Kisah Shen Xiao Han dan Colly Shen adalah kelanjutan dari Luka dari Suami, Cinta dari Mafia, yang menyoroti perjalanan orang tua mereka, Holdes Shen dan Janetta Lee.
***
Shen Xiao Han dan Colly Shen, putra-putri Holdes Shen dan Janetta Lee, mewarisi dunia penuh kekuasaan dan bahaya dari orang tua mereka, Holdes dan Janetta.
Shen Xiao Han, alias Little Tiger, menjadi mafia termuda yang memimpin kelompok ayahnya yang sudah pensiun—keberanian dan kekejamannya melebihi siapa pun. Colly Shen, mahasiswi tangguh, terus menghadapi rintangan dengan keteguhan hati yang tak tergoyahkan.
Di dunia di mana kekuasaan, pengkhianatan, dan ancaman mengintai setiap langkah, apakah mereka akan bertahan atau terperangkap oleh bayangan keluarga mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Gedung apartemen.
Jacky Yin baru saja kembali.
Lampu ruangan menyala, menerangi apartemen yang sunyi dan rapi, terlalu rapi untuk seseorang yang tinggal sendirian. Ia melempar tasnya ke atas sofa tanpa peduli, lalu melangkah menuju kamar bagian dalam.
Langkahnya berhenti di depan sebuah dinding.
Di sana, terpasang beberapa foto yang tertata rapi, direkatkan dengan paku kecil dan selotip hitam. Foto-foto itu bukan foto biasa.
Wajah Shen Xiao Han terpampang jelas.
Di sampingnya, Colly Shen.
Beberapa foto diambil dari kejauhan. Ada yang tampak seperti hasil pengawasan, bukan kenangan.
Jacky berdiri diam cukup lama, menatapnya tanpa ekspresi.
“Kalian terlihat seperti keluarga yang bahagia,” gumamnya pelan.
“Tapi mari kita lihat… apakah kebahagiaan itu bisa bertahan lama.”
Tangannya terangkat, mengambil sebuah spidol hitam dari meja kecil di sampingnya.
“Namamu semakin terkenal, Colly Shen,” lanjutnya.
“Semua orang membicarakanmu setelah kejadian itu. Jenny He hanyalah orang bodoh yang mengira kekuasaan bisa melindunginya.”
Ujung spidol menyentuh foto Colly.
“Menarik,” ucap Jacky lirih.
“Kalian adalah mafia… tapi mampu menjatuhkan seorang pejabat yang dikenal dan dihormati banyak orang.”
Ia tersenyum tipis—bukan kagum, melainkan penuh perhitungan.
“Shen Xiao Han… Colly Shen,” gumamnya lagi.
“Kalau sesuatu terjadi pada kalian… apakah orang tua kalian akan tetap diam saja?”
Cret.
Garis hitam tebal mencoret foto Colly Shen.
Jacky mundur selangkah, menatap hasil coretannya dengan puas.
“Sasaran utama,” katanya dingin.
“Gadis remaja yang terbiasa merendahkan orang.”
Tatapan matanya mengeras.
“Kalau bukan karena kekuasaan ayah kalian,” lanjutnya pelan, penuh ejekan,
“apakah kalian masih bisa sesombong itu?”
“Tuan muda, Anda sudah pulang,” sapa seorang pria mengenakan setelan rapi. Sikapnya hormat, nada suaranya rendah.
Jacky Yin tidak menoleh. Ia melepaskan jaketnya dan menyerahkannya begitu saja.
“Berikan informasi yang aku minta,” perintahnya singkat.
Pria itu segera membuka map tipis dan melangkah mendekat.
“Ini, Tuan muda. Colly Shen selalu diantar dan dijemput oleh para pengawalnya. Ke mana pun dia pergi, pengawalan tidak pernah lepas. Sangat sulit untuk mendekatinya.”
Jacky duduk di sofa, satu kakinya disilangkan. Tatapannya dingin, seolah informasi itu sudah ia duga.
“Gadis remaja tidak mungkin hanya pulang-pergi kampus,” katanya pelan.
“Dia pasti punya tempat hiburan. Pasti ada celah.”
Asistennya menggeleng pelan.
“Masalahnya, Tuan muda… dia tidak pernah jalan-jalan bersama teman-temannya. Pengawasan keluarga terhadap gadis itu sangat ketat.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada lebih hati-hati,
“Bahkan Shen Xiao Han sendiri sangat protektif terhadap adiknya.”
Sudut bibir Jacky terangkat tipis.
Bukan senyum—melainkan tanda ketertarikan.
“Justru itu yang menarik,” ucapnya dingin.
“Jika Colly Shen adalah kelemahan Shen Xiao Han…”
Ia berdiri perlahan, matanya berkilat tajam.
“…maka mengancamnya sama sekali tidak sulit.”
***
Di sebuah ruangan yang remang-remang, Shen Xiao Han duduk santai dengan satu kaki terangkat di atas meja.
Ia mengenakan baju rajut hitam yang menutupi lehernya, dipadu jaket kulit gelap. Di tangannya, sebuah pisau lipat tajam berputar pelan—dibuka, ditutup, berkilat sesaat saat terkena cahaya lampu.
Udara terasa dingin.
“Bos,” ucap Roy, salah satu orang kepercayaan Xiao Han.
“Menurut informasi yang kami terima, Putra Long An sudah kembali.”
Pisau di tangan Xiao Han berhenti berputar.
“Hanya saja,” lanjut Roy hati-hati, “kami belum berhasil mendapatkan alamat keberadaannya.”
Monica yang duduk di kursi seberang mengangkat pandangan.
“Apa ada fotonya?”
Roy menggeleng.
“Tidak ada. Putra Long An belum pernah tampil di publik. Ayahnya tidak pernah memperkenalkannya kepada siapa pun. Sampai sekarang alasannya tidak diketahui.”
Monica menyilangkan tangan.
“Kalau begitu, kepulangannya… apakah disertai rencana jahat?”
Roy menarik napas pendek.
“Itu belum bisa dipastikan.”
Xiao Han akhirnya berbicara. Suaranya tenang, namun penuh tekanan.
“Usianya?”
“Dua puluh tiga tahun,” jawab Roy cepat.
“Mahasiswa,” tambah Monica sambil berpikir.
“Atau sudah bekerja?”
“Menurut informasi terakhir, dia seorang mahasiswa,” jawab Roy.
Ruangan kembali sunyi.
Pisau lipat di tangan Xiao Han kembali bergerak—kali ini lebih lambat.
“Tanpa foto, kita memang tidak bisa langsung menemukannya,” ucap Xiao Han datar.
“Tapi selalu ada cara untuk memastikan.”
Monica menoleh.
“Cara apa, Bos?”
Xiao Han mengangkat pandangan. Tatapannya tajam, dingin, seolah sudah melihat langkah-langkah ke depan.
“Cari semua universitas yang ada di negara ini,” perintahnya.
“Data seluruh mahasiswa baru yang bergabung.”
Ia berhenti sejenak.
“Kemudian… selidiki mereka satu per satu.”
Roy terdiam sesaat, lalu mengangguk hormat.
“Dimengerti.”
"Perasaanku mengatakan dia akan mendatangi kita," ucap Shen Xiao Han.
"Andaikan dia berencana menantang kita, maka universitas yang dia datangi adalah Yang Jing," kata Xiao Han.
"Bukankah nona akan dalam bahaya?" tanya Monica.
"Roy, cari tahu dari Yang Jing dulu, jangan sampai ada yang terlewatkan!" perintah Xiao Han.