Tujuh belas tahun lalu, Ethan Royce Adler, ketua geng motor DOMINION, menghabiskan satu malam penuh gairah dengan seorang gadis cantik yang bahkan tak ia ketahui namanya.
Kini, di usia 35 tahun, Ethan adalah CEO AdlerTech Industries—dingin, berkuasa, dan masih terikat pada wajah gadis yang dulu memabukkannya.
Sampai takdir mempertemukannya kembali...
Namun sayang... Wanita itu tak mengingatnya.
Keira Althea.
Cerewet, keras kepala, bar-bar.
Dan tanpa sadar, masih memiliki kekuatan yang sama untuk menghancurkan pertahanan Ethan.
“Jangan goda batas sabarku, Keira. Sekali aku ingin, tak ada yang bisa menyelamatkanmu dariku.”_ Ethan.
“Coba saja, Pak Ethan. Lihat siapa yang terbakar lebih dulu.”_ Keira.
Dua karakter keras kepala.
Satu rahasia yang mengikat masa lalu dan masa kini.
Dan cinta yang terlalu liar untuk jinak—bahkan ol
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata Dia Bos Besar?!
Begitu Keira tiba di lantai divisi desain, suara bising khas kantor langsung menyambutnya. Ia berjalan cepat sambil menenteng map dan secangkir kopi panas, tapi baru sempat menaruh barang-barangnya di meja, dua sosok langsung menyerangnya seperti duet penggosip profesional.
Livia, si tomboy bar-bar, bersedekap sambil menatap sinis. “Keira! Akhirnya nongol juga! Cepet banget ya, bumi muter—aku pikir kamu nggak bakal masuk hari ini!”
Belum sempat Keira menjawab, Nolan, si banci flamboyan dengan kemeja warna lilac dan gaya jalan bak model catwalk, langsung menimpali dengan gaya lebay. “Ya ampun, sis! Nih anak telat mulu, padahal hari ini tuh penting banget! Dunia lagi geger, kantor gempar, dan kamu malah santai kayak di pantai!”
Keira mendengus sambil melepaskan tumit sepatunya yang pegal. “Emangnya kenapa, sih? Aku baru aja turun dari lift dan udah diserang dua penyiar gosip nasional. Ada apa emangnya?”
Livia melotot dramatis. “Duh, kamu tuh kudet banget, Kei! Katanya hari ini CEO pusat turun ke kantor cabang!”
Nolan mengangguk cepat, matanya berbinar penuh semangat gosip. “Iyaaa! CEO itu katanya masih muda, super ganteng, dan cold as hell! Semua karyawan cewek udah pada dandan kayak mau audisi America’s Next Top Model, tahu nggak?!”
Keira nyengir malas. “Oh itu toh… CEO yang katanya kejam dan perfeksionis banget itu, ya? Ih, ngeri deh. Jangan-jangan suka pecat karyawan cuma gara-gara salah ketik.”
Nolan langsung meletakkan tangan di dada sambil pura-pura lemas. “Astaga, semoga dia nggak liat aku salah pakai font di laporan kemarin. Aku belum siap dipecat, sis!”
Livia menahan tawa, “Tenang, Nol. Kalau CEO-nya beneran seganteng gosipnya, mungkin kamu malah diangkat jadi sekretaris pribadinya.”
Nolan langsung menjerit manja. “Aku nggak akan nolak kalau itu terjadi! Tapi katanya nih—katanyaaa—dia tipe dingin yang nggak suka senyum. Uh, serem tapi seksi, ya?”
Keira menggeleng sambil menyeruput kopi. “Ih, kalian tuh lebay. CEO kek, manusia juga. Kalo beneran ganteng, ya bagus. Tapi aku lebih pengen dia jangan bikin kerjaan makin ribet aja.”
Livia menatap Keira dengan senyum menggoda. “Duh, ngomong gitu tuh biasanya pertanda jodoh. Siapa tau kamu nanti malah jadi bahan gosip kantor berikutnya.”
Keira mendengus. “Hah! CEO sama karyawan biasa kayak aku? Kamu kebanyakan nonton drama Korea!”
Nolan langsung menepuk tangan Livia sambil berkata nyaring, “Fix, sis! Kalau ini novel, bab berikutnya pasti mereka ketemu di lift, jatuh cinta, terus—”
Keira langsung menutup mulut Nolan dengan tangan. “Stop! Jangan mulai naskah drama pagi-pagi!”
Mereka bertiga tertawa keras sampai beberapa rekan kerja ikut melirik geli. Suasana kantor divisi desain itu benar-benar hidup—seperti biasa kalau Keira, Livia, dan Nolan sudah kumpul.
Tawa mereka belum juga reda ketika suara ketukan heels terdengar mendekat tajam di lantai marmer.
Livia yang sedang bersandar langsung tegak.
Nolan spontan memegang dada. “Uh-oh… nada langkahnya aku hafal. Itu bukan nada bahagia.”
Keira menoleh, dan benar saja—seorang wanita berambut pendek rapi dengan jas abu-abu sudah berdiri di depan mereka dengan wajah full mode murka.
Bu Clara, kepala divisi desain yang terkenal galak tapi perfeksionis. “KEIRA ALTHEA!”
Suaranya menggema nyaris seperti sirine darurat.
Keira refleks berdiri tegak, mencoba senyum manis. “P-pagi, Bu Clara. Saya—”
“Jangan ‘pagi’ dulu!” potong Bu Clara tajam. “Kamu tahu sekarang jam berapa? Saya udah nunggu laporan revisi dari kamu setengah jam yang lalu!”
Nolan langsung menunduk dalam-dalam, berbisik ke Livia, “Kalau tatapan Bu Clara bisa bunuh, Keira udah meninggal tujuh kali.”
Livia nyengir kecil tapi segera pura-pura sibuk di layar komputer.
Keira menelan ludah. “Maaf, Bu. Macet tadi di jalan, terus—”
Bu Clara mengangkat tangan, “Saya nggak mau dengar alasan! Ini bukan pasar, Keira! Disiplin itu penting, apalagi hari ini ada tamu dari pusat!”
Keira menatap bingung. “Tamu dari pusat? Maksudnya?”
Bu Clara menghela napas panjang, lalu menatap seluruh ruangan. “Bukan tamu sembarangan! CEO baru AdlerTech Industries sendiri yang akan datang untuk perkenalan. Semua divisi diminta berkumpul di aula utama sepuluh menit lagi. Jadi, bereskan meja kalian, siapkan diri kalian!”
Seluruh ruangan langsung mendadak panik.
Suara printer, tuts keyboard, dan kursi bergeser terdengar bersahut-sahutan.
Livia menepuk bahu Keira dengan wajah setengah panik. “Waduh, Kei! Ini kesempatan kamu buat ngeliat si CEO dingin itu secara langsung! Tapi tolong, jangan sampai kebiasaan ngomelmu kumat, ya!”
Keira menatapnya heran. “Emang kenapa?”
Nolan mendekat, matanya membesar dramatis. “Karena rumor bilang dia benci sama karyawan yang cerewet dan suka ngeluh! Hati-hati, sis. Jangan sampe kamu kebetulan ngomong sama dia, terus—”
Tiba-tiba Livia menyikut Nolan dengan keras. “Udah ah, jangan nakut-nakutin! Yuk, buruan ke aula sebelum Bu Clara balik lagi dan nyabut jantung kita!”
Keira menghela napas berat, mengambil map dan ponselnya.
Dalam hati ia bergumam sambil berjalan cepat menuju aula bersama rekan-rekannya. “CEO dari pusat, ya? Huh… semoga aja orangnya nggak serepot gosipnya.”
Tapi di sisi lain gedung, Ethan sedang berdiri di depan cermin besar ruang transit VIP.
Ia menyesap kopinya pelan, lalu melirik jam tangannya. “Sudah waktunya,” ucapnya tenang.
Rowan yang berdiri di belakangnya membuka pintu dan berkata hormat, “Semua divisi sudah berkumpul di aula, Pak. Termasuk… divisi desain.”
Ethan tersenyum tipis, dan langkah kakinya mulai bergema pelan menuju aula.
...----------------...
Aula utama kantor cabang AdlerTech pagi itu terasa lebih hidup dari biasanya.
Lampu gantung kristal berkilau di langit-langit tinggi, memantulkan cahaya ke dinding marmer putih yang bersih.
Para karyawan berbaris rapi, sebagian sibuk merapikan rambut, sebagian lagi berdiri tegang seperti murid menunggu guru besar.
Suasana mendesis pelan oleh bisik-bisik penasaran.
“Katanya CEO-nya masih muda banget, ya?”
“Iya, dan katanya ganteng parah, kayak model majalah luar negeri.”
“Aku denger dia orangnya dingin tapi super jenius. Lulusan Harvard, loh!”
“Astaga, semoga dia nggak galak. Aku belum beresin laporan minggu lalu.”
Keira berdiri di tengah barisan bersama Livia dan Nolan. Tangannya terus merapikan blazer yang tadi sempat kusut gara-gara terburu-buru.
Livia meliriknya sambil terkekeh kecil. “Tenang, Kei. Napas kamu ngos-ngosan banget. Ini bukan audisi America’s Next Top Employee, kok.”
Keira menatapnya kesal. “Aku cuma... tegang. Aku tuh alergi suasana formal begini.”
Nolan ikut menimpali dengan gaya banci khasnya. “Please deh, Keira! Kamu tuh udah cakep, tapi kalo grogi gitu malah kayak mbak-mbak nunggu hasil arisan.”
Keira menatap sinis. “Mulut kamu perlu disetrika, Nol.”
Tapi sebelum perdebatan kecil itu berlanjut, pintu aula terbuka lebar.
Derap langkah sepatu kulit menggema lembut namun berwibawa.
Semua kepala serentak menoleh.
Dan di sana—berjalan masuk dengan elegan—Ethan Royce Adler.
Setelan jas hitam pekat membungkus tubuh tingginya dengan sempurna. Dasi perak senada dengan jam tangan yang tampak mahal di pergelangan tangan kirinya. Rambutnya tersisir rapi, wajahnya tenang dengan sorot mata tajam yang bisa membuat orang berhenti bernapas.
Rowan berjalan setengah langkah di belakangnya, diikuti Bu Clara.
Ruangan mendadak hening total. Hanya bisikan kagum yang terdengar di antara desahan napas kagum para karyawan.
“Ya Tuhan… itu CEO-nya? Aku pikir bakal bapak-bapak botak.”
“Dia muda banget! Dan tinggi banget…”
“Fix! Kalo dia yang jadi bos, aku rela lembur tiap malam!”
“Astagfirullah, tapi boleh juga.”
“Aku kayak pernah liat deh wajahnya di majalah bisnis. Tapi aslinya jauh lebih hot!”
Keira yang berdiri di tengah-tengah hanya bisa melongo. Matanya membulat tak percaya. Darah seakan berhenti mengalir. "Tunggu… itu kan... pria di lift tadi pagi?!" batinnya.
Tubuhnya menegang, jantung berdegup kencang seperti genderang perang.
Ethan berjalan melewati barisan karyawan, tatapannya lurus ke depan—dingin, tajam, karismatik.
Namun, sesaat ketika matanya bertemu dengan Keira, langkahnya melambat.
Senyum samar muncul di sudut bibirnya. Hanya sepersekian detik—nyaris tak terlihat oleh siapa pun—kecuali Keira.
Dan itu cukup membuat Keira ingin menjerit. "Astaga, bukan cuma ganteng, dia juga CEO-nya! Aku udah ngomel bar-bar soal atasan di depan dia tadi pagi!" batinnya lagi.
Ia ingat jelas ocehannya di lift. “Kerja di sini tuh… yah, seru sih, tapi atasannya kadang kayak robot. Serius mulu, jarang senyum. Kadang pengen aku copot dasinya terus bilang: ‘Santai, Bos! Hidup cuma sekali!’”
Sekarang, semua kata-kata itu bergema di kepalanya sendiri seperti mimpi buruk yang diputar ulang.
Livia meliriknya heran. “Keira, kamu kenapa pucet? Kayak abis liat hantu.”
Nolan menepuk bahunya pelan. “Atau jangan-jangan kamu jatuh cinta sama CEO-nya, hah?”
Keira mendengus, suaranya gemetar. “Bukan jatuh cinta, Nol... ini jatuh dari langit ke dasar jurang kehinaan.”
Di depan, Bu Clara mengambil mikrofon. Suaranya lantang tapi sopan. “Selamat pagi semuanya. Hari ini kita kedatangan tamu penting. Beliau adalah CEO AdlerTech Industries yang baru saja kembali dari kantor pusat—Pak Ethan Royce Adler.”
Semua bertepuk tangan sopan.
Ethan hanya mengangguk ringan, lalu maju satu langkah ke depan.
Suara beratnya terdengar rendah namun tegas, mengalun memenuhi ruangan. “Terima kasih. Saya senang melihat semangat kalian. Saya tidak suka basa-basi, jadi mari kita bekerja dengan hasil, bukan janji.”
Hening.
Semua menatap kagum.
“Suaranya aja udah kayak hipnotis.”
“Astaga, cara dia ngomong tuh kayak... manly banget.”
“Dia liat ke arahku nggak sih barusan?!”
“Mimpi aja, dia ngeliat ke arah Keira, tau!”
Keira tersentak mendengar namanya disebut pelan-pelan oleh rekan sebelahnya.
“Keira, Keira… dia liatin kamu deh tadi!”
“Hah?!” Keira langsung menoleh panik.
Dan benar—Ethan masih menatap ke arahnya, dengan ekspresi yang sulit ditebak.
Tatapan itu seolah berkata tanpa suara: “Kita ketemu lagi, gadis dari lift.”
Keira menunduk cepat, wajahnya merah padam. "Tolong, bumi. Buka dikit aja. Aku mau masuk." batinnya malu setengah mati.
Namun belum selesai ia menenangkan diri, Bu Clara kembali berbicara. “Setelah ini, divisi desain akan mendapat giliran pertama untuk mempresentasikan proyeknya langsung di hadapan CEO.”
Wajah Keira langsung pias.
Livia menatapnya cemas. “Eh, Keira, divisi kita kan desain. Berarti…?”
Nolan langsung menjerit pelan. “Oh my God! Berarti kamu, Ra! Kamu yang bakal presentasi pertama!”
Keira menatap kosong ke depan, seperti kehilangan jiwa. “Ya Tuhan… aku baru aja ngomel-ngomel soal bos di lift. Sekarang aku harus presentasi di depannya?!” batinnya frustasi.
Ethan masih berdiri di atas panggung, menyilangkan tangan dengan senyum tipis.
Sementara Keira di bawah… hanya bisa berdoa dalam hati. “Tolong, jangan ingat aku. Tolong jangan ingat aku…”
Tapi dari cara Ethan menatapnya,
ia tahu: Pria itu jelas mengingat segalanya.
...****************...
tutur bahasanya rapi halus tegas jarang tipo atau mungkin belum ada
semangat tor 💪💪💪