Hari itu seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Alea. Namun, sebelum ijab kabul dimulai, calon suaminya menghilang bersama uang mahar dan meninggalkan utang miliaran rupiah atas nama keluarga Alea. Di tengah kekacauan itu, muncul seorang pria asing bernama Raka Arvin. Dengan tenang ia menawarkan bantuan. "Aku akan menikahimu. Sebagai gantinya, kau harus menandatangani satu perjanjian." Tak punya pilihan lain, Alea menerima. Selama setahun, mereka hidup sebagai suami istri tanpa cinta. Raka terlihat seperti pria biasa yang bekerja sebagai konsultan hukum. Padahal... Ia adalah penyidik khusus yang sedang menyamar untuk membongkar kasus korupsi dan pencucian uang terbesar dalam satu dekade. Target utamanya? Ayah Alea. Semakin lama tinggal serumah, Raka justru menemukan sisi Alea yang berbeda dari bayangannya. Perempuan itu tidak pernah menikmati harta keluarganya. Ia bahkan diam-diam membantu para korban perusahaan milik ayahnya. Saat cinta mulai tumbuh, sebuah bukti baru muncul. Semua kejahatan yang dituduhkan kepada ayah Alea ternyata hanyalah lapisan pertama. Dalang sebenarnya justru seseorang yang selama ini paling dipercaya Alea. Kini Raka harus memilih. Menjalankan tugasnya sebagai penyidik... atau melindungi wanita yang telah mengubah hidupnya. Dan Alea harus menentukan satu keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Menyelamatkan ayahnya... atau membantu suaminya mengungkap kebenaran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24 - Perempuan yang Selalu Selangkah Lebih Dulu
Ruang kerja kembali dipenuhi keheningan.
Tidak ada seorang pun yang berbicara.
Tatapan Raka masih terpaku pada layar ponsel.
Perempuan misterius itu...
Sudah dua kali menyelamatkan nyawanya.
Pertama, saat melarangnya datang menemui Nadira sendirian.
Kedua, saat memperingatkan bahwa gudang di Pelabuhan Timur telah dipasangi bom.
Kalau bukan kawan...
Mengapa ia bersembunyi?
Kalau lawan...
Mengapa justru menyelamatkan mereka?
"Aku ingin melacak nomor itu," ujar Adrian.
Raka menggeleng.
"Terlambat."
"Kenapa?"
"Dia pasti sudah membuang kartunya."
Benar saja.
Beberapa menit kemudian, tim siber menghubungi Adrian.
"Nomornya tidak aktif lagi, Pak."
"Sinyalnya?"
"Hanya muncul selama tiga menit."
"Lalu hilang."
Adrian mengembuskan napas panjang.
"Dia profesional."
---
Malam itu, Alea tidak bisa tidur.
Ia berdiri di balkon kamar sambil memandangi taman belakang rumah.
Angin malam bertiup pelan.
Namun pikirannya jauh lebih berisik.
Om Surya.
Arga.
Hard disk.
Ibu kandung Raka.
Semuanya saling terhubung.
Tetapi belum ada satu pun jawaban utuh.
Pintu balkon terbuka perlahan.
Raka keluar membawa dua cangkir cokelat hangat.
"Bibi Maya memaksa aku membuat ini."
Alea tersenyum kecil.
"Beliau pasti tahu kita belum tidur."
Raka menyerahkan salah satu cangkir.
Mereka berdiri berdampingan.
Tanpa berbicara.
Untuk pertama kalinya, keheningan di antara mereka terasa nyaman.
"Alea..."
"Hm?"
"Terima kasih."
Alea menoleh.
"Untuk apa?"
"Kamu tetap di sini."
"Padahal setelah semua yang kamu ketahui..."
"...kamu punya banyak alasan untuk meninggalkanku."
Alea menatap langit beberapa saat.
"Aku memang marah."
"Aku juga kecewa."
"Tapi..."
Ia tersenyum tipis.
"Aku bisa membedakan kebohongan dan penyesalan."
Raka menundukkan kepala.
"Dan aku melihat penyesalan itu di matamu."
Kalimat sederhana itu membuat dada Raka terasa sesak.
Sudah lama sekali tidak ada orang yang berusaha memahami dirinya.
---
Keesokan paginya...
Bunyi bel rumah memecah suasana.
Bibi Maya membuka pintu.
Di depan rumah berdiri seorang kurir.
"Selamat pagi."
"Ada paket untuk Ibu Alea Prameswari."
"Aku yang tanda tangan," sahut Alea sambil menghampiri.
Kurir menyerahkan sebuah kotak kayu kecil.
Tanpa nama pengirim.
Hanya ada secarik kartu.
> **Jangan dibuka sendirian.**
Alea langsung membawa kotak itu ke ruang kerja.
Raka dan Adrian yang baru datang ikut memperhatikannya.
"Ada yang aneh," gumam Adrian.
"Apa?"
"Tidak ada alamat pengirim."
Raka memeriksa kotak itu dari segala sisi.
"Tidak ada rangkaian bom."
"Tapi tetap hati-hati."
Ia membuka pengunci kayu perlahan.
**Klik.**
Isi kotak itu hanya tiga benda.
Sebuah kunci kuno.
Sebuah foto lama.
Dan secarik kertas.
Alea mengambil foto itu lebih dulu.
Wajahnya langsung berubah.
"Itu..."
Di dalam foto terlihat lima orang berdiri di depan sebuah vila tua.
Ayah Alea.
Om Surya.
Seorang perempuan yang diduga ibu kandung Raka.
Seorang pria yang belum mereka kenal.
Dan...
Seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun.
Raka memperbesar foto itu.
"Aku..."
"Itu aku."
Namun yang membuatnya membeku bukan dirinya sendiri.
Melainkan tangan ibu kandungnya.
Perempuan itu sedang menggenggam tangan seorang gadis kecil berusia sekitar lima tahun.
Gadis yang sama sekali tidak pernah ia lihat sebelumnya.
"Siapa anak perempuan ini?" bisik Alea.
Di balik foto terdapat tulisan tangan.
> **Keluarga belum lengkap tanpa mereka berdua.**
Raka mengernyit.
"Mereka berdua?"
Adrian membuka secarik kertas yang ada di dalam kotak.
Di sana hanya tertulis satu alamat.
**Vila Melati. Puncak.**
Di bawahnya terdapat satu kalimat.
> **Semua jawaban dimulai dari rumah yang terbakar dua puluh tahun lalu.**
Ruangan kembali sunyi.
Raka perlahan mengepalkan foto itu.
Selama ini ia percaya rumah masa kecilnya hancur karena kecelakaan.
Kalau benar ada seseorang yang selamat...
Berarti bukan hanya ibunya yang menghilang.
Masih ada satu anak perempuan misterius...
Yang selama dua puluh tahun tidak pernah muncul dalam hidupnya.
Dan mungkin...
Dialah perempuan yang selama ini selalu selangkah lebih dulu menyelamatkan mereka.
**Bersambung...**