NovelToon NovelToon
Dingin Yang Tak Tersentuh

Dingin Yang Tak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Duda / Diam-Diam Cinta
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: keipouloe

Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.

Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.

Hingga hadir Alana Kirana Putri.

Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.

Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.

Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:

perasaan.

Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Suasana ruangan terasa semakin tegang, menghilangkan sisa-sisa bisik-bisik santai yang tadinya memenuhi kelas.

Semua mahasiswa mendadak sibuk menatap ke depan, pura-pura fokus karena dosen pengganti mereka pagi ini jelas bukan tipe manusia yang bisa diajak bercanda.

Di depan kelas, Arsen berdiri tegak sambil membuka slide materi di laptopnya. Sorot matanya begitu tenang, namun justru ketenangan itulah yang terasa menekan seisi ruangan.

“Baik,” ujarnya datar. “Kita mulai.”

Tanpa basa-basi atau candaan pembuka seperti dosen pada umumnya, Arsen langsung menjelaskan materi dengan tempo cepat. Suaranya yang rendah dan berat terdengar sangat jelas di setiap sudut ruangan.

Beberapa mahasiswa mulai sibuk mengetik di laptop, sebagian lagi buru-buru menulis di buku catatan. Di antara mereka semua, Alana adalah satu-satunya yang sedang berjuang keras antara hidup dan mati demi mempertahankan kesadaran.

Awalnya, gadis itu masih terlihat semangat mencatat. Namun lama-kelamaan, huruf-huruf di papan tulis mulai terlihat seperti cacing yang menari-nari di matanya.

Efek bangun jam empat subuh untuk mengulek sambal jualan perlahan mulai menyerang tanpa ampun. Kelopak matanya terasa seberat beban hidup. Sialnya lagi, suara Arsen yang berat dan konstan itu justru terdengar seperti senandung pengantar tidur yang sempurna.

Di sampingnya, Naira melirik pelan. “Na,” bisiknya sangat lirih.

“Hm?” sahut Alana tanpa mengubah posisinya yang sedang menopang dagu.

“Lo ngantuk?”

“Banget, demi apa pun.”

Naira mati-matian menahan tawa geli. Sementara di depan kelas, Arsen masih terus menjelaskan materi tanpa jeda. Cara pria itu mengajar sebenarnya sangat sistematis dan tegas.

Namun karena suasananya terlalu serius, kelas mereka hari ini rasanya sudah mirip seperti ruang sidang negara.

Tidak ada yang berani melirik ponsel, apalagi mengobrol. Bahkan suara gesekan kursi saja bisa terdengar sangat jelas.

Alana mencoba fokus lagi. Tangannya dipaksa bergerak untuk mencatat beberapa poin penting. Namun baru dapat dua baris, kepalanya kembali turun pelan. Matanya berkedip lambat, lalu turun lagi sedikit demi sedikit, sampai akhirnya—

“Saudari Alana.”

Deg!

Alana langsung tersentak tegak sampai pulpen di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai. Beberapa mahasiswa refleks menoleh ke arahnya, sementara Arsen berdiri bersedekap di depan kelas sambil menatapnya lurus-lurus.

“Kalau kamu masih ingin melanjutkan tidur,” ujar Arsen tenang, “saya sarankan kamu pulang saja.”

Wajah Alana langsung terasa panas bukan main. “Nggak tidur kok, Pak,” jawabnya cepat, mencoba menyelamatkan harga diri. “Cuma merem sebentar.”

“Kebiasaan yang menarik,” balas Arsen datar. “Saya baru tahu orang merem dilakukan setelah memejamkan mata.”

Beberapa mahasiswa langsung menunduk menahan tawa, bahkan Naira buru-buru membekap mulutnya sendiri dengan binder. Merasa harga dirinya mulai diinjak-injak, Alana mencoba membela diri lagi.

“Saya masih dengerin penjelasannya kok, Pak.”

“Bagus,” sahut Arsen cepat tanpa memberi celah. “Kalau begitu, tolong jelaskan ulang poin yang baru saja saya sampaikan.”

"Mampus gue." batin Alana.

Otaknya benar-benar langsung kosong total.

Jangankan poin terakhir, mereka sedang membahas subbab apa saja dia tidak ingat.

Suasana kelas mendadak hening maut, menunggu jawabannya yang tak kunjung keluar.

“Eee…” Alana melirik Naira, tapi temannya itu malah pura-pura membaca buku.

Arsen masih menunggu dengan ekspresi sedingin es.

Alana akhirnya menatap langit-langit kelas dengan pasrah, memilih pasang badan. “Tentang kehidupan, Pak.”

Jawaban nekat itu langsung membuat pertahanan seisi kelas runtuh. Suasana spontan pecah oleh tawa yang ditahan.

Di barisan belakang, Damar sampai harus menunduk dalam-dalam sambil memegangi dahi, sementara Naira di sebelahnya sukses tersedak napasnya sendiri karena syok.

Arsen diam, memandangi Alana selama beberapa detik dengan tatapan yang sulit dibaca. “Kalau kamu ingin menjadi pelawak,” ujarnya akhirnya, “saya rasa kamu salah masuk ruangan.”

Wajah Alana makin merah padam karena malu. “Maaf, Pak.”

“Konsentrasi kamu sangat buruk dari awal kelas.”

Kalimat itu sempat membuat Alana mengernyitkan dahi. Entah kenapa, cara Arsen mengatakannya terdengar seolah pria itu memang sudah memperhatikannya sejak menit pertama kelas dimulai.

Namun sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, Arsen sudah kembali berbalik ke laptopnya.

“Buka halaman empat puluh dua.”

Suara gemerisik lembaran buku langsung memenuhi kelas. Alana buru-buru ikut membuka bukunya, meski dalam hati dia sudah mengomel panjang-lebar.

"Nyebelin banget sih jadi manusia! Tahu gitu mending gue bolos aja tadi!"

Sisa jam perkuliahan akhirnya berjalan dengan Alana yang mati-matian memaksa matanya tetap melek total. Dia bahkan beberapa kali mencubit pahanya sendiri diam-diam agar rasa kantuknya hilang.

Ternyata, satu jam penuh mendengarkan penjelasan Arsen jauh lebih menguras tenaga dibanding harus mengulek sambal untuk dua puluh porsi ayam geprek. Pria itu nyaris tidak berhenti bicara, cara berpikirnya cepat, detail, dan setiap kali ada mahasiswa yang terlihat melamun, tatapan matanya akan langsung berpindah tajam ke sana.

Di tengah penjelasannya, Arsen mulai berjalan perlahan mengitari barisan meja. Langkah sepatunya yang konstan terdengar mendekat.

Tap. Tap. Tap.

Entah kenapa, ketukan suara itu malah membuat Alana semakin tegang. Dia langsung berpura-pura sibuk menulis saat langkah Arsen berada di jalurnya.

Namun sial, langkah kaki itu berhenti tepat di samping kursinya. Alana refleks menegang kaku saat merasakan kehadiran Arsen di dekatnya. Tatapan pria itu turun, tertuju langsung pada buku catatan di atas meja. Hening terjadi selama beberapa detik sebelum suara datar itu kembali terdengar.

“Catatan kamu kosong.”

Alana refleks menutup bukunya dengan cepat. “Nggak kosong, Pak.”

Arsen mengangkat sebelah alisnya tipis. “Setengah halaman pertama bahkan hanya berisi coretan bunga.”

Naira langsung membungkuk dalam-dalam, menahan tawa sampai bahunya berguncang, sedangkan Alana rasanya ingin menghilang dari bumi lewat jalur gaib saat itu juga.

“Itu bentuk ekspresi akademik saya, Pak,” jawabnya sekenanya, memasang wajah selembar mungkin.

Beberapa mahasiswa di sekitar mereka langsung tertawa kecil, sementara Arsen masih menatapnya tanpa ekspresi.

“Menarik,” ujarnya datar. “Saya baru tahu gambar bunga bisa membantu memahami materi.”

Alana menggigit bibir bawahnya, menahan malu sekaligus kesal. Namun di balik rasa kesalnya, dia mulai menyadari sesuatu. Meski Arsen terlihat dingin dan kata-katanya sangat menyebalkan, pria itu tidak pernah benar-benar membentak atau meninggikan suara. Nada bicaranya tetap tenang dan terkontrol. Justru hal itulah yang membuatnya terasa jauh lebih mengintimidasi, karena sindirannya terasa sangat halus namun langsung menusuk ke pusat rasa malu.

Arsen kembali berdiri tegak. “Kalau kamu sudah selesai menggambar, mungkin kamu bisa mulai mencatat isi materi yang sebenarnya.”

“Iya, Pak,” jawab Alana pasrah.

Pria itu akhirnya berjalan kembali ke depan kelas. Begitu sosok tegap itu menjauh, Naira langsung menutupi seluruh wajahnya dengan binder besar. “Gue nggak kuat, Na… sumpah,” bisiknya sambil tertawa tanpa suara.

“Diam lo, pengkhianat,” desis Alana sebal.

Damar dari barisan belakang ikut memajukan badannya sedikit untuk menyahut pelan. “Na, sumpah muka lo tadi kayak murid TK yang ketahuan nyoret-nyoret tembok tetangga.”

Alana menoleh tajam ke belakang. “Temenan sama kalian berdua tuh beneran nggak bikin panjang umur.”

“Minimal hidup lo penuh hiburan,” balas Damar santai tanpa dosa.

Alana baru saja hendak mendelik kesal, namun suara Arsen dari depan kelas kembali memotong pergerakannya.

“Saudari Alana.”

Refleks, seluruh tubuh Alana langsung tegak sempurna ke depan. “Iya, Pak?”

“Tolong fokus ke depan.”

“…Iya, Pak.”

Satu kelas kembali menahan tawa untuk kesekian kalinya. Alana mulai menaruh curiga kalau dosen killer di depan sana memang sengaja menjadikannya target operasi sejak awal kelas dimulai.

Perkuliahan akhirnya selesai hampir dua jam kemudian. Begitu Arsen menutup laptopnya, atmosfer di dalam ruangan yang tadinya mencekam langsung terasa mencair dan hidup kembali.

“Materi minggu depan tidak akan saya ulang,” ujar Arsen sambil merapikan map hitamnya ke dalam tas. “Pastikan kalian belajar di rumah.”

“Iya, Pak…” jawab mahasiswa serempak dengan nada lega yang kentara.

Arsen mengangguk tipis, lalu berjalan keluar kelas begitu saja tanpa basa-basi tambahan. Begitu pintu kelas tertutup rapat, ruangan itu langsung meledak oleh kehebohan mahasiswa.

“YA ALLAH AKHIRNYA SELESAI JUGA!” pekik seseorang dari barisan belakang.

Alana langsung menjatuhkan kepalanya ke atas meja dengan lemas. “Gue merasa baru saja selamat dari interogasi komplotan debt collector.”

Naira tertawa lepas tanpa ampun. “Tapi parah sih, Na… dia tiap lewat meja lo pasti sengaja berhenti.”

“IYA! ITU YANG BIKIN GUE MAU MATI BERDIRI!”

Damar ikut tertawa kecil sambil menyampirkan tasnya ke bahu. “Mungkin Pak Arsen tertarik sama bakat terpendam lo menggambar bunga.”

“Gue doain sandal lo putus pas jalan ke parkiran, Mar.”

Naira makin terpingkal-pingkal mendengar kutukan asal sahabatnya itu. Namun di tengah kekesalannya sendiri, Alana mendadak terdiam sebentar. Entah kenapa, bayangan wajah Arsen yang dingin, nada suaranya yang tenang, dan cara pria itu memperhatikannya sepanjang kelas tadi mendadak berputar ulang di kepalanya.

Pria itu memang menyebalkan setengah mati. Tapi anehnya, sosoknya justru jadi terasa sangat sulit untuk diabaikan.

1
Lisa
Oke Kak..kami tunggu kelanjutan kisahnya y Kak..semangat & sukses y Kak utk revisi nya 💪🙏
Lisa
Semangat y Alana 💪
rokhatii
ayo mampir guys dijamin suka
Lisa
Arsen² sadarlah..jgn terbawa masa lalu..anak² mu butuh kasih sayang ortunya..
Lisa
Wah makin kacau aj rumah itu..kasian banget Axel..sampe kpn si Arsen itu dpt berubah
rokhatii: doakan semoga segera dapat hidayah🤭🤭
total 1 replies
Lisa
Arsen harus mengubah sikapnya terhadap anak² nya
rokhatii: orang tua seperti itu kebanyakan sulit berubah nggak sih kak??
total 1 replies
aisy
bagus ceritanya
Lisa
Arsen² benar² ayah yg aneh..sekrg baru mencari Axel..
Suryanti Yanti
lanjut toor kenapa kok setenga²tor
rokhatii: maafin othor ya sehari cuma bisa up satu bab...🙏🙏
total 1 replies
Lisa
Kasihan banget Axel..moga neneknya dpt menolongnya..ayah macam apa Arsen itu..
rokhatii: ayah jahat dia,,semoga dapat karmanya nanti🤭🤭
total 1 replies
Suryanti Yanti
lanjut toor
Lisa
Salut banget sama Alana..semangat terus y belajar sambil jualannya..sukses ya 👍🙏
Lisa
Aku mampir Kak
rokhatii: terima kasih kakak😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!