"Ingat posisi kita, Elena. Di luar kita adalah pasangan sempurna, tapi di dalam rumah ini, kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi satu atap. Jangan pernah lupakan itu."
Elena adalah CEO Luminous Beauty yang ambisius. Baginya, hidup adalah tentang citra dan kesempurnaan visual. Namun, sebuah pengkhianatan di dewan direksi memaksanya bersekutu dengan pria yang paling ia benci, Adrian ,
sang penguasa Arsa Food Group yang dingin dan praktis.
Namun, di balik kemewahan hidup mereka, ada rahasia gelap yang terkubur. Saat dinding kebencian mulai runtuh oleh sesuatu yang tak terduga, Elena menyadari bahwa Adrian mungkin bukan hanya rekan bisnis/suaminya, melainkan dalang di balik tragedi masa lalu keluarganya.
Di dunia mereka, cinta adalah kelemahan, dan pengkhianatan adalah strategi. Saat kontrak mulai melanggar logika hati, siapakah yang akan hancur lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanessa_Write, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Topeng di Depan Kamera
Satu minggu setelah penandatanganan dokumen kontrak di Arsa Tower, kabar mengenai hubungan asmara yang mendadak serta rencana pernikahan antara Adrian Arsa dan Elena Alexander meledak di seluruh kanal berita bisnis dan hiburan global. Spekulasi liar bermunculan di berbagai forum diskusi saham; beberapa analis menyebutnya sebagai merger terselubung untuk mengamankan jalur modal, sementara media gosip mengagungkannya sebagai romansa paling fenomenal abad ini. Untuk meredam rumor liar yang bisa mengacaukan stabilitas harga pasar, Adrian memutuskan untuk mengadakan sebuah konferensi pers eksklusif di aula utama hotel mewah milik salah satu anak perusahaan Arsa Group.
Sore itu, suasana di balik panggung konferensi pers terasa begitu mencekam.
Riuh rendah suara ratusan wartawan, kilatan lampu yang sedang diuji coba, dan lalu-lalang staf humas menciptakan kebisingan yang memekakkan telinga. Elena berdiri di depan sebuah cermin besar di dalam ruang tunggu VVIP, menatap pantulan dirinya sendiri dengan napas yang agak memburu. Ia mengenakan gaun formal berpotongan sabrina berwarna putih gading yang mengekspos garis bahunya yang tegas. Di lehernya, The Blue Seraph berkilau dan menjadi pusat perhatian.
Elena mengepalkan kedua tangannya yang terasa sedingin es. Logika bisnisnya tahu persis apa yang harus ia lakukan, namun menghadapi ratusan pemburu berita dengan kamera yang siap menguliti setiap ekspresi wajahnya adalah hal yang sama sekali berbeda. Ia takut matanya akan mengkhianati sandiwara ini. Ia takut dunia akan melihat bahwa semua ini hanyalah sebuah transaksi di atas kertas beludru.
Pintu ruang tunggu terbuka tanpa suara. Dari cermin, Elena melihat Adrian melangkah masuk. Pria itu tampak begitu menawan sekaligus mengintimidasi dalam balutan setelan jas hitam tiga potong yang dijahit khusus dari rumah mode ternama. Rambut hitamnya ditata rapi, menampilkan dahi yang lebar dan sepasang mata gelap yang selalu tampak tenang namun mematikan. Adrian berjalan mendekat, langkah kakinya yang konstan di atas karpet tebal entah bagaimana perlahan meredam kepanikan di dalam dada Elena.
Adrian berhenti tepat di samping Elena, menatap pantulan wanita itu di dalam cermin sebelum akhirnya beralih menatap langsung ke wajahnya. Ia menyadari rasa ketegangan di muka Elena dan bagaimana jemari wanita itu saling meremas dengan kuat.
"Tanganmu gemetar, Elena," ucap Adrian, suara baritonnya yang berat terdengar sangat jernih di antara kebisingan samar dari luar ruangan.
"Aku hanya... tidak terbiasa berbohong di hadapan begitu banyak kamera, Adrian," jawab Elena jujur, suaranya sedikit berbisik.
"Mereka adalah wartawan senior. Mereka dilatih untuk mencium kepalsuan dari jarak satu mil."
Adrian tidak langsung menjawab. Secara tidak terduga, ia mengulurkan tangan kanannya yang besar dan hangat, meraih sepasang tangan Elena yang sedingin es, lalu menyatukan tangan mereka ke dalam sebuah genggaman yang teramat erat. Sentuhan fisik yang kokoh itu seketika mengirimkan gelombang kehangatan yang menjalar naik ke lengan Elena, memaksa detak jantungnya yang liar untuk perlahan melambat.
"Tatap mataku, Elena," perintah Adrian dengan nada lembut namun dipenuhi oleh otoritas yang tidak bisa dibantah.
Elena mendongak, membiarkan sepasang mata indahnya tenggelam ke dalam manik mata gelap Adrian yang sedingin malam. Di sana, ia tidak menemukan keraguan sedikit pun.
"Begitu kita melangkah melewati pintu itu dan berdiri di bawah sorotan lampu, dunia luar tidak boleh melihat celah," bisik Adrian, wajahnya berjarak begitu dekat hingga Elena bisa merasakan embusan napas hangat pria itu di kulit pipinya. "Tunjukkan pada mereka bahwa kamu adalah milikku, dan aku adalah milikmu. Kalau kamu bingung oleh pertanyaan mereka, jangan melihat ke arah kamera. Cukup tatap aku, tersenyumlah, dan biarkan aku yang mengendalikan sisanya. Ingat, malam ini kita sedang menipu dunia demi menghancurkan musuh kita."
Elena menarik napas dalam-dalam, merasakan kekuatan dari genggaman tangan Adrian yang seolah menyalurkan keberanian baru ke dalam nadinya. Ia menegakkan bahunya, sepasang matanya kembali menyala dengan binar ketegasan seorang CEO. "Aku mengerti, Adrian. Aku siap."
"Bagus," sudut bibir Adrian terangkat tipis, membentuk sebuah senyuman misterius yang menunjukkan kepuasan.
Pintu besar menuju podium konferensi pers dibuka oleh petugas keamanan. Begitu Adrian dan Elena melangkah keluar secara berdampingan, badai lampu kilat kamera langsung menyambut mereka dengan sangat agresif. Kilatan cahaya putih yang menyilaukan berkedip tanpa henti bagaikan badai petir di malam hari, disertai oleh riuh rendah jepretan lensa mekanis.
Adrian dengan gerakan yang sangat ksatria dan protektif langsung merapatkan tubuhnya, melingkarkan tangan kirinya di pinggang ramping Elena dan menarik wanita itu hingga tubuh mereka menempel sempurna tanpa jarak. Di depan podium yang dipenuhi oleh puluhan mikrofon dari berbagai media internasional, mereka berdiri sebagai perwujudan sempurna dari sebuah power couple yang tak tertandingi.
Seorang wartawan senior dari media bisnis terkemuka langsung berdiri, mengangkat tangannya untuk mengajukan pertanyaan pertama. "Tuan Arsa, pengumuman ini sangat mengejutkan seluruh pelaku pasar. Banyak pihak yang berspekulasi bahwa pernikahan ini adalah langkah taktis dari Arsa Food Group untuk melakukan akuisisi secara agresif terhadap Luminous Beauty yang sedang tidak stabil pasca-hilangnya Alexander. Bagaimana tanggapan Anda?"
Adrian memajukan tubuhnya sedikit ke arah mikrofon, wajahnya tetap tenang tanpa memunculkan emosi sedikit pun, sementara tangan kirinya di pinggang Elena memberikan usapan lembut yang konstan sebuah gestur yang terlihat sangat penuh kasih sayang di depan kamera, namun Elena tahu itu adalah sinyal dari Arsa agar ia tetap tenang.
"Spekulasi adalah makanan sehari-hari bagi mereka yang tidak memiliki pekerjaan nyata di lantai bursa, Tuan," sahut Adrian, suaranya yang berat dan penuh wibawa menggema melalui pengeras suara aula, seketika membungkam seluruh ruangan. "Pernikahan kami bukanlah bagian dari bisnis. Arsa Food Group sudah memiliki segalanya, dan Luminous Beauty di bawah kepemimpinan Elena adalah perusahaan yang mandiri. Jika ada satu hal yang menyatukan kami, itu adalah fakta bahwa saya telah jatuh cinta pada wanita di samping saya ini sejak lama, dan saya tidak akan membiarkan siapa pun di industri ini mencoba memanfaatkan posisinya yang baru untuk kepentingan sepihak."
Jawaban yang begitu protektif dan dingin namun romantis itu memicu bisikan kagum di antara para pemburu berita. Adrian memalingkan wajahnya ke arah Elena, menatap istrinya di atas kertas itu dengan pandangan yang begitu dalam dan penuh kepalsuan yang sempurna, memaksa Elena untuk membalas tatapan itu dengan senyuman tercantik yang ia miliki.
Wartawan lain dari media hiburan ikut menyela. "Nona Alexander, bagaimana dengan Anda? Apakah kalung safir biru besar yang Anda pakai malam ini adalah hadiah pertunangan dari Tuan Arsa?"
Elena mendekatkan dirinya pada mikrofon, meniru ketenangan Adrian dengan sangat baik. "Kalung ini adalah The Blue Seraph, kalung ini milik mendiang ibuku yang sempat hilang. Adrian membelinya kembali di lelang minggu lalu bukan sebagai pajangan bisnis, melainkan sebagai bukti bahwa dia menghormati masa laluku dan siap menjagaku di masa depan. Pernikahan ini... adalah jawaban atas rasa aman yang dia berikan padaku."
Selama satu jam penuh, keduanya berdiri di atas panggung, menjawab setiap cecaran pertanyaan dengan kekompakan yang mengerikan. Di depan kilatan kamera yang membakar ruangan, topeng kemesraan mereka terpasang dengan sangat kokoh tanpa ada satu pun orang yang menyadari bahwa di balik senyuman indah dan rangkulan hangat tersebut, Adrian dan Elena sedang menyusun rencana pembalasan dendam yang akan menumpahkan darah di balik meja-meja saham. Mereka telah berhasil menipu dunia, dan permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
......BERSAMBUNG......