NovelToon NovelToon
Imperium Rahasia: Sang Menantu Triliuner

Imperium Rahasia: Sang Menantu Triliuner

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Perubahan Hidup / Kaya Raya
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Marcos

Tiga tahun Arga hidup sebagai menantu miskin yang dipandang rendah keluarga istrinya. Di meja makan, di pesta keluarga, di setiap tatapan dingin, ia diperlakukan seperti beban yang tidak punya masa depan.
Tidak ada yang tahu bahwa pria pendiam itu adalah pewaris tersembunyi keluarga Mahendra, pengendali kekaisaran bisnis bernilai triliunan rupiah yang bergerak dari balik layar. Saat penghinaan berubah menjadi batas terakhir, Arga mulai mengambil kembali semua yang dirampas darinya: nama, kekuasaan, harga diri, dan kebenaran di balik kematian orang tuanya.
Di tengah perang bisnis para konglomerat, intrik keluarga elite, aliansi berbahaya, dan musuh yang bersembunyi di balik hukum, Arga harus memilih cara membalas tanpa kehilangan dirinya sendiri. Sementara itu, pernikahannya dengan Bianca diuji oleh rahasia, luka lama, dan cinta yang ternyata lebih kuat daripada kebohongan.
Ini kisah tentang menantu yang diremehkan, pewaris yang bangkit diam-diam, dan balas dendam yang tidak datang lewat amarah, melainkan lewat kuasa yang tepat sasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16 - Persahabatan dengan Kamila

Hotel Meridian tampak seperti kapal yang kandas di kawasan Senopati. Arga tidak pernah menyukai arsitekturnya, terlalu sok, terlalu berusaha keras, tetapi di sanalah pasar finansial Jakarta berkumpul untuk berpura-pura sedang bersantai.

Koktail itu diadakan oleh Asosiasi Private Equity Indonesia. Dua ratus orang, sampanye Prancis, canape yang tak seorang pun benar-benar makan. Arga datang dengan celana gelap, kemeja tanpa dasi, dan sepatu yang ia beli di Tanah Abang seharga Rp120.000. Pak Jaya menunggu di lobi, di sofa dekat lift, memakai earphone dan memegang koran yang tidak ia baca.

Selama dua puluh menit pertama, tak seorang pun melirik Arga. Ia mengambil air soda dari bar dan berdiri di dekat jendela panorama, mengamati. Itu keahliannya yang paling baik: mengamati. Mengelompokkan. Memetakan.

Perempuan tinggi berambut gelap dengan blazer abu-abu arang itu sedang dikepung. Tiga pria paruh baya dalam setelan yang nyaris sama bersaing merebut perhatiannya dengan agresivitas yang sering disangka pria bisnis sebagai pesona. Perempuan itu tersenyum sopan, sementara matanya berteriak minta tolong.

Arga tidak mengenalinya dari wajah. Ia mengenalinya dari nama yang didengarnya ketika seorang pramusaji berbisik sambil lewat: Kamila Pradipta.

Pradipta Investama. Grup investasi terbesar keempat di Jakarta. Media bisnis sudah menulis rumor perebutan internal sejak April: paman Kamila, Otto Pradipta, berusaha mengambil kendali saham setelah pendiri perusahaan, ayah Kamila, meninggal dua tahun lalu.

Arga tahu semua itu. Ia sudah membaca dosier yang selalu diperbarui Rafael Kurniawan tentang para pemain utama pasar. Kamila berusia tiga puluh tiga tahun, MBA Wharton, dan sedang kalah dalam perang korporasi karena pamannya menguasai dewan.

Dalam delapan bulan terakhir, Kamila menolak dua proposal merger. Keduanya menyamar sebagai aliansi strategis, keduanya dirancang untuk mengencerkan kepemilikan Kamila sampai ia menjadi figuran di perusahaannya sendiri.

Mirip dengan apa yang mereka lakukan terhadap Arga. Metodenya berbeda, logikanya sama.

Ketiga pria berjas itu menyingkir ketika pria keempat, yang tampak lebih penting dilihat dari ukuran dasinya, melambaikan tangan dari sisi lain ruangan. Seorang pramusaji lewat membawa nampan canape salmon. Kamila mengambil satu dan tidak memakannya. Ia berdiri sendirian, memegang canape dan gelas seperti memegang perisai yang tidak berguna.

Arga meletakkan gelas airnya di bar dan berjalan menghampirinya.

"Mereka sedang mencoba menjual merger yang hanya menguntungkan dana mereka. Pria berdasi garis itu menyebut sinergi tiga kali dalam dua menit. Kalau seseorang mengatakan sinergi tiga kali, dia sedang berusaha meyakinkanmu tentang sesuatu yang tidak bisa berdiri sendiri."

Kamila menoleh perlahan. Ia menilai Arga dari kepala sampai kaki, tanpa menyembunyikannya, tanpa meminta maaf. Penilaian itu berlangsung dua detik.

"Siapa kamu?"

"Seseorang yang tahu rasanya diremehkan."

Kamila mengangkat gelas setinggi dagu. Ia tidak minum.

"Ini rayuan atau analisis pasar?"

"Analisis. Aku tidak merayu di ruangan dengan sampanye di atas Rp300.000 sebotol."

Sudut mulut Kamila bergerak. Belum sampai menjadi senyum, tetapi hampir.

"Kamu tahu siapa aku," katanya. Itu bukan pertanyaan.

"Tahu. Dan aku tahu pamanmu memakai klausul drag-along dalam perjanjian pemegang saham untuk memaksa dilusi. Yang dia butuhkan adalah empat puluh lima persen suara dewan. Kalau aku membaca notulen publik dengan benar, dia punya empat puluh dua."

Kamila menurunkan gelasnya.

"Bagaimana kamu bisa membaca notulen dewan?"

"Publik. OJK. Siapa pun dengan akses internet dan kesabaran bisa menyusun kepingan itu."

"Tidak ada yang menyusun kepingan itu."

"Aku menyusunnya."

Kamila terdiam selama lima detik. Di sekeliling mereka, koktail terus berjalan: tawa, gelas, janji-janji yang tak akan ditepati siapa pun. Kamila tampak tidak mendengar apa pun.

"Apa yang akan kamu lakukan kalau berada di posisiku?"

"Membentuk komite tata kelola independen sebelum dia mendapat suara ketiga. Menunjuk dua komisaris eksternal dengan reputasi yang tak tersentuh. Salah satunya harus perempuan. OJK sedang menekan keberagaman di dewan, dan pamanmu tidak akan mau berkelahi dengan regulator di tengah sengketa saham. Itu akan menahan drag-along setidaknya enam bulan. Enam bulan cukup untuk membentuk blok pemegang saham minoritas yang bisa menghambat dilusi."

Kamila diam. Ia meletakkan canape yang belum tersentuh ke piring yang lewat. Menyilangkan tangan.

"Orang yang membentuk komite itu harus memahami tata kelola korporasi pada tingkat yang bahkan tidak dikuasai sebagian besar pengacara pasar. Harus tahu memilih komisaris yang tidak bisa dibeli. Dan harus melakukan semuanya diam-diam, tanpa memperingatkan pamanku."

"Ya."

"Dan kamu sedang mengatakan bahwa kamu tahu caranya."

"Aku mengatakan bahwa aku pernah melakukannya."

Kamila menatapnya. Mata perempuan itu gelap, awas, dan ada sesuatu di sana yang melampaui minat profesional: semacam pengenalan, seperti seseorang yang menemukan orang lain yang berbicara bahasa yang sama di negeri asing.

"Kamu bukan konsultan perusahaan mana pun di sini, kan?"

"Bukan."

"Dan kamu tidak akan memberitahuku siapa kamu."

"Tidak hari ini."

Kamila membuka tas. Mengeluarkan kartu nama. Kertas tebal, huruf tenang, tanpa logo. Hanya nama, nomor, dan alamat e-mail.

"Telepon aku. Aku butuh orang sepertimu."

Arga mengambil kartu itu. Menyelipkannya ke saku kemeja.

"Selamat malam, Kamila."

"Selamat malam, pria tanpa nama."

Kamila berbalik dan kembali ke ruangan. Arga tetap diam selama tiga detik, memegang kartu itu di antara telunjuk dan ibu jari. Di sekelilingnya, koktail terus berlangsung: jas-jas yang mengorbit uang, senyum yang dikalibrasi, tangan yang menjabat tangan lain dengan tekanan persis sebesar kepentingan. Tak seorang pun melihat Arga. Tak seorang pun pernah melihat.

Ia menyimpan kartu itu di saku kemeja, dekat dada, lalu keluar lewat koridor samping tanpa berpamitan kepada siapa pun.

Di mobil, Pak Jaya menunggu sampai mereka keluar dari parkiran dan berbelok ke jalan utama sebelum bicara. Kota melintas cepat di luar: lampu kendaraan, papan reklame, suara Jakarta menjelang dini hari yang tak pernah benar-benar padam.

"Perempuan itu berkuasa, Arga. Dan berbahaya."

Arga memandang ke luar jendela. Pantulan tiang lampu meluncur di kaca seperti goresan pena.

"Saya tahu."

Mobil masuk ke terowongan. Suara berubah, lebih tertutup, lebih berat. Pak Jaya melirik lewat kaca spion sebelum melanjutkan.

"Nama Pradipta membawa musuh-musuh besar. Kalau Anda terlibat dalam sengketanya, perhatian akan tertuju kepada Anda."

"Perhatian sudah tertuju kepada saya. Video rumah sakit membuktikannya." Arga mengeluarkan kartu dari saku dan memandangi nomor yang tercetak di sana. "Bedanya, Kamila Pradipta bisa menjadi sekutu. Dan saat ini, sekutu lebih langka daripada uang."

Pak Jaya tidak menjawab. Ia menyimpan komentarnya dengan disiplin yang sama seperti ia menyimpan segala hal: dalam diam, tanpa setuju atau menentang, menunggu waktu membuktikan atau membantah.

1
Anime aikō-kā
haii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!