Yura, gadis kesepian yang tiba-tiba harus pulang ke desa tempat nenek nya tinggal selama ini. Sang ibu yang akan menikah lagi menjadi salah satu alasan untuk kepindahannya.
Ia tidak banyak bicara, hanya menurut dan mengemasi barang-barang yang akan ia bawa.
Namun siapa sangka, kepindahannya ke desa membuatnya memiliki kehidupan baru yang lebih berwarna. Ia bahkan bertemu dengan gadis yang memiliki nama yang persis sama dengan namanya.
Lantas, akankah Yura berhasil menemukan kebahagiaan walaupun harus hidup berdampingan dengan gadis yang seolah memiliki ikatan dengannya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona yeppo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga Bahagia
Yura memilih tidak menuruti permintaan sahabatnya itu. Bukan apa, ia hanya merasa tidak memungkinkan untuk dirinya berpergian ke tempat yang jauh.
Kondisi sang nenek yang semakin renta menjadi alasan kuat yang bisa ia katakan. Alhasil Yura a tidak lagi meminta nya untuk datang.
Namun siapa sangka, dibalik penolakannya itu, Yura a memilih untuk kembali ke Gor. Ia tetap pada pendirian nya meskipun kedua orang tuanya sudah melarang bahkan memohon.
"Ini adalah permintaan orang yang sedang sekarat, tidak ada gunanya kalian berusaha dengan begitu keras... "
Setengah tahun menghabiskan waktu diluar negeri, membuatnya merasa hampa. Walau pun keinginan besar nya terpenuhi, yaitu terikat pernikahan secara hukum dengan Liam, ia tetap tidak merasa nyaman berada jauh dari kota kelahirannya.
Namun ada yang berbeda, kepulangan nya kali ini tidak bersama dengan Liam. Pria itu memutuskan untuk menyelesaikan pendidikan SMA nya dikampung halaman nya dan tinggal bersama dengan keluarga nya.
Tidak ada yang mengetahui alasan pasti mengapa pria itu tiba-tiba memilih untuk menjauh.
Ia hanya meminta sebuah syarat, maka ia akan menuruti keinginan Yura a yang meminta nya menjadi pasangan nya.
Yura b menyambut Yura a dengan sangat baik. Kehadiran sahabatnya itu membuat kegundahan nya terhadap Steven perlahan menghilang.
Gadis itu memilih tinggal dirumah mewah Liam, dan bertekad akan menghabiskan seluruh sisa hidupnya didesa ini, bersama Yura b.
"Kehidupan orang kaya sangat rumit bukan? " ucap Yura a sambil memandang hamparan laut yang membentang dihadapan mereka.
"Jika saja aku sehat, aku akan menemanimu kesana untuk meminta kepastian Steven... "
Pernyataan itu membuat Yura b tertawa ringan, seringan hembusan angin yang menggoyangkan rambut keduanya.
"Aku memang sangat menyukainya, tapi aku tetap tidak akan berani menentang kedua orang tuanya... "
"Jadi biarkan saja, patah hati bisa sembuh kok,,, "
Siang ini semesta spertinya sedang bahagia, terlihat dari indahnya warna biru keperakan diatas laut semakin membuat siapa saja yang melihatnya akan terpesona.
Yura a mengulurkan tangannya, menggapai angin yang berhembus perlahan. Ia menutup matanya seolah merasakan sentuhan lembut partikel tak terlihat itu.
Yura b lantas mengikutinya, ia menutup matanya dan ikut mengulurkan tangannya. Dipikirannya terpatri sebuah nama, Steven.
Ia membayangkan tangan pria itu menyambut uluran tangannya. Seolah bayangan itu nyata, tangannya bersambut.
Tak ingin berlama-lama dalam angan semu, gadis itu lalu membuka matanya. Bermaksud untuk memastikan apakah semua itu nyata atau khayalan nya saja.
"Aku akan menghiburmu,,, " Celetukan Yura a membawa nya kembali kedalam kenyataan yang sesungguhnya.
Wajah gadis itu tersenyum meledek, seolah tahu isi dalam kepala Yura b.
"Eh... "
Yura terkesiap melihat sebuah cincin berada didalam jarinya. Ia melihat Yura, meminta penjelasan tentang cincin tersebut.
"Tolong jaga yah, aku takut tidak bisa menyimpan nya. Takut lupa... "
"Tapi... "
"Hanya itu yang kuminta untuk kau jaga... " ujar Yura a sambil tersenyum.
Dari kejauhan, mama Zura dan nenek menyaksikan keduanya sambil sesekali wanita elegan itu menyeka air matanya yang perlahan mengalir tanpa diminta.
"Entah takdir apa ini. Mereka memiliki nama yang sama. Tapi tidak dengan takdirnya.. "
"Saya sudah sangat ikhlas jika ia memilih pergi, sudah sangat lama ia bertahan dengan rasa sakit nya itu... "
"Rasanya lebih menyakitkan melihat nya harus berkali-kali meraih tisu hanya untuk membersihkan darah yan mengalir dihidungnya... "
Nenek Lea hanya bisa mengusap punggung wanita itu. Ia dapat merasakan bagaimana rasanya berjuang dikejar oleh kematian.
...
Malam tiba, kedua gadis itu sudah lebih dari sebulan ini selalu menghabiskan waktu bersama dirumah Liam.
Jika Yura b sedang bersekolah, maka Yura a akan berjalan-jalan mengelilingi desa, atau membantu nenek Lea mengerjakan pekerjaan.
Kedua gadis itu seringkali mengenakan piyama yang sama, membuat siapa saja yang melihatnya akan menganggap kedua nya adalah saudara sedarah.
"Sepertinya rambutku ku panjangkan saja... "
Keduanya sedang tiduran sambil sesekali memakan potongan timun yang terjatuh dari wajah mereka.
"Itu sudah kotor... " celetuk Yura a.
"Kamu juga. aku mengintip nya tadi... " Yura b menimpali.
Alhasil keduanya tertawa terbahak-bahak, menyadari kecerobohan mereka. Malam-malam berlalu begitu singkat sejak keduanya mulai bersama lagi.
Tidak ada lagi rindu yang terlihat pada Steven, karena selain pintar menyembunyikan perasaanya, Yura b juga sangat terbantu akan kehadiran Yura a.
ia seolah tidak punya waktu untuk memikirkan yang lain, selain sahabatnya. Begitu juga dengan Yura a.
"Aku memang menyukai Liam, tapi aku lebih menyukaimu... " ucapnya kala itu.
"Aku tahu, dan aku sama sekali tidak menyukai Liam. Aku hanya menyukai kak Steven... "
"Bohong... " canda Yura a.
"Tidak ada yang tidak jatuh cinta jika Liam sudah bertindak. Aku saja baru menyadari nya akhir-akhir ini... " ucap nya lagi.
"Aku akan selalu menyukai pria yang berperilaku baik. Karena aku besar tanpa sosok seorang ayah... "
Tapi yura b hanya mampu mengucapkan kalimat itu didalam hatinya saja. Ia sendiri selalu bingung dengan hatinya yang terlalu mudah untuk luluh.
"Oh ya, liburan semester nanti keluarga ku ingin mengajak ku bepergian... "
Yura dengan sangat berat hati harus menyampaikan keinginan keluarga nya itu, Lebih tepatnya keinginan Lily.
"Hm, pergi saja. aku sangat senang melihatmu akur dengan keluarga barumu... " ucap Yura a turut bahagia untuk sahabatnya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Libur semester kembali menyapa, seolah waktu begitu cepat berlalu. Hari yang ditunggu-tunggu oleh Lily itu akhirnya muncul juga.
Ia sudah sejak kemarin menghubungi Yura b untuk datang dan menepati janjinya. Sedang kan Yura a, gadis itu sudah sejak dua hari yang lalu ikut terbang ke kota tempat orang tuanya tinggal.
Sungguh tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Kesehatan Yura a terlihat semakin membaik. Selama enam bulan terakhir, ia tidak mengalami mimisan lagi.
Karena itulah dokter pribadinya memberikan ijin untuk dirinya melakukan perjalanan jauh. Hal itu pula yang membuat langkah Yura b menjadi ringan untuk pergi liburan bersama keluarga barunya.
Kembali sang nenek akan tertinggal. Sekalipun ia tidak pernah mau jika diajak ikut serta. Kegigihan serta prinsipnya tidak ada yang bisa mematahkannya.
Alhasil Yura dengan berat hati harus meminta tolong kembali pada dokter Mark dan juga paman Tom untuk menjaga sang nenek.
. ..
Seperti rencananya yang telah lama mereka bahas, keluarga kecil itu memulai perjalanan mereka menuju sebuah puncak yang sangat terkenal dikota itu.
Awalnya semua berjalan dengan sangat baik, tanpa firasat buruk atau yang lainnya. Keempatnya diliputi rasa kebahagiaan setelah berhasil melewati perpisahan selama enam bulan ini.
Lily menunjukkan banyak barang-barang yang sengaja ia beli dengan sangat berhati-hati itu dengan senyum yang tak pernah lepas dari sudut bibirnya.
kedua nya duduk dikursi belakang, sedangkan kedua orang tuanya duduk dibangku depan. Formasi yang sangat sempurna untuk ukuran sebuah keluarga bahagia.
.
.
.
.
.
Bersambung...