Emily tak menyangka bahwa dia masuk ke sebuah novel yang alurnya membuatnya harus menikah dengan seorang miliarder kaya.
Pernikahan absurd itu malah sangat menguntungkannya karna dia hanya perlu berdiam diri dan menerima gelar nyonya serta banyak harta lainnya.
Namun sayangnya, dalam cerita tersebut dia akan mati muda!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
《Chapter 4》
Emily tersenyum menatap pantulan wajahnya di cermin.
Mereka sudah selesai melaksanakan janji nikah di sebuah gereja, kini mereka akan pergi ke gedung resepsi.
Emily mengenakan gaun biru yang sudah ia pilih untuk acara siang, sedangkan malamnya ia akan mengenakan gaun terakhir yang berwarna merah.
Jangan ditanya tadi pagi ia memakai gaun warna apa karna sudah pasti warna putih.
Polesan make up yang awalnya polos sudah di touch up agar makin terlihat saat di acara resepsi, akan lebih banyak orang yang hadir, sehingga harus menunjukkan konsep yang lebih berani.
Di ruangan lain, Albert juga sudah mengganti pakaiannya dengan tuxedo berwarna sama dengan Emily, tentu saja semuanya pilihan gadis itu.
Wajahnya yang tampan makin terlihat berkharisma.
"Apa kau sudah selesai?" tanya Albert sebelum memasuki ruang ganti dari Emily.
"Ya, kau bisa masuk," Albert sedikit terpesona dengan penampilan Emily, namun ia tak ingin berlama-lama karna mereka harus cepat tiba di lokasi acara.
Keluarga Albert merupakan orang yang terpandang, mereka mengundang banyak kenalan bisnis, oleh sebab itu konsep pernikahan mereka agak mewah dari orang biasanya.
Keduanya mulai berjalan beriringan menuju pelaminan di depan sana.
Musik instrumental juga terdengar memenuhi seisi ruangan.
Tangan Emily melingkar pada lengan Albert, sementara ia mengontrol agar detak jantungnya tidak berlebihan karna sekarang ia sangat gugup.
Semua mata fokus pada kedua orang itu.
Sesampai di pelaminan, Albert dan Emily berdiri saling menatap, kemudian menundukkan kepala tanda hormat pada satu sama lain, setelah itu mereka menghadap para tamu dan MC mulai mengambil alih acara.
Emily merasa senang karna kedua orang tuanya hadir dan bersikap baik selama acara, padahal ia sudah khawatir jika mereka membuat onar di saat penting seperti ini.
Tak lama kemudian, mereka sampai pada penghujung acara, MC mempersilahkan para undangan untuk menyantap hidangan yang ada.
Beberapa dari tamu maju ke depan untuk bernyanyi, ada juga yang menari bersama, merayakan pesta yang sudah sampai malam ini.
Para undangan yang hendak pulang mulai menyalami mereka berdua.
"Terimakasih Ayah dan Ibu, kalian
sudah datang kemari," ucap Emily begitu acara selesai.
"Bersikap baiklah pada Albert, jangan memalukan kami," kata Ayahnya sambil berbisik karna mereka masih belum pergi dari tempat acara.
Emily hanya tersenyum, kedua orangtuanya pergi setelah menjabat tangan dengan Albert beserta seluruh keluarganya.
Albert tidak memberitahukan Emily tentang perjanjian yang ia lakukan dengan orangtuanya.
Sekretarisnya sudah mengirimkan uang pada orang tuanya begitu mereka pulang dari sana.
"Ayo kita pulang," Panggil Albert ketika melihat Emily yang masih berbincang dengan Sahabatnya.
Mereka tiba di mansion tengah malam dan sudah sangat lelah, Emily hanya sempat membersihkan make up dari wajahnya lalu segera terlelap.
Begitu ia membuka mata, ternyata sudah pagi, Emily membersihkan diri dan turun ke bawah, hendak mengisi perutnya yang sudah lapar.
"Pagi Bibi Vei," Panggil Emily pada Bibi Vei yang sedang mencuri piring, seperti ada yang sudah makan sebelum dia.
"Apa Albert sudah pergi?" tanya Emily lalu duduk di meja makan.
"Tuan baru saja pergi Nona, silahkan makan," Bibi Vei meninggalkan Emily untuk membersihkan peralatan masak lain yang belum ia cuci.
Beberapa hari belakangan, Aris sudah membajak halaman belakang dan menanam bibit sayuran dan buah menggantikan Emily yang sakit.
Emily pergi kesana untuk melihat pekerjaan Aris yang sudah selesai itu.
Cuaca hari ini sangat bagus, matahari bersinar dengan terang, Emily hanya bisa berharap agar bibit tersebut bisa tumbuh dengan baik.
Karna Emily bosan, ia memanggil beberapa pelayan untuk bermain dengannya.
Emily sudah menyuruh Aris untuk membeli puzzle yang besar agar mereka dapat merangkainya bersama.
Tak di sangka saat mereka bermain bersama, Albert pulang ke mansion dan kebetulan melihat pemandangan ini.
Bibi Vei yang sedang memanggang kue menyadari kehadiran Albert dan segera mendekatinya dari arah dapur.
"Sepertinya mansion sudah menjadi lebih ramai semenjak Nona tinggal disini," ucap Bibi Vei pada Albert.
Dari semua pelayan yang bekerja disana, Bibi Vei adalah yang paling lama menemani Albert.
Bibi Vei merasa senang dengan sedikit perubahan yang terjadi di mansion dan berharap tuannya bisa lebih membuka diri.
Sejak dulu, para pelayan sangat berhati-hati dan masing-masing sibuk dengan urusan mereka, namun kini mereka saling mengobrol dan bercanda bersama.
"Tuan Albert," Semua pelayan segera bangun dari tempat duduk dan berhenti bermain, mereka kembali ke dalam dan sibuk mencari pekerjaan.
Albert tidak berniat membubarkan mereka, namun karna sudah seperti ini, ia memutuskan segera mengambil dokumen di ruang kerja untuk di bawa saat rapat nanti.
"Apa kau akan pergi lagi?" tanya Emily begitu Albert keluar dari ruang kerjanya.
"Ya" Emily tak mengatakan apapun dan hanya melihat mobil yang di tumpangi Albert bersama sekretaris dan sopirnya itu melaju meninggalkan mansion.
***
Keesokan pagi, Emily bangun dan melepas selimutnya, ia hendak berdiri namun merasa pusing dan hampir jatuh dari tempat tidur.
Ia segera memegang meja yang ada di samping ranjang untuk menopang dirinya berdiri, setelah itu ia duduk di depan meja itu.
Saat itulah ia menyadari bahwa kepalanya begitu pusing dan penglihatannya kabur.
Setelah masuk ke dalam Novel ini, ia menjadi terbiasa dengan hal ini.
Ia menyentuh dahinya dan merasakan panas yang menjalar.
"Sepertinya sangat sulit untuk hidup damai di Novel, padahal aku sudah menikmati kehidupan kaya raya ini," ucap Emily menundukkan kepala, mencari obat yang dokter berikan padanya di laci meja itu.
Meski sudah rutin meminumnya namun ia tetap jatuh sakit, ia segera mengambil air yang ada di ruangan dan meminum obatnya.
Setelah merasa agak mendingan, perlahan ia bergerak menuju kamar mandi dan membersihkan diri lalu turun ke bawah.
Ia melihat Albert yang sedang menyantap sarapan di ruang makan, lalu ikut bergabung dengannya.
"Tumben kau belum pergi bekerja," ucap Emily, suaranya terdengar lemah di telinga Albert.
Albert mengangkat pandangannya dan memperhatikan Emily yang menggunakan mantel di dalam rumah, ia juga mendapati mata Emily yang terlihat sayu, berbeda dari biasanya.
Albert meletakkan sendok kemudian memanggil Emily.
Emily mengangkat pandangannya dari piring dan menatap Albert.
"Apa?" tanya Emily masih dengan suara yang lemah.
"Apakah kamu sakit?" tanya Albert lalu menyentuh dahi Emily dan berkata "Kau demam".
Bibi Vei yang mendengar percakapan mereka langsung meninggalkan pekerjaannya dan melihat Emily.
"Ya Tuhan, Wajahmu pucat sekali Nona," ucap Bibi Vei dengan khawatir.
Emily hanya menganggukkan kepala sambil memasukkan sebuah pangsit rebus ke dalam mulutnya.
"Tuan, bagaimana ini? Sebaiknya Nona pergi ke rumah sakit," ujar Bibi Vei gelisah.
Albert menatap Emily seolah menunggu konfirmasi dari orang yang sedang sakit itu.
"Baiklah," Jawaban Emily sedikit membuat Bibi Vei lega.
Emily sudah menyelesaikan sarapannya, ia berdiri dan memanggil Aris, hendak memintanya untuk mengantarkan ke rumah sakit.
"Saya akan mengantarmu ke rumah sakit," ucap Albert sebelum Emily dan Aris pergi.
"Apa kau tidak bekerja?" tanya Emily, Albert hanya menggelengkan kepala.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil lalu sopir pribadi Albert segera melaju ke rumah sakit.