Setelah partai persilatan aliran hitam terkuat Gapura Iblis runtuh, duniapun berubah menjadi lebih tenang dan damai. hampir tidak ada lagi perselisihan besar yang terjadi di antara kaum pendekar. semuanya sama berharap agar suasana tentram juga saling menghargai itu dapat terus bertahan selamanya.
Namun tidak ada yang abadi di dunia ini. karena tanpa mereka sadari, suatu kekuatan jahat yang terlupakan sedang bangkit dan mengancam dari balik kegelapan.
Keadaan menjadi semakin tidak terkendali saat terdengar kabar tentang kemunculan kembali dua senjata pusaka yang telah ratusan tahun lenyap dari rimba persilatan.
(Cerita ini ada sedikit keterkaitan dengan novel Pendekar Tanpa Kawan, 13 Pembunuh dan novel Kisah- Kisah Dunia Persilatan).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan di reruntuhan kuil tua. (Bag1)
Malam semakin larut. udara terasa sangat dingin menusuk tulang. suara hembusan angin yang menerobos sela dedaunan pohon seakan gema ratapan setan gentayangan. di langit terlihat gelap dengan sedikit bintang. cahaya rembulan hanya mengintip dari balik awan tebal, dengan sesekali terdengar bunyi gemuruh suara guntur.
Jika dilihat dari keadaan semacam itu, sangat mungkin sebentar lagi hujan akan turun ke bumi. tidak sampai waktu sepeminum teh kemudian, titik- titik air mulai membasahi tanah. mulanya hanya gerimis hingga pada akhirnya hujan lebat disertai angin kencang dan gelegar halilintar menyapu seisi jagad.
Di lereng sebuah bukit kecil yang berada di sebelah tenggara kadipaten Gadingrejo itu terdapat suatu reruntuhan bangunan kuil pemujaan yang terbuat dari susunan batu kali dan bata merah. saat hujan badai selebat ini jelas membuat reruntuhan bangunan kuil tua menjadi semakin kehilangan bentuk aslinya. mungkin karena letaknya berada di tempat yang agak rendah, longsoran tanah- bebatuan juga lumpur dari atas langsung menimpanya tanpa ada penghalang.
Dalam suasana kacau seperti itu, dari bawah bukit berkelebat beberapa sosok bayangan manusia yang dengan cepatnya bergerak menuju lereng bukit. jika dilihat dari arahnya, mereka sepertinya sedang menuju ke tempat dimana reruntuhan bangunan kuil pemujaan tadi berada. terpaan hujan angin kencang tidak menghalangi gerakan mereka.
Saat pertama kali mereka datang ke wilayah kaki bukit, sepertinya para pendatang yang berjumlah empat orang ini bukanlah berasal dari golongan yang sama. bahkan sempat terjadi ketegangan serta kecurigaan diantara mereka hingga nyaris berubah bentrokan sebelum salah satunya ada yang menengahi.
Dengan mengandalkan ilmu kesaktian yang dimiliki, mereka berempat dapat tiba hampir bersamaan waktunya di tempat reruntuhan kuil tua. hujan badai yang begitu deras tidak mampu sedikitpun menggoyahkan tubuh para pendatang itu. dari tubuh mereka terlihat kepulan asap tipis seakan menjadi semacam lapisan pelindung dari hawa dingin.
Setelah saling lirik, mereka berempat seakan bersepakat untuk menyebar ke empat penjuru arah. sepasang mata mereka yang tajam sanggup menembus guyuran hujan dan gelap malam hingga sejauh lebih dari seratusan langkah. tidak nampak apapun kecuali tanah berbatu juga semak belukar. salah seorang diantara mereka yang memakai jubah merah muda mendengus gusar.
''Huhm., jauh- jauh datang ke tempat sialan dalam cuaca buruk seperti ini, tetapi orang yang mengundang kita malah tidak terlihat. apakah dia sengaja berniat untuk menipu kita.?'' gerutu si jubah merah muda seraya keluarkan dengusan. dari suara juga bentuk tubuhnya, dapat dipastikan kalau dia adalah seorang perempuan.
Sebenarnya wanita ini sudah berumur lebih lima puluh tahunan. namun wajah juga kulit tubuhnya serupa perempuan muda tiga puluh tahun yang masih kencang. curahan air hujan membuat bedak- gincu juga pupur penghias wajah cantiknya luntur. wanita ini semakin bertambah kesal hingga tanpa dapat ditahan dia hantamkan satu aji kesaktian.
'Whuuuuss., whuuuuss., blaaaam., blaaaarr.!'
Curah hujan lebat seakan terbelah. untuk sesaat hawa udara terasa panas dengan kilatan cahaya merah. belasan langkah di seberang sana terlihat ada sebongkah batu sebesar kepala sapi hancur berkeping- keping setelah dihantam ilmu kedigdayaan yang dilontarkan wanita berjubah merah muda itu.
''Hee., he., ilmu pukulan 'Tapak Besi Merah' yang diandalkan Nyi Goyang Elok atau si 'Bunga Maut' memang tidak dapat dipandang remeh. jika kulihat., sepertinya ilmu itu sudah mengalami peningkatan dibandingkan saat kita berdua terlibat dalam perang besar di wilayah terlarang beberapa tahun silam..''
Ilmu pukulan Tapak Besi Merah selain punya kekuatan penghancur hebat, ajian ini juga memiliki keistimewaan mampu menghantam sasaran dari jarak yang jauh. semakin tinggi tingkatan tenaga dalam pemakainya, makin jauh juga jarak yang dapat dilampaui jurus itu. dengan mengandalkan ilmu kedigdayaan ini, si Bunga Maut berhasil mengangkat namanya di dunia persilatan.
Perempuan yang disebut sebagai Nyi Goyang Elok putar tubuh rampingnya dengan gaya dan senyuman genit. ''Chuih., dasar lelaki perayu. tapi apa yang kau katakan memang benar. sejak berhasil lolos dari perang besar celaka itu, diriku menyadari kalau ilmu silat dan kesaktian yang kumiliki masih cetek. karenanya selama ini aku berlatih keras..''
''Lalu., bagaimana dengan engkau sendiri, Ki Ageng Suryokolo alias si 'Pendekar Pedang Senjakala'. jangan kau bilang kalau selama ini dirimu cuma menganggur tanpa melatih ilmu silatmu. ataukah., dirimu malah tenggelam dalam pelukan para perempuan simpananmu. Hii., hi., pantas saja tubuhmu terlihat semakin kurus saja..'' sindir Nyi Goyang Elok terkikik.
Namun suara tawa perempuan cantik itu seketika lenyap berganti seruan takjub saat melihat lelaki setengah umur bertampang agak pucat dan mesum berjubah putih yang bernama Ki Agung Suryokolo itu mencabut sebilah pedang dari pinggang kirinya. sekali saja tangannya bergerak membabat lalu menusuk ke udara, beberapa larikan cahaya jingga tajam turut menyambar.
'Whuuutt., wheeett., shraaatt., sheeett.!'
'Whuuung., whuuung., claaasss., slaaash.!'
Suara mendengung keras terdengar saat taburan sinar pedang menebas udara. hujan deras yang tercurah seakan tertahan di udara. bahkan sesaat sempat semburat berbalik mental kembali ke atas sebelum hilang dan menguap. seiring dengan pedang yang balik ke sarungnya, guyuran hujan juga kembali menyapu bumi.
Hanya saja sekarang ini curah hujannya telah mulai berkurang hingga pada akhirnya tinggal rintik gerimis. meskipun demikian hawa udara justru terasa semakin dingin menerpa tubuh. melihat pertunjukan dua jenis ilmu kesaktian yang baru saja ditunjukkan, dalam hati kedua orang pendatang lainnya juga ikut terkesima.
Ki Agung Suryokolo hanya menyeringai sinis. dengan gaya tenang dia kembali sarungkan pedangnya. jika diperhatikan pada bagian belakang jubah putihnya terdapat lukisan panorama matahari senja dan sebilah pedang bersinar jingga. itulah tanda pengenal dari orang berjuluk 'Pendekar Pedang Senjakala'.
''Kuakui jurus pedang 'Semburat Sinar Senja Tenggelam' milikmu juga tidak buruk. diantara pendekar- pendekar pedang jaman sekarang, aku rasa kau bisa dianggap sebagai salah satu yang terkuat..'' puji Nyi Goyang Elok sambil kibaskan rambut hitamnya yang panjang. butiran titik air hujan tersebar ke arah dua orang lainnya yang sejak tadi diam.
Ini bukanlah kibasan rambut sembarangan, karena dengan pengerahan tenaga dalamnya, si Bunga Maut mampu mengubah puluhan tetes butiran air hujan yang menyebar itu menjadi lebih padat dan panas. meskipun tidak mematikan tapi jika terkena tubuh pasti juga dapat membuat kulit bengkak melepuh.
Tetapi kedua orang lelaki yang juga berusia lima- enam puluhan tahun itu tidak berusaha untuk menghindar. hanya dengan kebutan dua tangan masing- masing beberapa kali, mereka dengan mudah membuat musnah serangan jurus Nyi Goyang Elok atau si Bunga Maut itu. ''Ini bukan waktunya bermain- main. kita semua belum tahu betul maksud orang yang mengundang.!'' sentak orang tua yang wajah dan perawakannya masih nampak gagah- kekar.
''Aku tidak tertarik membuang tenaga dengan perempuan tua namun merasa dirinya masih gadis sepertimu..'' cibir pendatang berjubah hitam yang sepuluh jemarinya hampir dua kali lebih panjang dan besar dari umumnya itu ikut juga menegur. samar terlihat kabut tipis juga cahaya hitam redup menyelimuti jarinya.
Bukannya marah namun Nyi Goyang Elok malah justru umbar tawa genitnya. ''Hii., Hi., dua pesilat hebat si 'Pembunuh Tanpa Hati' serta sang 'Raja Pencoleng Berjari Hantu' rupanya juga tidak bernama kosong. diriku merasa sangat kagum pada kalian berdua. mohon maafmu jika perbuatanku tadi agak keterlaluan. aku hanya ingin memberikan sekedar salam perkenalan saja..''
Nyi Goyang Elok berjalan mendekat beberapa langkah dengan gaya gemulai. pinggul juga kedua buah dadanya yang menarik nampak bergoyang seolah dia sengaja mengundang nafsu lawan jenisnya. ''Kita berempat juga si pengundang sama- sama dari golongan hitam yang berhasil selamat dari perang besar masa silam. diriku merasa, kalau masalah yang kita hadapi ini ada kaitannya dengan peristiwa itu..''
Rupanya empat orang yang datang ke tempat bekas reruntuhan bangunan kuil tua itu adalah para pesilat kelas atas yang hendak memenuhi undangan dari Ki Jebat Kalongan alias Kelelawar Dari Akhirat. hanya sampai hujan mereda, ketua pertama dari 'Serikat Kalong Hitam' itu masih belum terlihat juga.
...................
Silahkan menuliskan 🗣️ komentar Anda, juga penilaian rate bintang ⭐5 lima jika dirasa novel ini bagus. 🙏😊👍☝💪⭐🌹☕👆🤝👏🤲. Terima kasih.