Hyeana adalah seorang gadis biasa yang tiba-tiba terlempar ke dimensi lain lalu Hyeana mencoba untuk keluar dari sana, ia mencari jalan keluar namun yang dia lalui hanya dunia yang tidak ada ujungnya. lalu tanpa sengaja ia tersandung hingga terjatuh didepan sebuah pintu yang sangat besar dan sangat indah, namun pintu itu otomatis terbuka lebar dengan disertai suara yang aneh. Hyeana ingin mencoba masuk ke sana karena ia berfikir siapa tau jalan untuk ia pulang berada dibalik pintu tersebut. Ketika ia hendak memasuki pintu tersebut, tiba-tiba muncul seorang pria dibelakangnya, lalu pria tersebut mengulurkan tangan-nya dan pria itu berkata, “Belum waktunya kamu berada di sini”.....Tak lama kemudian, Hyeana terbangun kembali di kamarnya dengan seorang pria berdiri di samping tempat tidurnya. Siapakah pria ini dan bagaimana kelanjutan dari kisah mereka? to be continue...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elrznta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SWEET TASTE
Pagi datang jauh lebih cepat dari yang Hyeana harapkan. Cahaya matahari tipis masuk dari sela tirai kamar sementara suara burung terdengar samar dari luar rumah. Hyeana menggeliat kecil di kasurnya sambil masih setengah tertidur. Namun beberapa detik kemudian, Hyeana langsung membuka mata penuh.
Ia sedikit terkejut karena Harvey masih ada di sana. Pangeran Veilstead itu masih duduk di kursi dekat tempat tidurnya persis seperti semalam. Mantel hitam panjangnya jatuh rapi sampai lantai sementara cahaya pagi membuat rambut hitamnya terlihat sedikit kebiruan.
Lebih parahnya lagi…Mata merah Harvey sedang memperhatikan dirinya tanpa berpaling sedikit pun.
“Kamu belum pulang Harvey?” Suara Hyeana masih serak karena baru bangun tidur.
“Aku menjagamu.” jawab Harvey
“Semalaman lagi?” tanya Hyeana lagi
“Hmm.”
Deg.
Wajah Hyeana langsung panas. Dia benar-benar gak tidur cuma buat ngawasin dirinya?! Normal gak sih itu?! Hyeana buru-buru duduk sambil menarik selimut sampai dagunya.
“Kamu gak capek?”
“Aku tidak membutuhkan tidur sesering manusia.”
“Itu bukan poinnya....”
Tatapan Harvey turun pelan ke arah wajah Hyeana yang masih setengah ngantuk.
“Kau tidur lebih tenang dibanding kemarin.”
“Hah?”
“Kau tidak sering terbangun lagi.”
Deg.
“JANGAN NGOMONG KAYAK KAMU NGAMATIN AKU TIDUR DETAIL BANGET.”
“Aku memang mengamatimu.”
“HARVEY.”
Namun sudut bibir Harvey malah naik tipis kecil dan sialnya…Hyeana mulai sadar Harvey sekarang makin sering menggoda dirinya diam-diam.
Beberapa detik kemudian Harvey berdiri dari kursinya lalu berjalan mendekat ke arah kasur. Langkahnya pelan. Tenang. Namun entah kenapa bikin jantung Hyeana makin gak aman.
“H-Harvey?”
Tangan Harvey perlahan menyentuh sisi rambut Hyeana yang sedikit berantakan lalu merapikannya pelan.
“Kau terlihat berantakan.”
“Pagi-pagi jangan bikin orang ga tenang.”
“Aku hanya merapikan rambutmu.”
“ITU MASALAHNYA.”
Harvey terlihat benar-benar bingung, manusia memang sulit dimengerti, namun tepat saat suasana makin gak aman...
“HYEANA?! KAMU UDAH BANGUN BELUM?!” Suara teriak kakaknya terdengar dari luar kamar.
Deg.
Hyeana langsung membeku. Harvey hanya diam. Terdengar ada langkah kaki yang mendekat.
“KAKAK MASUK YA—”
“JANGAN KAK!!”
Hyeana langsung lompat turun dari kasur panik.
“TUNGGU BENTAR KAK!”
Hyeana cepat-cepat menoleh ke arah Harvey.
“Portal, sekarang.”
Harvey terlihat santai.
“Aku tidak keberatan bertemu kakakmu.”
“AKU YANG KEBERATAN.”
“Kenapa?”
“GIMANA AKU JELASIN ADA COWOK DI KAMAR AKU PAGI-PAGI?!”
Harvey terdiam sebentar.
“Masuk akal.”
Pintu kamar mulai bergerak terbuka. Harvey akhirnya membuka portal hitam tipis di belakang tubuhnya. Namun sebelum masuk…Mata merahnya kembali menatap Hyeana pelan.
“Sampai jumpa sepulang sekolah.”
CRAAACK—
Harvey menghilang tepat beberapa detik sebelum kakaknya masuk.
“Kamu kenapa pagi-pagi teriak?”
“G-Gak kenapa kok kak…”
Tatapan kakaknya menyapu kamar Hyeana sebentar.
Namun tentu saja…Dia tidak bisa melihat Harvey ataupun sisa portal tadi. Manusia biasa memang tidak dapat melihat Veilstead. Meski begitu kakaknya tetap mengernyit kecil.
“Kamarmu dingin banget.”
Hyeana langsung refleks melihat bekas tempat Harvey tadi duduk. Aura Veilstead memang selalu meninggalkan hawa dingin samar.
“A-Ah…mungkin AC.”
“Kamu tidur pake AC? Jendela kebuka gitu?”
“I-iya juga ya.”
Kakaknya langsung ketawa kecil.
“Kamu masih ngantuk kayaknya.”
dan untungnya…dia gak curiga lebih jauh.
*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊
Sekolah hari itu berjalan seperti biasa, atau setidaknya terlihat biasa. Karena sebenarnya pikiran Hyeana benar-benar gak tenang. Harvey duduk dekat kasurnya semalaman, ngawasin dirinya tidur, nyentuh rambutnya pagi-pagi, dan sialnya…Semakin dipikirin semakin bikin jantung Hyeana gak normal.
“Dia senyum-senyum sendiri lagi.” bisik Anne.
Ara langsung nengok.
“ASTAGA IYA.”
“Apaan sih kalian.” ucap Hyeana panik
Haras langsung nyender santai ke meja Hyeana.
“Jujur aja sekarang. Kalian udah pacaran kan?”
“NGGAK.”
“Boong.”
“BENERAN.”
Olla yang dari tadi tidur di meja langsung angkat kepala sedikit.
“Harvey tuh vibesnya udah kayak cowok posesif yang siap muncul dari dimensi lain kalau Hyeana dipegang orang.”
“OLLA IH.”
Namun Seana yang duduk dekat jendela tiba-tiba bicara pelan.
“Dia memang seperti itu.”
Suasana langsung sedikit hening, Hyeana menoleh ke arah Seana.
“Maksudnya?”
Seana diam beberapa detik sebelum akhirnya membuka bukunya lagi.
“Bukan apa-apa.”
Tinggg.
Liontin hitam di leher Hyeana mendadak terasa hangat kecil.
Deg.
Hyeana langsung refleks memegang liontin itu dan entah kenapa…Dia langsung tahu, Harvey ada di dekat sini. Mata Hyeana spontan melihat ke arah jendela kelas dan benar saja. Di bawah pohon besar dekat halaman sekolah…Harvey berdiri diam dengan mantel hitam panjangnya.
Tidak ada satu murid pun yang menyadarinya. Orang-orang tetap berjalan lalu lalang seperti biasa seolah Harvey tidak ada di sana. Namun beberapa siswa terlihat menggosok lengan mereka pelan.
“Eh kok dingin tiba-tiba…”
“Aneh banget anginnya.”
Mereka tidak bisa melihat Harvey… tapi tubuh mereka masih bisa merasakan kehadirannya samar.
Sedangkan di dalam kelas, Ara langsung refleks berdiri sedikit.
“Dia dateng lagi.”
Haras nengok ke luar jendela lalu langsung nyengir.
“Anjir beneran nungguin.”
Anne sampai ketawa kecil.
“Ini udah bukan jemput lagi sih. Ini ngawasin.”
Hyeana langsung nutup wajah pakai buku karena malu banget. Sementara di luar sana…Mata merah Harvey hanya tertuju pada satu orang, Hyeana.
Tidak peduli berapa banyak manusia di sekitar, tatapan itu tidak pernah berpaling lama darinya, dan entah kenapa…Hal itu bikin jantung Hyeana makin gak aman.
*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊
Jam pulang akhirnya tiba. Begitu keluar gerbang sekolah, Hyeana langsung melihat Harvey berdiri dekat pohon besar seperti tadi. Aura dingin samar langsung menyambut dirinya dan seperti biasa…Tidak ada orang lain yang sadar Harvey ada di sana.
Beberapa murid hanya terlihat sedikit bingung karena angin sekitar gerbang terasa lebih dingin dari biasanya.
“Cuacanya aneh deh…”
“Padahal tadi panas.”
Sedangkan Harvey tetap diam memperhatikan Hyeana datang mendekat. Tatapan merahnya langsung sedikit melembut.
“Kau terlihat lelah.”
“Sedikit…”
Harvey berjalan mendekat lalu merapikan sedikit rambut Hyeana yang berantakan karena angin. Gerakan kecil itu natural seolah tangannya memang terbiasa menyentuh Hyeana.
Teman-temannya langsung: “….”
Ara hampir teriak sendiri.
“Ya ampun.”
Anne ngakak pelan.
“Dia makin terang-terangan.”
Namun tepat saat itu.....
“Eh Hyeana!”
Seorang cowok dari kelas sebelah tiba-tiba lari kecil mendekat sambil membawa buku.
“Aku mau balikin catatan kemarin—”
Cowok itu tentu tidak bisa melihat Harvey namun tepat saat dirinya berdiri terlalu dekat dengan Hyeana…
Deg.
Tubuhnya langsung menegang sendiri, angin dingin tiba-tiba lewat. Mata Harvey perlahan menoleh ke arah cowok itu, tatapan merahnya berubah dingin, cowok itu langsung pucat tanpa tahu kenapa.
“Ah...Hyeana ini bukunya.”
Tangannya yang memegang buku bahkan sedikit gemetar. Hyeana cepat-cepat mengambil bukunya.
“M-makasih ya!”
“I-Iya…”
Cowok itu langsung pergi cepat-cepat, kabur lebih tepatnya, suasana sunyi beberapa detik lalu Hyeana perlahan menoleh ke arah Harvey.
“Kamu nakutin dia lagi ya?”
“Aku tidak melakukan apa pun.”
“Tatapan kamu serem.”
“Dia terlalu dekat denganmu.”
Ara langsung mukul lengan Haras pelan.
“TUH KAN.”
Haras nyengir lebar.
“Fix posesif.”
“Bukan itu maksudku.” lanjut Harvey tenang.
“Aku hanya tidak menyukai orang asing berada terlalu dekat denganmu.”
“Itu posesif Harvey.”
Harvey terlihat diam sebentar seolah benar-benar memikirkan kata itu.
“Begitu ya.”
Dan sialnya…Dia sama sekali tidak terdengar menyesal, Hyeana langsung menatap Harvey gak percaya.
“Kamu tuh sadar gak sih kalau cara kamu ngomong barusan bahaya banget?”
“Aku hanya mengatakan apa yang kupikirkan.”
“Nah itu masalahnya.”
Harvey terlihat benar-benar bingung. Baginya menjaga Hyeana dan memastikan tidak ada siapa pun terlalu dekat dengannya adalah hal normal. Sangat normal. Namun reaksi semua orang sekarang malah seperti dirinya baru mengaku ingin menghancurkan dunia lagi.
Ara langsung nyenggol bahu Hyeana pelan sambil bisik-bisik heboh.
“Dia beneran gak malu ngomong posesif depan kita.”
“Dia malah gak sadar itu posesif.” jawab Anne sambil nahan ketawa.
Haras ngakak kecil.
“Serem banget kalau Harvey udah resmi pacaran nanti.”
“HARAS DIEM.”
Namun Harvey yang mendengar itu malah menoleh pelan.
“Resmi pacaran?”
Semua langsung diam.
Hyeana: “….”
Ara: “…waduh.”
Anne langsung buang muka nahan ketawa sedangkan Harvey terlihat benar-benar sedang memikirkan kalimat itu serius lagi.
Hyeana langsung panik.
“JANGAN DIPIKIRIN.”
“Tapi tadi mereka bilang—”
“MEREKA CUMA NGOMPORIN.”
Harvey terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menatap Hyeana pelan.
“Kalau begitu…kau tidak menyukainya?”
Deg.
Wajah Hyeana langsung merah total.
“B-BUKAN GITU MAKSUDKU.”
Jantungnya langsung gak aman lagi, kenapa Harvey selalu nanya dengan muka setenang itu sih?!
Dan yang lebih parah…tatapan merah Harvey sekarang benar-benar tertuju penuh ke dirinya seolah menunggu jawaban serius. Untung sebelum Hyeana meledak karena malu....
“EH ADA PENJUAL ROTI.” Olla tiba-tiba nyeletuk.
Semua langsung buyar.
“FOKUS KAMU ROTI TERUS.” Haras protes.
“Tapi aku lapar.” Olla langsung jalan duluan ke pinggir jalan sementara yang lain ikut ribut di belakangnya.
Hyeana menghela napas lega kecil, dia nyaris aja mati karena gombalan Harvey. Namun beberapa detik kemudian…
“Hyeana.”
“Hm?”
Harvey tiba-tiba berjalan sedikit lebih dekat ke samping dirinya. Dekat sekali sampai Hyeana bisa merasakan hawa dingin samar aura Veilstead dari tubuhnya. Tatapan merah Harvey turun pelan ke arah kerumunan orang di sekitar jalan. Meskipun mereka tidak bisa melihat Harvey…Tetap saja banyak manusia berlalu lalang di dekat Hyeana dan entah kenapa Harvey terlihat tidak menyukainya.
“Kau selalu berada di tempat seramai ini setiap hari?”
“Iya…namanya juga sekolah.”
Harvey diam sebentar lalu perlahan tangannya bergerak mendekat ke arah Hyeana.
Deg.
“H-Harvey?”
Namun Harvey hanya menarik pelan tas sekolah Hyeana agar tubuh gadis itu menjauh sedikit dari seorang pengendara motor yang lewat terlalu dekat.
Gerakannya cepat. Refleks. Protektif sekali. Motor itu melaju pergi tanpa sadar ada sosok menyeramkan dari Veilstead yang tadi hampir menatapnya dingin.
Sedangkan Hyeana langsung membeku.
“Kamu bahkan jagain jarak orang lewat sekarang?”
“Aku tidak mempercayai manusia.”
“Itu rasis spesies.”
“Aku hanya mempercayaimu.”
Deg.
Ara yang mendengar dari belakang langsung nyaris teriak. Anne mukanya udah merah nahan ngakak. Haras sampai tepuk tangan pelan.
“Gue nyerah. Harvey menang.”
“APANYA YANG MENANG.”
Namun Harvey tetap terlihat tenang seperti biasa.
Seolah kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya bukan sesuatu yang bikin Hyeana hampir meledak.
Langit sore perlahan berubah jingga keemasan saat mereka terus berjalan pulang bersama.
Dan tanpa sadar…Hyeana mulai menyadari sesuatu.
Harvey selalu berada sedikit di samping atau belakang dirinya. Selalu memperhatikan sekitar.
Selalu memastikan tidak ada sesuatu yang terlalu dekat. Awalnya Hyeana pikir Harvey cuma overprotective karena kejadian roh kemarin.
Namun sekarang…Rasanya lebih dari itu. Jauh lebih dalam. Harvey benar-benar tidak suka dunia berada terlalu dekat dengannya. Dan anehnya…Alih-alih takut…Hyeana malah mulai merasa nyaman. Sangat nyaman. Seolah selama Harvey ada di dekatnya…Tidak ada apa pun di dunia ini yang bisa menyentuh dirinya duluan.