tak bisa disembunyikan. Mama Cia sedari tadi menggenggam tangan suaminya sambil sesekali mengusap ujung mata dengan tisu.

Cia sendiri duduk mematung di sudut ruangan, mengenakan dress selutut berwarna putih tulang. Ia merasa perutnya melilit. Mual.

"Arman," ayah Cia akhirnya memecah keheningan, suaranya parau. "Apa... belum ada kabar dari pangkalan?"

Kolonel Arman perlahan menoleh. Ia menarik napas panjang, sebuah gestur yang sangat jarang dilakukan oleh seorang perwira tinggi di depan warga sipil. "Pesawat Hercules yang membawa pasukan ditarik mundur sudah mendarat di Halim setengah jam yang lalu. Tapi..."

Kolonel Arman menghentikan kalimatnya. Ada jeda yang membuat seluruh bulu kuduk Cia berdiri.

"Tapi tim backup yang dipimpin Ren tertinggal di titik evakuasi untuk menahan serangan susulan agar helikopter medis bisa lepas landas," lanjut Arman, suaranya mendadak terdengar lebih serak. "Komunikasi terakhir terputus empat belas jam yang lalu."

Prang!

Tutup cangkir teh yang sedang dipegang mama Cia terjatuh ke atas meja kaca, menimbulkan suara nyaring yang membuat semua orang terlonjak. Mama Cia mulai menangis tertahan. Ayah Cia mengusap wajahnya dengan kasar.

Dunia Cia berhenti seketika. Oksigen di ruang tamu itu seolah tersedot keluar, membuatnya sulit bernapas.

Empat belas jam. Hilang kontak. Tertinggal di titik baku tembak.

Kata-kata itu berputar di kepala Cia seperti kaset rusak. Tiba-tiba, ia teringat wajah dingin Ren di rubanah parkir. Mata elang yang selalu tenang itu. Suara baritonnya yang memerintahkan Cia untuk pulang dan mengunci pintu.

Kamu nggak boleh mati, batin Cia menjerit. Perutnya bergejolak hebat. Rasa takut yang selama tiga minggu ini ia kubur dalam-dalam di bawah kedok ego dan gengsi, akhirnya meledak menghancurkan seluruh dinding pertahanannya. Air mata yang hangat mulai menetes membasahi pipinya tanpa bisa ia cegah.

"Kita batalkan saja," ucap Cia tiba-tiba. Suaranya bergetar hebat.

Semua mata menoleh ke arahnya.

Cia berdiri, meremas ujung gaunnya dengan tangan gemetar. Ia menatap ayah Ren dengan air mata yang terus mengalir. "Kita batalkan pernikahannya, Om. Tolong... suruh mereka cari Ren. Kirim helikopter, kirim pasukan lagi, lakukan apa saja! Jangan pikirkan acara ini. Pernikahan ini nggak penting! Nyawa Ren lebih penting!"

Cia mulai terisak, tak peduli lagi pada harga dirinya. Ia melangkah mendekati ayahnya. "Pa, tolong... bilang sama Om Arman. Batalin semuanya. Cia nggak mau pakai gaun pengantin kalau ujung-ujungnya Ren pulang pakai bendera kuning. Cia nggak mau, Pa!"

Ayah Cia segera berdiri dan memeluk putri bungsunya itu erat-erat. Tubuh Cia bergetar hebat di pelukan ayahnya. Kolonel Arman hanya menundukkan kepala, memejamkan mata rapat-rapat. Ruang tamu itu dipenuhi isak tangis keputusasaan.

Hingga tiba-tiba, suara deru mesin mobil yang berat terdengar memasuki area parkir apartemen.

Suara pintu mobil dibanting. Diikuti oleh langkah kaki yang berat, cepat, dan diakhiri dengan ketukan dua kali di pintu utama apartemen.

Ruangan itu mendadak hening. Tangis Cia tertahan di kerongkongannya. Ayahnya melepaskan pelukan perlahan.

Kolonel Arman berdiri dari duduknya dengan gerakan kaku. "Biar saya yang buka," ucapnya dengan suara parau.

Pria paruh baya itu berjalan menuju pintu utama. Cia menahan napas. Jantungnya berdentum begitu keras hingga telinganya berdenging. Ia menatap kenop pintu yang perlahan diputar. Pintu terbuka ke dalam.

Di ambang pintu, berdirilah sosok itu.

Kapten Ren Adhyaksa.

Ia masih mengenakan seragam loreng PDL-nya yang terlihat kotor oleh lumpur kering dan debu. Helm taktisnya ditenteng di tangan kiri. Wajahnya yang tegas dipenuhi noda tanah dan jelaga hitam. Ada plester kasa medis yang menempel kasar di pelipis kirinya, menutupi luka baru yang darahnya sudah mengering, menyatu dengan bekas luka lama yang pernah Cia lihat.

Napas Ren memburu, dadanya naik turun dengan ritme cepat. Mata elangnya yang biasanya setajam silet, kini memerah dan dipenuhi kelelahan yang luar biasa.

Namun, di detik pintu terbuka, matanya langsung mencari-cari ke sekeliling ruangan, mengabaikan ayahnya, mengabaikan calon mertuanya, hingga tatapan itu terkunci tepat pada sosok Cia yang mematung dengan wajah basah oleh air mata.

Hening yang memekakkan telinga menguasai ruangan.

Ren menegakkan punggungnya yang tampak letih, melangkah masuk selangkah demi selangkah. Aroma tanah, mesiu, dan darah kering seketika menguar, menenggelamkan wangi melati dari dekorasi pernikahan.

Pria itu berhenti tepat dua meter di depan Cia. Ia menatap gadis itu lekat-lekat, rahangnya mengeras sejenak sebelum akhirnya raut wajahnya melembut dalam cara yang belum pernah Cia lihat sebelumnya.

Dengan tangan kanannya, Ren merogoh saku seragamnya yang kotor, mengeluarkan sebuah kotak beludru merah kecil, dan menggenggamnya erat.

"Maaf," suara Ren terdengar serak, parau, dan sangat berat, seolah ia belum minum air selama berhari-hari. Ia menelan ludah, menatap lurus ke dalam mata Cia yang masih berkaca-kaca. "Jalanan dari pangkalan udara sedikit macet. Saya terlambat ikut acara makan malam keluarga."

Cia tidak bisa berkata-kata. Bibirnya bergetar. Tangis yang tadi sempat terhenti kini kembali pecah, namun kali ini bercampur dengan rasa lega yang begitu luar biasa hingga membuat lututnya lemas. Ia merosot turun, namun sebelum tubuhnya menyentuh lantai, sepasang lengan yang kuat dan hangat menangkapnya.

Ren berlutut dengan satu kaki, menahan bahu Cia dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya yang menenteng helm dijatuhkan begitu saja ke lantai.

"Jangan menangis," bisik Ren pelan, nyaris hanya bisa didengar oleh Cia. Jempol kasarnya yang kotor oleh debu bergerak ragu-ragu, lalu perlahan menghapus air mata di pipi Cia.

"K-kamu... kamu orang gila," isak Cia, memukul pelan dada bidang Ren yang terbalut rompi taktis. "Kamu kanebo kering yang gila! Aku pikir kamu mati!"

Bukannya marah, untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ujung bibir Ren melengkung naik sangat tipis. Sebuah senyuman samar yang membuat wajah lelahnya terlihat luar biasa tampan.

"Saya sudah bilang, Cia," ucap Ren, menatap gadis itu dengan intensitas yang seolah mengikat jiwa Cia. "Saya tidak pernah mengingkari janji. Apalagi janji untuk menikahimu besok."

1
NonaAns
Wakakak ngebanyangin ekspresinya 🤣
sri wahyuni
smngat thor
sri wahyuni
/Scowl//Scowl//Scowl/
sri wahyuni
lanjut thor
sri wahyuni
😍😍😍
sri wahyuni
smngat thor
Enz99
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!