Iveline yang menderita setelah ayahnya menikahi selingkuhannya, ternyata mendapatkan keajaiban dari kalung yang diwariskan oleh ibunya yang telah meninggal.
”Apakah aku sudah mati?“
”Anda belum mati, anda saat ini telah berada di ruang ajaib yang berada di dalam kalung anda!“
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dee hwang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Penyesalan
Iveline tidak percaya jika harga asli dari semua perhiasan yang dia jual, beserta dengan kotaknya, memiliki harga ratusan miliar. 250 miliar adalah harga asli dari semuanya, namun Carla memaksa untuk menambahkan sampai 260 miliar.
Semua uang itu dikirimkan pada dua akun bank digital yang Keira siapkan khusus untuk Iveline. Itu adalah akun bank baru yang tidak akan bisa dilacak oleh ayah Iveline ataupun ibu tirinya.
Setelah semua transaksi selesai, Carla mengundang Iveline untuk makan malam di rumahnya. Carla bilang, putranya telah memasak makan malam spesial untuk Iveline.
Iveline yang tidak enak hati, mengiyakan begitu saja ajakan Carla. Apalagi, putra Carla, yaitu Jovan, adalah pemuda baik yang selama ini selalu menjaga Iveline saat di sekolah. Akan tetapi, karena Iveline, Jovan banyak mendapat kebencian. Itulah kenapa Iveline sering menghindarinya.
Kali ini, dia berharap bisa bertemu dengan Jovan dan berterimakasih kasih dengan layak.
“Kalau begitu, saya akan pulang lebih dulu, Nona. Saya akan menjemput anda nanti setelah selesai.” ucap Keira.
“Tapi—”
“Bagaimana jika kamu menginap di rumah Tante, Ivy? Tante masih ingin bersama denganmu lebih lama. Jadi, biar Keira jemput di pagi atau siang hari.” ucap Carla.
Iveline yang masih gugup jika sendirian, akhirnya menarik Keira ke tempat yang agak jauh, untuk berbicara berdua.
“Keira, kenapa kamu nggak ikut aja?” tanya Iveline, dia sangat gelisah.
Keira terkekeh pelan, lalu menepuk-nepuk kepala Iveline.
“Ratu— maksudku, nona Ivy butuh waktu bersama Nyonya Carla, kan? Lagipula, saya akan selalu mengawasi anda dalam bentuk peri. Saya akan terbang di dekat anda, dan hanya anda yang dapat melihat saya nantinya. Bagaimana? Saya tidak akan benar-benar pergi, okay? Lagipula, menurut saya, anda akan aman bersama nyonya Carla.”
Mendengar itu, akhirnya Iveline setuju untuk pulang bersama Carla. Selama di mobil, Carla banyak bertanya pada Iveline, membuat kegugupan Iveline menghilang. Dia pun menjadi semakin nyaman mengobrol dengan Carla.
“Oh iya, sebentar lagi kamu lulus SMA, kan? Sayangnya Jovan sudah lulus duluan, andaikan kamu dan Jovan tidak selisih satu tahun, kamu mungkin akan baik-baik saja di sekolah, Ivy.” ucap Carla.
Iveline pun tersenyum tipis, “kak Jovan adalah orang yang baik, tapi dia mendapatkan banyak kebencian karena terus menolongku. Dia bahkan selalu dicap sebagai pacarku di sekolah dulu. Terus, banyak gadis yang menyukai kak Jovan juga, dan mereka selalu menyerang ku saat ada kesempatan. Aku yakin kak Jovan kerepotan karena setiap hari terus menjagaku. Aku sudah bilang padanya aku baik-baik saja, tapi… syukurlah dua lulus terlebih dahulu, dia bisa belajar dengan tenang.”
Carla pun tertawa mendengar cerita Iveline, membuat Iveline bingung. Seharusnya, Carla kesal karena Iveline mengganggu belajar Jovan.
“Kamu ini ngomong apa sih, Ivy? Jovan malah sangat khawatir saat dia lulus. Dia takut bully-an padamu semakin bertambah parah. Dan ternyata memang benar. Tidak di sekolah, di rumah, kamu tidak memiliki tempat aman lagi. Seharusnya aku menurunkan gengsiku untuk menemuimu dan mendengarkan Jovan lebih awal. Maafkan tante mu ini karena tidak bisa membantumu, Ivy.” saat Carla mengatakannya, matanya berkaca-kaca. Tangannya terus menerus mengusap rambut halus gadis itu, merasa iba sekaligus lega karena telah dipertemukan lagi dengannya.
“Tidak apa Tante, lagipula, Tante tidak memiliki kewajiban untuk menolong ku…” gumam Iveline.
Carla tiba-tiba mencubit pipi lembut Iveline.
“Nakal! Karena kamu berpikiran seperti ini terus… makanya Tante baru tahu sekarang keadaanmu. Memangnya kamu mau terus menerus diperlakukan kayak gitu? Tante mohon lebih percaya dirilah, Ivy… kamu berhak disayang, mendapatkan keadilan di rumahmu sendiri.”
Iveline tidak dapat lagi membendung tangisnya. Pada akhirnya, gadis itu menangis di bahu Carla. Mengeluarkan semua keluh kesah tentang hidupnya, tentang hal-hal menyakitkan yang dia alami. Semua ucapan itu keluar begitu saja, sambil menangis, dia mengadu pada wanita yang dulunya adalah sahabat ibunya tersebut.
Hingga sampai di rumah Carla, Iveline sudah tertidur sambil masih terisak kecil.
Pemuda tampan dengan tinggi sekitar 186 cm datang, mengenakan kaos hitam dan celana training hitam yang kasual.
“Ma—”
“Ssshhh! Ivy ketiduran, kamu bisa ngangkat dia nggak? Mama nggak kuat, karena mama udah tua. Mama minta tolong, ya? Bawa dia ke kamar kosong.” ucap Carla.
Jovan pun mengangguk, lalu mulai mengangkat Iveline. Dia pun terkejut melihat perubahan besar Iveline.
“Ada apa, Jo?”
“Ma, ini benar-benar Ivy, kan? Kemana semua luka-lukanya itu?“
Carla mengernyitkan dahinya, melihat wajah cantik Iveline di gendongan Jovan itu, yang tertidur dengan lelap, dengan wajah sembabnya.
”Luka apa? Dari awal mama ketemu, dia udah kayak gini, cantik. Lagian, wajahnya masih sama kayak pas dia kecil kok. Kamu kan juga tahu wajah Iveline emang cantik banget kayak gini.“ ucap Carla bingung.
”Astaga, mama masih nggak percaya kalo dia di-bully, sama saudara tirinya sendiri?“ tanya Jovan.
”Emangnya kenapa sih?“
”Ugh, aku bawa dia ke kamar kosong dulu, baru ceritain detailnya.“
Jovan pun memasuki rumah besar tersebut. Meletakkan Iveline di ranjang yang berada di kamar tamu yang tidak terpakai.
Baru kemudian Jovan keluar kamar, kemudian menemui ibunya.
Jovan pun memberitahu bagaimana keadaan Iveline sebelumnya.
”Lihat semua foto ini. Ini semua ulah ibu tiri dan saudara tirinya. Bahkan Alea selalu memberikan aku update terbaru tentang Iveline, dia menyukaiku. Dia mengatakan jika aku ingin dia berhenti melukai Iveline, maka aku harus berkencan dengannya. Aku tidak mau melakukan itu, jadi… aku pun mengadukan semuanya pada om John. Dan ternyata, pria brengsek itu mengabaikan aku, Ma… dia bilang, aku tidak perlu ikut campur masalah keluarga dia. Kenapa ada ayah sejahat itu di dunia ini?“
”Lalu kenapa kamu baru mengatakan semuanya pada mama?“ sahut Carla, dua mulai emosi melihat semua foto-foto menyedihkan yang Alea kirimkan pada Jovan.
Tidak heran jika Iveline tidak ingin berpisah dengan Keira. Karena memang Keira lah yang menolongnya, menjadikan Iveline cantik kembali seperti sedia kala.
”Karena mama juga nggak mau denger, setiap kali aku bahas itu, mama bilang nggak punya urusan lagi sama Om John, kan?“ Jovan juga ikut emosi karena ibunya menyalahkan dirinya, pada ibunya sendiri yang menghindar selama ini.
Carla pun terduduk lemas di sofa. Merenungi kesalahannya karena mengabaikan Iveline selama ini.
”Jika saja Keira tidak menemukan Iveline dan mengajaknya kabur, bagaimana nasib Ivy sekarang, Jo? Mama nggak bisa bayangin.“
”Keira siapa, ma?“ Tanya Jovan, dia sudah mulai tenang, duduk disamping ibunya.
”Dia adalah putri dari mantan asisten ibunya Ivy, orang yang sangat baik dan cerdas. Ah, lupakan itu, yang pasti, bagaimana cara kita membantu Ivy, Jo? Mama nggak rela dia disakiti sampai segitunya, apalagi ayahnya yang brengsek itu nggak mau tahu lagi.“
Baru saja Jovan ingin membalas ucapan ibunya, mereka berdua mendengar jika Iveline telah terbangun dari tidurnya.
Carla buru-buru bangkit, lalu dia berkata pada putranya, ”siapkan makan malam untuk kita ya, nak? Mama yakin Ivy sudah lapar.“
Mampir dan dukung karyaku, yuk!
- TRUST ME
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Jangan lupa juga untuk Like, Komen, Share, dan Subscribe, ya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰