NovelToon NovelToon
SETAHUN MENIKAH TANPA CINTA

SETAHUN MENIKAH TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: SenandikaMaret

Dijodohkan karena darah keraton yang mengalir dalam tubuh mereka, Raden Danendra Adipati dan Raden Ayu Kirana Ayodya menerima pernikahan tanpa protes. Satu tahun berlalu dalam ketenangan yang nyaris membosankan. Tidak ada pertengkaran, tidak ada pengkhianatan, bahkan tidak ada cinta. Mereka hidup layaknya dua orang asing yang kebetulan berbagi rumah dan nama belakang yang sama. Namun ketika keadaan memaksa mereka untuk saling mengenal lebih dekat, Kirana mulai menyadari bahwa di balik sikap dingin Danendra tersimpan perhatian yang tak pernah ia tunjukkan. Sementara Danendra perlahan memahami bahwa perempuan yang selama ini selalu berada di sisinya telah menjadi bagian paling penting dalam hidupnya. Di antara tradisi keluarga, tuntutan sebagai keturunan keraton, dan perasaan yang tumbuh terlambat, keduanya harus belajar bahwa cinta tidak selalu hadir sebelum pernikahan. Terkadang cinta justru datang setelah dua hati yang asing memilih untuk saling tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SenandikaMaret, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

UNDANGAN DARI KERATON

Dua minggu terakhir terasa berbeda. Entah sejak kapan, meja makan mereka tidak lagi selalu diisi keheningan. Danendra tetaplah Danendra yang hemat kata, sementara Kirana juga masih sering tenggelam dalam tumpukan pekerjaannya sendiri. Akan tetapi, kini ada pertanyaan-pertanyaan kecil yang sesekali muncul secara natural saat sarapan atau makan malam.

"Rapatmu lancar hari ini, Mas?"

"Lumayan. Ada beberapa kendala, tapi bisa diatasi. Pameranmu sendiri bagaimana?"

"Masih banyak arsip yang harus diperiksa ulang sebelum bulan depan."

Bagi pasangan lain, percakapan pendek seperti itu mungkin tidak berarti apa-apa. Namun bagi Kirana, beberapa kalimat sederhana itu terasa seperti kemajuan kecil yang dulu tidak pernah mereka miliki. Dinding pembatas yang selama setahun ini berdiri kokoh, perlahan-lahan mulai terkikis.

Pagi itu, Kirana sedang memeriksa beberapa dokumen penting di ruang kerjanya di yayasan ketika ponsel di atas meja bergetar. Nama yang muncul di layar digital membuatnya sedikit terkejut.

Ayah.

Kirana segera menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut. "Assalamu'alaikum, Yah."

"Wa'alaikumussalam, Nduk. Lagi sibuk?" suara bariton ayahnya terdengar hangat dari seberang telepon.

"Masih di kantor, Yah, memeriksa katalog pameran. Ada apa?"

"Ayah ingin bertemu kamu dan Danendra malam ini. Kalian ada waktu luang?"

Kirana mengernyitkan alisnya samar. "Nanti malam? Di rumah Ayah?"

"Iya. Tolong kabari suamimu juga."

Nada suara ayahnya yang terdengar cukup serius langsung membuat Kirana duduk lebih tegak di kursinya. "Ada sesuatu yang penting, Yah?"

"Ada hal besar yang perlu kita diskusikan bersama."

Setelah panggilan berakhir, Kirana segera mengirimkan pesan singkat kepada Danendra. Dan di luar dugaan, suaminya langsung membalas dengan satu kata setuju tanpa banyak bertanya.

Malam harinya, mereka tiba di rumah orang tua Kirana tepat pukul tujuh. Rumah besar bergaya Jawa modern yang didominasi unsur kayu jati itu tampak lebih ramai daripada biasanya. Begitu melangkah masuk ke ruang tengah, Kirana menyadari bahwa pertemuan ini bukan sekadar makan malam keluarga biasa.

Selain kedua orang tuanya, ternyata ada beberapa tamu lain yang sudah duduk melingkar. Salah satunya adalah Pak Haryo, kurator senior yang sempat berbincang dengan Danendra dalam acara budaya beberapa minggu lalu.

"Selamat malam," sapa Kirana santun sembari melangkah maju untuk menyalami semua orang. Danendra mengikuti di sampingnya dengan gerakan yang tegap dan sopan.

Setelah semua orang mengambil tempat duduk masing-masing, ayah Kirana mendeham pelan, membuka pembicaraan utama. "Sebenarnya, Ayah mengumpulkan kalian di sini untuk menyampaikan sebuah kabar baik."

Kirana menoleh, menatap ayahnya lekat. "Kabar tentang apa, Yah?"

Ayahnya tersenyum lebar sebelum melanjutkan. "Bulan Oktober nanti, akan ada perhelatan budaya besar yang diselenggarakan bersama dengan pihak keraton."

Sebagai peneliti, Kirana langsung bisa menebak skala acara yang dimaksud. "Festival Warisan Nusantara?"

"Betul," sahutnya, ikut mengangguk sembari membetulkan letak kacamatanya. "Tahap awal persiapannya sebenarnya sudah berjalan sejak beberapa bulan lalu. Ini akan menjadi agenda budaya terbesar dalam dekade ini."

"Laku, hubungannya dengan kami apa, Yah?" tanya Kirana masih belum menangkap arah pembicaraan.

Ayahnya menatap Kirana dengan binar bangga. "Pihak panitia pusat ingin kamu terlibat langsung menjadi salah satu koordinator untuk representasi generasi muda."

Kirana terdiam. Ia tidak menyangka namanya akan mencuat untuk posisi sepenting itu. Tanggung jawab yang ditawarkan sangat besar, bahkan cenderung mengintimidasi bagi seorang peneliti muda seperti dirinya. Sebelum ia sempat mengutarakan keraguannya, sang ayah beralih menatap menantunya.

"Dan kami juga sangat berharap Danendra mau ikut terlibat di dalamnya."

Kini giliran Danendra yang mengangkat pandangan matanya, sedikit terkejut dengan namanya yang ikut terseret. "Saya, yah?"

"Ya, Danendra," sambung Ayah, mengambil alih penjelasan. "Acara berskala nasional seperti ini membutuhkan dukungan yang tidak hanya murni berasal dari sisi akademis dan pelestarian budaya saja. Kami memerlukan seseorang yang memahami manajemen korporat, pemetaan dana, hubungan dengan pihak sponsor, serta eksekusi acara berskala besar."

Ruangan tengah itu mendadak hening selama beberapa saat. Danendra menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kulit, jemarinya mengetuk lutut dengan ritme yang teratur kebiasaan yang dilakukan pria itu saat sedang menghitung taktik bisnis.

"Kenapa harus saya, yah? Ada banyak manajer acara profesional di luar sana," tanya Danendra datar namun sopan.

Ayah Kirana tertawa kecil, menepuk bahu menantunya. "Kebebasan kamu mengeksekusi proyek-proyek besar di Adipati Group sudah tidak perlu diragukan lagi, Danendra. Ayah tahu kamu orang yang paling kompeten untuk urusan ini."

Danendra tidak langsung mengiyakan. Sementara itu, Kirana diam-diam memperhatikan ekspresi suaminya melalui sudut mata. Ia tahu pria itu pasti sedang mengalkulasi konsekuensi logis dari tawaran ini di dalam kepalanya; mulai dari pembagian waktu kantor, tenaga, hingga benturan jadwal rapat harian.

"Berapa lama masa persiapan intensifnya?" tanya Danendra akhirnya.

"Kurang lebih tiga sampai empat bulan ke depan," jawab Ayah.

Kirana menahan napasnya sejenak. Tiga sampai empat bulan bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah komitmen kerja sampingan.

Perjalanan pulang malam itu berlangsung dengan suasana yang jauh lebih tenang dari biasanya. Jalanan protokol Jakarta masih tampak ramai oleh lampu-lampu kendaraan yang merayap padat, berpendar indah di balik kaca jendela mobil yang tertutup rapat.

Kirana menyandarkan kepalanya, memperhatikan siluet Danendra yang fokus mengemudi di sampingnya.

"Kamu akan menerima tawaran Ayah?" tanya Danendra tiba-tiba, memecah kesunyian kabin mobil tanpa menoleh.

Kirana mengalihkan pandangannya pada suaminya. "Mungkin. Aku masih mempertimbangkannya."

"Karena skala tanggung jawabnya terlalu besar?" tebak Danendra tepat sasaran.

"Iya," Kirana tersenyum tipis, mengakui keterbatasan dirinya. "Lalu Mas sendiri bagaimana?"

Danendra terdiam selama beberapa detik sebelum mengembuskan napas pendek melalui hidung. "Sebenarnya, aku tidak terlalu tertarik dengan acara seremonial seperti itu."

Jawaban jujur yang terlampau lempeng itu justru membuat Kirana tertawa kecil. "Aku juga sebenarnya merasa begitu."

Mendengar tawa istrinya, Danendra menoleh sekilas ke arah kiri sebelum kembali menatap jalanan di depan. Sepasang sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk senyuman yang sangat tipis. Untuk pertama kalinya, mereka berada di kubu yang sama. Bukan sekadar sebagai suami istri, melainkan dua orang yang memiliki sudut pandang yang serupa secara terbuka.

"Pekerjaan kantor saja sudah cukup menyita seluruh waktuku," lanjut Danendra, suaranya terdengar lebih rileks.

"Aku juga sedang disibukkan dengan persiapan pameran internal yayasan." Kirana membetulkan posisi duduknya agar bisa menatap Danendra lebih nyaman. "Berarti kita sepakat, Mas?"

"Soal apa?"

"Kita sama-sama tidak antusias dengan proyek dari Ayah," kekeh Kirana.

Danendra tidak membantah kalimat itu. Detik itu juga, Kirana menyadari bahwa suasana di dalam mobil tidak lagi terasa kaku seperti dulu. Ruang nyaman yang hangat mulai tercipta, hanya karena seulas senyuman tipis dari suaminya.

Tiga hari kemudian, keputusan final akhirnya diambil. Pada akhirnya, mereka berdua kompak menerima tawaran besar tersebut karena sadar acara itu terlalu penting untuk ditolak. Proyek ini membawa tanggung jawab besar bagi masa depan yayasan dan reputasi keluarga mereka.

Malam itu, setelah resmi mengonfirmasi kesediaan mereka kepada pihak panitia, Danendra meletakkan sebuah map hitam tebal di atas meja makan rumah mereka.

"Kita mulai minggu depan," ucap Danendra sembari menatap Kirana yang baru saja mendudukkan diri di kursi hadapannya.

Kirana mengangguk pelan, melihat lambang panitia besar yang tercetak di sampul map. "Sepertinya kita akan sering bertemu di luar rumah setelah ini, Mas."

"Sepertinya begitu."

Keduanya sempat terdiam selama beberapa saat, saling memandang dalam kecanggungan baru yang mendadak muncul. Namun kali ini, Kirana tidak memilih untuk mundur. Ia justru menyunggingkan senyum tipis yang jenaka.

"Semoga kita tidak saling menyebalkan saat bekerja nanti, ya, Mas."

Danendra menatap sepasang mata Kirana selama beberapa detik. Untuk sesaat, ekspresi datarnya melunak, menyisakan binar tipis yang sulit diartikan.

"Aku juga berharap begitu," jawab Danendra pelan.

Maka, dimulailah serangkaian rapat koordinasi dan perencanaan linimasa kerja yang akan mengikat waktu mereka selama beberapa bulan ke depan. Dua orang yang selama satu tahun penuh terbiasa hidup berdampingan tanpa pernah mencampuri urusan dunia masing-masing, kini dipaksa masuk ke dalam pusaran yang sama. Dan tanpa mereka sadari, kerja sama intensif ini akan menjadi jembatan yang mengubah arah hubungan mereka, jauh lebih dalam daripada yang bisa mereka bayangkan.

1
Wawan
Satu kembang buatmu Thor 💪✍️
Wawan
Wow... Why? 😍💪✍️
SenandikaMaret: kinapa yaa kira-kiraa yuk terus pantengin kisah kirana 🤭🥰
total 1 replies
Wawan
Nah lo 😍
SenandikaMaret: hayolooo 🤣
total 1 replies
Wawan
kembang mawar buatmu Kirana ✍️
SenandikaMaret: 🌹🌹 mawar juga untukmu kak, dari kirana 🤭
total 1 replies
Wawan
🤭🤭🤭 .... ngapain aja selama ini?
SenandikaMaret: hanya kirana dan tuhan lah yang tau 🤣
total 1 replies
Wawan
Naaaah.... 🤭
SenandikaMaret: nah loh 🤭
total 1 replies
Wawan
mawar buatmu thor 💪✍️
SenandikaMaret: 🌹 makasih
total 1 replies
Wawan
Wow bahaya clue-nya sangat ✍️🤭
SenandikaMaret: bikin penasaran kan 🤭
total 1 replies
Wawan
Salam kenal untuk Kirana
SenandikaMaret: haloo salam kenal juga 😇 dan selamat berkelana di dunia kirana💫
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!