Sepuluh tahun lalu, Rani rela mengubur mimpinya menjadi dokter spesialis anak demi memilih cinta. Ia menikahi Roy, seorang duda dengan tiga anak, dan berusaha menjadi istri serta ibu tiri terbaik bagi keluarga yang kini menjadi dunianya.
Namun saat membuka mata di ranjang rumah sakit setelah percobaan bunuh diri yang nyaris merenggut nyawanya, Rani terkejut mendapati dirinya telah berusia tiga puluh sembilan tahun.
Bagi Rani, hari terakhir yang ia ingat adalah saat dirinya masih berusia dua puluh sembilan tahun, penuh ambisi, penuh mimpi, dan belum mengetahui seperti apa masa depannya.
Saat kembali ke rumah, bukannya menemukan keluarga yang mencintainya, Rani justru mendapati suami dan ketiga anak tirinya berdiri di sisi wanita lain. Mereka menuduhnya kejam, manipulatif, bahkan menjadi sumber penderitaan keluarga itu.
Akankah ia kembali menjadi wanita yang selama ini mengorbankan segalanya demi keluarga yang tak pernah memilihnya atau memilih dirinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Rani menyerah tanpa perlawanan saat satpam membawa dirinya ke kamar lalu menguncinya dari luar. Sebenarnya ia bisa saja melawan, tetapi ia masih memikirkan kondisi tubuhnya yang belum benar-benar pulih.
"Apa ini kamarku?" gumam Rani sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
Kamar itu tidak terlalu luas, bahkan ukurannya tak jauh berbeda dari kamar kos sederhana di ibu kota.
"Aku ini nyonya rumah, kan? Tapi kenapa kamarku tidak lebih baik dari kamar pembantu?" keluhnya lagi.
Menurut informasi yang ia dapat dari Rico, Roy kini merupakan salah satu orang terkaya di Jakarta. Statusnya bukan hanya dokter, tetapi juga profesor ternama yang memiliki rumah sakit sendiri. Dengan kehidupan semewah itu, seharusnya dirinya sebagai istri hidup nyaman, bukan malah menjadi wanita menyedihkan seperti sekarang.
Rani berjalan ke arah meja rias. Di sana terpajang foto pernikahannya dengan Roy. Tangannya terulur mengambil bingkai itu lalu mengamatinya lebih dekat.
Dari foto tersebut, terlihat jelas hanya dirinya yang tampak bahagia. Senyum di wajah Roy justru terlihat kaku, seolah pria itu sedang menjalani sesuatu yang tidak benar-benar diinginkannya.
"Harusnya kamu sadar dari dulu, Ran," gumamnya pelan. "Kalau memang benar seperti yang Aksan bilang, kenapa kamu tidak menjauh saja? Kenapa malah memaksakan pernikahan sampai akhirnya terjebak dalam kehidupan seperti ini? Bahkan sampai memilih mengakhiri hidup."
Rani mengembuskan napas panjang sebelum meletakkan kembali foto itu ke tempat semula.
Tubuhnya terasa lengket dan tidak nyaman. Ia memutuskan mencari pakaian ganti sebelum mandi. Langkahnya berhenti di depan lemari, lalu ia membuka pintunya perlahan.
Seketika kedua matanya membulat.
"Ini nggak salah?"
Ia mengucek matanya beberapa kali untuk memastikan apa yang dilihatnya bukan halusinasi. Isi lemari itu hampir seluruhnya terdiri dari daster. Daster bunga, daster polos, daster lengan pendek dan daster lengan panjang. Sementara pakaian yang layak dipakai keluar rumah bisa dihitung dengan jari.
"Astaga..."
Rani memegang salah satu daster itu lalu memeriksa bahannya dengan wajah tidak percaya.
"Sepuluh tahun masa mudaku hilang, dan yang kudapat cuma lemari penuh daster?"
Bibirnya berkedut kesal. "Kalau setidaknya daster mahal aku masih bisa terima. Ini mah daster yang beli seratus ribu dapat empat."
Rani benar-benar merasa ingin menangis. Bukan karena lemarinya berisikan daster, tapi karena menyadari betapa menyedihkannya kehidupan yang telah ia jalani selama sepuluh tahun terakhir.
***
Esok harinya, Roy dan yang lainnya sudah duduk di meja makan. Para pembantu menyajikan berbagai hidangan yang telah dipesan sejak malam sebelumnya. Seperti biasa, mereka mengawali hari dengan sarapan bersama sebelum menjalani aktivitas masing-masing.
"Aksan, Arlan, Arjun, kalian sudah libur beberapa hari. Jadi Papa harap setelah ini kalian lebih fokus pada pelajaran," ujar Roy sambil menatap ketiga putranya.
"Tentu saja, Pa. Terima kasih sudah memberikan liburan tahun baru yang menyenangkan, apalagi bersama Tante Sintia," sahut Arjun dengan polos.
"Yang seharusnya berterima kasih itu Tante," kata Sintia sambil tersenyum lembut. "Terima kasih sudah menganggap Tante sebagai keluarga dan mengajak Tante merayakan tahun baru bersama."
"Tante nggak usah sungkan. Kita ini keluarga," timpal Aksan.
"Benar, Tan," sambung Arlan.
Mendengar itu, senyum Sintia semakin lebar. Namun jauh di dalam hatinya masih tersisa ketidakpuasan.
Seharusnya kebersamaan seperti ini bisa ia nikmati selamanya. Seharusnya ia yang duduk di posisi Rani sekarang. Kalau saja wanita itu benar-benar meninggal setelah percobaan bunuh dirinya beberapa hari lalu.
Sayangnya, Rani masih hidup. Wanita itu seolah memiliki nyawa cadangan yang tak kunjung habis.
"Sialan..." umpat Sintia tanpa sadar.
Keempat lelaki di meja makan langsung menoleh ke arahnya.
Sintia yang baru menyadari kesalahannya buru-buru menundukkan kepala. "Ah, maaf. Aku tiba-tiba teringat ada pasien yang kemarin membatalkan jadwal kunjungan denganku. Lumayan membuat kesal."
"Oh, soal itu?" Roy langsung kembali santai. "Tidak perlu dipikirkan."
Sintia tersenyum tipis. "Aku hanya tidak enak. Kalian semua sudah baik padaku, tapi aku malah membawa masalah sendiri."
"Tante jangan bicara begitu," sahut Arjun cepat. "Tante kan keluarga."
Mendengar kata keluarga sekali lagi diucapkan, mata Sintia sempat berbinar. Namun ia segera menyembunyikannya di balik senyum lembutnya.
"Benar, Tan. Kalau ada masalah, bilang saja pada kami," ujar Arlan.
"Apalagi Papa," tambah Aksan sambil melirik Roy. "Papa pasti akan membantu."
Roy mengangguk singkat. "Kalau memang ada yang bisa kubantu, katakan saja. Kalau bukan karena kamu yang menyelamatkan kami sepuluh tahun lalu, entah apa yang akan terjadi pada keluarga ini."
"Benar, Tan," sahut Aksan. "Kami bahkan mungkin tidak akan bisa berkumpul seperti sekarang."
"Makanya Tante jangan sungkan meminta bantuan," tambah Arlan.
"Karena Tante pahlawan untuk kami," timpal Arjun.
"Terima kasih, Mas. Dan kalian semua," jawab Sintia dengan senyum canggung yang disembunyikannya.
Sintia tidak ingin terlalu lama menikmati pujian dari keempat lelaki itu. Tujuannya hanya satu, menyingkirkan Rani dari keluarga ini dan menggantikan posisinya sebagai nyonya rumah.
"Mas, Kak Rani sudah pulang, kan?" ucap Sintia lembut. "Apa tidak sebaiknya dia ikut sarapan bersama dan mengurus anak-anak?"
Tentu saja yang dimaksud Sintia dengan mengurus bukanlah menjaga layaknya seorang ibu. Selama ini Rani lebih sering diperlakukan seperti pelayan yang harus memenuhi semua kebutuhan keluarga itu.
"Tante benar, Pa," sahut Aksan. "Aksan pikir Mama sudah menyadari kesalahannya dan tidak akan bertindak semena-mena lagi."
Roy terdiam sejenak.
Melihat itu, Sintia kembali menambahkan, "Aku juga sudah melupakan masalah kemarin, Mas. Lagi pula Kak Rani itu ibu sekaligus nyonya rumah ini. Nanti apa kata orang kalau dia dikurung di kamar, sementara aku yang justru duduk di sini bersama kalian?"
Mendengar ucapan Sintia, Roy akhirnya mengangguk.
"Suruh dia keluar."
Salah satu pembantu segera pergi ke lantai atas untuk membuka kamar Rani.
Beberapa menit kemudian—
Brak!
Suara kursi yang bergeser membuat seluruh perhatian di meja makan beralih ke arah tangga. Rani muncul dengan langkah santai.
Semua orang terdiam. Bukan karena kemunculannya melainkan karena penampilannya.
Wanita itu mengenakan kemeja putih longgar dengan lengan yang digulung hingga siku. Rambut panjangnya diikat sederhana ke belakang. Wajahnya memang masih terlihat pucat, tetapi untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun ia tampak seperti wanita berusia dua puluh sembilan tahun yang penuh percaya diri.
Sintia langsung menyipitkan mata dan langsung meyakini ini bukan Rani yang ia kenal yang biasanya mengenakan daster lusuh, mengikat rambut seadanya, lalu sibuk mondar-mandir melayani semua orang di meja makan.
"Pagi," sapa Rani santai.
Sayangnya tidak ada yang menjawab.
Arlan yang lebih dulu tersadar dari keterkejutannya langsung menarik kursi yang berada di dekatnya saat melihat Rani hendak duduk.
"Jangan duduk di sini," ujarnya ketus. "Dan jangan terlalu dekat dengan kami."
Rani mengangkat sebelah alisnya. Tatapannya bergantian mengarah ke Arlan, Aksan, lalu Arjun.
Ketiga pemuda itu balas menatapnya seolah sedang menunggu sesuatu.
Rani pun ikut menunggu.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Tidak ada yang bergerak. Akhirnya Sintia angkat bicara sambil tersenyum manis.
"Kak, Aksan, Arlan, dan Arjun menunggu Kakak mengambilkan makanan untuk mereka."
Rani menoleh ke arah meja yang penuh dengan hidangan lalu kembali menatap Sintia.
"Tangan mereka patah?"
merekam untuk bukti itu perlu mang km bisa lawan tanpa bukti aneh.
kl sadar lemah hrse jd wanita Pinter tak tik atau gk ya licik biar bisa cari celah bukti.
itu kriminal ga buat main" kalau tidak di tindak lanjuti akan sangat berbahaya OMG ,,Rani ayo buka kedok si Kunti bogel be smart don't be stupid ran kan dah tau akan seperti apa dirimu kalau ga sat set
nunggu dua hari lagi
amnesia itu lupa ingatan aduh bodoh nya kamu
ran lebih Mak jleb lagi dong kamu kan tau alur nya
suami bego
lanjutkan 🙏🙏