NovelToon NovelToon
My Favorite Customer

My Favorite Customer

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:780
Nilai: 5
Nama Author: Rygobii_15

Gimana rasanya suka sama customer sendiri?
Kalau customer-nya jomblo, oke lah... masih bisa dideketin pelan-pelan.

Lah, aku?

Aku ajah kerja di toko bunga.

Yang artinya, sebagian besar customer-ku datang buat beli bunga untuk pacarnya, calon istrinya, atau bahkan istrinya beneran.

Sial banget nggak sih?

Gini nih kalau kelamaan jomblo. Sekalinya suka sama cowok, malah suka sama cowok yang kemungkinan besar udah ada yang punya.

Huhuhu.

Tapi tenang, aku tahu diri kok.

Aku cuma mengaguminya dari jauh.

Lagian, mana mungkin ada kisah cinta antara karyawan toko bunga biasa sepertiku dengan customer yang cuma datang sesekali?

...kan?

Atau jangan-jangan, semesta memang sedang menyiapkan sesuatu yang nggak pernah aku duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rygobii_15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

gara-gara lubang

Sabtu sore selalu punya rasa yang beda.

Bukan karena lebih tenang, Tapi karena semua orang seperti punya alasan untuk berhenti sebentar dari hidupnya.

Termasuk Wulan, sekarang dia lagi duduk di tempat makan pinggir jalan bareng Siwi, meja kecil mereka penuh dengan jajanan.

Ada gorengan, minuman dingin, dan cemilan random yang mereka beli tanpa mikir dua kali.

“Gue laper tapi males makan berat,” kata Wulan sambil nyomot satu gorengan.

Siwi ketawa kecil."Jadi lo beli semua yang bisa dikunyah?”

“Iya. Kenapa? Ada masalah?”

“Masalahnya itu dompet gue juga ikutan nangis.”

Wulan langsung ketawa.

“Yaudah next gue traktir.”

“ janji ya pren"

“Janji.”

Mereka makan sambil ngobrol santai, bahas hal random, sampai akhirnya pelan-pelan masuk ke topik yang Siwi suka banget gangguin. “Gimana kerja lo sama si Saka itu?”

Wulan langsung berhenti makan “…kenapa dia lagi?”

“Ya kan hidup lo lagi itu-itu aja belakangan ini.”

Wulan langsung cemberut. “Gue kerja profesional ya.”

“ iya iya deh .” senyum jahil siwi

“Profesional tapi tadi cerita dia ngeliatin lo kerja.”

Wulan langsung nunjuk Siwi. “ itu itu normal ya pret!”

“Normal dari mana coba.” tanya siwi lagi

“Dari… dunia kerja!”

Siwi ketawa lagi.

Tapi Wulan nggak lanjut debat.

Dia malah nyender. “…dia tuh aneh sih.”

“Aneh gimana?” tanya siwi penasaran

“Diem. Tapi kalau ngomong kayak udah punya jawaban duluan.”

Siwi mengangguk pelan. “Orang kayak gitu biasanya bikin orang lain kepikiran.”

Wulan langsung melotot.

“ wet stop yaa”

Waktu berjalan cepat tanpa mereka sadar.

Langit mulai gelap Lampu jalan mulai nyala satu-satu.

“Eh udah malem,pulang yuk” kata Siwi sambil lihat jam di HP.

Wulan berdiri, ngelap tangan." ayolah capek juga gue.”

Motor mereka masih melaju di jalan raya yang tidak terlalu ramai.

Angin malam terasa agak dingin, dan Siwi masih nyetir sambil ngobrol santai sama Wulan yang duduk di belakang.

“Wi pelan dikit, anginnya nusuk muka gue,” Wulan protes sambil ketawa kecil.

“Yee siapa suruh duduk di belakang.”

“Ya kan gue nggak bisa nyetir peaa!”

Mereka masih bercanda sampai melewati satu bagian jalan yang agak rusak.

Ada lubang cukup besar di sisi jalur, ketutup bayangan malam.

Siwi berusaha menghindar, tapi ban belakang sedikit kehilangan keseimbangan.

“Ehhhh—”

BRUKK.

Motor oleng keras.

Wulan langsung refleks pegangan kuat ke Siwi.

“WOY WOY!”

Tapi karena posisi tidak stabil, motor akhirnya jatuh pelan ke sisi jalan.

Bukan jatuh keras, tapi cukup bikin mereka berdua terdorong ke aspal.

“ADUH!” Siwi langsung protes sambil bangun setengah panik.

Wulan terduduk di pinggir jalan, menahan sakit di lengannya.

" aduh wii”

“Gue juga nggak sengaja!”

Beberapa pengendara yang lewat langsung melambat.

“Lho, jatuh?” salah satu orang dari motor lain berhenti.

" ya lu kira jir rebahan" jawab wulan pelan

Dua orang pengendara lain ikut menepi membantu.

“Gapapa mb? Kena apa?”

Wulan mencoba berdiri, tapi langsung meringis pelan.

“Lengan gue…”

Siwi langsung panik kecil.

“Eh jangan dipaksa dulu!”

Salah satu pengendara membantu mengangkat motor ke pinggir jalan yang lebih aman.

Suasana jadi sedikit ramai sebentar.

Di tengah keramaian itu, sebuah mobil berhenti tidak jauh dari mereka.

Lampu hazard menyala.

Pintu terbuka.

Saka turun.

Wulan langsung diam.

“…lah?”

Matanya langsung fokus.

“Lo…”

Saka melihat situasi, lalu ke arah Wulan yang masih memegangi lengannya.

“Kenapa?”

Siwi langsung jawab cepat. “Jatuh, Pak! Ketabrak lubang!”

Wulan langsung nendang pelan kaki Siwi. “Ngapain sih jawab kayak laporan!”

Saka tidak banyak komentar.

Tapi matanya langsung turun ke lengan  kiri wulan.

“Luka?”

Wulan buru-buru menggeleng. “Enggak, cuma sakit dikit…”

Saka mengamati sebentar. "perlu diobati dulu deh.”

Wulan langsung refleks. “Enggak kok, gausah ini juga bisa langsung pulang.”

Saka belum menjawab.

Siwi langsung nyeletuk. “Yaudah bawa ke klinik aja, Lan.”

Wulan langsung menoleh kaget.

“EH enggak usah!”

Siwi malah lanjut, santai.

“Udah, nurut aja deh. Gue aman kok, nanti ada yang bantu anter gue juga itu luka lo obati dulu nanti kabari aja.”

Seorang pengendara lain yang masih di situ mengangguk.

“Bisa, saya sekalian searah.”

Wulan masih ragu.

“…tapi—”

Saka membuka pintu mobil lebih lebar sedikit.

“ ayo Sekadar cek.” Nada suaranya tenang, tidak memaksa Tapi tegas.

Wulan masih diam beberapa detik.

Siwi langsung dorong pelan dari belakang. “Masuk aja sihh Lan. Gue aman.”

Wulan melotot ke Siwi. “Lo tuh temen atau musuh sih…”

“Temen yang realistis dong bes.”

Akhirnya Wulan masuk ke mobil Saka dengan pelan.

pintu ditutup, langsung berubah sunyi, Di dalam mobil.

Wulan duduk kaku,Tangannya masih memegangi lengannya sendiri.

Saka menyetir dengan tenang Tidak banyak bicara, Tapi sesekali matanya melirik ke arah Wulan.

“Masih sakit?”

Wulan langsung cepat. “Sedikit.”

Hening lagi.

Wulan menatap kaca jendela. " ee maaf ya jadi ngerepotin.”

Saka menggeleng pelan. “ ngga masalah, kebetulan juga saya lewat sini.”

Mobil terus melaju menuju klinik terdekat.

Di klnik.

Wulan duduk di ruang tunggu dengan wajah agak tegang.

Lukanya ternyata hanya memar dan sedikit keseleo ringan.

Saka duduk di sebelah, masih tenang seperti biasa.

“Tidak parah,” kata dokter tadi.

Wulan menghela napas lega. " untungnya.”

Saka mengangguk kecil.“Sudah saya bilang.”

Wulan langsung melirik. “…iya, iya.”

Suasana hening lagi.

Tapi bukan hening canggung sepenuhnya.

Lebih ke… sunyi yang bikin Wulan sadar dia lagi duduk satu mobil, satu klinik, sama orang yang beberapa hari ini bikin hidupnya nggak tenang.

Setelah selesai, mereka keluar dari klinik.

Saka berdiri di dekat mobil. “Rumah kamu di mana?”

Wulan menyebutkan arah pelan.

Saka mengangguk. “ yaudah masuk”

Wulan langsung cepat.

“Enggak usah deh saya bisa—”

Saka sudah membuka pintu mobil.

“ masuk.”

Singkat.

Wulan diam sebentar lalu masuk.

Perjalanan pulang lebih sunyi dari sebelumnya.

Tapi kali ini… bukan sunyi yang kosong.

Ada sesuatu yang beda.

Wulan melirik Saka sekali.

Lalu cepat-cepat menatap jendela lagi. “…hari ini bener-bener nggak work itt”

tidak ada percakapan lagi sampai mobil saka berhenti didepan rumah wulan.

wulan keluar dari mobil saka begitu pu saka yang ikut keluar dari mobilnya

" lain kali hati-hati saya pamit get well soon " ucap saka sambil menatap wulan yang ada diseberang nya.

" iya hati-hati juga dijalan kak" ucap wulan lalu saka masuk kemobilnya pergi wulan masuk kedalam rumahnya setelah mobil saka tidak terlihat lagi dari rumahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!