NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tidak Memaksa: Di Balik Wajah Yang Kupilih

Cinta Yang Tidak Memaksa: Di Balik Wajah Yang Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Ada nama yang tak pernah disebut.
Ada kebenaran yang selalu disembunyikan di balik senyuman.
Dan ada cinta yang tumbuh… tanpa benar-benar tahu siapa yang dicintai.

Dhea hanya ingin mencintai dengan sederhana.
Namun semakin dekat, ia justru menyadari—
tidak semua yang terlihat, adalah yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencoba Untuk Dekat

“Saya paham apa yang kamu pikirkan, Dhea. Tapi… kalau suatu saat orang yang kamu puji cantik itu berubah menjadi wujud aslinya, apa yang akan kamu lakukan?”

Pertanyaan itu membuat Dhea terlihat bingung.

“Maksudnya, Mbak?”

Arelia menundukkan pandangannya pelan.

“Apa kamu akan takut… atau malah menghindar?”

“U-untuk apa saya takut atau menghindar, Mbak?” tanya Dhea dengan polosnya.

Arelia terdiam.

Tatapannya perlahan beralih ke arah bunga-bunga di hadapannya.

“Ada banyak orang yang berubah saat tahu kenyataan seseorang,” ucapnya lirih.

Dhea memperhatikan wajah Arelia beberapa detik.

Entah kenapa, untuk pertama kalinya ia merasa wanita di depannya itu terlihat sangat rapuh. Seolah sedang menyembunyikan sesuatu yang berat sendirian.

“Kalau menurut saya…” Dhea mulai berbicara pelan.

Arelia mengangkat pandangannya.

“Selama orang itu baik dan nggak nyakitin saya, saya rasa nggak ada alasan buat menjauh.”

Jawaban itu membuat Arelia membeku sejenak.

“Sederhana sekali, ya?” gumamnya pelan.

Dhea tersenyum kecil.

“Karena menurut saya… setiap orang pasti punya alasan kenapa mereka berubah.”

Kalimat itu membuat dada Arelia terasa sesak.

Bukan karena sakit. Melainkan karena untuk pertama kalinya, ada seseorang yang mencoba memahami tanpa menghakimi terlebih dahulu.

“Kau gadis yang benar-benar polos, Dhea,” ucap Arelia membuat Dhea semakin bingung.

“Hah? Memangnya kenapa, Mbak?” tanya Dhea polos.

Arelia hanya tersenyum kecil sebelum melangkah ke rak bunga lainnya.

“Berapa usiamu?” tanyanya tiba-tiba sambil memperhatikan bunga-bunga di depannya.

“Tahun ini 24 tahun, Mbak,” jawab Dhea jujur.

Arelia tampak sedikit terdiam sebelum mengangguk pelan.

“Masih muda ternyata.”

Dhea tertawa kecil mendengarnya.

“Memangnya Mbak berapa?”

“Tiga puluh satu.”

Mata Dhea langsung membulat kecil.

“Hah? Serius, Mbak?”

“Kenapa memangnya?” tanya Arelia sambil menoleh.

“Soalnya Mbak kelihatan muda banget.”

Arelia terkekeh pelan mendengar ucapan itu. Sedangkan Dhea terlihat benar-benar kagum.

“Jujur, saya kira umur Mbak paling sekitar dua puluh lima.”

“Berarti aku harus berterima kasih karena dipuji muda?” goda Arelia kecil.

Dhea langsung mengangguk cepat.

“Iya dong, Mbak.”

Arelia kembali tersenyum tipis. Namun diam-diam, tatapannya memperhatikan Dhea cukup lama.

Gadis itu terlihat begitu ringan saat berbicara.

Begitu tulus saat tersenyum. Seolah hidupnya tidak dipenuhi rasa takut seperti dirinya. Dan tanpa sadar, Arelia mulai merasa nyaman berada di dekat Dhea.

“Jadi Mbak pagi-pagi sudah ada di sini? Mau berangkat kerja, ya?” tanya Dhea kepada Arelia.

“Tidak,” jawab Arelia cepat.

“Hah? Terus apa dong?”

Melihat ekspresi bingung Dhea, sudut bibir Arelia perlahan terangkat kecil.

Entah kenapa, ia mulai suka menjahili gadis polos itu.

“Saya ingin membantu kamu di sini. Boleh?”

“Apa?” Dhea langsung menatap Arelia dengan wajah terkejut.

“Iya,” jawab Arelia santai. “Lumayan, kan? Biar kamu nggak kewalahan sendirian.”

Dhea langsung menggeleng cepat.

“Nggak usah, Mbak. Saya nggak enak.”

“Kenapa nggak enak?”

“Ya karena… Mbak kelihatannya orang sibuk.”

Arelia terkekeh pelan.

“Memangnya wajah saya terlihat sesibuk itu?”

“Iya.”

Jawaban cepat itu membuat Arelia semakin gemas.

“Terus kalau saya memang mau membantu?”

Dhea tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya berkata pelan,

“Tapi saya nggak punya uang buat bayar Mbak.”

Arelia sampai terdiam beberapa detik sebelum akhirnya tertawa kecil.

Dan entah kenapa, melihat Arelia tertawa seperti itu membuat Dhea ikut tersenyum tanpa sadar. Sudah lama rasanya Arelia tidak tertawa setulus itu di depan orang lain.

“Apa saya terlihat seperti meminta bayaran kepadamu, hm?” tanya Arelia dengan nada lembutnya.

“E-eh, bukan begitu, Mbak. Maksud saya… pendapatan saya kadang tidak menentu,” jelas Dhea gugup.

“Kamu benar-benar berpikir saya seperti itu, ya, Dhea?”

Dhea langsung panik kecil.

“I-iya… mau gimana lagi. Kalau dilihat dari pakaian Mbak, Mbak kelihatannya punya segalanya.”

Arelia terdiam.

Tatapannya perlahan turun melihat dirinya sendiri.

Pakaian bagus. Tas mahal.

Penampilan yang selalu terlihat sempurna. Semua itu memang membuat hidupnya terlihat baik-baik saja di mata orang lain.

Padahal kenyataannya, ia bahkan tidak merasa memiliki dirinya sendiri.

“Kamu salah,” ucap Arelia pelan.

Dhea menatapnya bingung.

“Tidak semua orang yang terlihat punya segalanya benar-benar bahagia.”

Kalimat itu membuat suasana mendadak sedikit hening.

Dhea memperhatikan wajah Arelia beberapa detik.

Entah kenapa, meski wanita itu tersenyum tipis, matanya terlihat sangat lelah. Seolah ada banyak hal yang disembunyikan di balik penampilannya yang sempurna.

“Maaf kalau ucapan saya bikin Mbak nggak nyaman,” ucap Dhea pelan.

Arelia langsung menggeleng kecil.

“Kamu tidak salah.”

Justru karena Dhea terlalu polos dan jujur, Arelia jadi semakin sadar betapa jauhnya kehidupan mereka berbeda.

“Jadi, bagaimana? Apa saya boleh berada di sini membantu?” tanya Arelia kembali.

“Iya… kalau Mbak merasa senang di sini, saya nggak bisa menolaknya. Malahan saya senang kalau ada yang mau berteman dengan saya.”

Seketika Arelia menoleh kembali ke arah Dhea.

“Apa maksud perkataanmu itu?” tanyanya pelan.

“Itu, Mbak… nggak ada yang mau berteman dengan saya.”

“Kenapa?”

“K-karena saya miskin. Dan lagi, kata mereka pakaian saya sudah lusuh, nggak pernah ganti sama sekali. Jadi mereka merasa jijik berteman dengan saya,” jelas Dhea sambil tersenyum kecil.

Namun senyuman itu justru membuat dada Arelia terasa sesak. Karena Dhea mengatakannya seolah sudah terbiasa mendengar semua itu.

“Dan kamu cuma tersenyum saat cerita seperti itu?” tanya Arelia lirih.

Dhea terlihat sedikit bingung.

“Soalnya… itu memang kenyataannya, Mbak.”

Arelia langsung terdiam.

Tatapannya perlahan memperhatikan pakaian Dhea yang memang sederhana dan sedikit pudar.

Tetapi entah kenapa, di mata Arelia, Dhea jauh lebih indah dibanding orang-orang yang selama ini sibuk merendahkannya.

“Manusia memang aneh,” gumam Arelia pelan.

“Hm?”

“Mereka mudah sekali menilai seseorang hanya dari penampilan.”

Dhea tersenyum kecil lalu mengangkat bahunya pelan.

“Saya sudah biasa, Mbak.”

Justru jawaban itu yang membuat hati Arelia semakin tidak nyaman. Karena tidak seharusnya seseorang terbiasa diperlakukan buruk seperti itu.

“Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi. Besok kalau kamu tidak menjaga toko, kita pergi beli baju,” ucap Arelia sambil kembali menata pot bunga.

Mata Dhea langsung terbelalak saat mendengar ucapan itu.

“M-mbak…” panggilnya gugup.

“Kenapa?” sahut Arelia tanpa menoleh.

“Saya nggak punya uang buat beli baju,” jelas Dhea dengan jujur.

Arelia langsung menghentikan kegiatannya.

Ia memejamkan mata pelan, benar-benar dibuat frustasi oleh kepolosan Dhea. Beberapa detik kemudian, Arelia menoleh pelan ke arahnya.

“Memangnya saya menyuruh kamu bayar sendiri?”

Dhea langsung terdiam.

“T-tapi saya nggak enak, Mbak.”

“Kamu ini memang selalu nggak enakan, ya?”

Dhea hanya tersenyum kecil dengan wajah bersalah.

Melihat itu, Arelia menghela napas panjang pelan. Entah kenapa, semakin lama mengenal Dhea, semakin sering ia merasa gemas sekaligus tidak tega.

“Anggap saja hadiah karena saya ingin berteman dengan kamu,” ucap Arelia akhirnya.

“Mana ada orang baru kenal langsung kasih hadiah semahal itu…” gumam Dhea pelan.

Arelia justru terkekeh kecil mendengarnya.

“Kamu terlalu jujur.”

“Soalnya memang begitu.”

Jawaban polos itu kembali membuat Arelia tersenyum tipis. Dan tanpa disadari, sudah sejak tadi suasana hatinya terasa jauh lebih ringan saat berada di dekat Dhea.

1
Dinda Putri
lanjut semangat thooorrr love sekebon deh
Dinda Putri
lanjut thoor 💪💪💪
Dinda Putri
nexs
Dinda Putri
up lagi thoorr jangan lama
Dinda Putri
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!