SMA Pertiwi dan STM Rajawali bagaikan langit dan bumi yang dipaksa berdampingan. Hanya terpisah oleh satu tembok tinggi, Pertiwi adalah istana bagi putri-putri konglomerat yang dipimpin oleh Roseanna Vallerian, sang Ratu Es yang perfeksionis. Sementara di sebelahnya, Rajawali adalah medan perang bagi Fattah Maverick, legenda jalanan yang memimpin pasukannya dengan kepalan tangan dan loyalitas tanpa batas.
Selama tiga tahun, "Perjanjian Batas" menjaga gencatan senjata di antara mereka: Jangan sentuh wilayah kami, dan kami tidak akan menyentuh kalian.
Namun, kedamaian itu hancur dalam semalam. Serangkaian teror misterius menghantam kedua sekolah. Mobil-mobil mewah siswi Pertiwi dirusak dengan lambang Rajawali, dan markas Rajawali dibakar oleh sosok berseragam Pertiwi. Fitnah menyebar lebih cepat dari api. Tawuran pecah di perbatasan, dan kedua sekolah terancam ditutup permanen oleh Dinas Pendidikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SeraphinSky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: SKAKMAT DI QUARTER KEDUA
Sabtu Sore, Pukul 16.00 WIB
GOR Basket Utama SMA Pertiwi (Full House)
Atmosfer di dalam GOR terasa mencekam, lebih panas dari final Piala Dunia.
Tribun penuh sesak. Di sisi kiri, ribuan siswi Pertiwi bersorak dengan pompom emas. Di sisi kanan, siswa SMA Cakrawala (sekolah Julian) duduk angkuh dengan seragam merah marun mereka.
Di tengah lapangan, Julian Adhitya sedang melakukan pemanasan dunk. Dia pamer otot, pamer sepatu Jordan edisi terbatas, dan pamer seringai licik ke arah bangku cadangan Pertiwi.
"Liat tuh," Julian menunjuk papan skor yang masih 0-0. "Sebentar lagi papan itu bakal jadi saksi pembantaian. Cewek lawan cowok? Joke."
Di bangku cadangan Pertiwi, Roseanna Vallerian sedang mengikat tali sepatunya dengan kencang. Wajahnya tenang, tapi matanya dingin sedingin es kutub.
"Inget rencana kita," bisik Roseanna pada timnya.
Raisa (Kapten) mengangguk, memukul-mukul telapak tangannya. "Gue bakal bikin mereka nyesel ngeremehin cewek."
Aqeela sibuk membetulkan headband mahalnya. "Aku udah pake sunblock kan? Lampu sorotnya panas banget."
Naura membetulkan kacamatanya. "Statistik menunjukkan kita kalah fisik 40%, tapi menang strategi 200%."
Dan Lia...
Lia duduk di ujung bangku, menguap lebar. Dia satu-satunya pemain yang tidak melakukan pemanasan lari. Dia cuma memutar-mutar pergelangan tangan (biar nggak kaku pas nembak).
"Lia, lo nggak lari dulu?" tanya Raisa gemes.
"Nggak. Nanti keringetan," jawab Lia santai. "Bangunin gue kalau tip-off udah mulai."
Posisi Vanguards: Tim Hore & Sabotase
Di pinggir lapangan, lima cowok dengan rompi oranye bertuliskan "CREW" sedang menyamar.
Fattah Maverick berdiri di dekat meja juri/skor, pura-pura mengecek kabel. Topi hitam menutupi kepala cepaknya. Matanya tidak lepas dari Roseanna di seberang lapangan.
Kode masuk. 20 menit lagi.
Ilham Mahendra memegang alat pel lantai (mop). Matanya menatap Lia yang lagi nguap.
"Dasar putri tidur," gumam Ilham sambil senyum tipis. "Awas aja kalau lo cedera."
Harry dan Mohan bertugas sebagai pembawa minuman/handuk di dekat bangku Cakrawala.
"Ini Isotonic spesial, Bos," Harry menawarkan botol ke salah satu pemain Cakrawala. (Isinya udah dicampur sedikit garem biar mereka haus terus).
Oliver tidak ada di lapangan. Dia ada di ruang kontrol lighting di lantai atas, siap membajak layar LED raksasa.
QUARTER 1: PERMAINAN KOTOR
PRIIT!
Wasit (yang sudah dibayar Julian) meniup peluit. Bola dilempar ke udara (Tip-off).
Pemain Cakrawala yang tingginya 190cm dengan mudah menepis bola. Serangan dimulai.
Permainan Julian sangat kasar. Dia sengaja menabrak bahu Raisa keras-keras saat dribble.
BUGH!
Raisa terpental jatuh.
"Foul!" teriak Raisa.
Wasit diam saja. "Play on! Nggak ada foul!"
Julian mencetak skor lay-up mudah. 2-0.
"Lemah," ejek Julian saat melewati Raisa yang masih di lantai.
Di pinggir lapangan, Fattah mengepalkan tangan. Dia melihat Roseanna berlari membantu Raisa berdiri. Roseanna menatap Fattah sekilas. Tatapan itu berkata: Tahan. Belum waktunya.
Permainan berlanjut. Tim Pertiwi ditekan habis-habisan. Skor 12-4 untuk Cakrawala.
Aqeela hampir nangis karena kukunya patah kena bola. Naura kacamata-nya miring kena sikut.
"Oke, cukup main-mainnya," gumam Lia.
Lia menerima operan dari Raisa di garis tengah.
Julian langsung menghadang Lia, merentangkan tangan sambil tertawa. "Mau kemana lo, Cewek Males? Mau lari? Bisa lari emang?"
Lia menatap Julian datar. Dia tidak dribble maju. Dia berhenti tepat di garis Three Point.
"Siapa bilang gue mau lari?" tanya Lia.
Dengan gerakan santai, Lia mengangkat bola. Formasi menembaknya sempurna.
Flick.
Bola melambung tinggi melewati kepala Julian yang kaget.
SWUSH.
Masuk bersih. Jaring berdesir indah.
12-7.
Satu GOR hening sedetik, lalu tribun Pertiwi meledak.
"KYAAAAA!! LIA KEREN BANGET!!"
Ilham di pinggir lapangan refleks jingkrak-jingkrak sambil megang alat pel. "ITU CEWEK GUE... EH MAKSUDNYA ITU TEMEN GUE!!"
Julian melongo. "Hoki," desisnya.
Tapi itu bukan hoki.
Menit berikutnya, Lia melakukan hal yang sama. Dia berdiri di pojok, dapet bola, tembak. Swush.
Dapet bola lagi, tembak lagi. Swush.
Lia seperti Turret Sniper yang nggak perlu gerak, cukup nembak dan mematikan.
Skor menipis: 18-16.
Julian mulai panik. "Jaga dia! Tempel ketat! Jangan kasih napas!"
Dua pemain Cakrawala langsung mengepung Lia.
"Ups. Rame bener," gumam Lia. Dia terkurung.
Saat itulah peran Vanguards dimulai.
Salah satu pemain Cakrawala yang menjaga Lia berlari mundur.
Ilham (si Tukang Pel) dengan "sigap" mengepel lantai tepat di belakang pemain itu. Lantainya jadi licin banget.
SREET! GUBRAK!
Pemain Cakrawala itu terpeleset jatuh dengan gaya kartun.
"ADUH! LICIN!"
"Maaf Mas! Lantainya basah!" seru Ilham polos (padahal dia sengaja).
Lia bebas. Dia melempar bola ke Raisa. Raisa lay-up. Masuk.
18-18.
Julian murka. Dia menatap Roseanna yang berdiri tenang di sisi lapangan (sedang time-out).
"Kamu main curang, Rose!" teriak Julian.
Roseanna tersenyum tipis, mengelap keringat di lehernya. "Curang? Gue cuma manfaatin kebersihan lapangan, Julian."
Roseanna melirik jam besar di dinding.
Menit ke-19.
Satu menit lagi menuju eksekusi.
Fattah di meja juri memberi kode tangan: Memutar telunjuk. (Artinya: Siap-siap putar videonya).
Oliver di ruang kontrol mengacungkan jempol.
QUARTER 2: THE REVEAL
Pertandingan dimulai lagi. Julian memegang bola. Dia ingin mempermalukan Roseanna secara personal.
"Roseanna!" tantang Julian, menunjuk Roseanna. "Lawan gue one-on-one!"
Roseanna maju. Dia bukan pemain basket hebat, tapi dia punya mental baja.
Julian melakukan crossover, membuat Roseanna hampir jatuh. Julian tertawa, bersiap menembak.
"Liat ini, Rose. Liat betapa lemahnya kamu tanpa duit bapak kamu," ejek Julian.
Tepat saat Julian melompat untuk menembak...
LAMPU GOR MATI TOTAL.
KLIK.
Gelap gulita. Penonton berteriak kaget.
"Apa-apaan ini?!" teriak Julian dalam kegelapan.
Tiba-tiba, Layar LED Raksasa di atas skor menyala terang benderang.
Bukan skor pertandingan yang muncul.
Tapi sebuah video rekaman CCTV (yang diambil dari memori HP Julian).
Di layar, terlihat jelas wajah Julian sedang duduk di dalam mobil Ferrari-nya, berbicara dengan seseorang yang memiliki tato ular di leher (Kairos).
Suara Julian terdengar jelas dan jernih lewat sound system GOR yang menggelegar (terima kasih Harry yang sudah menyambungkannya).
VIDEO PLAYING:
Julian: "Gue mau lo hancurin Fattah. Bakar bengkelnya kalau perlu."
Kairos: "Oke. Terus cewek itu? Aqeela?"
Julian: "Teror dia. Pake jaket Vanguards palsu. Biar Roseanna mikir itu ulah Fattah. Gue mau mereka saling bunuh."
Julian: "Setelah itu, Papah gue bakal gusur tanah bengkel itu buat cuci uang yayasan. Gampang kan?"
Video berakhir. Layar menjadi hitam.
Lampu GOR menyala kembali.
Hening.
Ribuan pasang mata menatap ke layar yang kini menampilkan dokumen PDF: "BUKTI TRANSFER 50 JUTA KE REKENING KALINGGA".
Di tengah lapangan, Julian berdiri mematung. Wajahnya pucat pasi, lebih putih dari kertas. Bola basket jatuh dari tangannya, menggelinding pelan.
Roseanna berdiri tegak di hadapannya, napasnya teratur.
"Gimana, Julian?" suara Roseanna memecah keheningan (Fattah menyodorkan mik ke Roseanna).
"Lo bilang gue lemah tanpa duit bapak gue?" Roseanna berjalan mendekat. Langkahnya menggema. "Mungkin bener. Tapi setidaknya, gue nggak perlu nyewa preman buat ngelawan musuh gue. Dan gue nggak perlu ngejual temen gue sendiri demi tanah."
Julian gemetar. "I-itu... itu palsu! Itu deepfake! Rose, kamu jangan percaya!"
Julian mencoba meraih tangan Roseanna.
PLAK!
Roseanna menampar pipi Julian sekuat tenaga. Suaranya nyaring banget.
"Jangan sentuh gue pake tangan kotor lo," desis Roseanna.
Julian murka. Dia kehilangan akal sehat. Dia mengangkat tangannya, hendak memukul balik Roseanna di depan umum.
"MATI LO ANJING!" teriak Julian.
Roseanna tidak mundur. Dia memejamkan mata, siap menerima pukulan.
Tapi pukulan itu tidak pernah sampai.
Sebuah tangan kekar menahan pergelangan tangan Julian di udara.
Fattah Maverick.
Fattah sudah melompat pagar pembatas, berdiri di antara Roseanna dan Julian. Topi crew-nya terlepas, memperlihatkan kepala cepaknya yang sangar.
"Lo sentuh dia," kata Fattah dengan suara rendah yang menakutkan, "Gue patahin tangan lo sekarang juga."
Julian menatap Fattah. Ketakutan menjalar di matanya. Dia melihat di belakang Fattah, anak-anak Vanguards (Ilham, Harry, Mohan) sudah berdiri siap tempur. Dan di tribun, ribuan siswa mulai menyoraki Julian.
"TURUN! TURUN! PENGKHIANAT!"
Polisi (yang dipanggil diam-diam oleh Aqeela lewat papanya) masuk ke lapangan.
"Saudara Julian Adhitya," kata Polisi. "Anda kami tahan atas tuduhan pengancaman, pengerusakan properti, dan pemufakatan jahat."
Julian diseret keluar lapangan oleh polisi, meronta-ronta sambil meneriakkan sumpah serapah.
"ROSE! FATTAH! GUE BAKAL BALES! KALIAN NGGAK BAKAL TENANG! KAIROS BAKAL ABISIN KALIAN!"
Suara Julian menghilang di pintu keluar.
Aftermath - Di Tengah Lapangan
Suasana GOR masih riuh. Tapi di tengah lapangan, waktu seakan melambat.
Roseanna menatap Fattah yang masih berdiri di depannya, melindunginya.
Fattah berbalik badan, menatap Roseanna. Wajah sangarnya melembut sedikit.
"Lo gapapa, Tuan Putri?" tanya Fattah.
Roseanna menghela napas panjang, seolah beban berat baru saja diangkat dari pundaknya. Kakinya lemas. Dia hampir jatuh, tapi Fattah dengan sigap memegang bahunya.
"Gue... gue gapapa," bisik Roseanna. "Makasih, Fattah."
Fattah tersenyum tipis. "Sama-sama. Tapi Black Card lo tetep nggak laku buat bayar jasa gue kali ini."
Roseanna tertawa kecil, air mata lega menetes di sudut matanya. "Terus lo minta bayaran apa?"
Fattah menatap mata Roseanna dalam-dalam.
"Gue minta... gencatan senjata permanen," kata Fattah. "Dan mungkin... traktir nasi goreng di pinggir jalan. Gue laper nungguin lo main basket."
Roseanna tersenyum tulus. Senyum tercantik yang pernah Fattah lihat.
"Oke. Nasi goreng. Pake telor dadar."
Di pinggir lapangan, Ilham menghampiri Lia yang sedang duduk minum air mineral.
"Woy, MVP," sapa Ilham nyengir. "Tembakan lo sadis."
Lia melirik Ilham. Dia mengambil handuk bersih, lalu melemparnya ke wajah Ilham yang keringetan.
"Lap tuh muka. Minyak lo bisa buat goreng bakwan," kata Lia ketus.
Tapi Ilham melihat, di balik handuk itu, Lia tersenyum.
"Makasih ya... Botak," tambah Lia pelan.
"Sama-sama... Manja," balas Ilham.
Sorak sorai penonton membahana.
Hari ini, Savage Royalty memenangkan pertempuran pertama mereka.
Julian tumbang.
Tapi ancaman Julian terakhir masih menggema: KAIROS.
Sang Ular Kobra belum keluar dari sarangnya. Dan dia pasti tidak senang melihat bonekanya (Julian) masuk penjara.