NovelToon NovelToon
Sistem 2bit: Dari Sampah Jadi Dewa

Sistem 2bit: Dari Sampah Jadi Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Sistem / Harem / Komedi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: HAMBALANGVERSE

Raka Pratama pernah menjadi kebanggaan keluarganya.

Bakat luar biasa. Masa depan cerah. Tunangan idaman.

Sampai sebuah misi menghancurkan meridiannya.

Kultivasinya mandek. Pertunangannya dibatalkan. Keluarganya membuangnya ke gubuk tua di pinggir desa.

Saat semua orang menganggap hidupnya telah berakhir, sebuah warisan kuno terbangun.

Sistem 2Bit.

Sistem murahan yang mengaku dirinya kelas dua.

Tapi bagi yang sudah kehilangan segalanya, kesempatan sekecil apa pun sudah cukup.

Mereka mengira kisah Raka telah berakhir.

Padahal baru dimulai.


━━━━━━━━━━━━━━━

⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️

Genre:
#Cultivation
#System
#Action
#Fantasy
#Harem
#Revenge
#Survival
#Hambalangverse.


🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Raka terbangun bukan oleh sinar matahari, tapi oleh suara.

Suara perempuan. Bernyanyi. Pelan. Merdu. Seperti aliran air di sungai kecil yang jauh.

Dia membuka mata.

Di sudut gubuk, Laras duduk bersila. Tangannya merapikan rambut kusutnya sendiri. Bibirnya bergerak, melantunkan lagu tanpa kata yang jelas. Wajahnya sudah tidak sepucat kemarin. Bahkan terlihat sedikit segar.

Raka mengamatinya sebentar. Gadis ini. Semalam hampir mati. Sekarang sudah bisa duduk dan bernyanyi.

[!] Scan selesai. Subjek 'Laras' sadar sejak satu jam lalu.

Raka menghela napas. Duduk, mengucek mata. Tulang-tulang di jarinya masih sakit dari pertarungan kemarin.

"Kamu bangun," kata Laras begitu sadar Raka sudah membuka mata. Suaranya tenang, tidak ada rasa utang budi yang berlebihan.

"Iya." Raka meregangkan tangan. "Kok kamu sudah bangun? Luka kamu?"

"Sudah jauh lebih baik." Laras menunjukkan lengannya. Perban darurat dari sobekan baju Raka masih melilit. Darah sudah berhenti, lukanya mulai mengering. "Obat kamu ampuh. Akar Berduri Emas, kan?"

Raka mengangguk.

"Aku tahu tanaman itu. Mahal. Biasanya dijual ke apotek desa." Laras menatap Raka. Matanya tidak menghindar, tatapannya jernih dan waspada. "Kamu pakai itu untuk aku. Padahal aku orang asing."

"Kamu bukan orang asing. Kamu Laras."

Laras tersenyum kecil. Senyum tipis, tidak manis berlebihan. "Baru kenal semalam."

"Itu sudah cukup."

Raka berdiri. Tubuhnya pegal. Dia berjalan ke pintu, menyibak kain lapuk.

[!] Status Host: Kondisi fisik menurun. Saran: istirahat.

"Kamu lihat sendiri gubuk ini."

"Nanti aku balik ke hutan. Ada urusan belum selesai," kata Raka.

"Ambil Akar Berduri Emas lagi?"

Raka mengangguk. "Tugas."

"Aku ikut."

Raka menoleh. Alisnya terangkat. "Kamu belum sembuh."

"Aku sudah cukup sembuh."

"Luka di perut kamu masih..."

"Aku sudah balut ulang tadi pagi." Laras berdiri. Tubuhnya goyah sesaat. Tangannya cepat menopang dinding kayu yang rapuh. Tapi dia tidak jatuh. Napasnya tertahan, wajahnya meringis halus sebelum kembali datar. "Aku tidak akan jadi beban. Aku janji."

Raka menatapnya.

Gadis itu balas menatap. Matanya bulat. Teduh. Tapi ada tekad keras di sana. Bukan tekad pahlawan, tapi tekad orang yang tidak mau menyusahkan.

[!] Deteksi anomali perilaku.

[!] Subjek menghindari kontak mata pada tiga pertanyaan berurutan.

[!] Ketidaksesuaian data meningkat.

Raka tidak bertanya. Dia mencatat saja.

"Oke," katanya akhirnya. "Tapi kamu ikuti perintah aku. Kalau aku bilang lari, kamu lari. Kalau aku bilang diam, kamu diam. Ngerti?"

Laras mengangguk. "Ngerti."

"Dan jangan teriak-teriak. Bisa panggil makhluk buas."

"Siap, Raka."

Raka menyipitkan mata. "Kamu tipe yang suka bercanda?"

Laras tersenyum. "Sedikit. Asal tidak dalam bahaya."

"Kita akan masuk ke hutan yang penuh monster. Itu bahaya."

"Ya sudah. Aku tidak akan bercanda."

Raka menggeleng.

Mereka berdua masuk ke hutan.

Pagi hari tidak lebih terang dari sore. Kanopi pohon tetap halangi sinar matahari. Udara lembab. Dingin menusuk kulit.

Raka berjalan di depan. Laras di belakang. Jarak satu meter. Langkahnya pelan, teratur, menyesuaikan ritme Raka.

Di belakangnya, Laras berjalan pelan. Sesekali tangannya menekan perut secara refleks. Raka tahu. Tapi tidak bilang.

Dua puluh menit kemudian, Raka angkat tangan. Laras langsung berhenti. Tanpa tanya.

"Apa?" bisik Laras.

Raka tunjuk ke kanan.

Di balik semak, aliran sungai kecil. Air jernih. Di tepinya, tanaman berdaun keperakan.

"Akar Berduri Emas. Delapan batang."

Raka menyipitkan mata. Di sebelah kanan tanaman itu, seekor babi hutan besar sedang tidur. Bulu hitam. Taring panjang melengkung. Kulitnya tebal seperti batu.

"Babi Batu," bisik Laras. "Tahap 3. Pertahanan kuat. Gerakannya lambat. Matanya sensitif cahaya."

"Kelebihan dan kelemahan?"

"Kelebihan: pertahanan kuat. Kelemahan: gerakannya lambat. Matanya sensitif cahaya."

Raka mengangguk. "Aku alihkan perhatiannya. Kamu ambil tanamannya."

Laras menatap Raka. "Aku? Tapi..."

"Kamu lebih kecil. Lebih cepat. Kamu tahu cara mencabut yang benar."

Laras mengatupkan bibir. "Tapi kalau babi itu bangun..."

"Aku yang urus."

Raka berdiri. Berjalan ke arah babi hutan itu. Langkahnya pelan. Tidak ada suara.

Babi itu tidur. Tidak bergerak.

Raka ambil batu kecil. Melempar ke pohon di belakangnya.

Krek.

Babi itu terbangun. Mata merah menyala. Mendongak.

Raka bersiul. Nada rendah.

Babi itu menoleh. Melihat Raka. Menggeram. Suaranya berat, membuat tanah bergetar halus.

Raka tersenyum tipis. "Halo, gendut."

Babi itu berdiri. Kakinya kokoh.

Raka berlari.

Babi itu mengejar. Langkahnya berat, tapi kecepatannya mengejutkan.

[!] Peringatan: Target lebih cepat. Ancaman tinggi.

"Tak perlu kau ulang."

Raka berhenti tiba-tiba. Membalikkan badan.

Babi itu kaget. Berhenti juga. Hidungnya mendengus.

Raka kumpulkan energi di tangan kanannya. Tulang-tulang jarinya sakit. Tapi dia tinju. Sasaran: mata kiri.

BRAK!

Babi itu tersentak ke belakang. Matanya berputar. Tapi tidak jatuh. Kulitnya keras. Tangan Raka terasa seperti memukul tembok batu.

[!] Analisis: Dampak serangan rendah terhadap pertahanan target.

"DIAM."

Raka tinju lagi. BRAK! Dua kali. BRAK! Sasaran: mata kanan.

Darah hitam pekat menyembur dari kedua mata babi itu. Kepalanya tergoyang hebat. Orientasinya hilang.

Namun, Babi Batu tidak langsung kabur.

Ia meraung. Suara yang memilukan telinga. Meski buta, insting membunuhnya tetap aktif. Tubuhnya yang seberat gerobak menerjang liar ke arah sumber suara terakhir.

DUAR!

Pohon jati setebal paha manusia tumbang dihantam tubuhnya.

KRACK!

Pohon kedua retak parah. Tanah bergetar setiap langkah kakinya yang menginjak-injak tanah kosong, mencari mangsa. Raka harus berguling ke samping untuk menghindari hantaman taring yang mengayun di udara.

Ancaman ini nyata. Satu saja kena, tulang Raka akan remuk.

Babi itu terus mengamuk selama sepuluh detik yang terasa seperti satu jam. Napasnya memburu, darah hitam menetes deras dari rongga matanya yang hancur.

Akhirnya, karena kehilangan orientasi total dan rasa sakit yang luar biasa, ia mengubah arah. Menabrak semak-semak dengan brutal, lalu lari terbirit-birit ke kedalaman hutan. Meninggalkan jejak kehancuran.

Raka berdiri di tempatnya. Dadanya naik turun. Tangan kanannya gemetar hebat. Buku-buku jarinya lecet, darah segar menetes.

[!] Target mundur. Lanjutkan tugas: pengambilan tanaman.

Raka mendengus. Berjalan tertatih ke tepi sungai.

Laras sudah di sana. Tangannya penuh dengan Akar Berduri Emas. Cara mencabutnya rapi, akarnya utuh, tidak rusak.

"Aku ambil semuanya. Delapan batang."

Laras menyerahkan enam batang terbaik kepada Raka.

"Ini bagianmu," katanya datar.

Raka mengangkat alis. "Bagianku?"

"Yang mencabut aku. Yang hampir ditanduk juga kamu." Laras menyimpan dua batang sisanya—yang ukurannya lebih kecil—ke dalam kantong kainnya. "Aku butuh obat juga. Tapi aku tidak serakah."

Raka menerima enam batang itu. Gestur Laras praktis. Tidak dramatis. Tidak terlalu suci. Hanya transaksi bertahan hidup yang adil.

"Bagus," kata Raka.

"Aku lihat tadi." Laras menatap Raka. Tatapannya serius, tidak ada pujian kosong. "Kamu hebat."

"Aku cuma beruntung."

"Tidak. Kamu berani." Laras tidak berkedip. "Babi Batu itu ganas. Tapi kamu tidak mundur."

Raka angkat bahu. "Takut tetap takut. Cuma lari juga belum tentu selamat."

Laras menunduk. Tidak menjawab. Tangannya meremas akar berduri emas di genggamannya. Duri-durinya menusuk telapak tangannya sendiri. Dia tidak mengeluh.

[!] Deteksi vital: Detak jantung Host meningkat drastis.

Punggung Raka menegang. "Diam," bisiknya.

"Apa?"

"Diam."

Raka pejamkan mata. Suara langkah kaki. Banyak. Teratur. Bukan hewan.

"Tujuh orang."

Laras remas ujung bajunya sendiri. Wajahnya pucat. Bukan karena sakit luka, tapi karena ketakutan yang nyata. "Keluarga... mungkin pengawal yang meninggalkanku kemarin."

"Pengawal yang kabur?"

Laras mengangguk.

"Mereka balik nyari kamu?"

Laras alihkan pandangan. Menatap tanah. "Atau... mereka balik untuk memastikan aku mati."

Raka tidak tanya lebih lanjut. Dia tarik tangan Laras. Bawa ke balik pohon besar. Batangnya lebar, menyembunyikan mereka berdua.

Suara langkah kaki semakin dekat. Gemerisik daun kering.

Lalu terdengar suara seseorang. Jauh. Tapi jelas terbawa angin.

"Bunuh gadis itu. Jangan sampai hidup. Kalau dia hidup, rencana batal."

Raka kepal tangan. Rasa sakit di jari-jarinya menjadi fokus.

Ini bukan penyelamatan. Ini pemburuan.

[!] Deteksi vital: Detak jantung Host dan Laras meningkat.

"Aku tahu."

[!] Probabilitas selamat jika meninggalkan Laras: 70%.

Raka tersenyum tipis. Senyum dingin. "Hitungan yang buruk."

[!] Host memilih tetap bertahan. Simulasi ulang...

[!] Probabilitas selamat Host direvisi: 12%.

Raka ambil posisi. Bukan untuk lari. Tapi untuk bertahan. Punggungnya menempel pada batang pohon. Napasnya diatur. Tenang.

[!] Simulasi pertempuran: Tujuh lawan satu. Risiko fatal: Sangat Tinggi.

"Sudah biasa."

Raka lihat Laras sekilas. Gadis itu gigit bibir. Matanya basah. Tapi dia tidak menangis. Tidak panik. Tangannya menggenggam pedang patahnya. Siap.

"Laras."

"Apa?"

"Nanti kalau aku bilang lari, kamu lari. Jangan tanya. Jangan lihat ke belakang. Langsung lari."

"Tapi..."

"Janji."

Laras menunduk. Lalu angguk pelan. Satu kali. Tegas.

"Janji."

Raka tatap ke depan. Melalui celah daun, dia melihat siluet tujuh orang itu mulai menyebar. Jubah hitam. Pedang di pinggang.

[!] Estimasi waktu kontak: Tiga puluh tarikan napas.

"Cukup."

Raka pejamkan mata. Hitung napas. Satu. Dua. Tiga.

Lalu buka mata.

Matanya tidak lagi kosong. Tidak ada keraguan. Hanya fokus tajam. Dingin.

[!] Status: Siaga Penuh.

Raka tidak menjawab. Dia hanya menunggu.

Angin berhembus. Daun bergeser.

Langkah kaki semakin dekat.

Satu menit.

Dua menit.

Tiga menit.

Raka menarik napas dalam. Otot-ototnya menegang. Energi mengalir lancar di meridiannya yang bersih.

Dia siap.

Bersambung.

1
Chen Haoran
Bagus toh sistem nya lucu
KZ2: Kalau gw tulis sejarahnya sistem 2bit bakalan jadi 10 bab🚬🗿🤣.
thanks udah mampir
total 1 replies
Chen Haoran
menurut ku ini menarik di setiap kata-katanya ada dialog yang interaktif dan tidak kelihatan kaku🙏
Chen Haoran: yap euy
total 2 replies
Chen Haoran
lucu euy sistem nya bisa becanda 🤣
KZ2: wkwkkw emang novel absurd
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!