NovelToon NovelToon
Tunangan Paksa Sang Bangsawan, Tapi Aku Ingin Jadi Bintang

Tunangan Paksa Sang Bangsawan, Tapi Aku Ingin Jadi Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:907
Nilai: 5
Nama Author: Ulfah_muna

Semua orang iri saat tahu Solenne bertunangan dengan Zevran Ardevar—bujangan nomor satu paling diinginkan seantero kerajaan, seorang bangsawan aristokrat yang dingin, kaya, dan terlalu tampan untuk diabaikan.
Mereka mengira Solenne hanyalah gadis beruntung yang memanfaatkan hubungan masa kecil.
Padahal, mereka bahkan tidak saling mengenal.
Pertunangan ini hanyalah wasiat terakhir sang ibu dan sebuah hutang budi yang belum lunas.
Di tengah hujatan publik, karier Solenne sebagai aktris justru berada di titik terendah.
Diremehkan, disabotase, dan hampir tenggelam, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya pantas berdiri di atas panggung.
Namun semakin ia berjuang, semakin Zevran yang awalnya dingin mulai mengejarnya dengan serius.
Di dunia hiburan yang dipenuhi sihir dan teknologi masa depan, mampukah Solenne menjadi bintang terbesar abad ini… dan menaklukkan hati pria yang seharusnya hanya menjadi tunangan kontraknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfah_muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Waktu untuk Memilih

Aku tidak langsung menjawab.

Tatapanku masih tertuju pada kolom tanda tangan kosong di bagian paling bawah dokumen itu.

Satu goresan tinta.

Hanya itu yang dibutuhkan untuk mengubah seluruh hidupku.

Jari-jariku perlahan menutup dokumen transparan tersebut.

“…aku butuh waktu.”

Suasana ruangan mendadak hening.

Rob yang berdiri di sampingku tidak terlihat terkejut.

Seolah ia memang sudah menduga jawaban itu.

Tentu saja.

Mana mungkin seseorang langsung menerima tawaran menikah dengan konglomerat paling berpengaruh di kerajaan hanya dalam satu malam?

Rob sedikit membungkuk.

“Tentu, Nona Mireya.”

Suaranya tetap tenang dan sopan.

“Anda berhak memikirkannya.”

Aku menghela napas pelan.

Syukurlah.

Setidaknya mereka tidak memaksaku memutuskan sekarang.

Rob lalu mengeluarkan sebuah kartu hitam berlapis aksen emas dari saku dalam jasnya.

Kartu itu terlihat berat.

Mewah.

Di sudutnya terdapat lambang keluarga Ardevar yang terukir timbul.

Ia menyerahkannya padaku dengan kedua tangan.

“Jika Anda sudah siap, Anda dapat datang langsung ke alamat ini.”

Tatapanku turun pada tulisan holografik yang perlahan menyala di permukaan kartu.

Menara Ardevar

Distrik pusat, Ibukota Kerajaan

Jantungku sedikit berdebar.

Gedung itu.

Tentu saja aku tahu.

Siapa yang tidak tahu?

Gedung tertinggi di ibukota.

Pusat bisnis, keuangan, dan hiburan kerajaan.

Bangunan yang hampir setiap hari muncul di layar berita.

Aku pernah melihatnya dari jauh sekali saat masih menjadi trainee.

Menjulang di tengah lautan gedung kaca seperti pusat dunia.

Dan sekarang…

aku mendapat undangan khusus untuk masuk ke sana.

Rob kembali berbicara.

“Kartu ini juga berfungsi sebagai akses prioritas.”

“Tanpa ini, sangat sulit memasuki kantor utama Tuan muda.”

Aku memandangi kartu itu sekali lagi.

Dunia yang baru saja kutinggalkan satu jam lalu kini terasa semakin jauh.

Dunia Zevran Ardevar.

Dunia yang terlalu tinggi untuk seseorang sepertiku.

Aku pulang larut malam.

Langit kota kecil tempat tinggal ku sudah sepi.

Lampu jalan memantul di trotoar yang sedikit basah.

Gedung-gedung di sini tidak setinggi di ibukota.

Tidak ada jalur langit mewah.

Tidak ada kendaraan udara atau darat eksklusif.

Hanya kota yang tetap sibuk karena semua orang masih bekerja hingga malam.

Di dunia seperti sekarang, hidup terasa seperti perlombaan yang tidak pernah selesai.

Kerja.

Bayar tagihan.

Kerja lagi.

Aku menggenggam kartu hitam itu erat di dalam saku.

Sampai sekarang aku masih belum percaya.

Aku, Mireya Solenne.

Aktris kecil yang bahkan belum pernah benar-benar bersinar.

Tiba-tiba diminta menikah oleh Zevran Ardevar.

Konglomerat nomor satu.

Bangsawan paling berpengaruh.

Dan pria tertampan yang bahkan cara makannya saja bisa bikin aku hampir gigit garpu sendiri.

Pipiku langsung memanas.

Astaga, kenapa malah teringat itu sih?

Aku buru-buru menggeleng.

Tidak.

Fokus.

Ini bukan soal tampan.

Ini soal ibu.

Langkahku melambat saat melihat gedung rumah sakit rehabilitasi di ujung jalan gedung nya juga paling tinggi dari sekitar daerah ini.

Lampu di salah satu jendelanya masih menyala.

Kamar ibu.

Dadaku sedikit mengencang.

Semua keputusan ini… pada akhirnya akan kembali pada satu hal.

Menyelamatkan orang yang paling penting dalam hidupku.

...****************...

Akhirnya aku sampai di tempat yang masih bisa kusebut rumah.

Sebuah kompleks perumahan kecil di pinggiran kota.

Kalau orang luar melihatnya, mungkin mereka akan menyebutnya wilayah kumuh.

Dan… memang tidak salah.

Bangunan-bangunannya rapat, cat dinding beberapa rumah sudah mulai mengelupas, dan saluran air kadang suka macet saat hujan deras.

Namun dibandingkan wilayah kumuh lain, tempat ini masih jauh lebih layak.

Setidaknya keamanan di sini masih cukup terjaga.

Lampu jalan masih berfungsi.

Pintu gerbang kompleks masih dijaga.

Dan orang-orangnya, meski sibuk dengan hidup masing-masing, tidak sekejam lingkungan lain yang pernah kudengar.

Justru karena itu, tempat ini menjadi salah satu kawasan paling diminati bagi orang biasa yang tidak punya cukup uang untuk tinggal di pusat kota.

Aku menatap rumah kecil di ujung gang.

Rumah ini… adalah satu-satunya rumah yang benar-benar kuingat.

Sebenarnya dulu kami pernah tinggal di tempat lain.

Rumah khusus yang di berikan keluarga Ardevar untuk pekerja nya. Tapi setelah ayah meninggal tidak pantas bagi kami untuk menempat rumah itu lagi, apalagi dari pihak ayah hanya tersisa orang tuanya yang sudah tua renta yaitu kakek nenek ku.

Ini Rumah peninggalan kakek dan nenek dari pihak ayah.

Namun setelah mereka meninggal karena usia, rumah ini jadi terlalu lega dan terasa sepi.

Tentang keluarga ibu… aku bahkan tidak pernah mengenal siapa pun.

Ibu adalah seorang yatim piatu.

Bukan karena kedua orang tuanya meninggal.

Melainkan karena dirinya dibuang.

Begitulah cerita yang pernah ia sampaikan padaku saat kondisinya masih lebih baik.

Ibu lahir dengan penyakit jantung bawaan—kelainan katup jantung yang membuat tubuhnya mudah lelah dan sesekali kambuh dengan nyeri dada serta sesak.

Penyakit jantung bawaan memang bisa berlangsung seumur hidup dan kadang memerlukan operasi atau pemantauan jangka panjang.

Mungkin karena mengetahui kondisi itu… orang tuanya meninggalkannya di depan panti asuhan.

Panti itulah yang merawat ibu sampai dewasa.

Sampai akhirnya ia bertemu ayah.

Mereka menikah.

Tak lama kemudian, ibu mengandungku.

Aku anak satu-satunya mereka.

Dan entah kenapa, setiap kali memikirkan itu, dadaku selalu terasa sedikit kosong.

Karena pada akhirnya… aku benar-benar tidak memiliki siapa-siapa lagi.

Tidak ada keluarga besar.

Tidak ada saudara.

Tidak ada tempat untuk sekadar bercerita.

Di lingkungan seperti ini, semua orang terlalu sibuk bertahan hidup.

Pagi bekerja.

Malam pulang kelelahan.

Besok ulang lagi.

Aku menarik napas panjang sambil membuka pintu rumah.

Langkahku otomatis melambat saat ingatan lama kembali terlintas.

Dulu, ibu pernah bercerita… saat sedang mengandungku, ia hampir menjadi korban penculikan.

Tidak.

Bukan hampir.

Ia memang benar-benar diculik.

Saat itulah ia bertemu dengan seorang wanita lain yang juga sedang hamil.

Wanita itu kemudian menjadi sahabat terdekatnya.

Sahabat yang baik hati.

Sahabat yang kaya raya.

Sahabat yang kelak mengubah hidup keluarga kami.

Dari persahabatan itulah ayah mendapat pekerjaan yang layak.

Gaji besar.

Fasilitas hidup.

Tunjangan keluarga.

Semua berawal dari rasa terima kasih.

Sayangnya… kecelakaan kerja merenggut nyawa ayah sebelum aku cukup besar untuk mengenalnya.

Aku bahkan tidak tahu seperti apa suara beliau.

Yang kupunya hanya beberapa foto lama. Beberapa vidio lama.

Dan wajah yang samar.

Setelah itu, hidup kami berpindah hingga akhirnya menetap di rumah kecil ini peninggalan nenek kakek.

Semua cerita itu… adalah cerita yang masih bisa kudengar saat ibu masih mampu berpikir jernih.

Saat beliau masih bisa tersenyum.

Masih bisa mengobrol denganku seperti biasa.

Namun semuanya berubah setelah kecelakaan tabrak lari itu.

Ibu berubah drastis.

Beliau menjadi lebih histeris.

Lebih murung.

Lebih sering diam menatap kosong.

Bagaimana tidak?

Ia kehilangan satu kakinya.

Dan bersama itu, ia kehilangan mimpinya.

Menari.

Satu-satunya hal yang paling dicintainya.

Sebagai ibu tunggal di dunia yang semakin mahal, beban itu jelas terlalu berat.

Sejak aku lulus sekolah menengah atas…

aku mulai bekerja keras.

Mengambil pekerjaan apa pun yang bisa memberiku uang.

Semua demi satu tujuan.

Menyembuhkan ibu.

...****************...

Aku menjatuhkan tubuh ke sofa kecil yang sudah mulai tipis busanya.

Langit di luar jendela telah sangat gelap. Sudah lewat tengah malam juga.

Namun kepalaku justru semakin penuh.

Kontrak.

Ibu.

Zevran.

Semua bercampur jadi satu.

Tapi besok pagi aku tetap harus pergi bekerja.

Lucu ya.

Baru beberapa jam lalu aku duduk di restoran mewah bersama konglomerat nomor satu kerajaan.

Besoknya aku harus kembali ke lokasi syuting sebagai artis kelas lima.

Aku tertawa kecil.

Pahit.

Kalau orang mendengar profesiku, mungkin mereka akan langsung membayangkan lampu sorot, gaun mahal, dan penggemar yang berteriak memanggil nama.

Padahal kenyataannya jauh dari itu.

Aku memang sudah debut.

Secara resmi aku adalah seorang aktris.

Tapi aktris seperti apa?

Aktris latar.

Aktris yang bahkan namanya tidak muncul di poster.

Lewat satu detik di belakang pemeran utama.

Tanpa dialog.

Tanpa close-up.

Kadang bahkan wajahku tertutup orang lain.

Beberapa kali aku menjadi pemeran pengganti.

Adegan jatuh.

Adegan ditampar.

Adegan tercebur ke kolam.

Adegan dilempar ke tanah.

Semua itu sering kali jatuh ke tanganku.

Karena katanya—

“kamu cocok buat bagian fisik.”

Aku mendecih pelan.

Bukan cocok.

Lebih tepatnya karena aku yang paling mudah disuruh.

Dan semua itu berpusat pada satu nama.

Luna.

Kami debut di tahun yang sama.

Masuk agensi yang sama.

Latihan bersama.

Menunggu kesempatan bersama.

Namun sejak awal, takdir kami sudah berbeda.

Luna adalah anak emas perusahaan.

Setingkat di atasku.

Tidak terlalu terkenal, tapi selalu mendapatkan prioritas.

Peran lebih bagus.

Sesi pemotretan.

Acara promosi.

Kontak sponsor.

Semua yang seharusnya bisa menjadi batu loncatan untuk karierku… selalu jatuh ke tangannya.

Karena ia punya backingan.

Entah investor, entah orang dalam.

Yang jelas, semua orang di agensi tahu.

Tidak ada yang berani melawannya.

Aku masih ingat suara tawanya.

“Nggak semua orang cocok jadi artis, Mireya.”

Tatapannya dari atas ke bawah selalu membuatku muak.

“Kalau wajah dan bakatmu segitu-segitu aja, mending jadi stunt double.”

Aku mengepalkan tangan.

Yang paling ku benci bukan kata-katanya.

Tapi kenyataan bahwa ia sering membuatnya jadi nyata.

Beberapa adegan berbahaya yang seharusnya bisa selesai sekali…

dibuat berulang.

Sengaja.

Aku tahu itu.

Semua orang tahu.

Salah satu yang paling kuingat adalah adegan tercebur ke kolam.

Air malam itu dingin sekali.

Aku harus jatuh.

Bangun.

Jatuh lagi.

Lima kali.

Enam kali.

Tujuh kali.

Karena Luna terus bilang ekspresiku salah.

Padahal kamera bahkan tidak fokus ke wajahku.

Hanya tubuh yang jatuh.

Aku menggigit bibir.

Kadang aku benar-benar membencinya.

Bukan karena dia lebih sukses.

Tapi karena dia selalu memastikan aku tetap di bawah.

Seolah keberadaan ku sendiri mengganggunya.

Besok pagi…

aku harus kembali menemuinya.

Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya… aku merasa mungkin hidupku akan segera berubah.

Atau bahkan jika tidak...

Akan ku buat itu berubah!

...****************...

Baru sekarang semuanya terasa masuk akal.

Aku kembali teringat lorong lorong dan halaman gedung kecil tempat Zevran tadi menemui ku.

Gedung ini memang tidak besar.

Dari luar bahkan lebih mirip bangunan kantor tua yang dipoles seadanya agar tetap terlihat layak.

Namun di sinilah tempat aku bekerja.

Agensi hiburan tempat aku debut.

Tempat yang katanya akan membawaku menuju panggung besar.

Lucu.

Karena yang kudapat justru lebih banyak lorong sempit, ruang latihan pengap, dan kamar asrama sempit yang bahkan nyaris tidak cukup untuk dua orang.

Agensi ini memang menyediakan asrama.

Dan bagi trainee maupun artis level bawah seperti aku, tinggal di sana adalah bagian dari kontrak.

Wajib hadir di hari-hari penting.

Latihan.

Syuting mendadak.

Panggilan casting.

Rapat evaluasi.

Semua lebih mudah jika kami tinggal di asrama.

Meski begitu, saat hari libur atau cuti, kami justru diwajibkan keluar.

Alasannya sederhana.

Agensi tidak punya cukup biaya untuk menanggung makan semua penghuni asrama setiap hari.

Aku terkekeh pelan, pahit.

Lucu sekali.

Aku bekerja di industri hiburan.

Namun hidupku bahkan masih bergantung pada kantin asrama.

Sering kali aku sengaja mengulur waktu makan hanya agar bisa makan di sana.

Karena kalau harus membeli makanan di luar…

uangku tidak akan cukup sampai akhir minggu.

Baru sekarang aku sadar.

Kalau selama ini bukan karena tunjangan dari keluarga Ardevar…

mungkin aku bahkan tidak bisa bertahan sampai hari ini.

Seluruh uang santunan dan tunjangan yang selama ini ibu terima selalu ku gunakan untuk pengobatannya.

Biaya rumah sakit.

Obat.

Terapi.

Kontrol rutin.

Semua masuk ke sana.

Sedangkan hasil kerjaku sendiri…

lebih banyak habis untuk membayar kebutuhan rumah kecil kami dan makan sehari-hari.

Itu pun sering kali kurang.

Aku menghela napas panjang.

Lalu pandanganku jatuh pada kontrak kerjaku yang tersimpan di terminal pribadi.

Untuk pertama kalinya malam ini, aku membukanya lagi.

Dan aku hampir tertawa.

Tertawa karena merasa bodoh.

Bodoh sekali.

“Dua puluh persen?”

Aku membaca angka itu berulang kali.

Dua puluh persen.

Hanya itu bagi hasil yang kuterima.

Padahal saat awal debut dulu, aku sempat viral.

Aku masih ingat jelas.

Satu video cuplikan penampilanku saat latihan tari sempat menyebar luas.

Banyak yang bilang ekspresiku bagus.

Gerakanku kuat.

Bahkan beberapa orang memprediksi aku akan cepat naik.

Namun setelah itu… semuanya menghilang.

Project yang awalnya ditujukan untukku berpindah ke Luna.

Jadwal promosi dipindahkan.

Poster diganti.

Nama yang tadinya hampir naik, tenggelam begitu saja.

Saat itu aku hanya berpikir mungkin aku memang kurang beruntung.

Tapi sekarang… aku mulai sadar.

Karierku benar-benar direbut.

Dan aku terlalu sibuk bertahan hidup untuk menyadarinya.

Tanganku mengepal.

Yang lebih menyakitkan lagi— masa kontrakku masih tersisa satu tahun.

Satu tahun penuh.

Jika aku memutuskan keluar sekarang, penalti kontraknya terlalu besar.

Jumlah yang bahkan mustahil kubayar.

Aku tidak akan mampu.

Jadi selama ini… aku memang benar-benar dikurung.

Diinjak.

Dimanfaatkan.

Diperas.

Dan tetap dipaksa bertahan.

Aku memejamkan mata.

Selama ini aku hanya terus berkata pada diriku sendiri:

bertahan sedikit lagi

sabar sedikit lagi

mungkin nanti akan lebih baik

Namun malam ini, setelah bertemu Zevran…

untuk pertama kalinya aku merasa sesuatu dalam hidupku mulai bergerak.

Dan mungkin… ini adalah kesempatan terakhirku untuk keluar dari semua ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!