NovelToon NovelToon
Takdir Di Ujung Janji

Takdir Di Ujung Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Menikahi tentara
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: NonaAns

Aira dan Baskara sama-sama tidak menginginkan perjodohan kedua orang tua mereka, tapi mereka memiliki kesamaan, yaitu enggan mengecewakan kedua orang tua yang sangat mereka hormati.

***

Janji masa lalu Hendra dan Gunawan untuk menjodohkan anak-anak mereka menjadi awal baru yang tak terduga bagi Aira dan Baskara.
Awalnya, Aira dan Baskara berpikir bahwa pernikahan adalah hal sederhana dan mudah. Namun, ternyata semua tidak sesederhana yang dibayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaAns, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 : Pesan Mengejutkan

Baskara : Aira, aku ada latihan, jadi kemungkinan nggak akan pegang hp sementara waktu. Kalau ada perlu, kamu chat aja. Kalau sudah bisa aktif, aku pasti akan balas.

Aira tersenyum. Bingung sendiri hendak membalas apa pesan singkat dari Baskara itu.

Aira : Oke. Hati-hati dan sukses latihannya.

Baskara menatap ponselnya dan tersenyum tipis sebelum menonaktifkan ponsel pintarnya dan memasukkan ke dalam loker. Baskara terperanjat manakala sahabatnya, Panca tanpa ia sadari sejak tadi sudah memperhatikan Baskara.

"Apa lo?" tanya Baskara sedikit nyolot.

"Gue heran aja, kulkas seribu pintu bisa senyum sama hp? Emang ada siapa sekarang di hp lo?" tanya Panca penasaran.

Baskara mengambil senjatanya dan bersiap untuk berbaris di lapangan.

"Rahasia!"

"Punya cewek lo, Bas? Jadinya sama siapa? Ponakan Mayor Teddy? Atau Jelita anaknya Danyon?"

"Ish! Bukan."

"Lha? Terus cewek mana lagi sekarang?"

Panca menatap heran sahabatnya itu. Sejak sama-sama duduk di bangku SMA, Baskara memang banyak penggemar perempuan karena wajahnya yang tampan dan kemampuannya bermain basket. Lebih-lebih sekarang sudah resmi jadi tim seragam loreng. Makin-makin cewek yang antri mengejar cinta Baskara.

"Sialan! Kesannya gue banyak banget ceweknya."

"Ya elah, kayak nggak ada yang ngejar aja. Miris gue ni, cuma kebagian sampein salam sama hadiah buat lo doang. Nggak ada timbal baliknya," kesal Panca.

Baskara tertawa. Ia sudah berbaris rapi dengan menggendong tas besar berisi parasut. Ia dan teman-teman Tim Alpha berkumpul untuk melakukan koordinasi terakhir sebelum misi penyelamatan sandera berlangsung.

"Sesuai rencana awal, kita akan melakukan infiltrasi melalui udara menuju titik kumpul yang sudah kita sepakati. Kita akan berjalan menyusuri Sungai Na dan akhirnya tiba di kaki gunung Maros. Menurut intelejen di lapangan, posisi sandera ada di sisi timur Gunung Maros. Kita akan masuk dari sisi tenggara. Lokasi terdekat.

"Misi ini rahasia. Tidak ada identitas pribadi dan satuan. Pimpinan ingin misi ini berlangsung cepat, tepat, dan rahasia. Mutiara yang akan kita selamatkan adalah dua orang jurnalis yang ditawan oleh kelompok kriminal bersenjata Pimpinan Key. Bawa mutiara kembali ke rumah dan bumi hanguskan musuh!" ucap Kapten Aga, komandan operasi yang bertugas.

Pesawat Hercules bersiap lepas landas. Tim Alpha sudah berada di dalam pesawat menunggu saat yang tepat untuk penerjunan.

"Bersiap!"

Alarm tanda pintu dibuka berbunyi. Lampu indikator di ujung pintu masih menyala merah. Petugas pun meminta tim agar bersiap-siap melakukan penerjunan.

"Asembly Area (AA) 7°4'49.05"."

Baskara berjalan tegap menatap keluar pintu pesawat. Ia menjadi penerjun pertama dalam misi kali ini. Beberapa kali Baskara mengembuskan napas panjang menunggu perintah penerjunan. Tiba-tiba, entah mengapa bayangan wajah Aira terlintas dalam benaknya.

Ah, kenapa Aira? Batin Baskara.

Ia memejamkan mata, mencoba kembali meraup fokusnya sebelum akhirnya kode lampu penerjunan menyala hijau. Tanpa ragu, Baskara melompat salto dari bibir pintu pesawat diikuti tim Alpha lainnya. Baskara memasang alat di tangannya sesuai dengan koordinat titik kumpul yang diberikan. Ia pun meluncur ke titik koordinat yang disepakati dan mendarat sempurna.

Baskara dan tim Alpha lainnya segera melipat parasut mereka dan menyembunyikannya di balik semak-semak agar tidak ketahuan musuh.

Kapten Aga meminta seluruh anak buahnya untuk kembali berkumpul. Ia melakukan panggilan radio pada Musang, seorang intelejen lapangan yang ditugaskan di sekitar Gunung Maros.

"Musang, di sini Phoenix. Tim siap serang," ucap Kapten Aga dalam komunikasinya.

"Siap. 8°7'40.65". Mutiara dua."

Kapten Aga mengangguk paham ia memberikan perintah pada anak buahnya agar segera bergerak sesuai dengan arahan intelejen lapangan.

Tim Alpha mulai berlari, mereka mengarahkan senjata ke depan. Posisi tubuh sedikit merunduk dengan kamuflase pakaian serba hitam dan wajah yang dipenuhi tinta hitam pula.

"100 meter tersisa!" ucap Baskara dalam sambungan komunikasinya.

"50 meter tersisa!"

Kapten Aga tiba-tiba memberi kode kepalan tangan. Seluruh tim akhirnya berhenti di tempat. Mereka mencari perlindungan masing-masing.

Baskara mengintai dengan tele pada senjatanya. Dua orang anak buah Key sedang berpatroli.

"Cari posisi sandera," ucap Kapten Aga.

Baskara berucap siap. Ia segera mengganti riffle scope pada senjatanya dengan termal scope agar dapat mendeteksi panas tubuh alami manusia. Baskara mulai memindai dengan cepat.

"Dua mutiara di gubug paling belakang, Kapt," ujar Baskara penuh keyakinan.

Kapten Aga mengangguk tegas. "Bersiap untuk kontak senjata. Panca tangani dua tikus ini, yang lain menyerang, Baskara fokus selamatkan dua mutiara. Dapat dimengerti?" ucap Kapten Aga yang segera mendapat sahutan siap dari seluruh anggota tim.

Panca mulai membidik dari atas pohon. Seragamnya berkamuflase dengan lingkungan sekitar. Ia adalah seorang penembak runduk. Membidik target dari kejauhan adalah keahliannya. Saat Panca mulai menyerang, kemudian anggota tim lain ikut menyerang, membuat kelompok Key terkejut menerima serangan dadakan.

Baskara dengan langkah cekatan langsung menuju titik penyekapan dua orang sandera.

"Tenang, saya tentara. Saya akan membuka ikatan Anda," ucap Baskara mencoba menenangkan dua orang sandera itu.

Tali dibuka satu per satu. Namun, saat Baskara hendak membuka tali sandera terakhir, seorang musuh menyerang Baskara dengan belati. Pisau itu menggores bagian pinggangnya. Baskara berdesis, tapi segera mengantisipasi serangan lanjutan.

Musuh kembali melayangkan belatinya, tapi kali ini, Baskara dapat menghindar dan melayangkan tendangan pada musuh sebelum akhirnya mengakhiri pertarungan dengan dua buah tembakan. Musuh tewas seketika!

Baskara menyentuh area lukanya, darah segar mulai mengalir, tapi Baskara tidak boleh mempedulikan rasa sakitnya, menyelamatkan sandera jauh lebih penting. Ia pun segera membawa dua sandera itu keluar dari gubug.

"Dua mutiara menuju titik penjemputan!" ucap Baskara seraya berlari bersama dua orang sandera.

"Kerja bagus! Yang lain, bersiap untuk membumi hanguskan," ucap Kapten Aga.

Raditya, salah seorang anggota tim mengeluarkan dua buah bom dan meletakkannya di dua area yang berbeda di sekitar lokasi musuh. Mereka bergegas pergi menjauh dan bom diledakkan.

"Dua mutiara aman. Bersiap untuk penjemputan," ucap Kapten Aga.

Mereka berjalan menuju titik penjemputan guna menunggu helikopter penyelamat yang akan menjemput mereka. Tak berselang lama, helikopter datang. Dengan cepat dua orang sandera masuk diikuti seluruh anggota tim Alpha.

Baskara menatap ke bawah. Ia dan timnya kembali berhasil menjalankan misi. Rasa sakit dipinggangnya seolah hilang. Namun, darah segar masih terus mengalir dan hal itu menarik perhatian Panca.

"Suh, lo luka?" tanya Panca mulai panik saat melihat darah yang menetes di samping Baskara.

Baskara mengerutkan dahi. Ia memegang bagian yang terluka sambil tersenyum.

"Dapat pahatan cantik. Aman aja, Suh," jawabnya santai.

Sesampaikan di pusat komando dan usai melaporkan keberhasilan operasi penyelamatannya pada pimpinan, Baskara segera mengambil kotak p3k, membersihkan luka yang masih menganga dengan cairan infus, lalu memberikan betadine sebelum menutup luka itu dengan perban.

"Kayaknya luka lo butuh dijahit, Bas," ucap Panca yang mendekati Baskara usai membersihkan diri.

"Nanti ajalah. Udah baikan."

Baskara membuang napas kasar. Ia bersyukur karena dirinya masih diberi keselamatan. Baskara mengambil ponsel yang ia tinggalkan dalam lokernya. Ia mulai mengaktifkan ponsel itu dan ingin segera menghubungi Aira. Entahlah, sepanjang misi operasi berlangsung ia terus memikirkan Aira.

Satu pesan masuk.

Aira : Bas ... papa meninggal.

Seketika Baskara berdiri dari tempat duduknya. Matanya membulat sempurna menatap pesan yang baru saja masuk ke ponselnya. Tanpa pikir panjang, Baskara segera berlari menuju mobil Pajero sport yang terparkir di halaman parkir markasnya. Ia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah kediaman Aira.

Jantungnya berdegup kencang. Napasnya mulai tidak beraturan saat melihat serangkaian karangan bunga dukacita yang berjajar di pintu masuk perumahan tempat tinggal Aira. Baskara berjalan perlahan. Ia masih mengenakan kaos hijau army dan celana loreng. Bahkan sepatu PDL masih ia pakai. Seluruh mata tertuju pada Baskara yang berjalan pelan menuju rumah Aira. Cat hitam di wajah Baskara juga belum sempat ia bersihkan sempurna.

Baskara terdiam saat ia sampai di rumah kediaman Aira. Peti jenazah sudah di depan mata dan ia melihat Aira yang menangis tersedu-sedu sembari memeluk peti. Baskara berjalan mendekat.

"Aira?"

Aira mendongak. Ia menatap Baskara dan kembali menangis. Melihat itu, Baskara tanpa ragu menarik Aira dalam pelukannya.

"Papa nggak ada. Papaku udah nggak ada," ucap Aira di sela tangisannya.

Baskara diam. Ia tidak banyak bicara. Tatapannya terus mengarah pada peti jenazah tempat Hendra bersemayam.

Saya tetap akan menjaga janji saya, Om, batin Baskara .

____________________

1
Ema Soleha
ceritanya bagus,tapi iklanya MasyaAllah....bikin nyebut,iklanya udah ngelebihi apliksi novel berbayar
Ana Dww
/Sob/maaf bas, wanita punya prinsip sedia payung sebelum hujan walau itu kemarau
NonaAns: 🤣 iya lagi wkwkwkwk
total 1 replies
Nasyya
👍🏻👍🏻
Nasyya
wadidauw 🤣
Ana Dww
waittt!
Ana Dww
kalau nggak, paling parah jelita hamil anak orang😶
Ana Dww
ya emang jelita bohong!
Ana Dww
/Determined/
Ana Dww
😭😭😭😭 Istri lo abis ngamukkk
Ana Dww
tetap negatif thinking jelita bohong karena suka ibasss
Ana Dww
😭😭😭
Agustinus Wisnugroho
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!