NovelToon NovelToon
Gen Z Emperor

Gen Z Emperor

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:51
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

maizy melihat berita tentang sepasang tulang dengan cincin pernikahan yang saling menggenggam romantis, menandakan cinta mereka tidak akan pernah tergerus oleh peradaban. Di bawah reruntuhan istana yang baru saja di temukan arkeolog Jerman, membuatnya penasaran namun harus menutup rasa ingin tahu nya di sekolah

pada perjalanan dia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang anak laki laki yang sangat ia kenali, seseorang yang selalu menghujami nya dengan perkataan dan perundungan. Di sana Paul berdiri dengan angkuh di saat maizy dengan tertatih memungut buku nya..

perdebatan mereka masih berlanjut, sampai kedua nya muak dan memutuskan untuk beradu mulut dan malah membawa petaka. Kedua nya terjatuh dari tangga lantai 3

saat maizy terbangun, apa lah daya nya. dia terbangun di tengah tengah hutan hujan Jerman kuno, di keliling kuil kerajaan yang tidak asing, namun baru pertama kali ia datangi.

ternyata maizy terlempar ke masa lalu dan harus menduduki tahta ratu

apa yang akan dia lakuka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6

Maizy baru saja masuk ke kelas dengan membawa beberapa buku tugas. Namun, begitu dia melangkah mendekati bangkunya, langkah kakinya mendadak terhenti. Matanya membelalak lebar, dan buku-buku di dekapannya hampir saja merosot jatuh.

Meja kayu miliknya yang biasa rapi kini penuh dengan coretan spidol permanen hitam yang besar dan kasar.

"SI GADIS ANEH"

"KACAMATA JALAN SIPUT"

"TEMPAT SAMPAH ARGUMEN"

Bukan cuma tulisan ejekan, ada juga gambar karikatur wajah mengenakan kacamata tebal yang sengaja dibuat retak. Coretan-coretan itu sengaja dibuat sangat mencolok sampai-sampai beberapa murid kelas lain yang lewat di depan koridor sengaja mengintip dan berbisik-bisik.

Di barisan belakang kelas, Hartonkind, Cade, dan Reze sedang duduk santai di atas meja sambil tertawa-tawa kecil, sementara Paul berdiri di dekat jendela, membaca sebuah dokumen organisasi dengan tenang seolah-olah tidak ada kejadian apa pun. Namun, senyum miring di sudut bibir Paul menunjukkan bahwa dia tahu persis apa yang sedang terjadi.

"Oh, Mon Dieu! Siapa yang berani melakukan ini?!" Rachel Rossete yang baru datang langsung berteriak histeris, wajahnya memerah karena marah melihat meja sahabatnya dirusak. Rachel langsung menunjuk ke arah geng Paul. "Kalian kan?! Benar-benar kekanak-kanakan!"

"Punya bukti apa kau, Rachel? Jangan asal tuduh," sahut Cade malas sambil memainkan ponselnya. "Mungkin saja ada hantu Winterhall yang gemas dengan temanmu yang lambat itu."

Maizy berdiri terpaku di depan mejanya. Dadanya terasa sesak. Di balik lensa kacamatanya, matanya mulai berkaca-kaca bukan karena lemah, melainkan karena rasa terhina yang luar biasa. Dia ingin sekali berteriak, menggebrak meja Paul, atau melaporkan ini ke kepala sekolah. Tapi, sifat "tidak enakan" dan ketakutannya akan keributan besar yang memalukan di sekolah internasional ini justru menahan kedua kakinya. Dia hanya mengepalkan tangannya kuat-kuat sampai kukunya memutih, memilih untuk diam menahan semuanya sendirian.

Paul perlahan menurunkan dokumennya, menatap Maizy yang hanya berdiri mematung menatap meja yang kotor itu.

"Kalau kau punya waktu untuk berdiri dan meratapi meja itu, lebih baik kau bersihkan sebelum guru masuk, Maizy," ucap Paul dengan nada dingin yang mutlak, selalu tidak mau kalah dan merasa berada di atas angin. "Dunia tidak akan berhenti bergerak hanya karena mejamu penuh coretan."

"Paul, tutup mulutmu!" bentak Rachel marah, sementara Maizy masih tetap diam, menundukkan kepalanya dalam-dalam agar orang-orang tidak melihat air mata yang hampir jatuh di pipinya.

Melihat Maizy yang hanya diam dan tidak membalas seperti biasanya, geng Paul merasa menang total. Mereka tidak tahu saja, di balik diamnya Maizy pagi ini, ada rasa sakit hati dan dendam yang mulai menumpuk, menunggu waktu yang tepat untuk meledak.

Sore itu, langit Berlin digayuti awan mendung yang pekat, membuat suasana di sekitar Winterhall International School terasa semakin suram. Maizy sengaja pulang paling terakhir setelah kelas bubar, berharap bisa menghindari keributan. Namun, nasib baik tampaknya sedang enggan berpihak padanya.

Baru saja Maizy melangkah keluar melewati gerbang samping sekolah yang sepi, langkah kakinya langsung terhenti.

Di lorong jalan setapak yang diapit dinding bata tua, empat siluet cowok sudah berdiri menghadangnya. Hartonkind, Cade, dan Reze berdiri bersandar di dinding sambil bersedekap dada, sementara Paul Graxiel Laxsman berada di tengah-tengah mereka, menatap Maizy dengan pandangan dingin yang menusuk.

"Mau lari kemana, Nona Kacamata? Buru-buru sekali," celetuk Hartonkind sambil melangkah maju, menutup satu-satunya jalan keluar Maizy.

Maizy refleks mundur satu langkah, mendekap erat tas sekolahnya di depan dada. Jantungnya berdegup kencang. "Minggir. Aku mau pulang," bisiknya pelan, mencoba tetap tenang meski suaranya sedikit bergetar.

Cade tertawa mengejek. "Pulang? Urusan kita kan belum selesai. Kemarin di kantin kau sok berani sekali menjawab ucapan Paul. Kenapa sekarang jadi ciut begini?"

Paul melangkah mendekat, memotong jarak di antara mereka. Kehadiran cowok Kanada yang tinggi tegap itu langsung memberikan tekanan intimidasi yang kuat. Dia menatap Maizy dari atas ke bawah, melihat bagaimana gadis itu hanya menunduk, menolak untuk menatap matanya.

"Kau tahu, Maizy? Aku paling tidak suka dengan orang yang berlagak sok pahlawan dan sok tahu tentang keadilan, tapi begitu dihadapkan pada realitas, kau hanya bisa diam seperti pengecut," ucap Paul, suaranya berat, tenang, dan mutlak—selalu ingin mengontrol dan tidak mau kalah. "Coretan di mejamu tadi pagi itu baru peringatan ringan. Di sekolah ini, kau harus tahu posisi mutlakmu ada di mana."

Reze ikut menimpali dengan nada sinis, "Benar. Makanya kalau tidak punya kekuatan atau jabatan, tidak usah sok menentang Paul. Kau itu tidak ada apa-apanya di sini."

Maizy hanya diam.

Sebagai seorang ENFJ yang biasanya lantang membela kebenaran, melihat dirinya dikepung seperti ini membuat sifat "tidak enakan" dan ketakutannya akan konflik fisik langsung melumpuhkan tubuhnya. Dia tidak mau membalas makian mereka. Dia tidak mau membuat keributan yang bisa berujung pada pemanggilan orang tua atau—lebih buruk lagi—membuat Paman Michael yang dingin harus repot-repot datang ke sekolah karena dirinya terlibat perkelahian.

Melihat Maizy yang hanya mematung, menundukkan kepala dalam-dalam di balik rambut coklat pendeknya, geng Paul merasa di atas angin.

"Ternyata cuma segini nyalimu? Membosankan sekali," dengus Hartonkind kecewa karena tidak mendapat perlawanan seru.

Paul menatap Maizy yang masih bersikeras diam dengan tatapan meremehkan yang amat dalam. Dia mendengus pelan, lalu berbalik memunggungi Maizy.

"Ayo pergi. Membuang-buang waktu saja meladeni orang yang bahkan tidak berani membela dirinya sendiri," ucap Paul dingin kepada gengnya.

"Sana pulang, anak manis. Hati-hati jangan sampai tersandung kakimu sendiri," ejek Cade sambil sengaja menyenggol bahu Maizy cukup keras saat mereka melangkah pergi melewati gadis itu.

Maizy terhuyung sedikit, namun dia berhasil menyeimbangkan badannya agar tidak jatuh. Dia tetap diam, membiarkan langkah kaki Paul dan gengnya menjauh hingga suara mereka hilang ditelan bisingnya jalanan Berlin.

Begitu suasana benar-benar sepi, Maizy perlahan mendongak. Di balik lensa kacamatanya, matanya yang berkaca-kaca memancarkan perpaduan antara rasa sedih yang mendalam dan amarah yang tertahan. Sambil mencengkeram tali tasnya sampai jarinya memutih, Maizy berjalan gontai menuju stasiun U-Bahn, menahan seluruh rasa terhina itu sendirian di dalam dadanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!