Tepat di hari perceraian mereka, Kirana Zhafira menyaksikan Damar Rafardhan tewas mengenaskan akibat tertabrak truk demi menyelamatkan cincin pernikahan mereka yang terjatuh. Kirana keliru menilai pernikahan dingin mereka selama dua tahun sebagai tanda ketidakpedulian. Namun, rahasia pilu membubung saat ibu mertuanya menyerahkan dompet Damar yang berisi foto pernikahan mereka dan cincin berlumuran darah kering.
Penyesalan terdalam menghantam Kirana begitu menyadari betapa sang suami sangat mencintainya dalam diam. Di tengah keputusasaan dan rasa sepi yang mencekam, keajaiban waktu terjadi. Kirana terbangun dan mendapati dirinya terlempar ke masa dua minggu sebelum tragedi maut itu merenggut Damar.
Berbekal kesempatan kedua dari semesta, Kirana bertekad meruntuhkan dinding es di antara mereka. Ia bersumpah akan mengejar cinta Damar, mengubah takdir tragis yang mengintai, dan memperjuangkan akhir bahagia yang tertunda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEMBUKTIAN YANG NYATA.
Mendapatkan pelukan hangat yang begitu tiba-tiba dari istrinya membuat seluruh tubuh Damar menjadi kaku. Pria itu tetap diam terpaku, tidak membalas dekapan erat Kirana yang tengah bergetar hebat. Alih-alih terhanyut dalam suasana emosional tersebut, Damar justru langsung mendorong pundak Kirana dengan sangat pelan, memberikan jarak di antara mereka.
Ia menatap lekat-lekat wajah istrinya, lalu kembali melayangkan pertanyaan yang sejak tadi berputar di kepalanya. "Dari mana kamu mengetahui semua detail itu, Kiran?"
Kirana terdiam sesaat untuk menata napasnya yang memburu. Akhirnya, ia memberanikan diri untuk bercerita jujur. "Aku sendiri sebenarnya tidak tahu, Kak. Apakah aku kemarin hanya sedang bermimpi buruk, atau aku memang benar-benar dikembalikan ke masa lalu. Namun, kalau semua itu hanya bunga tidur, kenapa alur kejadiannya terasa begitu panjang dan sangat detail?"
Kirana kembali menitikkan air matanya yang terasa hangat membasahi pipi. "Di dalam kilasan ingatan itu, aku meminta cerai dari Kak Damar, dan Kakak langsung menyetujuinya tanpa berdebat. Kita akhirnya resmi bercerai di pengadilan. Namun, tepat di hari perpisahan itu, Kakak justru memberikan banyak sekali hadiah untukku."
"Aku bermaksud ingin mengejar dan mengembalikan semua barang itu saat itu juga," lanjut Kirana sambil mengusap air matanya yang terus meluncur. "Tapi, di saat Kakak sedang berdiri di pinggir jalan menunggu mobil jemputan, Kakak tiba-tiba membuka cincin ini."
Kirana menunjuk ke arah cincin pernikahan yang saat ini masih melingkar manis di jari manis tangan kanan Damar. "Tanpa sengaja, cincin itu terpental ke tengah jalanan yang ramai. Saat Kakak melangkah ke tengah aspal untuk mengambilnya kembali, sebuah truk kontainer besar melaju kencang dan langsung menabrak tubuh Kakak."
Kirana kembali menangis tergugu sambil meremas kedua tangannya sendiri dengan sangat erat. Rasa ngilu dan sesak di dadanya kembali mencuat, persis seperti rasa sakit yang ia rasakan saat menyaksikan jasad Damar terbujur kaku di depan matanya sendiri tanpa sempat memberikan pesan terakhir, atau sekadar memberi tahu bahwa pria itu pernah mencintainya dengan tulus. Damar di masa depan mati persis dengan sikap dingin yang selalu ditunjukkannya selama ini.
Melihat tubuh istrinya yang bergetar hebat dilingkupi trauma yang tampak begitu nyata, pertahanan Damar runtuh. Ia langsung menarik Kirana ke dalam pelukannya, mendekapnya erat-erat berusaha menyalurkan ketenangan.
"Sudahlah, lupakan semua itu, Kiran. Itu hanya sebuah mimpi buruk," ucap Damar dengan nada suara yang sangat lembut sambil mengusap-usap punggung Kirana.
Namun, secara tiba-tiba Kirana justru mendorong dada Damar dengan kuat. "Itu bukan sekedar mimpi biasa, Kak Damar! Itu mungkin gambaran masa depan mengerikan yang akan kita jalani kalau kita tidak waspada! Dari ingatan itu aku bisa tahu kalau Kakak menyimpan foto masa SMA ku di rumah Mama, dan satu lagi..."
Kalimat Kirana mendadak terhenti di udara. Ia menyadari bahwa ia harus membuktikan satu hal lagi agar Damar tidak menganggapnya sedang berhalusinasi. Kirana mengusap sisa air matanya dengan kasar, lalu menatap saku jas suaminya.
"Dompet Kakak. Keluarkan dompet Kakak sekarang juga," pinta Kirana dengan nada mendesak. Ia teringat dengan jelas detail di masa depan bahwa Damar selalu menyimpan foto dirinya saat memakai baju pengantin di dalam dompet pribadinya.
"Ada apa dengan dompetku, Kiran? Kenapa kamu mendadak ingin melihatnya?" tanya Damar yang mulai merasa kebingungan dengan tingkah istrinya.
"Di dalam dompet Kakak, ada foto saat aku memakai baju pengantin putih, kan?" sahut Kirana cepat.
Damar seketika tersentak mendengar tebakan jitu istrinya. Kepalanya mulai berpikir keras, karena ia awalnya mengira Kirana hanya terlalu berlebihan dalam menanggapi sebuah bunga tidur.
"Cepat keluarkan, Kak!" pinta Kirana lagi karena Damar hanya diam mematung.
Damar mencoba mengalihkan pembicaraan agar suasana tidak semakin histeris. "Kiran, sebaiknya kita bicarakan hal yang lain saja..."
Namun, Kirana sudah kehilangan kesabarannya. Ia bersikeras ingin membuktikannya saat itu juga. Tanpa aba-aba, Kirana langsung merangsek maju dan merogoh saku jas Damar dengan paksa. Damar sempat berusaha mencegah pergerakan tangan istrinya, namun entah dari mana datangnya, tenaga Kirana tiba-tiba menjadi sangat kuat akibat dorongan rasa panik. Hingga akhirnya, dompet kulit berwarna hitam itu berhasil direbut oleh Kirana.
Dengan tangan yang gemetar, Kirana langsung membuka lipatan dompet tersebut. Dan benar saja, di balik sekat plastik transparan, terpampang nyata selembar foto Kirana yang sedang tersenyum tipis mengenakan gaun pengantin berwarna putih bersih.
Tangis Kirana seketika pecah menjadi histeris. Ia menyodorkan dompet itu tepat di depan wajah suaminya. "Lihat ini, Kak! Lihat sendiri! Mimpi itu bukan sekedar mimpi kosong! Ini buktinya nyata! Itu berarti, dalam waktu sekitar dua minggu lagi Kakak benar-benar akan pergi meninggalkan aku untuk selamanya!" kata Kirana sejadi-jadinya.
Damar yang melihat kepanikan luar biasa di mata istrinya langsung bergerak cepat untuk mendekap tubuh Kirana kembali, berusaha meredam badai emosi yang berkecamuk. "Tenanglah dulu, Kiran. Dengar aku. Bukankah hal buruk itu baru akan terjadi kalau kita berdua memilih untuk bercerai?"
Mendengar kata sensitif itu disebut, Kirana refleks melepaskan pelukan dan langsung menutup kedua telinganya rapat-rapat dengan telapak tangan. "Jangan mengeluarkan kata itu lagi, Kak! Tolong jangan pernah sebut kata cerai lagi! Aku sama sekali tidak mau bercerai dari Kak Damar!"
"Oke, oke, kita tidak akan pernah bercerai. Sekarang tenanglah, tolong tenangkan dirimu dulu, Kiran" bujuk Damar dengan suara baritonnya yang menenangkan, berusaha meredakan tangis Kirana yang masih terus mengalir. "Semua hal buruk yang kamu takutkan tinggal kita hindari bersama-sama nanti. Jadi, tolong berhentilah memikirkan mimpi buruk itu lagi."
Damar mengusap lembut puncak kepala istrinya. "Sebenarnya kau harus beristirahat sekarang, kau pasti sangat lelah, Kirana."
Kirana tidak memberikan balasan kata apa pun. Ia hanya diam dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Damar, masih betah menangis dalam pelukan suaminya. Lambat laun, suara tangisan histeris itu mulai berubah menjadi isakan-isakan kecil yang halus. Hingga tiba-tiba, sepasang tangan Kirana yang tadinya meremas kemeja Damar perlahan terlepas dan terkulai lemas di sisi pinggang. Wanita itu telah tertidur pulas karena kelelahan emosional yang menguras tenaganya.
Melihat istrinya sudah terlelap, Damar perlahan menyelipkan lengannya di bawah lutut dan tengkuk Kirana. Ia mengangkat tubuh mungil itu dengan sangat lembut, lalu melangkah membawanya menuju kamar tidur Kirana yang terletak di lantai bawah.
Damar merebahkan tubuh istrinya di atas kasur dengan gerakan yang sangat berhati-hati agar tidak mengusik tidurnya. Ia kemudian menarik selimut tebal hingga sebatas dada Kirana. Setelah memastikan istrinya nyaman, Damar mendudukkan dirinya di tepi ranjang, menatap wajah polos yang tampak lelah itu dengan tatapan iba yang mendalam.
"Sebenarnya apa yang sedang kau alami Kiran? Mengapa kau menjadi ketakutan setengah mati seperti ini? Apakah kamu memang begitu takut kehilangan diriku?" gumam Damar dengan suara yang sangat pelan, nyaris berupa bisikan. Tangan kanannya bergerak lembut, mengusap sisa-sisa air mata yang masih membekas di sudut pipi mulus Kirana yang kini terlelap dalam damai.
GANBATEEE NEE 😁🤗💪
semangat yaa update nyaa😁😁😁
semoga benang takdir bisa terurai dan dalang dibalik Kematian damar bisa terungkap semuanya . semangat kiran, jaga damar dr takdir tragis nya 💪💪