NovelToon NovelToon
Purnama Tertutup Mega

Purnama Tertutup Mega

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Laviolla

Aku sibuk mengurus ibumu di atas pembaringan, sedangkan kamu sibuk menggoyang bosmu yang haus belaian. -Wulan-

Seperti cahaya purnama yang tertutup mega, semua kebaikan dan juga bakti yang sudah diberikan oleh Wulan untuk keluarganya sama sekali tak nampak di mata Awan. Wulan yang sudah dengan sabar merawat sang mertua yang lumpuh karena stroke di sela-sela kewajibannya menjadi seorang ibu muda sampai membuat wanita itu tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri tidak lantas membuat wanita itu mendapatkan balasan kesetiaan.

Wulan memilih untuk berpisah saat memergoki Awan berselingkuh. Wanita itu rela menjanda daripada batinnya selalu tersiksa karena Awan telah terpikat pada seorang janda kaya yang merupakan bos di tempat sang suami bekerja.

Lantas, bagaimanakah Wulan menjalani hari-harinya sebagai seorang janda? Dan bagaimana kehidupan Awan setelah kepergian Wulan? Apakah istri baru Awan bisa menjadi sosok istri dan menantu yang sempurna atau justru durhaka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PTM 04. Terkunci

"Kusut banget mukamu Bro, belum ngopi?"

Di sebuah warung kopi yang berada di seberang kantor, Awan menikmati secangkir kopi hitam lengkap dengan gorengan. Sembari menghisap batang bernikotin, lelaki itu nampak larut dalam pikirannya sendiri.

Toni yang baru saja masuk, langsung mendaratkan bokongnya di kursi kosong yang berada di hadapan Awan. Lelaki itu juga turut memesan seperti apa yang dinikmati oleh Awan.

"Kalau sudah ngopi gak bakalan aku ada di sini Ton."

Toni tergelak. Pasalnya tidak biasanya Awan ngopi pagi di warung seberang kantor. Apalagi sebelum jam masuk kantor seperti ini.

"Untung saja meeting kita ditunda. Kalau tidak, bisa aku pastikan kamu bad mood ketika mengikuti meeting karena belum ngopi."

Awan hanya mengedikkan bahu. Saat ini yang ada di kepalanya hanya sikap Wulan yang ia anggap sudah terlalu berani. Biasanya istrinya itu tidak pernah bersikap membangkang ataupun frontal. Baru kali ini Wulan berani menampakkan sisi dirinya yang lain. Lebih berani dan melawan.

"Rencana meeting kenapa ditunda Ton?"

Akhirnya daripada mengingat-ingat sikap Wulan yang sangat tidak biasa itu, Awan memilih untuk membahas perihal lain. Lebih tepatnya ditundanya meeting pagi ini setelah sebelumnya di grup begitu heboh saling mengingatkan agar seluruh karyawan tidak terlambat datang.

"Dengar-dengar sih bu Mega sedikit terlambat sampai di kota ini. Pesawat yang ia tumpangi delay."

"Bu Mega?" tanya Awan dengan kernyitan di dahi. "Siapa itu bu Mega?"

"Ckckckck kamu sungguh tidak tahu siapa bu Mega, Wan? Padahal bu Mega itu sudah menjadi bahan obrolan paling hangat orang-orang di kantor."

"Oh ya? Memang sepenting itu ya bu Mega itu?" sambung Awan pula sembari menyeruput kopinya.

"Jelas penting. Bu Mega itu anak tunggal dari pemilik kantor ini. Rumornya, dia yang akan menggantikan pak Basuki."

"Oh ya? Itu artinya pak Basuki mau pensiun?"

Toni menganggukkan kepala. "Betul sekali dan posisi beliau akan digantikan oleh bu Mega itu."

Awan manggut-manggut mendengar cerita dari Toni. "Tapi kenapa selama ini keberadaan bu Mega itu seperti tidak diketahui oleh karyawan di kantor?"

"Jelas tidak diketahui karena selama ini dia tinggal di Malaysia bersama suaminya. Namun setelah bercerai, dia memutuskan kembali ke Indonesia untuk menggantikan posisi ayahnya."

"Kamu kok tahu banyak tentang bu Mega, Ton? Memang dapat cerita dari siapa kamu?" tanya Awan begitu penasaran.

"Hmmmm.. Kamu saja yang kurang update akan berita-berita di kantor Wan, sehingga kamu seperti katak di dalam tempurung, tidak tahu apa-apa."

"Begitu ya?"

"Iya. Apalagi dia janda kaya yang pastinya akan menjadi incaran para karyawan di sini, hahaha."

"Isshhh... Kamu ini. Ingat istrimu di rumah Ton!"

"Hmmm, aku hanya bercanda kali. Mana mungkin aku mengincar janda padahal di rumah aku sudah memiliki istri."

"Ya, memang harus seperti itu."

Awan kembali menikmati kopi hitam yang masih tersisa. Sembari menghisap batang bernikotin itu, pikiran Awan kembali tertuju pada sikap Wulan pagi tadi yang sangat frontal sekali. Gara-gara Wulan, ia terpaksa harus mengganti kemejanya yang sebelumnya sudah bersih, rapi dan wangi.

Apa sikapku memang sudah keterlaluan ya? Ah, tapi aku berada dalam posisi yang benar. Seharusnya kopi itu sudah siap di meja ketika aku sudah siap untuk berangkat kantor. Tugas dia kan memang melayani semua keperluanku.

****

Awan sibuk dengan laptop yang ada di depan mata. Jemari tangan lelaki itu nampak piawai menari-nari di atas keyboard. Tak sedikitpun sorot mata dan perhatiannya teralih, agar tak ada sedikitpun kesalahan yang ia lakukan dalam melakukan pekerjaannya ini.

Sebagai seseorang yang bekerja di dealer motor dan lebih tepatnya bagian marketing, setiap hari ia harus memutar otak agar produk yang ia pasarkan bisa laku di pasaran. Lelaki itu lebih sering bertugas di lapangan untuk mencari target pasar baru. Namun menjelang akhir bulan seperti ini, ia lebih sering berada di kantor untuk membuat rekap unit yang sudah berhasil ia jual.

"Kalau capek istirahat dulu Wan. Jangan terlalu ngoyo!"

Toni berjalan mendekat ke arah meja kerja Awan. Lelaki itu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Awan yang nampak begitu bekerja keras dalam menyelesaikan pekerjaannya ini.

"Kalau tidak ngoyo tidak bakal kejar target, Ton!" timpal Awan dengan mata yang tidak lepas dari laptop di depannya.

"Ckkcckkk.. Jangan terlalu tamak, perasaan kamu sudah tiga bulan berturut-turut kejar target bahkan jauh melampaui target, pastinya sudah banyak tabungan kan?"

"Hmmmm.. Tabungan apa Ton? Semua sudah habis untuk biaya perpanjang kontrak rumah, uang semesteran adikku, keperluan ibuku dan juga untuk biaya operasi sesar Wulan."

"Ya tidak perlu mengeluh seperti itu Wan. Nyatanya semua kebutuhanmu tercukupi kan? Di saat kamu membutuhkan banyak biaya, Tuhan sudah menyiapkan semua."

Awan hanya tersenyum tipis. "Ya maka dari itu aku harus kerja mati-matian lagi agar bisa kejar target."

"Memang sudah berapa unit yang bisa kamu jual di bulan ini?" tanya Toni penasaran.

"Hmmmm... Sudah delapan belas."

Toni terhenyak mendengar jawaban Awan. Buru-buru ia ambil buku jurnal harian yang ada di atas meja Awan langsung ia lempar ke arah temannya itu.

"Dasar gila kamu Wan, kalau sudah keluar delapan belas unit itu artinya sudah melebihi target. Benar-benar kemaruk kamu."

Toni sedikit kesal dengan jawaban yang dilontarkan oleh Awan. Bagaimana tidak kesal, perusahaan yang menargetkan setiap karyawan bisa menjual lima belas unit, sedangkan Awan sudah lebih tiga unit tapi lelaki itu masih saja tidak bersyukur.

Awan hanya mengedikkan bahunya dengan santai. "Ya, mau gimana lagi? Aku sudah terbiasa kerja melampaui target, jadi sebisa mungkin setiap bulan harus selalu lebih dari yang ditargetkan."

"Aku mau nyoba gado-gado di belakang kantor, kamu mau ikut tidak?" tawar Toni.

"Kamu duluan saja Ton. Aku masih mau melanjutkan pekerjaanku."

Akhirnya, Toni melenggang pergi meninggalkan meja Awan. Sedangkan Awan masih nampak berkutat dengan pekerjaannya sembari sesekali membuka handphone untuk menawarkan unit dari dealer tempat ia bekerja ke relasi-relasi yang ia kenal.

***

"Papa!"

Sorang wanita berusia tiga puluh tahun berteriak kencang kala kedatangannya di sambut oleh seorang lelaki paruh baya di depan kantor. Tanpa basa-basi, wanita itu memeluk tubuh sang papa dengan buncahan rasa bahagia yang memenuhi dada.

"Mega, anakku. Apa kabar kamu, Nak?"

Basuki memeluk tubuh sang anak dengan erat pula. Ia mengusap-usap punggung Mega dengan penuh sayang. Hati lelaki itu dipenuhi oleh rasa haru, karena pada akhirnya anak satu-satunya ini bisa pulang ke dalam dekapan setelah terpisah bertahun-tahun.

Mega mengurai pelukannya. "Aku baik Pa. Bahkan sangat baik."

"Syukurlah." Basuki melirik ke arah anak perempuan yang digandeng oleh Mega. Ia pun tersenyum sembari ia sejajarkan tinggi badannya dengan anak perempuan itu. "Ini pasti Tasya?"

Anak kecil berusia lima tahun itu menganggukkan kepala. "Yes, Kakek. Ini Tasya."

"Sudah besar ya cucu Kakek?"

"He'em."

Basuki kembali bangkit dari posisinya. "Bagaimana akhirnya masalahmu dengan Maher, Meg? Sudah selesai semua?"

Mega menganggukkan kepala seraya membuang napas kasar. "Sudah Pa, semua sudah selesai. Dan semua harta gono-gini jatuh ke tanganku."

"Syukurlah kalau begitu. Dengan begitu kamu tidak perlu cemas dengan masa depan Tasya."

"Betul Pa."

"Kalau begitu, ayo kita ke dalam. Di sini panas sekali."

"Baik Pa."

Ayah, anak dan cucu itu berjalan beriringan menuju ruang direktur. Di dalam sana, nampaknya mereka akan saling melepas rindu dengan ngobrol dan juga menikmati santapan siang yang secara khusus sudah dipersilahkan untuk menyambut kepulangan sang pewaris tunggal dealer milik Basuki ini.

***

Awan keluar dari toilet sembari membuang napas lega. Akhirnya semua hajat bisa selesai ia tuntaskan. Lelaki itu sedikit kesal karena tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba saja diare menyerang sehingga membuat perutnya terasa melilit sekali.

"Perasaan aku tidak makan yang aneh-aneh tapi kenapa bisa diare ya?"

Awan berujar lirih sembari mengayunkan tungkai kaki. Jika sudah terkena diare, lelaki itu seperti tidak bersemangat untuk bekerja karena perutnya yang terasa sakit sekali.

Brak... Brak... Brak...

"Tolong... Tolong... Tolong..."

Langkah kaki Awan terhenti kala sayup-sayup terdengar suara seseorang yang meminta tolong. Ia menajamkan indera pendengarannya sembari mengedarkan pandangan ke sekitar.

"Suara siapa itu?" lirih Awan.

Tungkai kaki lelaki itu kembali terayun, menuju asal sumber suara seseorang yang meminta tolong. Hingga langkahnya terhenti di bagian belakang kantor di mana di sana ada sebuah gudang yang sudah tidak terpakai.

"Tolong... Tolong..."

Suara itu semakin jelas terdengar membuat Awan semakin bersemangat untuk segera tiba di tempat itu. Dan langkahnya benar-benar terhenti di gudang yang berada di belakang kantor.

Awan menarik-narik tuas pintu untuk membuka namun sia-sia, upayanya itu tidak membuahkan hasil. Tidak ada jalan lain, dengan sekuat tenaga Awan mendobrak pintu dan...

Brak!!!

Pintu terbuka...

"Huhuhuhuhu... Huhuhuhuhu... Aku takut Paman!"

Awan terkesiap kala seorang anak perempuan kecil keluar dari gudang dan tiba-tiba memeluk kakinya. Gadis kecil itu menangis tergugu dengan wajah yang dipenuhi oleh rasa takut.

"Tasya!"

Awan menoleh ke sumber suara. Terlihat seorang wanita dengan wajah yang sangat cantik dan modis berlari ke arahnya. Di sebelah wanita itu nampak Basuki yang juga turut mengikuti dengan raut wajah yang terlihat panik luar biasa.

.

.

.

1
Laviolla
selamat membaca semua.. jangan lupa untuk like komen subscribe follow dan share ya... mkasih
Laviolla
selamat membaca semua... jangan lupa untuk like, komen, subscribe, follow dan share ya.. mkasih
Hanindia
waaaowww dapat warisan,,, selamat Lan.. semoga beruntung hidupmu ke depannya
Hanindia
amanat apa ya kira -kira??? semoga hal yang bermanfaat Lan
suciati
tuh kan bener dapat warisan.../Tongue/ semoga bermanfaat untuk merubah hidupmu lan
suciati
uhuuyyyy dapet warisan kayaknya.../Drool/ bener2 beruntung kamu Lan
Laviolla
selamat membaca semua.. jangan lupa untuk like, komen, subscribe, follow dan share ya.. mkasih
sunaryati jarum
Sepertinya kamu anak yang ditemukannya Nenek Inah,Wulan.Semoga kehidupan kamu selanjut lebih baik Wulan.
linda
rezeki nomplok lan... 🤣🤣
Anonim
Laki goblok tinggalin lan,run
sunaryati jarum
Semoga nenek Wulan Mempunyai peninggalan barang atau ilmu yang dapat mengubah hidup Wulan menjadi baik dan sukses
Laviolla
selamat membaca semua. jgn lupa untuk like komen subscribe follow dan share mkasih
linda
wulan dapat warisan😍😍😍 itu si cowok tampan sepertinya yg bakal jadi jodoh wulan selanjutnya
sunaryati jarum
Semoga langkah kamu menuju kebebasan , kesuksesan dan kebahagiaan. Wulan
linda
bagus Lan.. selamat melanjutkan hidupmu,, smg sukses
suciati
semogq sukses lan
Hanindia
selamat berjuang Lan... semoga kamu sukses
Hanindia
kalian emang serasi... penghianat dan pelakor bersatu
Hanindia
wuiiihh,, udah berani nampar??? emang gila tuh awan
Hanindia
selamat Lan, lelaki kayak awan emg gk pantes dipertahankan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!